Minggu, 30 September 2012

MIMPI DAN IRISAN ROT

LIR RESPATI BUMIDAYA
I
Tiga orang musafir menjadi sahabat dalam suatu perjalanan
yang jauh dan melelahkan; mereka bergembira dan berduka
bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama.

Setelah berhari-hari lamanya mereka menyadari bahwa yang
mereka miliki tinggal sepotong roti dan seteguk air di
kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak
memakan dan meminum bekal tersebut. Karena tidak berhasil
mencapai persesuaian pendapat, akhirnya mereka memutuskan
untuk membagi saja makanan dan minuman itu menjadi tiga.
Namun, tetap saja mereka tidak sepakat.

Malampun turun; salah seorang mengusulkan agar tidur saja.
Kalau besok mereka bangun, orang yang telah mendapatkan
mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus
dilakukan.

Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun ketika matahari
terbit.

"Inilah mimpiku," kata yang pertama. "Aku berada di
tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah dan
tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang
mengatakan kepadaku, 'Kau berhak makan makanan itu, sebab
kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas
mendapat pujian."

"Aneh sekali," kata musafir kedua. "Sebab dalam mimpiku, aku
jelas-jelas melihat segala masa lampau dan masa depanku.
Dalam masa depanku, kulihat seorang lelaki maha tahu,
berkata, 'Kau berhak akan makanan itu lebih dari
kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih
sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk
menjadi penuntun manusia."

Musafir ketiga berkata, "Dalam mimpiku aku tak melihat
apapun, tak berkata apapun. Aku merasakan suatu kekuatan
yang memaksaku bangun, mencari roti dan air itu, lalu
memakannya di situ juga. Nah, itulah yang kukerjakan
semalam."

Catatan

Kisah ini salah sebuah yang dianggap merupakan karangan Syah
Mohammad Gwath Syatari, yang meninggal tahun 1563. Ia
menulis risalah terkenal, Lima Permata, yang menggambarkan
cara pencapaian taraf lebih tinggi manusia dalam terminologi
sihir dan tenaga gaib, yang didasarkan pada model-model
kuno. Ia merupakan Guru yang telah melahirkan lebih dari
empat belas Kaum dan sangat dihargai oleh Maharaja India,
Humayun.

Meskipun ia dipuja-puja beberapa kalangan sebagai orang
suci, beberapa tulisannya dianggap oleh golongan pendeta
sebagai menyalahi aturan suci, dan oleh karenanya mereka
menuntutnya agar dihukum. Ia akhirnya dibebaskan dari
tuduhan murtad, karena hal-hal yang dikatakan dalam keadaan
pikiran yang istimewa tidak bisa dinilai dengan ukuran
pengetahuan biasa. Makamnya di Gwalior, yang merupakan
tempat ziarah Sufi yang sangat penting.

Alur yang sama juga dipergunakan dalam kisah-kisah Kristen
yang tersebar di kalangan pendeta pada abad pertengahan.

GUNUNG
Pada suatu hari, seorang yang cerdas, ahli pengetahuan yang
pikirannya terlatih, datang ke sebuah desa. Sebagai latihan
dan telaah ilmunya, ia ingin membandingkan pandangan yang
berbeda-beda yang mungkin ada dalam desa itu.

Ia mendatangi sebuah warung dan menanyakan tentang seorang
yang paling jujur dan seorang yang paling bohong di desa
itu. Orang-orang di warung itu sepakat bahwa orang yang
bernama Kazzab adalah pembohong terbesar; dan Rastgu yang
paling jujur. Ahli pengetahuan itupun mendatangi kedua orang
tersebut bergantian, mengajukan pertanyaan sederhana yang
sama kepada keduanya, "jalan manakah yang terbaik menuju ke
desa tetangga?"

Rastgu yang jujur itu berkata, "Jalan gunung."

Kazzab Si Pembohong juga berkata, "Jalan gunung."

Tentu saja jawaban itu membingungkan Sang Pengembara cerdas
tersebut .

Demikianlah, iapun bertanya kepada orang-orang lain,
penduduk desa biasa.

Ada yang mengatakan, "Lewat sungai;" yang lain mengusulkan,
"Lewat padang saja"

Dan ada yang juga mengatakan, "Jalan gunung."

Akhirnya diputuskannya mengambil jalan gunung. Tetapi dalam
kaitannya dengan tujuan semula tadi, masalah tentang orang
bohong dan orang jujur di desa itu mengganggu batinnya.

Ketika ia mencapai desa berikutnya, ia ceritakan kisahnya di
sebuah rumah penginapan; di akhir kisah dikatakannya. "Saya
jelas telah membuat kekeliruan logika yang mendasar dengan
menanyakan kepada orang-orang yang tidak tepat perihal Si
Jujur dan Si Bohong. Nyatanya saya telah sampai disini tanpa
kesulitan apapun, lewat jalan gunung."

Seorang bijaksana yang kebetulan berada di situ berkata,
"Harus diakui bahwa para ahli logika cenderung tak terbuka
matanya, karenanya suka minta orang lain membantunya. Tetapi
masalah yang menyangkut hal ini justru sebaliknya.
Kenyataannya adalah sebagai berikut: Sungai sebenarnya
merupakan jalan termudah, oleh karenanya Si Pembohong
menunjukkan jalan gunung. Tetapi orang yang jujur itu tidak
hanya jujur; ia mengetahui bahwa Anda punya keledai dan itu
memudahkan perjalanan Anda. Si Pembohong kebetulan tidak
mengetahui bahwa Anda tak punya perahu: seandainya ia tahu
hal itu, pasti diusulkannya jalan sungai."

Catatan

"Orang-orang menganggap kemampuan dan berkah para Sufi sulit
dipercaya. Tetapi orang-orang semacam itu adalah yang tidak
memiliki pengetahuan tentang kepercayaan yang sebenarnya.
Mereka mempercayai segala hal yang tidak benar, karena
kebiasaan atau karena diberi tahu oleh penguasa.

Kepercayaan yang sebenarnya merupakan sesuatu yang berbeda.
Mereka yang mampu memiliki keperccayaan yang sebenarnya
adalah yang pernah mengalami sesuatu. Jika mereka sudah
pernah mengalami kemampuan dan berkah, yang sekedar
diceritakan tidak ada harganya bagi mereka."

Kata-kata tersebut, menurut Sayed Syah (Qadiri, meninggal
tahun 1854) kadang-kadang mengawali kisah "Jalan Gunung"
ini.
Surat "Al Faatihah" (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surat-surat yang ada dalam Al Quraan dan termasuk golongan surat Makkiyyah.
Surat ini disebut "Al Faatihah" (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Quraan.
Dinamakan "Ummul Quraan" (induk Al Quraan) atau "Ummul Kitaab" (induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al Quraan, dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap sembahyang.
Dinamakan pula "As Sab'ul matsaany" (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sembahyang.
Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Quraan, yaitu:
  1. Keimanan
    Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu ni'mat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala ni'mat yang terdapat dalam alam ini.
    Diantara ni'mat itu ialah: ni'mat menciptakan, ni'mat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata "Rab" dalam kalimat "Rabbul-'aalamiin" tidak hanya berarti "Tuhan" atau "Penguasa", tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala ni'mat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini.
    Pendidikan, penjagaan dan Penumbuahn oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu: "Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin" ( hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan).
    Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Yang dimaksud dengan "Yang Menguasai Hari Pembalasan" ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatutunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap ni'mat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. "Ibadat" yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat
    catatan kaki 6.
  2. Hukum-hukum
    Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "Hidayah" disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.
  3. Kisah-kisah
    Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Quraan memuat kisah-kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud dengan orang yang diberi ni'mat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa' (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh).
    "Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat,"ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.
Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat-ayat Al Quraan pada surat-surat yang lain.

Tidak ada komentar:

TRIK DAN SARAN

ADA KELUHAN ATAU PERTANYAAN?

TINGGAL ISI FORUM DI BAWAH INI.

foxyform

    • Popular
    • Categories
    • Archives