LIR RESPATI BUMIDAYA
ini, saat aku melihat ketiga gadis kecilku tidur, kurasakan waktu yang berlalu begitu cepat.

Cinta sudah hampir 9 tahun kini. Ia yang dulu begitu mungil dalam pelukanku, telah menjadi seorang perempuan kecil yang tiap hari membaca buku. Begitu juga Lintang, gadis lincahku. Sebentar lagi ia masuk SD, dan meminta sepatu baru. “Kalau bisa berwarna hijau ya Pak.” Ah, begitu sering kita membelikan sepatu untuk anak kita. Tidakkah mereka tumbuh terlalu cepat?
Sedang Langit kecilku yang cantik, tengah tahun ini akan memulai TK-nya. Ia sangat lucu dan perhatian. Kadang dipegangnya bahuku lantas dipijatnya pelan. Ia tahu kalau ayahnya lelah sepulang kantor. Ketika aku berbisik di telinganya, “I love you.” Ia akan menjawab,”I love you too..”, meski matanya tetap asyik pada buku bergambar itu.
Aku tahu kalau aku takkan selamanya bisa memeluk mereka. Satu hari ketiganya pasti beranjak besar, lantas banyak hal akan berubah. Tiba-tiba saja mereka telah terbang. Lepas dari sarang. Bisa saja ke Harvard, Ubud, atau Johannesburg. Bukankah kita semua mesti menyelesaikan sesuatu?
Pesawat waktu yang kutumpangi berlalu begitu cepat. Aku tak ingin berkedip. Aku ingin menghirup hidup yang kujalani dalam-dalam.
Waktu yang kau pegang erat akan jatuh lepas, laksana pasir kering pantai yang kau genggam. Tak terasa.
So, hiduplah dengan kesadaran penuh akan fananya waktu. Peluk erat mereka yang kau cintai. Anak-anak, istri, kekasih, ayah ibu, juga sahabat sejatimu. Sebelum pasir itu lepas dari tanganmu.
Lantas berikan yang terbaik. Berjalanlah sejauh mungkin. Panjatlah tebing itu, setinggi yang kau bisa.
Namun, tetaplah nikmati hidup. Pilihlah rasa bahagia. Alih-alih membiarkan dirimu terpuruk dalam hal negatif.
Setidaknya, pelan-pelan, rasakan sungguh pasir waktu itu lepas, menghilang dari tanganmu. Namun tetap diiringi senyummu..

Ketika kita menua, itu tak berarti kita menjadi dewasa, lantas bijak bestari. Ini terbukti. Sebenarnya aku telah menulis tulisan ini 10 tahun lalu saat masih bertugas di Grabag, Kabupaten Magelang.
Sayangnya butuh 10 tahun untuk membacanya kembali. Hah, betapa banyak hal yang kita tulis dan katakan tapi tak pernah benar2 kita hayati.
Tapi bagaimanapun, terima kasih pada subuh dingin yang telah membuatku membuka tulisan lama. Terima kasih pada diriku di masa lalu yang menyiapkan paragraf itu untuk diriku di masa kini.
Terima kasih Tuhan, pemilik segala sesuatu…

“Kalau nggak kena kanker, saya mungkin nggak akan pernah membebaskan diri dari pagar-pagar yang saya rasakan membelenggu itu.” Ya, lelaki itu mengumpamakan kanker sebagai ‘hadiah’ Tuhan yang membuat ia lebih berani merangkul kehidupan.
Paragraf yang menyentuh. Itu adalah kalimat Hanif Arinto, 36 th, seorang pasien kanker usus besar yang terpasang stoma. (Kompas Minggu 12/6/11, Hidup Berlanjut dengan “Stoma”).
Hanif yang dulu senang fotogragi tapi tak berani memotret, kini berubah menjadi seseorang yang tak pernah melepas tiap momen hidup dari kamera. Hanif yang dulu sangat sibuk namun tak menikmati hidup, kini belajar bermain ski dan menjadi sukarelawan untuk Yayasan Kanker Indonesia. Hanif hari ini adalah Hanif yang berani menjalani hidup sepenuhnya, meski tahu sel kanker belum ia kalahkan.
Hidup Hanif berubah setelah kanker menyerangnya. Tapi, sungguhkah kita harus menunggu hingga kanker, penyakit jantung, atau kondisi kritis lain menyerang tubuh baru kita “berani merangkul kehidupan”?
Kenapa kita tidak merangkul kehidupan kita mulai kini? Kenapa kita tak melakukan hal-hal yang sungguh berarti? Kenapa kita melakukan hal-hal yang remeh hanya karena desakan ‘common sense’ dan tekanan tata sosial masyarakat?
Coba letakkan perspektif hidup kita pada posisi Hanif. Apa yang akan kita pilih jika kita tahu bahwa satu hari, dalam waktu dekat, kematian akan datang menghampiri? Anggap saja, enam atau dua belas bulan lagi…
Lagipula, adakah yang menjamin bahwa esok hari kita masih bisa menyaksikan matahari terbit? Tak siapapun.
Lantas, kenapa kita tak : membagi kasih sayang, menyatakan isi hati, meminta maaf, memaafkan, memeluk pasangan hidup, menelpon teman lama, atau sekadar menyapa seseorang padahal hati kita menginginkannya?
Kenapa kita tak merangkul kehidupan, tapi alih-alih melaluinya seperti seorang pejalan tidur?
Ini adalah kritik saya pada diri sendiri. Terima kasih pada alam semesta yang terus mengingatkan tentang arti penting sebuah pilihan hidup. Seperti seseorang bilang (mbak Riana, voicesnoises), “Tak ada yang salah dalam pilihan2 itu. Asalkan ia datang dari hatimu.”
Tulisan ini sekaligus menandai hari berkabung saya atas meninggalnya, Prof. Budi Susetyo Juwono, SpPD, SpJP. Satu-satunya guru, yang saat pendidikan spesialis pernah mengajak saya bicara tentang perlunya mendengar suara hati. Nurani.
Terima kasih Prof. Selamat jalan. Air mata dan doa kami menghantarmu menuju Sumber Rindumu..
Purwokerto, minggu sore, 12/6/11

Setelah beberapa bulan tinggal di kota ini, akhirnya aku memilih. Dan itu karena Cinta, gadis kecilku yang pertama jatuh sakit. Demam.
Ia, yang secara emosionil sangat dekat dan mirip denganku adalah salah satu penghubungku dengan masa depan. Entah kenapa. Dan itu telah terbukti.
Tiap kali ayahnya menghadapi ujian hidup, tiap kali pula ia sakit. Dan sakitnya itu adalah pertanda, adalah peringatan untuk ayahnya, untuk pasrah dan meyakini bahwa segala sesuatu telah diatur, dan tidak ada gunanya merengek dan menangis. Seakan ia berkata padaku, “Pak, lakukanlah apa yang kau bisa lalu biarkan Allah yang memutuskan. Karena Allah memberi yang terbaik. Selalu.”

Dulu, persis satu hari sebelum aku ujian masuk spesialis, aku sangat gelisah. Namun Cinta tiba-tiba demam tinggi. Tanpa ba-bi-bu. Padahal waktu kami berangkat ke Surabaya ia sangat sehat. Tengah malam itu ia seakan ikut prihatin dengan suasana hati dan ujian hidup ayahnya. Tak lagi sempat belajar, aku malah begadang menjaga gadis kecilku itu. Namun, alhamdulillah aku tetap lulus. Padahal aku bukan alumni Surabaya, jadi tak kenal pada siapapun dokter senior yang mengujiku hari itu.
Kini, ujian hidup yang kuhadapi adalah tentang keberadaanku di kota ini. Sungguhkah hidupku akan lebih bermakna jika aku menetap di sini? Haruskah aku pergi?
Akhirnya, aku melakukan usaha terakhirku. Surat itu kulepaskan dan kuserahkan. Terserah apakah mereka akan memperjuangkan atau tidak. Jika Allah menghendaki, maka akan dilancarkanlah segala urusanku di kota ini. Rezeki, karir, kesehatan, kebahagiaan.
Sedang jika tidak, maka akan dialihkannya jalan hidupku ke tempat lain. Dimana Allah telah pula menyediakan segala sesuatunya.
Segala sesuatu adalah milikMu. Aku cuma ‘nunut’ saja.

Padahal, berapa banyak pasien yang begitu percaya pada saya, yang meletakkan hidup mereka pada keputusan yang saya buat?
Orang banyak mengacungkan jempol karena dalam waktu kurang dari setahun, mereka melihat antrian pasien di poli rumah sakit yang seperti pasar. Juga tumpukan status di tempat praktek pribadi yang terus bertambah.
Sayangnya, saya belum bisa, bahkan mungkin tak bisa, meletakkan kesuksesan dan kebahagiaan pada itu semua.
Passion saya adalah menjadi seorang guru sejati. Seseorang yang tidak hanya mendidik, tapi juga menginspirasi murid-muridnya. Saya juga ingin menjadi seorang penulis, yang kadang dalam satu periode hidup bisa menghabiskan hari bersetubuh dengan laptop, dan saat capek minum kopi di sebuah kafe yang hening.
Tentu saja saya senang menjadi dokter. Tapi tidak hanya dokter yang bisa menyembuhkan, tapi dokter yang bisa menyentuh hati, bahkan kalau bisa membahagiakan pasien-pasiennya.
Namun, bagaimana mungkin saya menyentuh hati manusia jika ada ada 60 orang menunggu di depan poli rumah sakit? Bahkan pada hari-hari tertentu, 100 pasien?

Hari-haripun kemudian berlalu seperti kereta Argo Wilis yang kemarin saya naiki dari Surabaya. Efektif. Efisien. Lurus. Terjadwal. Dingin.
Terus terang, saya merindukan hari-hari ketika hidup masih berjalan lambat. Saat saya masih bisa menjemput sorang gadis kecil sepulang les, lantas bersamanya duduk di kafe dekat toko buku Petra Togamas Surabaya.
Atau pergi tiba-tiba di satu subuh yang dingin, naik kereta ekonomi ke stasiun Sidoarjo. Menikmati matahari terbit dalam keremangan dan bau apek kereta bertiket 3500 rupiah. Nongkrong di warung depan stasiun, menulis, juga ngopi. Beberapa tulisan saya lahir di warung kelas rakyat itu.
Kini, saya seperti tersesat. Pusaran pasien, gelisah waktu yang terburu, bayang hitam janji-janji yang tak terpenuhi. Janji saya pada diri sendiri. Juga janji mereka, orang-orang yang meminta saya hadir di kota ini.
Saya ingin pulang. Tapi kemana?
ini, saat aku melihat ketiga gadis kecilku tidur, kurasakan waktu yang berlalu begitu cepat.
Cinta sudah hampir 9 tahun kini. Ia yang dulu begitu mungil dalam pelukanku, telah menjadi seorang perempuan kecil yang tiap hari membaca buku. Begitu juga Lintang, gadis lincahku. Sebentar lagi ia masuk SD, dan meminta sepatu baru. “Kalau bisa berwarna hijau ya Pak.” Ah, begitu sering kita membelikan sepatu untuk anak kita. Tidakkah mereka tumbuh terlalu cepat?
Sedang Langit kecilku yang cantik, tengah tahun ini akan memulai TK-nya. Ia sangat lucu dan perhatian. Kadang dipegangnya bahuku lantas dipijatnya pelan. Ia tahu kalau ayahnya lelah sepulang kantor. Ketika aku berbisik di telinganya, “I love you.” Ia akan menjawab,”I love you too..”, meski matanya tetap asyik pada buku bergambar itu.
Aku tahu kalau aku takkan selamanya bisa memeluk mereka. Satu hari ketiganya pasti beranjak besar, lantas banyak hal akan berubah. Tiba-tiba saja mereka telah terbang. Lepas dari sarang. Bisa saja ke Harvard, Ubud, atau Johannesburg. Bukankah kita semua mesti menyelesaikan sesuatu?
Pesawat waktu yang kutumpangi berlalu begitu cepat. Aku tak ingin berkedip. Aku ingin menghirup hidup yang kujalani dalam-dalam.
Waktu yang kau pegang erat akan jatuh lepas, laksana pasir kering pantai yang kau genggam. Tak terasa.
So, hiduplah dengan kesadaran penuh akan fananya waktu. Peluk erat mereka yang kau cintai. Anak-anak, istri, kekasih, ayah ibu, juga sahabat sejatimu. Sebelum pasir itu lepas dari tanganmu.
Lantas berikan yang terbaik. Berjalanlah sejauh mungkin. Panjatlah tebing itu, setinggi yang kau bisa.
Namun, tetaplah nikmati hidup. Pilihlah rasa bahagia. Alih-alih membiarkan dirimu terpuruk dalam hal negatif.
Setidaknya, pelan-pelan, rasakan sungguh pasir waktu itu lepas, menghilang dari tanganmu. Namun tetap diiringi senyummu..
Filed under: perjalanan | Tinggalkan sebuah Komentar »
Rengeng-Rengeng
Posted on Juni 19, 2011 by dokterpenulis
Malam pekat sekali. Aku berjalan terantuk-antuk batu sepanjang
gang. Sol sepatu yang tipis tak kuat lagi menahan tubuh dari terjangan
batu-batu.
Aku tak begitu suka lewat gang ini. Terlalu gelap, berbatu dan becek di musim hujan. Penghuninya pun tak ramah. Tapi gang ini jadi jalan pintas ke rumah kosku. Meskipun hampir tiap malam kulalui, tapi tak banyak yang bisa diperhatikan. Dan memang tak ada yang istimewa. Semuanya kelihatan sama. Miskin. Kumuh. Kecua¬li sebuah rumah. Nomor tiga dari mulut gang.
Rumah itu tak beda dengan yang lain. Kecil. Sederhana saja. Lampu depannya cukup lima watt, tapi di remang itu dinding pa¬pannya terlihat putih bersih. Halaman yang terbatas luasnya senantiasa rapi. Ada beberapa kuncup mawar yang tumbuh merambati pagar bambu. Selera aneh di tengah-tengah gang kumuh. Satu hal yang sungguh-sungguh membuatku tertarik adalah rengeng-rengeng suara perempuan.
Rengeng-rengeng itu begitu memilukan bersemu tangis. Nadanya membentuk tembang jawa. Entah apa. Luruh bersama angin, mencipta¬kan malam yang sungguh kelam sepanjang perjalanan melintasi gang. Bulu kudukku berdiri saat kulewati rumah itu. Tidurku terganggu mimpi-mimpi. Seakan eyang kakung hidup kembali dan menembang untukku.
Ah, rengeng-rengeng perempuan itu betul-betul mengiris dadaku. Tercipta pisau daging yang besar, dan dengan alun nada-nada tembangnya diirisnya hatiku, jantungku, paru-paruku, tulang sumsumku. Diperasnya darahku. Ditampung dalam ember buat menyiram mawar-mawarnya. Ingin sekali aku menyuruhnya berhenti nembang. Berhenti rengeng-rengeng. Berhenti membunuhku setiap kali aku lewat.
Berdiri diam di depan pagar rumahnya, rengeng-rengeng semakin merasuk dada. Suaranya pelan, halus. Angin malam menyusup di sela baju. Dingin. Kupegang pintu pagar. Batinku berperang melawan otakku. Apa kau sudah gila, kata otakku nyinyir. Malam-malam bertamu di rumah orang. Batinku diam, keras kepala. Mereka bertengkar, berkelahi, saling mencakar sementara tanganku masih bertahan di pagar rumah itu.
Kudorong pintu pagar ke dalam. Tak terkunci. Suaranya agak kasar. Tapi tak membuat rengeng-rengeng berhenti. Hujan yang turun tadi sore sedikit membuat becek halaman. Kuketuk pintu pelan-pelan. Akankah dibuka? Seorang tamu malam-malam dan tak dikenal. Mungkin aku memang sudah agak kurang waras. Kehilangan common sense.
Baca selebihnya »
Aku tak begitu suka lewat gang ini. Terlalu gelap, berbatu dan becek di musim hujan. Penghuninya pun tak ramah. Tapi gang ini jadi jalan pintas ke rumah kosku. Meskipun hampir tiap malam kulalui, tapi tak banyak yang bisa diperhatikan. Dan memang tak ada yang istimewa. Semuanya kelihatan sama. Miskin. Kumuh. Kecua¬li sebuah rumah. Nomor tiga dari mulut gang.
Rumah itu tak beda dengan yang lain. Kecil. Sederhana saja. Lampu depannya cukup lima watt, tapi di remang itu dinding pa¬pannya terlihat putih bersih. Halaman yang terbatas luasnya senantiasa rapi. Ada beberapa kuncup mawar yang tumbuh merambati pagar bambu. Selera aneh di tengah-tengah gang kumuh. Satu hal yang sungguh-sungguh membuatku tertarik adalah rengeng-rengeng suara perempuan.
Rengeng-rengeng itu begitu memilukan bersemu tangis. Nadanya membentuk tembang jawa. Entah apa. Luruh bersama angin, mencipta¬kan malam yang sungguh kelam sepanjang perjalanan melintasi gang. Bulu kudukku berdiri saat kulewati rumah itu. Tidurku terganggu mimpi-mimpi. Seakan eyang kakung hidup kembali dan menembang untukku.
Ah, rengeng-rengeng perempuan itu betul-betul mengiris dadaku. Tercipta pisau daging yang besar, dan dengan alun nada-nada tembangnya diirisnya hatiku, jantungku, paru-paruku, tulang sumsumku. Diperasnya darahku. Ditampung dalam ember buat menyiram mawar-mawarnya. Ingin sekali aku menyuruhnya berhenti nembang. Berhenti rengeng-rengeng. Berhenti membunuhku setiap kali aku lewat.
Berdiri diam di depan pagar rumahnya, rengeng-rengeng semakin merasuk dada. Suaranya pelan, halus. Angin malam menyusup di sela baju. Dingin. Kupegang pintu pagar. Batinku berperang melawan otakku. Apa kau sudah gila, kata otakku nyinyir. Malam-malam bertamu di rumah orang. Batinku diam, keras kepala. Mereka bertengkar, berkelahi, saling mencakar sementara tanganku masih bertahan di pagar rumah itu.
Kudorong pintu pagar ke dalam. Tak terkunci. Suaranya agak kasar. Tapi tak membuat rengeng-rengeng berhenti. Hujan yang turun tadi sore sedikit membuat becek halaman. Kuketuk pintu pelan-pelan. Akankah dibuka? Seorang tamu malam-malam dan tak dikenal. Mungkin aku memang sudah agak kurang waras. Kehilangan common sense.
Baca selebihnya »
Filed under: cerita pendek | Tinggalkan sebuah Komentar »
Surat dari masa lalu..
Posted on Juni 14, 2011 by dokterpenulis
“kalau kau tak pernah merasa memiliki, kau takkan kehilangan.”
itu termasuk masa lalu, masa depan, tubuh gagahmu, karir, jiwa, apapun.
semua bukan milikmu. milik Sesuatu yang Tak Terperi.
dan kau tak pernah kehilangan apapun.
Ketika kita menua, itu tak berarti kita menjadi dewasa, lantas bijak bestari. Ini terbukti. Sebenarnya aku telah menulis tulisan ini 10 tahun lalu saat masih bertugas di Grabag, Kabupaten Magelang.
Sayangnya butuh 10 tahun untuk membacanya kembali. Hah, betapa banyak hal yang kita tulis dan katakan tapi tak pernah benar2 kita hayati.
Tapi bagaimanapun, terima kasih pada subuh dingin yang telah membuatku membuka tulisan lama. Terima kasih pada diriku di masa lalu yang menyiapkan paragraf itu untuk diriku di masa kini.
Terima kasih Tuhan, pemilik segala sesuatu…
Filed under: perjalanan | Tinggalkan sebuah Komentar »
Akhirnya Aku Memilih (part 2)..
Posted on Juni 12, 2011 by dokterpenulis
“Kalau nggak kena kanker, saya mungkin nggak akan pernah membebaskan diri dari pagar-pagar yang saya rasakan membelenggu itu.” Ya, lelaki itu mengumpamakan kanker sebagai ‘hadiah’ Tuhan yang membuat ia lebih berani merangkul kehidupan.
Paragraf yang menyentuh. Itu adalah kalimat Hanif Arinto, 36 th, seorang pasien kanker usus besar yang terpasang stoma. (Kompas Minggu 12/6/11, Hidup Berlanjut dengan “Stoma”).
Hanif yang dulu senang fotogragi tapi tak berani memotret, kini berubah menjadi seseorang yang tak pernah melepas tiap momen hidup dari kamera. Hanif yang dulu sangat sibuk namun tak menikmati hidup, kini belajar bermain ski dan menjadi sukarelawan untuk Yayasan Kanker Indonesia. Hanif hari ini adalah Hanif yang berani menjalani hidup sepenuhnya, meski tahu sel kanker belum ia kalahkan.
Hidup Hanif berubah setelah kanker menyerangnya. Tapi, sungguhkah kita harus menunggu hingga kanker, penyakit jantung, atau kondisi kritis lain menyerang tubuh baru kita “berani merangkul kehidupan”?
Kenapa kita tidak merangkul kehidupan kita mulai kini? Kenapa kita tak melakukan hal-hal yang sungguh berarti? Kenapa kita melakukan hal-hal yang remeh hanya karena desakan ‘common sense’ dan tekanan tata sosial masyarakat?
Coba letakkan perspektif hidup kita pada posisi Hanif. Apa yang akan kita pilih jika kita tahu bahwa satu hari, dalam waktu dekat, kematian akan datang menghampiri? Anggap saja, enam atau dua belas bulan lagi…
Lagipula, adakah yang menjamin bahwa esok hari kita masih bisa menyaksikan matahari terbit? Tak siapapun.
Lantas, kenapa kita tak : membagi kasih sayang, menyatakan isi hati, meminta maaf, memaafkan, memeluk pasangan hidup, menelpon teman lama, atau sekadar menyapa seseorang padahal hati kita menginginkannya?
Kenapa kita tak merangkul kehidupan, tapi alih-alih melaluinya seperti seorang pejalan tidur?
Ini adalah kritik saya pada diri sendiri. Terima kasih pada alam semesta yang terus mengingatkan tentang arti penting sebuah pilihan hidup. Seperti seseorang bilang (mbak Riana, voicesnoises), “Tak ada yang salah dalam pilihan2 itu. Asalkan ia datang dari hatimu.”
Tulisan ini sekaligus menandai hari berkabung saya atas meninggalnya, Prof. Budi Susetyo Juwono, SpPD, SpJP. Satu-satunya guru, yang saat pendidikan spesialis pernah mengajak saya bicara tentang perlunya mendengar suara hati. Nurani.
Terima kasih Prof. Selamat jalan. Air mata dan doa kami menghantarmu menuju Sumber Rindumu..
Purwokerto, minggu sore, 12/6/11
Filed under: perjalanan | Tinggalkan sebuah Komentar »
Akhirnya Aku Memilih.
Posted on Juni 12, 2011 by dokterpenulis
Setelah beberapa bulan tinggal di kota ini, akhirnya aku memilih. Dan itu karena Cinta, gadis kecilku yang pertama jatuh sakit. Demam.
Ia, yang secara emosionil sangat dekat dan mirip denganku adalah salah satu penghubungku dengan masa depan. Entah kenapa. Dan itu telah terbukti.
Tiap kali ayahnya menghadapi ujian hidup, tiap kali pula ia sakit. Dan sakitnya itu adalah pertanda, adalah peringatan untuk ayahnya, untuk pasrah dan meyakini bahwa segala sesuatu telah diatur, dan tidak ada gunanya merengek dan menangis. Seakan ia berkata padaku, “Pak, lakukanlah apa yang kau bisa lalu biarkan Allah yang memutuskan. Karena Allah memberi yang terbaik. Selalu.”
Dulu, persis satu hari sebelum aku ujian masuk spesialis, aku sangat gelisah. Namun Cinta tiba-tiba demam tinggi. Tanpa ba-bi-bu. Padahal waktu kami berangkat ke Surabaya ia sangat sehat. Tengah malam itu ia seakan ikut prihatin dengan suasana hati dan ujian hidup ayahnya. Tak lagi sempat belajar, aku malah begadang menjaga gadis kecilku itu. Namun, alhamdulillah aku tetap lulus. Padahal aku bukan alumni Surabaya, jadi tak kenal pada siapapun dokter senior yang mengujiku hari itu.
Kini, ujian hidup yang kuhadapi adalah tentang keberadaanku di kota ini. Sungguhkah hidupku akan lebih bermakna jika aku menetap di sini? Haruskah aku pergi?
Akhirnya, aku melakukan usaha terakhirku. Surat itu kulepaskan dan kuserahkan. Terserah apakah mereka akan memperjuangkan atau tidak. Jika Allah menghendaki, maka akan dilancarkanlah segala urusanku di kota ini. Rezeki, karir, kesehatan, kebahagiaan.
Sedang jika tidak, maka akan dialihkannya jalan hidupku ke tempat lain. Dimana Allah telah pula menyediakan segala sesuatunya.
Segala sesuatu adalah milikMu. Aku cuma ‘nunut’ saja.
Ah, kurasa sudah saatnya aku melakukan hal-hal yang benar. Kini, segalanya kukembalikan padaMu. Enam bulan hidup adalah waktu yang singkat. Bukankah Kau bilang aku harus bersiap, bergegas? RinduMu sungguh tak bisa kutebak…
Filed under: seputar hidupku | Tinggalkan sebuah Komentar »
Apa Enam Hal yang Akan Kulakukan Jika Hidupku Tinggal 6 Bulan Lagi?
Posted on Juni 9, 2011 by dokterpenulis
1. Mengikuti hati nurani. Tersenyum dan ramah pada siapapun. Rendah hati dan tak enggan berbagi kebahagiaan. Bersikap zuhud. Tidak senang saat mendapat dunia, tak sedih saat ditinggalkan dunia, tak sibuk oleh dunia hingga lupa.
2. Membahagiakan keluarga kecilku. Mempersiapkan hati dan mendidik ketiga gadisku agar menjadi perempuan tangguh yang solehah. Agar tegar menghadapi arus deras kehidupan.
3. Berbakti kepada Ibu dan Bapak. Membahagiakan mereka. Membuat mereka bangga karena telah membesarkanku.
4. Menjadi dokter terbaik yang aku bisa. Terus belajar, terus menempa diri dan hati, hingga bisa menolong sebanyak mungkin manusia. Merawat pasien2ku secara holistik. Sebagai manusia seutuhnya. Menyentuh hati, bahkan kalau bisa, membuat mereka lebih bahagia.
5. Menginspirasi sesama. Membuat mereka kembali percaya pada impian. Berbagi semangat hidup dan ilmu lewat lisanku, artikel dan buku yang kutulis, apapun yang kupunya. Membuat hidup mereka jadi lebih bermakna.
6. Hmm. Biar Allah dan aku saja yang tahu..
Filed under: perjalanan | Tinggalkan sebuah Komentar »
Pengembara
Posted on Mei 30, 2011 by dokterpenulis
Malam ini, tiba2 aku bangun, dan aku disadarkan pada
ketidakabadian dan kefanaanku sendiri. Ah, betapa selama ini aku sering
dengan sengaja melupakannya.
Padahal, sudah seharusnya tiap keputusan yang kuambil juga didasarkan pada fakta tersebut. Karena sesungguhnya yang pasti itu cuma satu : kematian. Sedang kemalangan, sakit, keberuntungan, kesuksesan, menjadi kaya ataupun miskin di masa depan, semua itu hanya ilusi.
Masalahnya, aku tak tahu kapan aku akan mati. Ia bisa saja datang besok, lusa, seminggu, sebulan, tiga bulan, enam bulan, atau setahun lagi.
Nabi Muhammad sendiri memilih sikap yang jelas. Beliau tak pernah menumpuk harta, dan menganjurkan pada keluarganya untuk memilih sikap yang sama. Persediaan pangan beliau tak pernah lebih dari sehari. Karena beliau yakin, bahwa tiap hari memiliki rezekinya sendiri.
Satu hari Rasulullah tidur di atas tikar yang menimbulkan bekas guratan lambung di lambungnya. Beberapa sahabat berkata, “ Wahai Rasulullah, bagaimana jika engkau izinkan kami agar kami menghamparkan di bawah engkau yang lebih empuk dari tikar itu?” Beliau menjawab,
“Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan dunia seperti pengembara yang berjalan pada hari yang terik dibawah sebuah pohon, kemudian tiba waktu sore dan ia meninggalkannya.”

Gadis kecilku, Cinta, memiliki sebutan Zahida di ujung nama lengkapnya. Artinya adalah perempuan yang zuhud. Zuhud itu sendiri punya banyak definisi. Salah satu yang paling kusukai adalah :
tidak sedih saat ditinggalkan dunia
tidak senang saat mendapat dunia
tidak disibukkan oleh dunia hingga lupa kepada Allah
Akhir-akhir ini aku merasa, bahwa ternyata kesibukan duniawi di Purwokerto telah menenggelamkanku. Dan aku jadi lupa pada prinsip zuhud itu. Yang bahkan ingin kuwariskan pada anakku.
Terima kasih ya Allah karena malam ini Engkau telah mengingatkanku kembali. Betapa kasih sayangmu tak terbatas luasnya. Kuharap, begitu pula dengan samudra ampunanmu.
Amin.
foto merupakan hak milik : chiselstone<
Padahal, sudah seharusnya tiap keputusan yang kuambil juga didasarkan pada fakta tersebut. Karena sesungguhnya yang pasti itu cuma satu : kematian. Sedang kemalangan, sakit, keberuntungan, kesuksesan, menjadi kaya ataupun miskin di masa depan, semua itu hanya ilusi.
Masalahnya, aku tak tahu kapan aku akan mati. Ia bisa saja datang besok, lusa, seminggu, sebulan, tiga bulan, enam bulan, atau setahun lagi.
Nabi Muhammad sendiri memilih sikap yang jelas. Beliau tak pernah menumpuk harta, dan menganjurkan pada keluarganya untuk memilih sikap yang sama. Persediaan pangan beliau tak pernah lebih dari sehari. Karena beliau yakin, bahwa tiap hari memiliki rezekinya sendiri.
Satu hari Rasulullah tidur di atas tikar yang menimbulkan bekas guratan lambung di lambungnya. Beberapa sahabat berkata, “ Wahai Rasulullah, bagaimana jika engkau izinkan kami agar kami menghamparkan di bawah engkau yang lebih empuk dari tikar itu?” Beliau menjawab,
“Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan dunia seperti pengembara yang berjalan pada hari yang terik dibawah sebuah pohon, kemudian tiba waktu sore dan ia meninggalkannya.”
Gadis kecilku, Cinta, memiliki sebutan Zahida di ujung nama lengkapnya. Artinya adalah perempuan yang zuhud. Zuhud itu sendiri punya banyak definisi. Salah satu yang paling kusukai adalah :
tidak sedih saat ditinggalkan dunia
tidak senang saat mendapat dunia
tidak disibukkan oleh dunia hingga lupa kepada Allah
Akhir-akhir ini aku merasa, bahwa ternyata kesibukan duniawi di Purwokerto telah menenggelamkanku. Dan aku jadi lupa pada prinsip zuhud itu. Yang bahkan ingin kuwariskan pada anakku.
Terima kasih ya Allah karena malam ini Engkau telah mengingatkanku kembali. Betapa kasih sayangmu tak terbatas luasnya. Kuharap, begitu pula dengan samudra ampunanmu.
Amin.
foto merupakan hak milik : chiselstone<
Dalam Gundah
Posted on Mei 17, 2011 by dokterpenulis
Hari-hari ini saya sering melihat diri sendiri. Bertanya, gelisah. Ragu pada masa depan. Padahal, berapa banyak pasien yang begitu percaya pada saya, yang meletakkan hidup mereka pada keputusan yang saya buat?
Orang banyak mengacungkan jempol karena dalam waktu kurang dari setahun, mereka melihat antrian pasien di poli rumah sakit yang seperti pasar. Juga tumpukan status di tempat praktek pribadi yang terus bertambah.
Sayangnya, saya belum bisa, bahkan mungkin tak bisa, meletakkan kesuksesan dan kebahagiaan pada itu semua.
Passion saya adalah menjadi seorang guru sejati. Seseorang yang tidak hanya mendidik, tapi juga menginspirasi murid-muridnya. Saya juga ingin menjadi seorang penulis, yang kadang dalam satu periode hidup bisa menghabiskan hari bersetubuh dengan laptop, dan saat capek minum kopi di sebuah kafe yang hening.
Tentu saja saya senang menjadi dokter. Tapi tidak hanya dokter yang bisa menyembuhkan, tapi dokter yang bisa menyentuh hati, bahkan kalau bisa membahagiakan pasien-pasiennya.
Namun, bagaimana mungkin saya menyentuh hati manusia jika ada ada 60 orang menunggu di depan poli rumah sakit? Bahkan pada hari-hari tertentu, 100 pasien?
Hari-haripun kemudian berlalu seperti kereta Argo Wilis yang kemarin saya naiki dari Surabaya. Efektif. Efisien. Lurus. Terjadwal. Dingin.
Terus terang, saya merindukan hari-hari ketika hidup masih berjalan lambat. Saat saya masih bisa menjemput sorang gadis kecil sepulang les, lantas bersamanya duduk di kafe dekat toko buku Petra Togamas Surabaya.
Atau pergi tiba-tiba di satu subuh yang dingin, naik kereta ekonomi ke stasiun Sidoarjo. Menikmati matahari terbit dalam keremangan dan bau apek kereta bertiket 3500 rupiah. Nongkrong di warung depan stasiun, menulis, juga ngopi. Beberapa tulisan saya lahir di warung kelas rakyat itu.
Kini, saya seperti tersesat. Pusaran pasien, gelisah waktu yang terburu, bayang hitam janji-janji yang tak terpenuhi. Janji saya pada diri sendiri. Juga janji mereka, orang-orang yang meminta saya hadir di kota ini.
Saya ingin pulang. Tapi kemana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar