LIR RESPATI BUMIDAYA
KEMAHASEMPURNAAN KASIH ALLAH Tidak
ada Tuhan yang wajib dimintai pertolongannya, wajib dijadikan tujuan, wajib
dituruti segala perintahnya, serta wajib dijauhi segala larangannya, kecuali
Allah Azza wa Jalla, Dzat yang hidup kekal dan terus menerus mengurus
makluk-Nya. Dialah yang menciptakan, memelihara, dan mengawasi semua yang ada
di langit dan di bumi. Dialah yang telah dengan cermat dan tidak pernah lupa,
tekun mengurusi makhluk-Nya, yang Maha Pengasih kepada seluruh ciptaan-Nya dan
Maha Pengampun bagi seluruh hamba-Nya. Dialah yang begitu sayang kepada
hamba-hamba-Nya, sehingga tidak mungkin Dia berbuat aniaya sedikitpun kepada
makhluk-Nya. Dia pula yang terus-menerus tanpa pernah berhenti selalu
melimpahkan nikmat kepada seluruh makhluk-Nya walaupun banyak di antara makhluk
yang mengingkari dan mendustakan-Nya. Maha Suci Allah, Dzat yang Maha Kuasa dan
Maha Berkehendak terhadap semua makhluk-Nya. Tidak ada sedikit pun dari makhluk
yang kuasa memberi pertolongan, kecuali dengan ijin-Nya semata. Sebaliknya,
tidak ada sedikitpun dari makhluk yang kuasa menolak apa yang diberikan Allah
kepadanya. Bahkan tidak ada sedikitpun dari makhluk yang kuasa memelihara
tubuhnya sendiri, kecuali dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Dalam sebuah
hadist qudsi, Allah telah berfirman, yang artinya,”Wahai orang yang esok hari
bila diseru oleh manusia akan menyambutnya dan bila diseru oleh Dzat yang Maha
Besar (Allah), dia berpaling dan mengesampingkannya. Ketahuilah, apabila kamu
minta, maka Aku (Allah) memberimu. Jika kamu berdoa kepada-Ku, maka Aku
kabulkan. Jika kamu sakit, maka Aku sembuhkan. Jika kamu berserah diri, maka
Aku memberimu rezeki. Jika kamu mendatangi-Ku maka Aku menemanimu. Dan jika
kamu bertaubat, maka Aku ampuni dosa-dosamu, Aku Maha Penerima taubat dan Maha
Pengasih. (H.Q.R. At Tirmidzi dan Al Hakim). MasyaAllah, ternyata begitu agung
kasih dan ampunan Allah kepada hamba-Nya. Tetapi sayang, karena kita sudah
terlalu banyak berpikiran duniawi, maka segala sesuatu diukur dengan bentuk
duniawinya. Karena kita sudah terlalu banyak berpikiran egois, maka segala sesuatu
harus sesuai dengan kehendak nafsu kita. Karenanya, banyak di antara kita yang
akhirnya jatuh menjadi orang yang mengingkari dan mendustakan nikmat-Nya.
Padahal, Allah adalah Dzat yang Maha sempurna, yang tidak diciptakan semuanya
ini sia-sia belaka dan tidak pernah berbuat aniaya (dzalim) kepada
hamba-hamba-Nya. Subhanallah! Kita buruk sangka kepada Allah karena belum
mengenal dan mengetahui ilmu-Nya. Keingkaran kita kepada nikmat Allah karena
belum tahu apa yang telah Dia rencanakan pada diri kita. Demikian juga
kedustaan kita kepada-Nya karena belum sadar, apa maksud Dia menciptakan jagad
raya alam semesta ini. Banyak di antara kita yang kecewa kepada Allah karena
doa tidak terkabul, karena permintaan tidak dipenuhi oleh-Nya. Padahal, siapa
bilang doa kita tidak dikabulkan? Kita kecewa karena kita belum tahu bagaimana
luar biasanya kasih sayang Allah pada kita. Kita belum sadar bagaimana Dia
telah menciptakan setiap helai rambut di tubuh kita, membuat setiap titik
pori-pori dalam kulit kita, menjadikan bagus setiap garis-garis yang ada di
telapak tangan kita. Allah lah yang telah menciptakan, mengurus, dan memelihara
semua yang ada pada tubuh ini, bahkan seluruh jagad raya alam semesta ini.
Allahu Akbar! Jadi, bagaimana mungkin Allah yang telah demikian cermatnya
menciptakan dan memelihara kita lantas lupa dan tidak tahu apa yang kita
inginkan? Bagaimana mungkin Allah yang tidak ada cacat sedikit pun bagi-Nya
tidak mendengar apa yang kita mohonkan? Allah adalah Dzat yang Maha Sempurna
jauh dari semua yang kita kecewakan. Kita harus yakin dengan seyakin-yakinnya
bahwa segala kejadian yang ada di alam semesta ini semuanya atas kehendak
Allah. Tidak ada sedikitpun kuasa kita untuk ikut mengaturnya, apalagi
memintanya. Allah berfirman, yang artinya,”Kamu tidak berada dalam suatu
keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan
suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya.
Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu walaupun sebesar dzarah (atom) di bumi
atapun di langit. Tidak ada yang lebh kecil dan tidak (pula) yang lebih besar
daripada itu, nelainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (lauhul
Mahfudz).” [Q.S. Yunus (10) : 61]. “…Allah mengetahui apa-apa yang ada di
hadapan dan di belakang mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui apa-apa dari
ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya…”[Q.S. Al Baqarah (2) : 255].
Sahabat, ternyata kita harus sadar bahwa tidak ada sedikitpun kuasa kita untuk
memenuhi keinginan-keinginan kita. Bahkan kita mempunyai akal pikiran serta
keinginan pun ternyata rahmat Allah semata. Coba saja kalau hidup di dunia ini
tanpa keinginan, betapa hidup ini hampa tiada arti. Mau makan tidak ada selera,
mau menikah tidak ada keinginan untuk berkeluarga. MasyaAllah, semuanya benar-benar
kehendak-Nya yang diberikan kepada kita karena kasih sayang-Nya. Nah, kalau
mata kita sudah terbuka akan kehebatan ilmu Allah, maka kitapun akan semakin
yakin bahwa tidak ada yang lebih mengetahui apa yang kita perlukan serta apa
yang terbaik bagi kita, kecuali Allah Azza wa Jalla semata. Cobalah perhatikan
tubuh kita. Adakah kita tahu berapa liter jumlah darah dalam tubuh kita yang
mengalir menuju otak tiap detiknya? Berapa kali jantung harus memompa darah
untuk memenuhi kebutuhan hati, paru-paru dan seluruh kulit di permukaan tubuh
kita tiap detiknya? Yang kita tahu paling-paling cuma perut berbunyi pertanda
lapar. Maka, dimakanlah semua makanan yang ada, tanpa memperhatikan makanan apa
yang baik dan halal bagi jasmani kita. Yang kita tahu paling-paling cuma badan
lemas karena perut kekenyangan. Maka, mulut pun teras kecut. Dihisaplah
sebatang rokok sambil melamun, tanpa kita ingat betapa paru-paru kita begitu
tersiksa dengan nikotin yang kita paksakan masuk. Nah, kita sendiripun ternyata
sama sekali buta dengan apa yang diperlukan tubuh sendiri. Bagaimana mungkin
kita akan tahu apa yang akan menimpa diri kita serta apa yang baik buat kita?
Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui segalanya. Tidak ada sedikitpun yang
luput dari kehendak dan pengawasan-Nya. Karena itu, kita tidak perlu kecewa
karena ternyata yang kita harapkan pertolongannya adalah Dzat yang Maha
Mengetahui semua kebutuhan makhluk-Nya. Walhasil, tatkala kita berdoa memohon
pertolongan-Nya, ingatlah akan janji-Nya, bahwa setiap doa dari hamba-Nya akan
selalu dikabulkan karena Dia adalah satu-satunya Dzat yang tidak pernah ingkar
terhadap janji. Langkah berikutnya, kita pun harus sadar bahwa pengabulan Allah
atas setiap dosa hamba-Nya tidak selalu dengan cara mewujudkan semua yang diminta.
Karena, Allah Maha Tahu kemampuan hamba-Nya untuk menerima nikmat yang
dikaruniakan-Nya. Dialah yang Maha Mengetahui segala kejadian yang ada pada
makhluk-Nya, semua yang akan terjadi, dan semua yang terbaik bagi
hamba-hamba-Nya, untuk kelak bisa kembali kepada-Nya dengan selamat. Bisa jadi
Allah mengabulkan doa hamba-Nya justru dengan memberikan kebalikan dari apa
yang diminta karena Allah Maha Tahu akan keburukan dari apa yang kita minta
atas diri kita sendiri. “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal baik bagimu
menurut Allah dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal amat buruk
bagimu menurut Allah. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
[Q.S. Al Baqarah (2) : 216]. Dalam pandangan kita, kita akan bahagia jika kita
sudah mempunyai harta yang banyak, rumah megah, mobil mewah, sehingga kita
selalu berdoa kepada Allah agar dilimpahi rizki halal yang besar. Padahal, bisa
jadi Allah yang Maha Tahu, telah mengetahui kadar kemampuan dan keimanan kita
jika kita diberi kekayaan yang melimpah. Apalagi ternyata belum tentu harta
yang melimpah dapat menjamin kebahagiaan kita. Bisa jadi jika kita dikaruniai
rizki yang melimpah malah membuat kita jauh dari mengingat dan mengenal Allah
karena hati sudah tertutup oleh dunia. Padahal Allah adalah Dzat yang Maha
Kasih dan Maha Sayang kepada hamba-Nya. Dia menginginkan semua hamba-Nya
kembali bertemu dengan-Nya di akhirat kelak. Sehingga, boleh jadi Allah
mengabulkan permohonan kita justru dengan mengaruniakan rizki yang pas-pasan
sebab ternyata dalam pandangan Allah kita belum mampu jika dititipi amanat
harta dunia yang banyak. Ternyata kita memang lebih banyak ingat dan beribadah
kepada-Nya jika kita dalam kekurangan. Karena itu, hal yang terbaik bagi kita
adalah bahwa kita harus selalu bisa mensyukuri apa yang telah Allah berikan dan
takdirkan kepada kita. Kita selalu merasa nikmat dengan apapun yang telah Dia
limpahkan kepada kita. Benar-benar menjadi terasa nikmat jika semuanya
dikembalikan kepada-Nya. Saat kita berdoa kepada Allah, sungguh terasa nikmat
karena bisa berdekatan dan bermesraan dengan-Nya, serta bisa merasakan
kebesaran kasih sayang-Nya yang sungguh tiada bandingannya. Saat kita
berikhtiar di jalan Allah, sungguh terasa nikmat karena bisa memperoleh
limpahan pahala ikhtiar daripada-Nya sebagai bekal menuju jalan bertemu
dengan-Nya. Demikian juga saat kita bertawakal kepada-Nya, sungguh terasa
nikmat karena bisa merasakan kebesaran dan keperkasaan-Nya yang menguasai
segala urusan di alam semesta. Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla yang dengan
penuh kasih sayang telah mengaruniakan semua yang terbaik kepada hamba-Nya,
sehingga semuanya menjadi nikmat yang semakin menambah kita taqarrub
kepada-Nya. Wallohu’alam bishshowab. (DI KUTIP DARI DT)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar