LIR RESPATI BUMIDAYA
Penulis Belanda Ikut Peduli Jatidaya
KERJA Bakti Budaya (Jatidaya) di kawasan Kayutangan pada 27 Mei
sebagai rangkaian acara Malang Kemball VII akan dikemass layaknya aksi
kerja bakti di kamptung-kampung. Selain partisipasi tenaga, panitia
meminta semua pesertaw ajib membawa peralatan sendiri. Selain peralatan
kebersihan, mereka diharapkan membawa kuas dari rumah.
Kuas tak perlu harus baru. Ukurannya pun bebas. Dengan membawa kuas sendiri, partisipan lebih bisa menjaga peralatan yang digunakan untuk kerja bakti. “Partisipan kami imbau untuk membawa kuas sendiri. Kami sediakan kuas hanya untuk tukang yang mengarahkan partisipan. Dengan begitu, acara mengecat jadi lebih tertib karena punya kuas sendiri-sendiri” ungkap Steven A. Sugiharto, vice president Indana Paint selaku sponsor tunggal cat bemerek Decofresh.
Dalam acara kerja bakti nanti, panitia juga mengajak warga sekitar Kayutangan untuk berpartisipasi. Bentuk partisipasi adalah tenaga atau konsumsi, panitia mengarahkan jenis konsumsi yang murah meriah. Bentuknya bisa polo pendem (singkong, ubi, kacang tanah).
“Ini adalah sebuah potret kepedulian dan gotong royong. Untuk yang menyumbang konsumsi, baik berwujud polo pendem. Tidak terlalu memberatkan di ongkos, seperti di kampung-kampung atau desa zaman dulu,” tutur Dwi Cahyono, penggagas Malang Kembali – Festival Tempo Doeloe 2012.
Kegiatan Jatidaya pada Minggu 27 Mei adalah kerja bareng panitia Malang Kembali VII- festival Tempo Doeloe 2012, Radar Malang (grup Jawa Pos), dan Decofresh. Wujud aksi itu adalah membersihkan sekaligus mengecat sembilan bangunan cagar budaya di jalan Kayutangan (kini jalan Basuki Rihnat). Kegiatan kerja bakti itu diakhiri dengan pemasangan papan dokumentasi (documentary board).
Sementara, tamu-tamu istimewa yang bakal hadir dalam Jatidaya terus bertambah. Salah satunya adalah Arthur Van Schaik, penulis buku Malang, beeld van een stad. Sebuah buku referensi tentang Malang yang berbabasa Belanda. Doktor sejarah dan geografi yang tinggal di Amsterdam itu sengaja datang dan akan ikut mengecat bangunan kuno di Kayutangan
sumber: Radar Malang 17 Mei 2012
Kuas tak perlu harus baru. Ukurannya pun bebas. Dengan membawa kuas sendiri, partisipan lebih bisa menjaga peralatan yang digunakan untuk kerja bakti. “Partisipan kami imbau untuk membawa kuas sendiri. Kami sediakan kuas hanya untuk tukang yang mengarahkan partisipan. Dengan begitu, acara mengecat jadi lebih tertib karena punya kuas sendiri-sendiri” ungkap Steven A. Sugiharto, vice president Indana Paint selaku sponsor tunggal cat bemerek Decofresh.
Dalam acara kerja bakti nanti, panitia juga mengajak warga sekitar Kayutangan untuk berpartisipasi. Bentuk partisipasi adalah tenaga atau konsumsi, panitia mengarahkan jenis konsumsi yang murah meriah. Bentuknya bisa polo pendem (singkong, ubi, kacang tanah).
“Ini adalah sebuah potret kepedulian dan gotong royong. Untuk yang menyumbang konsumsi, baik berwujud polo pendem. Tidak terlalu memberatkan di ongkos, seperti di kampung-kampung atau desa zaman dulu,” tutur Dwi Cahyono, penggagas Malang Kembali – Festival Tempo Doeloe 2012.
Kegiatan Jatidaya pada Minggu 27 Mei adalah kerja bareng panitia Malang Kembali VII- festival Tempo Doeloe 2012, Radar Malang (grup Jawa Pos), dan Decofresh. Wujud aksi itu adalah membersihkan sekaligus mengecat sembilan bangunan cagar budaya di jalan Kayutangan (kini jalan Basuki Rihnat). Kegiatan kerja bakti itu diakhiri dengan pemasangan papan dokumentasi (documentary board).
Sementara, tamu-tamu istimewa yang bakal hadir dalam Jatidaya terus bertambah. Salah satunya adalah Arthur Van Schaik, penulis buku Malang, beeld van een stad. Sebuah buku referensi tentang Malang yang berbabasa Belanda. Doktor sejarah dan geografi yang tinggal di Amsterdam itu sengaja datang dan akan ikut mengecat bangunan kuno di Kayutangan
sumber: Radar Malang 17 Mei 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar