LIR RESPATI BUMIDAYA
Padamu kuititipkan luka
Bekas gigitan sejarah
Menganga di
sela- sela isak dan tangis
Malam itu pudar
bagiku
Kupersembahkan
kesetiaan diantara peluh luka penderitaan
Menahan beban yang sarat
Jiwaku
perih karena kau terlalu kejam padaku
Menuntut pada apa yang tak kumampu
Kau
sombong dan angkuh
Pengecualianmu mendamparkanku disini.
Untuk saudaraku Djawad
Pertama-tama kuperkenalkan
Namaku Djebeng sumantri eko sakti
Mangun sasmito
Istriku tiga hidup layak semua
Barangakali aku tak pantas jadi
satrawan kota
yang layak tampil di Koran-koran. Mencontek karya-karya uraian orang lain , jadi salah sambung. Aku hilang
hidup,sebuah illusi berkepanjangan, sampai aku tak sanggup berdiri dalam kemandirianku. Dari usaha
Don Kisot.(JOHN Kesot)
Kalimat-kalimat yang keluar dari
mulutnya yang serba menjatuhkan aku pun harus dituntut secara moral dan
rohaniah, klarena itu memberatkan dosa dia sebagai kiai, masak bisanya. Sebagai yang katanya kiai bisanya
hanya meneror menjatuhkan amenghinakan, dan membuang orang tanpa hormat dan
tanpa kebijaksanaan. Aku selalu dijatuhkan , dituduh, dijauhi, dipojokkan ,
difitnah oleh golongan-mereka (minhum) aku tak punya golongan yang termasuk
minna.tidak heran ini adalah sandiwara yang sulit kuterima . aku dipaksa dan
diposisikan kalah dan terjatuh sejak
awal mula berperan . pembunuhan dan kekerasan itu dilakukan bertubi-tubi dan
tak punya ampun.siapa yang menjamin keberlangsungan hidup dan kesehatanku .
yang aku rasakan dan aku terima adalah perlakuan sichoprenia yang serba tidak
sehat. 16 tahun aku terperosok di comberan aku dimasukkan kesana dan tanpa
martabat. Tidak ada pengertian pengertian yang dikatakan sebagai keikhlasn dan
kesederhanaan , menjelma perbudakan tanpa bayaran dan kemiskinan yang sempurna.
Sampai aku tak tahu tempatku sampai sekarang.jadi kau bisa bayangkan bagaimana
aku bisa berkreatifitas.bagaimana kau harus merasakan pernderitaan dan penyakit
jiwa berkepanjangan.aku bicara tidak hanya ini saja.ini sangat membingungkan
dan sangat mengganggu jiwaku yang sejak kecil di besarkan dalam situasi scream
, menakutkan , kekerasan dan kemarahan. Aku hampir tak bisa menguasai pikiranku
sendiri. Hidupku deterjang ketakutan selalu , takut akan kekerasan yang terjadi
di sekitarku .dan jika kau berdiri menetap matanya kau melihat sisa-sisa
kekejaman yang dilakukan ketika masa mudanya dahulu.aku lebih suka memilikinya
tanpa jarak. Aku lebih suka kebebasan penuh.aku ingin berjalan dengan normal
dan akal sehat.aku ingin mengangkat satu ujung dan kau mengangkat ujung yang
lain.musim dingin menerpaku dan tidak memuaskan aku . aku terkena penyakit penyempitan saluran pernapasan , jadi lebih
mirip asma , tetapi tak ada seorangpun berempati denganku tak seorangpun mau
memperhatikan penyakitku , penyakitku makin prah dan seorangpun pernah
mengerti.bahkan aku ijin sakitpun tak seorangpun percaya padaku.aku mendambakan
musim panas seperti hari- hari yang lalu , dimana kehangatan menyelimutiku
sepanjang hari . langit mendung membuat dadaku jadi mendung kelabu , dadaku
sesak karena asma .dan terjadi bila cuaca dingin lembab.aku sama sekali tidak
puas dengan keadaanku yang jdi bulan bulanan setiap ajaran baru. Aku hidup
dalam ketidakpastian . aku tidak bias menentukan berapa penghasilanku. Betapa
buruk perasaanku pada kalian , yang selali nyrekali aku setiap waktu. Bisanya
hanya mensrekal dan menjegal. Kedamaian dunia hilang, kerjasama kehilangan
makna.mereka menemukan dirinya dalam kejahatan , sedang aku kehilangan diriku
diantara semak-semak belukar.musim dingin yang basah hanya menyiratkan
ketidakpuasan pada dunia . dan kami kehilangan kemesraan sebagai manusia. Aku
selalu didera ketakutan bahkan kepada istriku sekalipun . aku sungguh hidup
sendiri dan sengsara.semua awan menutupi setiap langkahku.di dalam dada
terkubur dilautan.dan bagian terbesar dari masalah adalah tari menarik
kepentingan mereka berkepentingan untuk menghancurkan diriku.pertang dalam
memperebvutkan posisi kepala dan pengatur . mereka saling menyerang , saling
menjelekkan. Itu berarti mereka tidak akan berhenti bertarung.sekaranmg kening kita dibatasi dengan kemenangan atau
kehancuran bila kalah.dan seikat bunga kematian diatas nisan kita . karena
mereka siap mencincang-cincang daging kita dan mengubur semua bagian
kita.tangan-tangan kita dipatahkan , dibangun monument bergambar wajah mereka
sendiri.pertemuan menyenangkan berubah dengan pertemuan menyeramkan.wajah perang
yang muram , yang di kenang situa waktu mereka masih muda.perlahan menampakkan
keriput depannya, bermaksum membuat barisan kuda mabok biar cepat
berlari,barisan kuda yang siap menginjak kaki kaki pejuangnya sendiri.tapi aku
tak bias berlaku tajam , setajam tipuan yang sportip.atau membuat tatapan yang
memancarkan kasih, suatau tatapan bayangan cinta , yang tak pernah dipancarkan
selam aku berdiri disisi.aku membatasi proporsi dari keadilan yang selama ini
aku cari. Ditipu raut wajah yang disembunyikan, ya dengan alami mereka
menyembunyikan kejahatan di dalam hati mereka.ya mereka cacat . ada yang kurus
kerontang kurang gizi, ada yang giginya
tonggos , ada yang matanya Cuma sebelah,ada yanbg cacat seumur hidup wajah
dan mulutnya ( nurahmad), tidak cukup hanya itu , memang ia sudah lama
mengincar pembunuhan kepada saya
dengancara dsan dalih apapun.sebelum saat aku menghembusakan nafas
terakhir, dan saat nafasku memasuki dunia ini. Separuh mengangkat kaku pincang
dan diarahkan ke wajahku.hidupnya begitu
pincang dan sangat tidak teratur .gonggongan
anjing seperti aku dianggap sepeerti angina lalu, seperti aku diberhentikan
oleh mereka tanpa sepengetahuanku.kenapa aku dalam kelemahan saat menghadapi
kekerassn seperti ini .daalam kelemahan disaat orang lain menemukan
kedamaian.tanpa kesenangan melewati waktu. Setidaknya aku dsapat melihat
bayangku di mentari pagi,dan memainkan kekuatan dalam kecacatanku sendiri.
Didik Jawa Darminto Astuti- Didi pujo astute-john
ester Didik
Fana (fanaku dalam keterasingan)
Kematian
itu pasti.cepat atau lambat kemtian menjadi kepastian yang tak dapat dihindari.
Kematian adalh sebuah prose salami. Ia adaklah symbol ketidakberdayaan, titik
akhir sebuah proses kehidupan. Fase dimana realitas tak dapat dibantah lagi ,
artinya dunia dan kebenaran yang diperebutkan tidak ada yang abadi, semua
hancur, semua berakhir, semua dalam kedudukan yang sama dihadapan kematian ,
tak berdaya. Pada hakekatnya disadari atau tidak, segala yang ada diduniua
menuju prases kemusnahan, setiap yang lahir akhirnya harus mati, setiap yang di
buat akhirnya harus rusak, setiap yang kuat pada gilirannya akan lemah.
Begitulah seterusnya sunatullah berlaku, semua berujung pada kefanaan. Ada saat di pakai , ada
saat disingkirkan . ada sat dibutuhkan ada saat disia-siakan, ada sat
angkuh sombong dibanggakan , ada saat
dihancurkan. Begitu aksioma kehidupan
hanaya menunggu satnya, saat ada
dan saat tiada. Dari kenyataan ini hendaknya kita berfikir. Apakah
artinya diri ini ? hanya makhluk yang mempunyai keterbatasan, kerbatasan usia,
kesehatan , kekuatan dan lain sebagainya .pada dirinya ada fese-fase kelemahan
yang tidak dapat ditolak. Karenanya
tidak pantas pongah bila memiliki kekuasan,tidak pantas sombong saat di
beri kelonggaran dan memiliki kebesaran. Ingat semua itu tidak langgeng,
saatnya berkurang dan hancur, disinilah hikmah penting kenapa manusia harus
merenungi segala apa ayang ada pada dirinya karena kehidupan ini fana , maka
semua yang ada pada dirinya semua semu,
semua berkurang dan hancur, semua kenikmatan didalamnya semu fatamorgana ,
tidak kekal, pangkat isane minggat, donyo kenane lungo. Bila akita abelomba-lomba dan tenggelam dalam mencahari kepuasan dunia dan
berlebih-lebihan mencaharinya kita hanya tertipu , kita tidak mendapatkan kecuali hanya kehancuran dan kesiasiaan ( nasehat agama ).
Arti
Sempit dan sesak napas
Hidup
makin terasa sempit tidak memiliki ruang gerak dan waktu berfikir. Semua terasa
pahit , sampai akhirnya aku dimuntahkan. Kapan aku bias memandang hidup sebagai kesempatan untuyk menebus
dosa-dosa.(didik)
Kalau
aku menungkan seluruh perasaanku seribu lembar kertas tidak akan mampu
menampungnya.tapi apa artinya tulisanku kalau tidak kau baca.aku lelah bercita
–cita.cukupkah hidup hanya dengan bercita-cita. Tanpa modal berarti hidup
melompong. Hidup yang tidak menghidupi, hidupnya lebah terbang ke sana kemari atau hidupnya
labah labah sarang digantung menggantang nasib, kalau dipandang asal hidup
saja, suatu berkat yang boleh dinikmati ataupun cukup disesali, terhina dan
tidak punya apa-apa.hidup harus nggasak atau digasak. Atau menikmati kemiskinan
dan tak memiliki apa-apa, atau ketika keluar rumah jadi cercaan anak-anak muda
yang bekerja maju, mondar-mandir kesana kemari tanpa tujuan, tekanan ekonomi
sangat mendesak, kondisi keluarga berantakan, sulit mata air dan terganjalnya
cita-cita . apakah kerja yang berkenan dimata Tuhan. Sepanjang tahun mregawe
ora tau absent isih wae di jebleske jhono, di musuhi sampai hilang bentuk. Mek
nututi dit 200 ewu wae kok tak ewangi njlebut-njlebuto, njebloske endhas. Kok
malah sing mlakune bener malah kepetenah keporit-porit ngene iki piye gusti,
sing dho di pikirno mek apike dhewe-dhewe. Wong mlakune bener mek di paeko. Wis ben kono ben kono
eleke bend ho di katog-katogke. Agama hanya sebagai kedok , jadi preman
sejarah.
Si Picek dari Gua tak
tahu (si
buta dari Gunung jebrol)
Penjilat picek itu selalu mencahari
muka menghalalkan segala cara, bahasanya mengalir lancar dan berbelit-belit .
berputar-putar, tipu muslihatnya memenuhi bathok kepalanya managemennya tanpa
aturan dan amburadul, mencerminkan pikirannya yang semrawut. Hidup dengan gaya serampangan seperti
lonthe ibukota saja gayanya.. predikat guru hanya
topeng belaka, sangat busuk dan
tidak produktif. Dibalik itu ia adalah mayat hidup atau vampire yang menyedot darah kawan-kawannya. Jono
keluarga- keluarga terhormat itu berbuat ngawur gudhal jaran, hidup
kapitalistik , menekan mrmpressur yang
bawah. Guru bawah hanya untuk bancikan
, tak tahu diarahkan kemana anak tiri
ini diarahkan tak ada yang tahu, tak
pernah senang dengan kreativitas orang, dan membuang setiap hasil karya orang lain ke dalam
keranjang sampah, wateg ora tau nyenengake kancane. Mbok matio , emoh kenal ,
wong ora keno dikelah, ora keno diberi masukan. Amergo kelahe nganggu
konspirasi .
Terlebih dahulu aku mengeluarkan
statemen, ”kamu bebas sebebas-bebasnya, melayani
ikatan-ikatan emosionil, ikatan duniawi yang, kebencian dan kepalsuan,
kepaitan, dosa santhet dan sihir”.” Tapi aku adalah orang yang dipersiapkan
Tuhan untuk menghadapi itu semua itu dan sekaligus menghindari semua itu” , dua
hal yang bertentangan : melalui ujian-ujian Fitnah, persoalan kehidupan,
pelatihan ,masalah-masalah, sampai setiap orang akan siap untuk dipakai Tuhan.
Mungkin lebih baik orang muallaf yang bertaubat dan taat, dari pada pengkhianat
yang dilahirkan dengan kelakuan jahat.aku musti mengembangkan diri untuk
menangkis tangkisan, karena tingkat kerohanian yang masih kanak-kanak. Masih
harus belajar terus-menerus, belajar mengembangkan diri, mempersiapkan diri,
agar dapat melayani dengan baik dan tahan banting. Terima semua didikan dengan
suka cita.
Nasehat-nasehatmu selama ini hanya
membuatku muak, aku makin tidak memahami tiap derap gerak langkahmu, sebab kamu
mencontohkan yang lain , bagaimana aku harus mengikutinya. Sebab langkahku
semula hanyalah cita-cita, tapi semua kau buyarkan . kalau tak kusampai pada
kenyataan , itu bagiku wajar- wajar saja, itu karena kelakuanmu yang
mnenjebakku.Romantisme ekstrim hanya melahirkan pembelaan massif, membabi buta
yang membuatku muak,fanatisme, sektarian kotor yang dibatasi ruang dan waktu.
Kamu mulai tidak memberiku ruang gerak dan tempat berpijak, bagaimana cara aku
beratahan, bagaimana aku dapat mengenalimu, karena kau menarik mata-mata nanar
orang yang menbenciku dan memiliki dendam kesumat sejarah denganku , mana
pernah fair penilaiannya terhadapku, kau angkat pedang keangkuhan, kesombongan,
kekerasan melebihi preman , pedang arogan, lalu kau menuai kapitalisme yang
runtuh , sedang aku merujuk pada komunisme dan kebebasan mimbar akademik dengan
berbagai friksi yang tak pernah kau fahami, kemajuan yang tak pernah kau
toleransi. Walau aku rapuh, aku masih mencari sosok dirimu disela-sela waktu,
walau dengan segenggap dendam dan kebencian yang tak kunjung jua kutemukan dimana wajahmu lagi . aku hilang
rupa dihadapanmu .
Seandainya kau tolak mentah-mentah
kewarasanku, bocah liar kemarin sore saja kau pelihara dengan penuh kasih,
sedangkan aku kau godog dalam kawahmu dengan
guru sapto dharmo ra duwe
duit, sangkan paraning dumadi,dengan segala kekurangannya, sejuta harapan
sirna, runtuhnya jurang pemisah menghadangku, pekatnya kegelapan melanda
hidupku , musnahkan segala asa.haruskah kulari mengejar bayang-bayang,fantasi.
Mengapa selalu saja ada saja orang yang mencuri keju digudangku, dia tidak
banyak bicara tetapi selalu menderita
berpikir yang tak pernah usai, selalu ada yang mengganjal, dan menakutkan,
meretas kaki menghembus nafas terakhir .kini terbukti orang baik-baik malah
mati dipenjara , sedangkan penjahat berpesta pora.aku digantung mati oleh para
serigala buas.karena aku macan gendaman, sedang mereka mendekat pada singa
ompong.trhempas lagi aku disini , dengan ijazah sd, kk , dan ijazah sarjana
yang kusam, karena terlalu capek cari kerja .segudang harapan digantung disana
malah ketemu setan-setan bergentayangan dan sejumlah masalah-masalah setan, yang
aku tak pernah tahu ujung dan pangkalnya, ada setan jauhari, mad juhari yang
mencuri uang, ada setan syahli, ada setan mas’ngud, ada setan sukir yang
mencuri pipa air, yang semua setan-setan
itu erat dengan hidupku, ada setan jono yang mertampas kedudukan dan
kehormatanku, ada setan pencuri tanah dan fakta ;suhadi, ada setan pencemar
nama baik; Munta’ib, Nur akmad, siti kalimah Da’im, soleh, rozak,dan semua
menjegalku berniar membunuhku dengan menusuk kehormatanku dari belakang. Aku mau
ikut setan sholeh saja atau setan narto dan Yota entah bagaimana rasanya sebab dengan
dinas sebagai anak buah setan barangkali lebih tenang daripada jadi
Iblis-ajajil, yang angkuh, munafiq, bermuka dua dan sakit-sakitan. Masya allah,
bahkan kalau sampe waktuku berlalu aku tak tahu kemana arah langkahku akan
kusebut namamu, para setan-setan bangsat .
Penarik pedati di
kubangan
Kutarik pedati usang dengan roda
terseok seok, aku tak tahu kalau para penumpangnya penuh terkubang dilubang
berlobang-lobang di jalan sejarah yang tidak rata. Para penumpang sendiri mulai
gelisah apakah samapai tujuan dengan
keberadaan mereka semakin lama semakin sunyi karena menderita ketakjutan, sunyi
mencekam , penarik pedati yang sarat beban itru dengan kejam mencambuki kuda
beban itu tak berperi kemnanusian , tidak punya istirahat 07/01 kode pantatnya,
setiap hari seperti itu , tak punya hati, tak punya perasaan , tak punya
perasaan. Rasanya kepingin berteriak dalam keterpaksaan berteriak dan mencari
celah , jalan keluar, karena hanya jadi
kuda beban Jono , tidak pernah hidup
tanpa hasil bagi kuda itu. Kuda makin kelelahan
tidak ada tambahan gizi , seluruh
binatang dinaikkan ke setrek itu . ada kadal, ada serigala, ada musang, ada
anjing, ada kerbau , ada sapi, dan semua binatang sejagad dimasukkan keatas
kereta itu, walau sarat beban tetapi
sang pengawas memaksa dan tidak menambah kuda lain, kusirnya tak boleh berfikir
akan berjalan kemana , diarahkan ke timur atau ke barat , kusir tidak tahu arah
sebab pengawas terlalu kejam dank eras , para penumpang yang usrek diturunkan
di tengah jalan begitu saja tanpa diberi bekal perjalanan , kalau perlu malah
di denda. Moncong-moncong mulai saling memfitnah , ada moncong yang dipojokkan
oleh penumpang lain, lantaran ia paling banyak berteori ,paling banyak membawa
buku, paling hafal semua rumus dan filsafat. Moncong itu tak pernah diberi
kesempatan untuk berfikir sekalipun apalagi kok bicara. Akhirnya moncong itu
menemukan jalan keluar dengan melobangi perlahan –lahan kereta itu dari bawah
samapai ia menemukan jalan keluar untuk beranjak dari kubangan itu.. jalan
keluar bagi kusir , kalau belum usai, mungkin dalam kebimbangannyapara
penumpang itu ermosi menyetop pedati lain. Timbul masalah baru yang mengerogoti
otak’ apakah ia sengaja diperosokkan
kusir baru di pedati ini .
Sementara pendepan mencari sopir
pedati baru yang sabar dan bersemangat, muncul korban yang sering dilupakan
orang-orang, tidak masuk daftar hitungan dan selalu dicampakkan. Orang-orang
lupa itu betapa semangat memperdaya orang
dalam hitungan itu, bahkan menghabisi hak hidupnya apakah esok masih ada
matahari diantara semak-semak ini ?
Dimana ketenangan itu
Wahai murid-muridku, bagaimana
pikiranmu, mana yang lebih banyak membantahnya, air yang ada didalam empat
samudera ataukah air yang kutumpahkan
ketika air mataku menangis, ketika kau berpetualang dan tersesat dalam ziarah
yang panjang ini , sebab yang jadi bagianmu adalah segala yang kau benci, yang
kau cintai dan yang tidak berguna bagimu .
Nrimo ing pandum dan pasrah diri
Orang bijaksana merasa tenang
bukan karena ia bicara pada dirinya sendiri melainkan adalah lebih baik
untuk bersikap tenang. Ia bersikap tenang karena memang tidak ada sesuatupun di
dunia ini yang mengganggu pikirannya. Jika air bias begitu jernih bila sedang
tenang, begitu pula batin manusia ?. jika pikiran orang bijaksana bisa menjadi cermin alam semesta yang
memantulkan semua yang ada di dalamnya; sikap pasip, lenang, lemah,tanpa
prasangka, tanpa aksi , menunjukkan alam semesta dalam keadaan damai dan
menampakkan betapa tingginya perkembangan watak manusia.
Penderitaan
Penderitaan
yang menderaku tanpa batas, kematian yang menekan begitu dahsyat , emncekam,
satu persoalan filsafat serius menghempasku yaitu keinginan untuk bunuh diri,
barangkali itu yang menjawab pertanyaan filosofis. Hal ini seperti seorang yang
telah dihunjam anak panah beracun, dan seorang kawanpun tak ada yang
menolong.orang sakitpun ber ujara:saya tidak sudi anak panah ini dicabut samapi
saya tahu siapa nama-nama orang yang
telah melukai saya, samapai saya tahu entah darimana dia berasal.’ Orang tadi
akan mati tanpa pernah tahu sebab kematiannya, apa yang diketahuinya. Begitu
pula entah dunia ini kekal atau tidak… masih saja ada kelahiran , usia tua,
kesengsaraan , ratapan, penderiataan , duka cita dan keputus asaan yang
papa.(batas sakitku).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar