LIR RESPATI BUMIDAYA
Pada hari ini ramai yang bertudung tetapi seolah-olah bertelanjang. Apa tidaknya, memakai tudung hanya trend dan fesyen. Bertudung tetapi berseluar ketat, bertudung baju ketat, bertudung tetapi berlengan pendek, bertudung tetapi memakai skirt singkat, bertudung tetapi berkain belah, bertudung tetapi tidak labuh menutup dada. Inilah fenomena yang berlaku pada hari ini di dalam masyarakat kita.
SECARA lughawi, puasa berasal dari kata bahasa Arab, shaum
(jamaknya shiyam) yang bermakna al-imsak (menahan). Sedangkan menurut istilah,
puasa itu menahan makan dan minum serta semua yang membatalkannya dari mulai
terbit fajar hingga terbenam matahari.
Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia dan istimewa. Di bulan inilah Allah SWT menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, salah satu malamnya merupakan malam yang sangat utama. Beribadah pada malam itu memiliki nilai yang lebih baik dari seribu bulan. Itulah malam lailatul qadar. (QS Al-Qadr = kemuliaan: 1-5).
Puasa Ramadhan diwajibkan kepada umat Islam sejak tahun kedua hijriyah yaitu 18 bulan saat Rasulullah SAW tinggal menetap di Madinah al-Munawaroh. Awalnya, umat Islam sudah berpuasa pada hari Asyura. Namun sejak turunnya perintah puasa Ramadhan, umat Islam tidak wajib berpuasa lagi pada hari Asyura, kecuali sebagai sebuah sunnah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW (Islam Digest, 8 Agustus 2010).
Menurut Dai H Muazim Syair, bulan Ramadhan adalah bulan latihan bagi orang-orang yang beriman. Latihan mewujudkan tabiat-tabiat utama seperti sabar, jujur, rendah hati dan rasa kepedulian sosial. Puasa Ramadhan akan mensucikan manusia dari dosa dan kesalahan yang pernah dilakukannya.
Begitu istimewanya bulan Ramadhan, Rasulullah SAW menyeru para sahabat agar menyambut kedatangannya dengan penuh kegembiraan dan tentunya pula dengan berbagai persiapan agar kita dapat beribadah secara sempurna dan sesuai tuntunan Alquran dan sunnah. Di antara persiapan itu adalah sebagai berikut:
· Di penghujung bulan Sya’ban kita sudah terniat dan bertekad menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan, benar-benar karena Allah SWT. Kita melaksanakannya bukan sekadar ikut-ikutan. Kita pelajari rukun, syarat dan hal-hal yang membatalkan ibadah puasa.
· Bersihkan hati kita dari sifat-sifat tercela seperti dendam, sombong, bergunjing dan sebagainya. Rasulullah SAW menganjurkan sebelum masuk Ramadhan hendaklah kita saling memberi maaf, terutama kepada sahabat, tetangga dan handai tolan selain minta maaf kepada kedua orang tua.
· Menjaga kesehatan fisik. Kalau ada yang kurang sehat berobatlah atau berkonsultasilah dengan dokter. Sebab ibadah puasa hanya wajib bagi orang yang sehat walafiat.
· Kita bulatkan tekad akan menunaikan ibadah puasa sesempurna mungkin. Hendaknya puasa tahun ini lebih baik dari puasa tahun kemarin. Sebelum masuk Ramadhan kita evaluasi amaliyah kita yang lalu. Mungkin ibadah yang kita lakukan ada yang belum sempurna termasuk puasa kita. Kita baca buku tentang petunjuk berpuasa yang kini banyak dijual di berbagai toko buku. Atau kita bertanya kepada orang-orang yang alim (berilmu) tentang ibadah puasa.
· Kita juga disuruh menyiapkan bekal dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Bekal disini bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Tetapi juga kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani adalah kebutuhan pokok sehari-hari. Sedangkan kebutuhan rohani adalah persiapan melakukan infaq, membantu fakir dan miskin serta anak yatim merupakan amal yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW. (Warta Dakwah No 7/Juli 2010).
Selain memperbanyak sedekah dan berpuasa, menurut Ustad Drs H Solihin Hasibuan, MpdI, beberapa amal kebajikan yang ditekankan pada bulan Ramadhan adalah qiyamul lail (salat malam) dan bersungguh-sungguh dalam membaca Alquran. Yakni memperbanyak bacaan Alquran dan mengusahakan menangis ketika membacanya.
Qiyamul lail adalah kebiasaan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Menurut Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam, Nasaruddin Umar, malam hari merupakan waktu yang tepat untuk beribadah kepada Allah SWT. “Allah lebih dekat kepada hamba-Nya di malam hari,” ujar Nasaruddin.
Ibadah di malam hari juga lebih khusyuk sehingga sering terasa air mata tumpah di malam hari ketimbang siang. Kata Nasaruddin, umat Islam haruslah membuka mata pada malam hari.
Rasulullah SAW, masih kata Nasaruddin, meminta umatnya beribadah pada malam hari karena mengetahui ada gudang rahasia yang tidak boleh disia-siakan. Di antara rahasia itu adalah kitab suci lebih sering turun pada malam hari ketimbang siang. (Islam Digest, 15 Agustus 2010).
Selain yang kita sebutkan tadi, lanjut Solihin Hasibuan, pada bulan Ramadhan kita hendaknya berdiam di masjid sampai terbit matahari. Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang salat fajar berjamaah lalu duduk berdzikir (mengingat) Allah sampai terbit matahari, kemudian salat (dhuha) dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna.” (HR Tirmidzi).
Selanjutnya i’tikaf dan umrah di bulan Ramadhan. I’tikaf adalah ibadah yang merangkum berbagai amalan ketaatan, seperti membaca Alquran, salat, doa dan lain sebagainya. Sedangkan umrah, Nabi SAW bersabda: “Umrah di bulan Ramadhan menyamai pahala haji.” (HR Bukhari).
Tentu saja, papar Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Didin Hafidhuddin, kelebihan tersebut menjadi daya tarik bagi setiap muslim. Banyak umat Muslim memilih umrah pada bulan suci Ramadhan.
Daya tarik lainnya, ujar Didin, adalah suasana rohani yang sangat kental di tanah suci saat bulan suci Ramadhan. Umrah sekaligus menjalankan ibadah puasa, salat tarawih, tadarus dan ibadah lainnya di tanah suci membuat ibadah kita terasa lebih nikmat.
Hal lainnya adalah adanya perubahan yang unik di tanah suci saat Ramadhan tiba. Di Makkah dan Madinah, aktivitas pada malam hari berubah seperti kegiatan siang hari.
Misalnya, kantor bukanya pada malam hari, sementara siang harinya tutup sehingga jamaah bisa tetap beraktivitas dan khusyuk menjalankan ibadah. “Jadi seperti tidak berpuasa,” kata Didin Hafidhuddin. (Tabloid Republika, 19 Mei 2011).
Masih ada lagi? Tentu. Selama Ramadhan, kata Solihin, kita berusaha meraih lailatul qadar dan memperbanyak dzikir serta istighfar. Siang dan malam bulan Ramadhan adalah saat-saat yang mulia dan utama. Maka itu isilah kesempatan itu dengan memperbanyak dzikir dan doa, terutama pada waktu-waktu yang mustajab (dikabulkannya doa) seperti:
· Ketika berbuka. Doa orang yang sedang berpuasa tidak akan ditolak ketika dia sedang berbuka puasa.
· Sepertiga malam yang terakhir.
· Istighfar di waktu sahur.
· Hari Jumat, terutama saat-saat akhir pada siang harinya. (Bulletin Dakwah Izzatuna, Edisi ke XIX).
Akhir dari tulisan ini, mari kita simak khutbah Rasulullah SAW pada akhir bulan Sya’ban. Kata beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Abul-Laits dengan sanadnya dari Salman Al-Farisi ra :
“Hai manusia, telah tiba kepadamu bulan yang besar dan berkat, bulan yang mengandung lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba-Nya supaya berpuasa dengan bangun malam hanya sunnat. Maka siapa yang mengerjakan yang sunnat dalam bulan itu sama dengan orang yang mengerjakan fardhu di lain bulan. Dan siapa yang mengerjakan yang fardhu di bulan itu bagaikan tujuh puluh fardhu di lain-lain bulan.”
“Ia bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalnya adalah surga. Ia sebagai bulan bantuan dan pertolongan serta bulan yang ditambahkan padanya rezeki orang mukmin. Siapa yang memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa mendapat pahala bagaikan memerdekakan budak dan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya.”
Sahabat berkata: “Ya Rasulullah SAW, tidak semua orang mempunyai makanan untuk memberi buka pada orang yang berpuasa.”
Jawab Nabi SAW: “Allah memberi pahala itu bagi orang yang memberi buka puasa walau seteguk air susu atau sebiji kurma atau segelas air dan siapa yang mengenyangkan orang yang berpuasa maka diampunkan dosa-dosanya dan diberinya minum dari telagaku minuman yang tidak akan haus sehingga masuk surga.”
“Ia mendapat pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sendiri sedikitpun. Dan ini bulan permulaannya rahmat, pertengahannya pengampunan dan akhirnya kebebasan dari neraka. Siapa yang meringankan budaknya (buruhnya) maka Allah SWT memerdekakannya dar
Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia dan istimewa. Di bulan inilah Allah SWT menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, salah satu malamnya merupakan malam yang sangat utama. Beribadah pada malam itu memiliki nilai yang lebih baik dari seribu bulan. Itulah malam lailatul qadar. (QS Al-Qadr = kemuliaan: 1-5).
Puasa Ramadhan diwajibkan kepada umat Islam sejak tahun kedua hijriyah yaitu 18 bulan saat Rasulullah SAW tinggal menetap di Madinah al-Munawaroh. Awalnya, umat Islam sudah berpuasa pada hari Asyura. Namun sejak turunnya perintah puasa Ramadhan, umat Islam tidak wajib berpuasa lagi pada hari Asyura, kecuali sebagai sebuah sunnah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW (Islam Digest, 8 Agustus 2010).
Menurut Dai H Muazim Syair, bulan Ramadhan adalah bulan latihan bagi orang-orang yang beriman. Latihan mewujudkan tabiat-tabiat utama seperti sabar, jujur, rendah hati dan rasa kepedulian sosial. Puasa Ramadhan akan mensucikan manusia dari dosa dan kesalahan yang pernah dilakukannya.
Begitu istimewanya bulan Ramadhan, Rasulullah SAW menyeru para sahabat agar menyambut kedatangannya dengan penuh kegembiraan dan tentunya pula dengan berbagai persiapan agar kita dapat beribadah secara sempurna dan sesuai tuntunan Alquran dan sunnah. Di antara persiapan itu adalah sebagai berikut:
· Di penghujung bulan Sya’ban kita sudah terniat dan bertekad menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan, benar-benar karena Allah SWT. Kita melaksanakannya bukan sekadar ikut-ikutan. Kita pelajari rukun, syarat dan hal-hal yang membatalkan ibadah puasa.
· Bersihkan hati kita dari sifat-sifat tercela seperti dendam, sombong, bergunjing dan sebagainya. Rasulullah SAW menganjurkan sebelum masuk Ramadhan hendaklah kita saling memberi maaf, terutama kepada sahabat, tetangga dan handai tolan selain minta maaf kepada kedua orang tua.
· Menjaga kesehatan fisik. Kalau ada yang kurang sehat berobatlah atau berkonsultasilah dengan dokter. Sebab ibadah puasa hanya wajib bagi orang yang sehat walafiat.
· Kita bulatkan tekad akan menunaikan ibadah puasa sesempurna mungkin. Hendaknya puasa tahun ini lebih baik dari puasa tahun kemarin. Sebelum masuk Ramadhan kita evaluasi amaliyah kita yang lalu. Mungkin ibadah yang kita lakukan ada yang belum sempurna termasuk puasa kita. Kita baca buku tentang petunjuk berpuasa yang kini banyak dijual di berbagai toko buku. Atau kita bertanya kepada orang-orang yang alim (berilmu) tentang ibadah puasa.
· Kita juga disuruh menyiapkan bekal dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Bekal disini bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Tetapi juga kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani adalah kebutuhan pokok sehari-hari. Sedangkan kebutuhan rohani adalah persiapan melakukan infaq, membantu fakir dan miskin serta anak yatim merupakan amal yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW. (Warta Dakwah No 7/Juli 2010).
Selain memperbanyak sedekah dan berpuasa, menurut Ustad Drs H Solihin Hasibuan, MpdI, beberapa amal kebajikan yang ditekankan pada bulan Ramadhan adalah qiyamul lail (salat malam) dan bersungguh-sungguh dalam membaca Alquran. Yakni memperbanyak bacaan Alquran dan mengusahakan menangis ketika membacanya.
Qiyamul lail adalah kebiasaan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Menurut Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam, Nasaruddin Umar, malam hari merupakan waktu yang tepat untuk beribadah kepada Allah SWT. “Allah lebih dekat kepada hamba-Nya di malam hari,” ujar Nasaruddin.
Ibadah di malam hari juga lebih khusyuk sehingga sering terasa air mata tumpah di malam hari ketimbang siang. Kata Nasaruddin, umat Islam haruslah membuka mata pada malam hari.
Rasulullah SAW, masih kata Nasaruddin, meminta umatnya beribadah pada malam hari karena mengetahui ada gudang rahasia yang tidak boleh disia-siakan. Di antara rahasia itu adalah kitab suci lebih sering turun pada malam hari ketimbang siang. (Islam Digest, 15 Agustus 2010).
Selain yang kita sebutkan tadi, lanjut Solihin Hasibuan, pada bulan Ramadhan kita hendaknya berdiam di masjid sampai terbit matahari. Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang salat fajar berjamaah lalu duduk berdzikir (mengingat) Allah sampai terbit matahari, kemudian salat (dhuha) dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna.” (HR Tirmidzi).
Selanjutnya i’tikaf dan umrah di bulan Ramadhan. I’tikaf adalah ibadah yang merangkum berbagai amalan ketaatan, seperti membaca Alquran, salat, doa dan lain sebagainya. Sedangkan umrah, Nabi SAW bersabda: “Umrah di bulan Ramadhan menyamai pahala haji.” (HR Bukhari).
Tentu saja, papar Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Didin Hafidhuddin, kelebihan tersebut menjadi daya tarik bagi setiap muslim. Banyak umat Muslim memilih umrah pada bulan suci Ramadhan.
Daya tarik lainnya, ujar Didin, adalah suasana rohani yang sangat kental di tanah suci saat bulan suci Ramadhan. Umrah sekaligus menjalankan ibadah puasa, salat tarawih, tadarus dan ibadah lainnya di tanah suci membuat ibadah kita terasa lebih nikmat.
Hal lainnya adalah adanya perubahan yang unik di tanah suci saat Ramadhan tiba. Di Makkah dan Madinah, aktivitas pada malam hari berubah seperti kegiatan siang hari.
Misalnya, kantor bukanya pada malam hari, sementara siang harinya tutup sehingga jamaah bisa tetap beraktivitas dan khusyuk menjalankan ibadah. “Jadi seperti tidak berpuasa,” kata Didin Hafidhuddin. (Tabloid Republika, 19 Mei 2011).
Masih ada lagi? Tentu. Selama Ramadhan, kata Solihin, kita berusaha meraih lailatul qadar dan memperbanyak dzikir serta istighfar. Siang dan malam bulan Ramadhan adalah saat-saat yang mulia dan utama. Maka itu isilah kesempatan itu dengan memperbanyak dzikir dan doa, terutama pada waktu-waktu yang mustajab (dikabulkannya doa) seperti:
· Ketika berbuka. Doa orang yang sedang berpuasa tidak akan ditolak ketika dia sedang berbuka puasa.
· Sepertiga malam yang terakhir.
· Istighfar di waktu sahur.
· Hari Jumat, terutama saat-saat akhir pada siang harinya. (Bulletin Dakwah Izzatuna, Edisi ke XIX).
Akhir dari tulisan ini, mari kita simak khutbah Rasulullah SAW pada akhir bulan Sya’ban. Kata beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Abul-Laits dengan sanadnya dari Salman Al-Farisi ra :
“Hai manusia, telah tiba kepadamu bulan yang besar dan berkat, bulan yang mengandung lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba-Nya supaya berpuasa dengan bangun malam hanya sunnat. Maka siapa yang mengerjakan yang sunnat dalam bulan itu sama dengan orang yang mengerjakan fardhu di lain bulan. Dan siapa yang mengerjakan yang fardhu di bulan itu bagaikan tujuh puluh fardhu di lain-lain bulan.”
“Ia bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalnya adalah surga. Ia sebagai bulan bantuan dan pertolongan serta bulan yang ditambahkan padanya rezeki orang mukmin. Siapa yang memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa mendapat pahala bagaikan memerdekakan budak dan menjadi pengampunan bagi dosa-dosanya.”
Sahabat berkata: “Ya Rasulullah SAW, tidak semua orang mempunyai makanan untuk memberi buka pada orang yang berpuasa.”
Jawab Nabi SAW: “Allah memberi pahala itu bagi orang yang memberi buka puasa walau seteguk air susu atau sebiji kurma atau segelas air dan siapa yang mengenyangkan orang yang berpuasa maka diampunkan dosa-dosanya dan diberinya minum dari telagaku minuman yang tidak akan haus sehingga masuk surga.”
“Ia mendapat pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sendiri sedikitpun. Dan ini bulan permulaannya rahmat, pertengahannya pengampunan dan akhirnya kebebasan dari neraka. Siapa yang meringankan budaknya (buruhnya) maka Allah SWT memerdekakannya dar
Artikel
ini ana copy daripada blog Ustaz Idris Ahmad yer..:
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pada hari ini ramai yang bertudung tetapi seolah-olah bertelanjang. Apa tidaknya, memakai tudung hanya trend dan fesyen. Bertudung tetapi berseluar ketat, bertudung baju ketat, bertudung tetapi berlengan pendek, bertudung tetapi memakai skirt singkat, bertudung tetapi berkain belah, bertudung tetapi tidak labuh menutup dada. Inilah fenomena yang berlaku pada hari ini di dalam masyarakat kita.
Fenomena
yang berlaku, nabi kita Muhammad saw telah memperingatkan kepada kita sejak
1400 tahun dahulu.
Bermaksud
“Di
akhir zaman akan berlaku di kalangan umatku wanita yang berpakaian seperti
telanjang. Atas kepala mereka seperti bonggol unta, laknatlah mereka kerana
wanita yang dilaknat”
Hadis
tersebut nabi sudah menjangka akan berlaku kepada wanita-wanita dari umatNya di
akhir zaman nanti, ada yang memakai pakaian tetapi tidak menutup aurat, nipis
sehingga menampak kulit, ketat hingga menampak labu punggung, pinggang,
bonjolan buah dada, rusuk dan lain-lain, rambut digubah mengikut fesyen semasa
sehingga terjadi seperti bonggol unta yakni tinggi membonggok. Mereka dilaknati
Allah di dunia dan menjadi penghuni neraka di akhirat kelak.
Sebenarnya
fenomena mendedahkan aurat sudah balik sebelum tahun 1980 an iaitu awal abad 15
hijrah. Pada ketika mula kebangkitan, orang yang mendedahkan aurat dianggap
pelik. Pengalaman saya sewaktu berada di UKM dahulu, hendak mencari pelajar Islam
yang tidak bertudung seorang dalam sepuluh orang agak payah. Sekarang berlaku
sebaliknya. Pada hari ini kalau muslimat yang memakai tudung dan berjubah di
pusat membeli belah seolah-olah rusa masuk kampung. Anggapan mereka, bertudung
seperti itu tidak mengikut trend. Bertudung ikut syariat nampak tua.
Marilah
kita muhasabah diri kita dan ahli keluarga kita supaya menghayati dengan surah
al-Nur ayat 31,
“…dan
hendaklah mereka menutup belahan leher baju mereka dengan tudung kepala mereka;
(al-Nur, 31)
Yakni
hendaklah mereka melabuhkan tudung kepala mereka hingga menutupi leher dan dada
mereka . Al-Juyub dalam ayat di atas adalah kata jama’ (plural) bagi kalimah
al-Jaib iaitu bulatan atau belahan pada bahagian atas baju yang dibuat untuk
mamasukkan kepala ketika memakainya (iaitu leher baju). Namun yang dimaksudkan
ialah kawasan belahan atau bulatan tersebut pada badan iaitu bawah leher
bahagian atas dada di mana kawasan tersebut termasuk dalam aurat yang mesti
ditutup maka kerana itu diperintahkan supaya dilabuhkan tudung hingga ke situ.
Menurut ulama’ ayat ini sekali gus menjadi dalil bahawa dada dan leher
perempuan adalah aurat. Tidak harus dilihat oleh ajnabi dan oleh itu tidak
harus didedahkan kepadanya.
Diriwayatkan
bahawa Saidatuna Aishah r.a pernah menceritakan “Semoga Allah merahmati wanita
wanita Muhajirin yang awal di mana takkala Allah menurunkan ayat ini, mereka
segera mengambil kain kain yang ada pada mereka lalu bertudung dengannya
Menurut
ahli Tafsir menjadi kebiasaan wanita-wanita pada zaman jahiliah berjalan di
hadapan kaum lelaki dalam keadaan terdedah dada leher mereka serta menampakkan
lengan mereka. Adakalanya mereka mendedahkan tempat-tempat fitnah pada badan
mereka dan melepaskan ekor-ekor rambut mereka bertujuan membangkitkan perasaan ghairah
kaum lelaki pada mereka. Apabila memakai tudung kepala , mereka melepaskan
kebelakang mereka (yakni ke punggung mereka). Adapun bahagian depan dibiarkan
tanpa menutup menyebabkan terdedah leher dan dada mereka.
Apabila
datangnya Islam , Allah memerintahkan wanita-wanita beriman agar melabuhkan
tudung-tudung mereka ke bahagian depan mereka hingga menutup dada dan leher
mereka dan dengan itu selamatlah mereka dari sebarang fitnah dan perbuatan
jahat. Oleh itu tudung yang dipakai oleh kebanyakan wanita pada hari ini tidak
menepati dengan syara’ kerana ia tidak menutup dada sehingga menimbulkan
keghairahan kepada orang lelaki. Begitu juga kalau bertudung tetapi memakai
baju yang berlengan pendek dan baju yang ketat. Ini tidak termasuk di kalangan
wanita yang beriman dengan surah al-Nur
Hikmah wanita diwajibkan menutup aurat
Setiap sesuatu yang diperintahkan Allah mempunyai
hikmah atau rahsia yang tersendiri. Antara hikmahnya ialah
1.Untuk menutup pintu fitnah kerana ia merupakan
punca tercetusnya keinginan yang ada dalam diri manusia. Apabila keinginan
nafsu mempengaruhi hati, biasanya seorang itu hilang pertimbangan akal lalu
mudahlah ia melakukan perbuatan mungkar mengikut apa yang diperintah oleh
nafsunya.
Sabda Rasulullah SAW
Bermaksud
“Tidak ada selepasku ini fitnah yang lebih bahaya
kepada lelaki selain daripada perempuan”
2.Untuk menghindarkan kegiatan maksiat yang
berpunca dari mata. Seluruh tubuh wanita atau bahagian-bahagian tertentu dari
tubuh lelaki menjadi daya penarik yang mempesonakan pandangan mata kaum pihak
yang berlainan jenis. Dari rasa persona itu boleh menajamkan keinginan ke arah
melakukan maksiat seperti zina dan sebagainya.
3.Pandangan mata ada kaitan dengan hati. Mata
yang selalu melihat perkara yang haram seperti aurat perempuan atau lelaki
menyebabkan hati menjadi gelap. Hati yang gelap tidak dapat ditembusi cahaya
nur keimanan, manakala Iman yang lemah tidak dapat melahirkan individu muslim
yang benar-benar taqwa. Oleh itu amalan menutup aurat adalah untuk menolong
seorang lain daripada terlibat dengan dosa dan menjejaskan imannya akibat
memandang aurat yang sengaja didedahkan oleh sipelakunya. Sesungguhnya amat
buruk perbuatan seseorang yang kerananya menyebabkan orang lain terpalik dosa.
4.Wanita solehah diperintah menutup aurat dengan
sempurna adalah untuk membezakan dengan wanita Islam yang rosak akhlak atau
wanita kafir. Wanita-wanita tersebut biasanya tidak tahu menghargai nilai
kesopanan diri. Mempamerkan kecantikan tubuh untuk mendapat pujian orang lain
adalah menjadi kebanggaan mereka. Demikianlah rendahnya moral mereka. Tabiat
ini seharusnya tidak menguasai peribadi wanita-wanita mu’min dan mereka semua
diarah menjaga ketinggian maruah diri yang dibentuk oleh Islam menerusi tingkah
laku yang baik.
5.Keseluruhan hidup setiap individu Muslim
tertakluk kepada disiplin yang ditentukan syarak. Perintah menutup aurat adalah
disiplin yang dimaksudkan itu. Di samping mengandungi hikmah tertentu,
peraturan mengenai aurat itu adalah sebagai ujian iman ke atas umat Islam untuk
mengukur sejauh mana peraturan tersebut dapat dipatuhi. Pengakuan dengan lidah
sahaja bahawa ia telah pun beriman sebenarnya tidak akan diiktiraf oleh Allah
tanpa lulus ujian amali. Ini dipersyaratkan oleh Allah berbunyi,
Bermaksud,
“Apakah manusia menyangka mereka dibiar berkata
kami telah beriman sedang mereka tidak diuji (keimanannya)” (Al-Ankabut, 29: 2)
Sekiranya seorang itu sanggup patuh kepada
disiplin Islam sepanjang hayatnya, maka itu tanda orang-orang yang benar-benar
beriman kepada Allah dan RasulNya dan jika sebaliknya, maka ia belum layak lagi
menduduki taraf Muslim yang mu’min kerana imannya masih lemah. Seorang yang
imannya lemah perlu dipertingkatkan dengan rawatan rohani sebelum dijemput ke
alam barzakh. Oleh itu waspada sebelum terlambat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar