LIR RESPATI BUMIDAYA
Wori, dan ini buku harian ku yang ku beri nama “worry with single “R”", umur ku masih 9 tahun, dan aku perempuan kecil yang nakal. Setahun lalu, bune koma dirumah sakit dan sampai saat ini ia belum bisa bekerja lagi, bune masih terbaring saja di kamarnya walau sudah bisa melakukan banyak hal, tapi untuk bekerja diluar rumah, bune masih sangat lemah.
Jhon merawat aku dan bune, dia sering memberi makan kami, tapi seadanya saja, aku sudah lama kehilangan uang jajan, jangankan untuk jajan kadang makan saja tak selalu dua kali sehari.
Saat John harus bertugas keluar kota, ia menitipkan sejumlah uang kepada bune, tapi bune sangat irit menggunakannya karena tidak tau sampai kapan ia akan bekerja, atau sampai kapan jhon akan kembali. Praktis itu membuatku sering kelaparan.
Suatu siang saat aku bermain main di dekat sebuah pabrik kecil yang membuat roti, saat para pekerjanya sedang istirahat siang, aroma roti susah sekali untuk ditolak perut ku yang lapar, aku mencoba mendekat dan sepi sekali tak ada seorang pun disana, sementara roti roti yang sudah di panggang menunggu dingin untuk dikemas, terpampang di depan mata dengan aroma yang sungguh menggoda.
aku pulang kerumah dengan dua roti tawar yang kubawa begitu saja tanpa bungkus apa apa, kuletakkan satu di samping tempat tidur bune, dan satunya ku makan dengan lahap, perutku benar benar lapar.
Bune mendapati roti di samping tempat tidur nya,ia bangun dengan muka merah menahan marah, lalu mendapati aku sedang makan roti dengan lahap, bune menjadi lepas kendali, aku dipukul berkali kali, sampai bune capek sendiri.
Saat bune sudah tenang, dia bertanya baik baik padaku,
“Wori, dari mana kamu dapat roti ini?”
“Dari pabrik roti”
“Kamu mencuri?”
“Iya..”
“Bukankah bune pernah bilang kalau semua perbuatan mu dilihat oleh Tuhan?”
“Iya..”
“Lalu menurut mu apa yang Tuhan katakan ke kamu kalau kamu mencuri?”
“Tuhan disana bune, saat aku mencuri Tuhan ada disana, dan Dia bilang “ambilkan satu lagi untuk bune”, jadi aku ambil dua”
Wori, dan ini buku harian ku yang ku beri nama “worry with single “R”", umur ku masih 9 tahun, dan aku perempuan kecil yang nakal. Setahun lalu, bune koma dirumah sakit dan sampai saat ini ia belum bisa bekerja lagi, bune masih terbaring saja di kamarnya walau sudah bisa melakukan banyak hal, tapi untuk bekerja diluar rumah, bune masih sangat lemah.
Jhon merawat aku dan bune, dia sering memberi makan kami, tapi seadanya saja, aku sudah lama kehilangan uang jajan, jangankan untuk jajan kadang makan saja tak selalu dua kali sehari.
Saat John harus bertugas keluar kota, ia menitipkan sejumlah uang kepada bune, tapi bune sangat irit menggunakannya karena tidak tau sampai kapan ia akan bekerja, atau sampai kapan jhon akan kembali. Praktis itu membuatku sering kelaparan.
Suatu siang saat aku bermain main di dekat sebuah pabrik kecil yang membuat roti, saat para pekerjanya sedang istirahat siang, aroma roti susah sekali untuk ditolak perut ku yang lapar, aku mencoba mendekat dan sepi sekali tak ada seorang pun disana, sementara roti roti yang sudah di panggang menunggu dingin untuk dikemas, terpampang di depan mata dengan aroma yang sungguh menggoda.
aku pulang kerumah dengan dua roti tawar yang kubawa begitu saja tanpa bungkus apa apa, kuletakkan satu di samping tempat tidur bune, dan satunya ku makan dengan lahap, perutku benar benar lapar.
Bune mendapati roti di samping tempat tidur nya,ia bangun dengan muka merah menahan marah, lalu mendapati aku sedang makan roti dengan lahap, bune menjadi lepas kendali, aku dipukul berkali kali, sampai bune capek sendiri.
Saat bune sudah tenang, dia bertanya baik baik padaku,
“Wori, dari mana kamu dapat roti ini?”
“Dari pabrik roti”
“Kamu mencuri?”
“Iya..”
“Bukankah bune pernah bilang kalau semua perbuatan mu dilihat oleh Tuhan?”
“Iya..”
“Lalu menurut mu apa yang Tuhan katakan ke kamu kalau kamu mencuri?”
“Tuhan disana bune, saat aku mencuri Tuhan ada disana, dan Dia bilang “ambilkan satu lagi untuk bune”, jadi aku ambil dua”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar