Minggu, 17 Juni 2012

jangan jangan

LIR RESPATI BUMIDAYA
untuk Gus Dur di Surga
Dari saya untuk yang mulia Presiden Abdurrahman Wahid
Indonesia negeri Amuk.. Makanya kosa kata itulah yang kita sumbangkan bagi perbendaharaan kosa kata bahasa Inggris (Amuck).
Jadi Amuk adalah persembahan Indonesia bagi dunia, selain orang utan tentunya. Sedih ya, kalau ternyata kelakuan kita juga sama mencerminkannya dengan kosa kata yang sudah kita sumbangkan bagi kamus bahasa internasional itu (mungkin biar terlihat konsisten)
Dulu ketika jaman Presiden Gus Dur kita bisa bangga sebagai bangsa yang kalau boleh dibilang berhasil mengekspor ide demokrasi dan pluralisme ke dunia internasional.
Perjalanan Gus Dur keliling dunia secara jelas menyisipkan pesan itu di setiap pertemuannya dengan kepala negara atau wakil civil society disana. Bisa kita tanya saksi - saksi yang masih hidup dan ikut perjalanan Presiden Wahid. Bahwa pada masa itu kita bisa keluar negeri dengan kepala tegak karena kita bisa berkata bahwa: kami negara demokrasi, kebebasan agama warga negara dijamin secara penuh oleh pemerintah, keberagaman adalah kekuatan kami bukan justru jadi kelemahan, orang tidak perlu sembunyi2 untuk baca buku Marxisme karangan Romo Magnis, Orang Tiong Hoa bisa bebas mengekspresikan kebudayaannya tanpa harus ganti nama memakai nama yg sok Indonesia dll.
Memang Presiden Wahid tidak bisa menghentikan konflik horizontal seperti yg terjadi Aceh , Ambon dan Sampit secara cepat. Tapi ketika itu masyarakat mungkin bisa tenang karena percaya bahwa pemerintah yg berkuasa adalah pemerintah yg cinta akan pluralisme dan bersedia all out untuk merawat dan melindungi keberagaman Indonesia.
Gus Dur bukan Presiden yg hanya cuma bisa bilang prihatin ketika kekerasan atas nama agama sedang terjadi. Kita juga tidak akan menemukan seorang Menteri Agama yang dengan mudah menilai akidah warga negaranya dengan kata SESAT seperti yg dilakukan Surya Dharma Ali. Sekarang, Menteri Agama yg harusnya menjadi payung semua agama dan kepercayaan malah kerap membuat pernyataan provokasi yg dengan enteng mengatakan yg ini SESAT, yg itu KAFIR. Lain halnya dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia) yg dari dulu memang diisi orang2 (maaf) sinting yang anti pluralisme. Bagi mereka selain daging babi, Pluralisme juga barang yang HARAM.
Sekarang orang mengamuk karena membela Tuhan. Bagi saya apa yg mereka lakukan justru bentuk penghinaan terhadap Tuhan itu sendiri. Tuhan itu kan sesuatu yg absolut dan sempurna. Memang siapa kita, mau berkorban untuk membela – bela Tuhan yg jelas-jelas semua percaya sebagai zat yg paling sempurna. Gus Dur dengan tegas pernah mengatakan bahwa Tuhan TIDAK perlu dibela, karena Dialah yang maha sempurna.
Huff, kita rindu Gus Dur.. Saya beruntung pernah berinteraksi dengannya secara dekat, meskipun jauh dari kata sering.
Gus, maafkan para pemimpin dan sebagian masyarakat kita yang tetap enggan menjalankan apa yang Gus cita – citakan dan perjuangkan selama ini. Mungkin mereka tidak tahu atau bahkan tidak mau.
Gus, kalau sempat tolong bujuk Tuhan agar mau terus memberikan berkat dan kasih bagi seluruh warga bangsa kita siapapun dia, apapun agamanya, kepercayaannya,status sosial ekonominya, bahasanya, dan warna kulitnya..
Semoga Gus tenang di alam sana.


oleh: Didiet Budi Adiputro
Dari saya untuk Yang Mulia Presiden Abdurrahman Wahid

Tidak ada komentar:

TRIK DAN SARAN

ADA KELUHAN ATAU PERTANYAAN?

TINGGAL ISI FORUM DI BAWAH INI.

foxyform

    • Popular
    • Categories
    • Archives