LIR RESPATI BUMIDAYA
Hematuri (Kencing Darah)
Hematuri atau kencing darah adalah keluarnya darah dengan konsentrasi tertentu dalam urine/kencing baik yang bisa diamati dengan mata telanjang atau dengan bantuan mikroskopis. Sensitivitas dari gejala ini adalah 59% pada laki laki dan 52% pada wanita artinya 59% dari laki laki yang menderita gejala ini akan menderita kanker, sedangkan untuk wanita sebesar 52%.
Hemoptysis (Batuk Darah)
Hemoptysis atau batuk darah adalah keluarnya darah dengan konsentrasi tertentu melalui saluran nafas baik yang bisa diamati langsung dengan mata telanjang atau dengan bantuan mikroskopis. Angka sensitivitasnya cukup rendah yaitu hanya 22% untuk laki laki dan 14% untuk perempuan. Gejala ini biasanya timbul pada kanker kanker yang menyerang saluran nafas baik saluran nafas bagian atas maupun bawah.
Dyspaghia (Gangguan Menelan)
Dyspaghia atau gangguan menelan biasanya terjadi pada kanker kanker yang menyerang saluran pencernaan bagian atas. Nilai sensitivitasnya pun cukup tinggi yaitu 58% dari gejala ini kemungkinan akan menderita kanker pada laki laki dan 54% pada wanita.
Rectal Bleeding (Berak Darah)
Rectal Bleeding atau berak darah adalah keluarnya darah dengan konsentrasi tertentu melalui saluran kotoran/anus yang bisa diamati langsung dengan mata telanjang atau dengan bantuan mikroskopis. Jenis kanker yang biasa menimbulkan gejala awal seperti ini adalah kanker pada usus besar. Sensitivitas dari gejala ini untuk terjadinya kanker berkisar di angka 33% untuk laki laki dan 25 % untuk perempuan.Demikianlah tanda tanda awal kanker yang perlu kita waspadai sehingga penanganan kanker bisa lebih cepat dan tepat. Penelitian yang saya sebutkan diatas bersumber dari : Alarm signal in early diagnosis of cancer in primary care: cohort study using General Practice Research Database. R. Jones, R. Latinovic, J. Charlton, MC. Gulliford, BMJ, 2007, vol. 334, pp. 1040–104
Hematuri (Kencing Darah)
Hematuri atau kencing darah adalah keluarnya darah dengan konsentrasi tertentu dalam urine/kencing baik yang bisa diamati dengan mata telanjang atau dengan bantuan mikroskopis. Sensitivitas dari gejala ini adalah 59% pada laki laki dan 52% pada wanita artinya 59% dari laki laki yang menderita gejala ini akan menderita kanker, sedangkan untuk wanita sebesar 52%.
Hemoptysis (Batuk Darah)
Hemoptysis atau batuk darah adalah keluarnya darah dengan konsentrasi tertentu melalui saluran nafas baik yang bisa diamati langsung dengan mata telanjang atau dengan bantuan mikroskopis. Angka sensitivitasnya cukup rendah yaitu hanya 22% untuk laki laki dan 14% untuk perempuan. Gejala ini biasanya timbul pada kanker kanker yang menyerang saluran nafas baik saluran nafas bagian atas maupun bawah.
Dyspaghia (Gangguan Menelan)
Dyspaghia atau gangguan menelan biasanya terjadi pada kanker kanker yang menyerang saluran pencernaan bagian atas. Nilai sensitivitasnya pun cukup tinggi yaitu 58% dari gejala ini kemungkinan akan menderita kanker pada laki laki dan 54% pada wanita.
Rectal Bleeding (Berak Darah)
Rectal Bleeding atau berak darah adalah keluarnya darah dengan konsentrasi tertentu melalui saluran kotoran/anus yang bisa diamati langsung dengan mata telanjang atau dengan bantuan mikroskopis. Jenis kanker yang biasa menimbulkan gejala awal seperti ini adalah kanker pada usus besar. Sensitivitas dari gejala ini untuk terjadinya kanker berkisar di angka 33% untuk laki laki dan 25 % untuk perempuan.Demikianlah tanda tanda awal kanker yang perlu kita waspadai sehingga penanganan kanker bisa lebih cepat dan tepat. Penelitian yang saya sebutkan diatas bersumber dari : Alarm signal in early diagnosis of cancer in primary care: cohort study using General Practice Research Database. R. Jones, R. Latinovic, J. Charlton, MC. Gulliford, BMJ, 2007, vol. 334, pp. 1040–104
Kembali ke alam (back to nature) merupakan
pilihan alternatif yang banyak diminati masyarakat saat ini, terutama dalam
bidang pengobatan. Penggunaan tanaman berkhasiat obat atau lebih umum dikenal
dengan herbal sebenarnya sudah lama
digunakan oleh masyarakat. Hanya saja perkembangan kedokteran modern (barat)
membuatnya hanya sebagai alternatif pilhan saja. Padahal sudah banyak bukti
keampuhan dan khasiat herbal. Disamping lebih ekonomis, herbal juga mempunyai
efek samping yang sangat kecil. Walaupun demikian, masih banyak masyarakat kita
yang meragukan khasiat herbal. Padahal ada beberapa faktor yang menyebabkan
kenapa herbal tidak bekerja dengan efektif. Penyajian yang salah, waktu minum
yang tidak tepat, dosis yang tidak tepat, dan ketidak sabaran pemakainya adalah
faktor-faktor yang menyebabkan herbal tidak efektif. Prof. H.M. Hembing
Wijayakusuma dalam bukunya “Ramuan Lengkap Herbal Taklukan Penyakit”
menyebutkan hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengkonsumsi herbal, sbb:
1. Cuci simplisia tumbuhan obat (herbal) dengan
air mengalir sampai bersih.
2. Segera gunakan herbal segar yang telah bersih
untuk pengobatan. Jika bahannya besar atau tebal, sebaiknya potong-potong tipis
agar saat perebusan zat-zat yang terkandung didalamnya mudah keluar dan meresap
dalam air rebusan. Untuk herbal yang disimpan, keringkan lebih dahulu setelah
dicuci agar tahan lama dan mencegah pembusukan oleh bakteri dan jamur. Bahan
kering (simplisia) juga lebih mudah dihaluskan untuk dijadikan serbuk (bubuk).
Pengeringan dapat langsung di bawah sinar matahari atau memakai pelindung.
Dapat juga diangin-anginkan, tergantung dari ketebalan atau kandungan airnya.
3. Seduh langsung bahan yang telah dijadikan
bubuk (serbuk) dengan air panas atau mendidih.
4. Untuk bahan yang keras dan sukar diekstrak,
sebaiknya hancurkan dan rebus terlebih dahulu sekitar 10 menit sebelum
memasukkan bahan lain.
5. Gunakan air tawar bersih dan tidak mengandung
zat kimia berbahaya untuk merebus. Pastikan jumlahnya cukup sehingga seluruh
bahan berkhasiat obat terendam sekitar 3cm.
6. Untuk merebus bahan berkhasiat obat, gunakan
wadah yang terbuat dari periuk tanah (keramik), panci enamel, atau panci
beling. Jangan menggunakan wadah dari logam, seperti besi, aluminium, dan
kuningan. Logam mengandung zat iron trichloride dan potassium
ferrycianide. Zat tersebut menimbulkan endapan pada air dalam mengobati
penyakit. Selama perebusan, jangan terlalu sering membuka tutup wadah agar
kandungan minyak atsirinya tidak mudah hilang.
7. Gunakan api sesuai dengan jenis herbal yang
direbus. – Api kecil: Gunakan untuk merebus herbal yang berkhasiat sebagai
tonikum, seperti ginseng dan jamur ling zhi agar kandungan aktifnya terserap
kedalam air rebusan (rebus sekitar 2 jam). Api kecil dengan waktu perebusan
yang lama juga digunakan untuk herbal yang mengandung toksin, seperti mahkota dewa agar kandungan toksinnya berkurang. – Api
besar: Gunakan untuk merebus herbal atau simplisia yang berkhasiat diaforetik
(mengeluarkan keringat) dan mengandung banyak minyak atsiri, seperti daun mint,
cengkih
dan kayu manis. Setelah mendidih, masukkan bahan dan rebus sebentar. Dengan
cara ini, kandungan atsirinya tidak banyak hilang karena proses penguapan yang
berlebihan.
8. Jika tidak ada ketentuan lain, perebusan
dianggap selesai saat air rebusan tersisa setengah dari jumlah air semula,
misalnya 800 cc menjadi 400 cc. Jika bahan yang direbus kebanyakan berupa bahan
keras, seperti biji atau batang maka air rebusan disisakan sepertiganya,
misalnya 600 cc menjadi 200 cc.
9. Jika mengandung bahan kering, umumnya dosis
(takaran) setengah dari jumlah bahan segar. Misalnya, pemakaian daun sendok
segar pemakaiannya 90 gram dan jika kering 15 gram.
10. Pastikan dosis tumbuhan obat sesuai dengan
yang dianjurkan. Umumnya, 1 resep tumbuhan obat dibagi untuk 2 kali minum
sehari. Sisa ampas rebusan pertama dapat direbus sekali lagi untuk 1 kali minum
pada sore atau malam hari.
11. Minum rebusan sari tumbuhan obat dalam
keadaan hangat dan setelahnya pakai baju tebal atau selimut. Namun, untuk jenis
herbal tertentu, seperti rebusan biji pinang harus diminum dingin untuk menghindari kotraksi
dengan lambung yang mengakibatkan mual, muntah, dan kram perut.
12. Umumnya, rebusan herbal diminum sebelum makan
agar mudah terserap. Namun, untuk ramuan obat yang dapat merangsang lambung,
minum setelah makan. Minum ramuan obat yang berkhasiat sebagai penguat
(tonikum) pada waktu pagi hari sewaktu perut kosong. Untuk ramuan yang
berkhasiat sebagai penenang, misalnya untuk insomnia, minum menjelang tidur.
13. Lakukan pengobatan secara teratur. Yang perlu
diingat, pengobatan herbal membutuhkan kesabaran karena tidak langsung terasa
manfaatnya, tetapi bersifat konstruktirf (memperbaiki/membangun). Efek obat
kimiawi memang terasa cepat, tetapi bersifat desktruktif. Karena sifatnya itu,
herbal tidak dianjurkan sebagai pengobatan utama penyakit-penyakit infeksi yang
bersifat akut (medadak), seperti demam berdarah, muntaber, dan lainnya yang
harus segera mendapat pertolongan medis. Tanaman obat lebih diutamakan untuk
pemeliharaan kesehatan dan pengobatan penyakit yang bersifat kronis (menahun).
14. Pengobatan herbal dapat dikombinasikan dengan
obat kimiawi, terutama untuk penyakit kronis yang susah disembuhkan, seperti
kanker agar diperoleh hasil pengobatan yang lebih efektif. Aturan minum obat
herbal sekitar 2 jam setelah pemakaian obat kimiawi.
Dukun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar