LIR RESPATI BUMIDAYAPolisi Kecantol Kawat dalam suasana bercanda yang lebih terasa menyenangkan.
“Makanya yang lebih masuk ke otak tiga anak itu singkatan PKK adalah Polisi Kecantol Kawat, karena dalam suasana ceria otak lebih mudah merekam apa yang diterimanya.” Jelas Kang Noyo.
Saya jadi ingat obrolan dengan Mbah Suto beberapa waktu yang lalu, beliau memberikan tips bagaimana agar saya bisa menjadi orang tua yang hebat. Catet ya, bukan orang tua yang baik, tapi orang tua yang hebat.
“Kuncinya cuma dua Le, jangan bosan dan jangan membosankan.” Kata Mbah Suto.
Mungkin sampeyan juga sudah paham kalo waktu-waktu bersama anak ndak selalu jadi waktu yang menyenangkan. Apalagi dalam status sampeyan sebagai orang tua terkandung berbagai macam kewajiban untuk mendidik dan mengarahkan, yang kadang mendapat respon kurang menyenangkan. Tapi sebagai orang tua sampeyan jangan sampai bosan.
Yang juga ndak kalah penting, jangan sampai sampeyan jadi orang tua yang membosankan. Anak bukan komputer yang selalu siap menjalankan perintah tanpa membantah, bukan juga seperti motor yang siap mengulang ritual yang sama ratusan kali tanpa protes. Sekali-kali coba sampeyan mencari tau dan mencuri dengar seperti apa citra sampeyan di mata anak.
Antara petuah Mbah Suto dan obrolan dengan Kang Noyo saya menyimpulkan: sebagai orang tua harus punya kesabaran ekstra dan mampu berinteraksi secara menarik dengan anak agar tercipta suasana yang selalu ceria.
Mendadak saya teringat obrolan beberapa ibu di pabrik yang sedang membanggakan anak-anaknya, kelas 1 SD, berangkat jam 6.30 pagi pulang jam 3 sore, les mengaji setelahnya, tidak lupa bikin PR malemnya, oh jangan lupakan kursus baletnya. Saya sulit membayangkan anak umur 7 tahun dengan beban belajar segitu banyaknya, dan masih mampu tersenyum ceria.Jaman saya masih sekolah dulu ada satu pelajaran yang selalu sukses membuat saya terpuruk, nilai yang saya dapet ndak pernah lebih dari enam. Itu pun saya yakin bercampur dengan belas kasihan dari guru saya. Pelajaran itu adalah Bahasa Jawa.
Memangnya susah?
Kalo sekedar nulis huruf jawa sih saya masih mampu, tapi kalo sudah menyangkut tata bahasa nyerah saya. Ndak cuma tujuh tingkatan bahasa yang mbikin mumet, segala macem peribahasa, idiom, dan lain sebagainya sukses membuat saya tiap kali ujian cuma berdoa semoga Pak Guru semester ini kembali berbelas kasihan sama saya.http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/63.gif
Mendadak inget sama pelajaran ini gara-gara kemaren sore saya ketemu Kang Noyo di warung Mbok Darmi, sepulang dari liburan setelah dipaksa cuti sama pabrik tempat saya mburuh.
“Kamu sudah denger Le, katanya mau ada perubahan dalam buku panduan Bahasa Jawa sekarang.” Kata Kang Noyo.
“Perubahan opo Kang?”
“Sapi, dulu kan masuk kategori rojo koyo, alias bendayang merupakan simbol kekayaan pemiliknya. Dalam buku panduan Bahasa Jawa versi terbaru sudah ndak lagi, malah rencananya mau direvisi, sapi sekarang jadi rojo kere, simbol kebangkrutan bagi yang punya.” Lanjut Kang Noyo.
Welhadalah, mosok iya? h
“Tenan iki, ojo mesam-mesem kowe! Tak keplaki sisan!” Sungut Kang Noyo.
Haiyah!
Ternyata kemaren Kang Noyo baru pulang kampung, dan mendapat kabar kurang mengenakkan.
“Kamu tau sendiri kan, gaji buruh kecil macem kita ini ndak seberapa. Sudah tak irit-irit sampe lama, akhirnya ngumpul duit sembilan juta. Tak belikan sapi maksudnya buat investasi, karena kata simbah dulu kan sapi itu rojo koyo. Harganya pasti naik, belum lagi kalo beranak, sudah untung naik harganya, masih dapet anaknya juga.” Ujar Kang Noyo mulai berkeluh-kesah.
Trus piye Kang?
“Berapa bulan yang lalu ada yang nawar sapiku, 6 juta. Lha kok enak, wong dulu aku belinya 9 juta lebih. Eh, kemaren aku nyoba nanya lagi waktu pulang kampung, dia bilang 6 juta pun belum tentu ada yang mau. Asem! Lha iki maksudnya piye?!” Kata Kang Noyo dengan nada makin anyel.
Saya jadi inget waktu pulang kampung kemaren. Kang Sarman, tetangga di kampung beli sapi harga empat juta, trus karena butuh biaya buat istrinya melahirkan akhirnya sapi dijual, cuma laku 2,7 juta. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/40.gif
“Malah mahalan kambing mas, aku lho beli kambing buat aqiqoh seekornya 1,2 juta.” Cerita Kang Sarman sambil bersungut-sungut.
Lebih tragis lagi Pak Basir, yang rumahnya deket mesjid kampung saya. Beliau beli sapi harga tujuh juta, pas butuh duit dia mau jual, ditawar orang empat juta. Karena merasa sayang beliau ndak jadi njual, dan lagi waktu itu sapinya lagi bunting. Sapinya baru dijual setelah beranak.
“Laku berapa Pak?” Tanya saya waktu ketemu.
“Empat juta, induk sama anaknya.” Jawab beliau pasrah.
Saya bener-bener heran, kalo ndak salah inget ini sudah menginjak tahun kedua harga sapi berada dalam titik yang jangankan membuat peternak untung, menghindar dari kerugian pun nyaris mustahil. Dan celakanya makin lama makin turun.
Contoh yang paling kelihatan Kang Noyo, dulu dia merasa sudah untung beli sapi seharga 9 juta, karena dalam kondisi normal harga sapi yang dia beli berkisar di angka 11 juta. Setelah beberapa bulan ternyata harganya makin turun, jadi tinggal 6 juta, dan sekarang si blantik sapi bilang 6 juta pun susah njualnya. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/39.gif
Lebih heran lagi waktu saya baca berita para pedagang bakso pada demo di gedung DPR, mengeluhkan mahalnya harga daging sapi. Peternak kecil menjerit karena murahnya harga sapi, sedangkan yang lain marah karena mahalnya daging sapi. Di mana letak kesalahannya? Siapa perampok keuntungannya? http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/106.gif
Dan saya bener-bener super duper heran waktu melihat pemerintah seakan ndak peduli sama jeritan rakyatnya sendiri. Setelah sempat merencanakan pada tahun 2011 akan mengimpor 50.000 ton daging sapi, pemerintah malah menaikkan kuota impor daging sapi menjadi 72.000 ton. Kalo diitung-itung, tambahan 22 ribu ton itu setara dengan 120 ribu ekor sapi. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/107.gif
Buat sampeyan yang berminat dengan ternak sapi, saya sarankan ditunda dulu, paling ndak sampe buku panduan Bahasa Jawa direvisi ulang dan sapi kembali dimasukkan kategori rojo koyo.
Eh, tapi apa iya ada istilah rojo kere dalam bahasa jawa? f
“Pokoknya mau tak jual saja sapinya! Aku mau beli ternak baru ke Mbah Atmo!” Kang Noyo masih belum selese misuh-misuhnya.
“Lho? Setau saya Mbah Atmo itu dukun lho Kang, ndak jualan ternak.”
“Biarin, pokoknya aku sekarang mau ternak tuyul saja!” Kang Noyo pergi sambil tetep misuh-misuh.
“Makanya yang lebih masuk ke otak tiga anak itu singkatan PKK adalah Polisi Kecantol Kawat, karena dalam suasana ceria otak lebih mudah merekam apa yang diterimanya.” Jelas Kang Noyo.
Saya jadi ingat obrolan dengan Mbah Suto beberapa waktu yang lalu, beliau memberikan tips bagaimana agar saya bisa menjadi orang tua yang hebat. Catet ya, bukan orang tua yang baik, tapi orang tua yang hebat.
“Kuncinya cuma dua Le, jangan bosan dan jangan membosankan.” Kata Mbah Suto.
Mungkin sampeyan juga sudah paham kalo waktu-waktu bersama anak ndak selalu jadi waktu yang menyenangkan. Apalagi dalam status sampeyan sebagai orang tua terkandung berbagai macam kewajiban untuk mendidik dan mengarahkan, yang kadang mendapat respon kurang menyenangkan. Tapi sebagai orang tua sampeyan jangan sampai bosan.
Yang juga ndak kalah penting, jangan sampai sampeyan jadi orang tua yang membosankan. Anak bukan komputer yang selalu siap menjalankan perintah tanpa membantah, bukan juga seperti motor yang siap mengulang ritual yang sama ratusan kali tanpa protes. Sekali-kali coba sampeyan mencari tau dan mencuri dengar seperti apa citra sampeyan di mata anak.
Antara petuah Mbah Suto dan obrolan dengan Kang Noyo saya menyimpulkan: sebagai orang tua harus punya kesabaran ekstra dan mampu berinteraksi secara menarik dengan anak agar tercipta suasana yang selalu ceria.
Mendadak saya teringat obrolan beberapa ibu di pabrik yang sedang membanggakan anak-anaknya, kelas 1 SD, berangkat jam 6.30 pagi pulang jam 3 sore, les mengaji setelahnya, tidak lupa bikin PR malemnya, oh jangan lupakan kursus baletnya. Saya sulit membayangkan anak umur 7 tahun dengan beban belajar segitu banyaknya, dan masih mampu tersenyum ceria.Jaman saya masih sekolah dulu ada satu pelajaran yang selalu sukses membuat saya terpuruk, nilai yang saya dapet ndak pernah lebih dari enam. Itu pun saya yakin bercampur dengan belas kasihan dari guru saya. Pelajaran itu adalah Bahasa Jawa.
Memangnya susah?
Kalo sekedar nulis huruf jawa sih saya masih mampu, tapi kalo sudah menyangkut tata bahasa nyerah saya. Ndak cuma tujuh tingkatan bahasa yang mbikin mumet, segala macem peribahasa, idiom, dan lain sebagainya sukses membuat saya tiap kali ujian cuma berdoa semoga Pak Guru semester ini kembali berbelas kasihan sama saya.http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/63.gif
Mendadak inget sama pelajaran ini gara-gara kemaren sore saya ketemu Kang Noyo di warung Mbok Darmi, sepulang dari liburan setelah dipaksa cuti sama pabrik tempat saya mburuh.
“Kamu sudah denger Le, katanya mau ada perubahan dalam buku panduan Bahasa Jawa sekarang.” Kata Kang Noyo.
“Perubahan opo Kang?”
“Sapi, dulu kan masuk kategori rojo koyo, alias bendayang merupakan simbol kekayaan pemiliknya. Dalam buku panduan Bahasa Jawa versi terbaru sudah ndak lagi, malah rencananya mau direvisi, sapi sekarang jadi rojo kere, simbol kebangkrutan bagi yang punya.” Lanjut Kang Noyo.
Welhadalah, mosok iya? h
“Tenan iki, ojo mesam-mesem kowe! Tak keplaki sisan!” Sungut Kang Noyo.
Haiyah!
Ternyata kemaren Kang Noyo baru pulang kampung, dan mendapat kabar kurang mengenakkan.
“Kamu tau sendiri kan, gaji buruh kecil macem kita ini ndak seberapa. Sudah tak irit-irit sampe lama, akhirnya ngumpul duit sembilan juta. Tak belikan sapi maksudnya buat investasi, karena kata simbah dulu kan sapi itu rojo koyo. Harganya pasti naik, belum lagi kalo beranak, sudah untung naik harganya, masih dapet anaknya juga.” Ujar Kang Noyo mulai berkeluh-kesah.
Trus piye Kang?
“Berapa bulan yang lalu ada yang nawar sapiku, 6 juta. Lha kok enak, wong dulu aku belinya 9 juta lebih. Eh, kemaren aku nyoba nanya lagi waktu pulang kampung, dia bilang 6 juta pun belum tentu ada yang mau. Asem! Lha iki maksudnya piye?!” Kata Kang Noyo dengan nada makin anyel.
Saya jadi inget waktu pulang kampung kemaren. Kang Sarman, tetangga di kampung beli sapi harga empat juta, trus karena butuh biaya buat istrinya melahirkan akhirnya sapi dijual, cuma laku 2,7 juta. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/40.gif
“Malah mahalan kambing mas, aku lho beli kambing buat aqiqoh seekornya 1,2 juta.” Cerita Kang Sarman sambil bersungut-sungut.
Lebih tragis lagi Pak Basir, yang rumahnya deket mesjid kampung saya. Beliau beli sapi harga tujuh juta, pas butuh duit dia mau jual, ditawar orang empat juta. Karena merasa sayang beliau ndak jadi njual, dan lagi waktu itu sapinya lagi bunting. Sapinya baru dijual setelah beranak.
“Laku berapa Pak?” Tanya saya waktu ketemu.
“Empat juta, induk sama anaknya.” Jawab beliau pasrah.
Saya bener-bener heran, kalo ndak salah inget ini sudah menginjak tahun kedua harga sapi berada dalam titik yang jangankan membuat peternak untung, menghindar dari kerugian pun nyaris mustahil. Dan celakanya makin lama makin turun.
Contoh yang paling kelihatan Kang Noyo, dulu dia merasa sudah untung beli sapi seharga 9 juta, karena dalam kondisi normal harga sapi yang dia beli berkisar di angka 11 juta. Setelah beberapa bulan ternyata harganya makin turun, jadi tinggal 6 juta, dan sekarang si blantik sapi bilang 6 juta pun susah njualnya. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/39.gif
Lebih heran lagi waktu saya baca berita para pedagang bakso pada demo di gedung DPR, mengeluhkan mahalnya harga daging sapi. Peternak kecil menjerit karena murahnya harga sapi, sedangkan yang lain marah karena mahalnya daging sapi. Di mana letak kesalahannya? Siapa perampok keuntungannya? http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/106.gif
Dan saya bener-bener super duper heran waktu melihat pemerintah seakan ndak peduli sama jeritan rakyatnya sendiri. Setelah sempat merencanakan pada tahun 2011 akan mengimpor 50.000 ton daging sapi, pemerintah malah menaikkan kuota impor daging sapi menjadi 72.000 ton. Kalo diitung-itung, tambahan 22 ribu ton itu setara dengan 120 ribu ekor sapi. http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/107.gif
Buat sampeyan yang berminat dengan ternak sapi, saya sarankan ditunda dulu, paling ndak sampe buku panduan Bahasa Jawa direvisi ulang dan sapi kembali dimasukkan kategori rojo koyo.
Eh, tapi apa iya ada istilah rojo kere dalam bahasa jawa? f
“Pokoknya mau tak jual saja sapinya! Aku mau beli ternak baru ke Mbah Atmo!” Kang Noyo masih belum selese misuh-misuhnya.
“Lho? Setau saya Mbah Atmo itu dukun lho Kang, ndak jualan ternak.”
“Biarin, pokoknya aku sekarang mau ternak tuyul saja!” Kang Noyo pergi sambil tetep misuh-misuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar