LIR RESPATI BUMIDAYA
repot sembahyang , sembahyang pun bisa dilakukan dimana-mana , termasuk
di supermarket, sembahyang itu dianggapnya sama dengan kenduri, kondangan ,
slametan, dengan hidangan semangkuk nasi penuh dengan panggang bucu ( ingkung ayam ) yang siap disantap beramai-ramai,
dianggapnya semangkok nasi sayur dan paha ayam, secangkir the, cukup untuk
memberi makan para arwah, semua arwah menganggap semua itu dise diakan segitu banyaknya sama
rasanya baik sayur , maupun daging, semua tidak bisa dirasakan , ya dapat
baunya saja sudah cukup , melihat anak cucunya rukun saja sudah cukup.Sesama
mereka tidak bisa omong, dngan yang lain , mau ngomong saja susah , mau
mengutarakan kebutuhan saja susah, kalau aku ajak mereka ngomong , mereka diam saja,
mereka seperti tidak mau mendengar omongan orang lain ,selain pendapatnya
sendiri, mau ngomong saja susah sekali
karena keterbatasan bahasamaklum bahasa hati kami berbeda
Agar
anak-cucunya rukun saja sudah cukup melihat anak-istrinya makan-minum saja sudah
senang..Sesama mereka tidak bisa omong, terbentang jarak antara satu dengan
yang lain , mau ngomong saja susah , mau mengutarakan kebutuhan saja susah,
kalau aku ajak mereka ngomong , mereka diam saja, mereka seperti tidak mau
mendengar omongan orang lain selain pendapatnya sendiri, mau ngomong saja susah sekali karena keterbatasan bahasa
, atau perasaan yang sama sama tidak enak, mungkin yang diandalakan di alam
arwah adalah tinggal hati dan perasaan,Tarji bertanya padaku , “ya
mungkin barangkali harus memiliki ilmu
kadigdayanku untuk masuk ke alam
arwah, kekuatan gaib lebih, untuk berbicara dengan antara alam arwah?”.
Jawabku”ya kalau pingin tahu ya coba sendiri, begitu kita konsentrasi dan
mengumpulkan segenap kekuatan dan bekal yang cukup untuk kembali dengan cepat
supaya aku dapat berbicara dengan keluargaku, ibuku , kakekku nenekku, dan
saudaraku, dalam hati kecilku selam ini aku ingin sekaqli ngobrol santai
kekeluargaan dengan mereka tetapi perbedaan alam dan setatus sosisl, gengsi
sebagai orang alam nyata, mereka tidak bisa , dianggapnya setiap pembicaraanku
menyinbggung mereka, membingungkana mereka, memboroskan waktu , seperti orang
ndleming , kehilangan akal, ada juga alas an lain yang tidak bisa mereka
terima, padahal rumah kami berdempetan berdekatan , dan kami dari jhalaur
keluarga yang sama . kalau dirumahnya
saja kok boleh dimasuki, lumayan bis bertemu sampai dekat, yang paling
jengkel adalah tidak bisa ngobrol. Waktu begitu sepi ia terlalu berpamrih , aku
bisa menembus dunia saja tidak cukup dengan kejujuran , ketyulusan dan
kesaktian , tapi harus banyak duit , oh betapa menyakitkan memasuki dunia alam
normal. Sungguh tiada ketulusan dan keikhlasan, dia hanya akan mendekatiku bila
aku mau memasuki dunianya orang hidup, kata mereka .
Mereka sembahyang setiap waktu
dari subuh hingga subuh lagi , memanjatkan do’a-do’a lama sekali , tapi tak
juga merubah perilaku jahatnya , sama sekali tak bisa disanak, diingatkan, tak
bisa di dekati apalagi kok diajak ngobrol , ya susah sekali , bahkan yang bikin
jengkel itu adalah tidak bisa diajak ngobrol.gengsinya sebagai orang paling waras dan normal masih no . satu sehingga nggak mau kalah,
apalagi kok kenal. Kata mereka Waktu hidupku sudah habis untuk leha-leha dan
lenggang-kangkung karena peri hidupnya terjamin dan dapat di andalkan.Sedangkan
mereka yang merasa hidupnya berjuang bekerja keras banting-tulang
peras-keringat setengah mati, kepala jadi kaki , kaki jadi kepala, sampai
sekarang setelah matipun merasa kebiasaannya ngantor dan bekerja merangkai
pikiran untuk mafia , dan saling menjegal, menjatuhkan martabat pengikut alam arwah . Mau bepergian susah sekali karena terikat kontrak bekerja di
suatu tempat sepanjang hayat, dunia serasa sama ,bumi yang sama, langit yang
sama, semua datar , tak ada tanjakan , dan tak ada turunan, semua sama, mau
bicara nggak bisa,mau diam saja salah tingkah, orang-orang di sekitar yang
dekat juga tidak ada yang kenal. Berbeda dengan keadaan arwah ibuku yang
sukanya pergi jalan-jalan ke kota mekkah , katanya itu di sebut ibadah haji,
menghabiskan uang untuk belanja belanja , menaikkan gengsi social, dan ngrumpi
selama berjam-jam, melakukan ritual itu
, semua serba denda dsan sangat memboroskan uang katanya Dam , paling paling
setelah pulang hanya mendapat gelar Hajjah saja . arwah ibuku berangkat haji sendirian dengan menjual kebun, sawah dan sapi-
bapak.sedangkan aku dianggap tidak pantas ikut menunaikan haji ,
karena perbuatanku lebih mirip bangsaat dari pada santri .ibuku suka hidup
berpetualang semasa hidupnya , ia pergi ke sawah-sawah lading-hutan mencari
kayu , mengumpulkan sampah-sampah daun untuk dibakar dan di jadikan pupuk,
katanya , dan diwaktu istirahat di rumah, ia suka ngrunpi membicarakan aku
anaknya sendiri , istriku , anakku,
dengan orang –orang sekeliling rumah, apa kebiasaannya itu dibawa –bawa sampai
luang-alam Arwah?
Disini aku malas kenalan, kau tidak tahu orang seperti apa yang ada di
sekitarku, aku terasing disini, sendiri, bahasaku sendiri tak difahami orang ,
bahasaku tidak mumpuni untuk ngrumpi seperti mereka, dengan bicara
terbahak-bahak, terpingkal-pingkal membicarakan orang lain . ada orang bule ,
kulit hitam, orang arab , orang cina grumpung, semua asing bagiku, jadi males bicara,” ujar ibuku
. lalu apa yang dikerjakan sehari –hari ?”, tanyaku. Aku sehari hari hanyalah
nganggur , tiduran sambil mendengarkan
radio . uang uangan dolar yang kau kirimkan dari Amerika dulu tidak laku disini, rumah mewah dan makanan
enak-enak yang kau kirimkan dari dunia dulu tidak enak dimakan disini, warisan
yang ditinggal ayahmu dulu sudah tak ada manfaatnya lagi disini, semenjak aku
menghuni alam arwah dan semenjak aku memasuki alam Ghaib, semua sudah tidak ada
lagi , semua tidak nyata , pekerjaan yang dijanjikan dengan menyogok untuk jadi
pegawe oleh Zubaer dulu juga malah mengakibatkan pecahnya persaudaran,hancurnya
sendi-sendi ahlak celaka berat, mengakibatkan berdirinya tembok tinggi dan
jurang yang teramat dalam rentang jarak dan sakit hati. Kebun mangga yang penuh buah dan harganya selangit
dulu juga tak lagi ada manfaatnya, karena harganya dan biaya perawatannya tidak
sebanding,kjadang-kadang membusuk sendiri di pohonya semua seperti mimpi,berlalu begitu saja, tidak
berbekas, semua hanya kenangan, semua terjadi terlalu singkat, aku hanya merasakan
sebentar, aku hanya sebentar sejenak tinggal disitu,lalu kemudian pergi lagi
tidak sampai setahun rasanya , aku kesepiansekali, begitu kalian memasuki alam
arwah. Memang waktu itu aku bangga tinggal di rumah mewah itu, semula aku
senang sekali tinggal dirumah itu, semua perabot ada , pembantu ada , kebunnya
luas dengan kolam ikan di depan rumah, ada ayamnya di situ .
Sehingga setiap aku pergi kerumah adikmu , aku selalu berpesan “
awas” ayamnya dikasih makan , ya ?.tapi
ya itu aku tinggal disitu tidak lama, aku dijemput paksa karena kekejamanku
kepada kamu dan bapakmu , dosaku sudah sundhul utek, akhirnya aku di paksa
diajak pergi oleh seseorang bernama Izra’el,
lalu ditaruh dirumah kecil ukuran 2x1, diruang kecil itu tidak ada apa-apanya
yang ada hanya tiga butir tanah sebesar genggaman Gelu, disana aku dijaring, di
ajak jalan ke sebuah gedung besar , seperti kam konsentrasi sehingga aku
bertemu kamu ini,dan kamu malah jadi
pejabat besar dan orang terkenal di alam arwah, dijaga oleh orang –orang
berpakaian seragam hitam, tidak seperti di dunia dulu , semua warna pakaian
bebas dipakai , yang boleh pakaian
uniform warna-warni hanya malaikat saja, sedang manusia hanya boleh pake
pakaian putih-putih, siapa saja boleh masuk di ruangan itu. waktu aku nolah-noleh,
kupikir barangkali aku bisa nanti ada
yang dapat aku ajak bicara, barangkali ada diantara mereka kenal aku, bisa aku
ajak berteman disini, eh ternyata tidak ada, tidak seorangpun yang mengenalku.
Aku mau beritahu mereka kalau aku butuh obatpenawr sakit pusing, tapi sesakit
apapun disini tak ada yang memberi obat
, tidak ada dokter, tidak ada perawat, sedang anak-anak mereka tak ada yang bisa memberi pertolongan mengobati mereka , kekayaan
mereka tak ada manfaatnya, tak bisa menolong mereka seperti apa yang kau
lakuakan di dunianya dulu.
Aku rasanya ingin hidup lagi secara normal seperti dulu kembali dan
ingin memberitahu mereka , anak-anaknya , agar mereka percaya ada kehidupan di alam gha’ib benar-benar ada
seperti yang kualami sekarang ini , bahwa segalanya serba susah, semua serba
terbalik. Kalau waktu itu kau ceritakan seperti itu ibu sering tidak percaya.
Tapi begitu aku mati aku baru percaya ternyata kamu anak yang sholeh, dari pada
saudara-saudara ibu yang dahulu, semua
munafik,semua berpamrih, yang anak anaknya tidak pernah diperkenalkan
dengan alam arwah, dianggapnya ia bisa terus
hidup di dunia selama-lamanya dan mau mendoakan dan menolong arwah-arwah
orang tuanya , saya pasti menolongnya.. ujar ibuku.saudara-saudara ibu yang anak-anaknya
percaya dan mau minta tolong untuk arwah-arwah orang tuanya pasti akan menolongnya.. aku ini kangen
sekali dengan saudara-saudaraku yang telah meninggal tapi tidak pernah bisa
bertemu dengan mereka, walaupun hanya sekali, kecuali pada saat acara
sembangyang di tempatmu, semua dapat hadir dan bertemu, tapi tidak dapat
berbicara, aku ingin sekali dapat ngobrol, persaudaraan dengan mereka, tapi
mereka menjauhi aku, lagipun alamku tak memungkinkan aku bertemu dengan
dirinya. Dosa
apa yang disandang oleh mnereka masing-masing sampai mereka menyisihkanku..
dulu waktu masih hidup tidak ada yang percaya dengan apa yang dinamakan dosa, kok sekarang jadi susah begini ya?
Ujar arwah ibu. Aku mau berkunjung ke
anak-anakku dan istriku saja susah sekali, kalau sebentar-sebentar aku diminta,
mendekat memilih untuk melobi , berkunjung dan menjilat, aku ogah, mau pake
jalan apa, jalan mana yang kutempuh dan ucapan apa yang kuucapkan untuk
meluruhkan perasaan hati orang waras
itu, susah sekali , terlalu politis , terlalu ndakik, sedangkan ijin
berkunjungku ke alam kewarasan terlalu sebentar, tinggal satu sampai lima menis
saja bisa bertemu , tidak lebih itu , karena ia terlalu penting di dunianya ,
sedang kedatanganku hanya mengganggu
saja, susah kalau sudah begini., ya akhirnya aku pilih kerumahmu saja
karena yakin kamu mau menemuiku dengan hati tuklus, walau waktu hidupku aku
menyia-nyiakanmu, karena dirumahmu akau bisa minta obat , bisa mengantarkan aku
ke dokter, istrimu mau menggodokkan jarang
untukku,tapi kok baru sekarang aku bisa berbicara dengan kalaian berdua.
Bersyukur sekali sama Tuhan telah memberi kalian berdua kemampuan berbicara
denbgan alam arwah, kenapa adik-adikmu kok tidak bisa seperti kalian dan aku
sebenarnya kangen sekali dengannya , anakku Ina dan cucuku Nada, seperti kau
berdua, kenapa ? supaya aku dapat
menolong para arwah orang tuanya. Itu tak lain karena kesibukannya berdagang
dan mengembangkan kehidupannya sebagai orang waras ,m mana mungkin dapat
bertemu dengan orang dari alam lain.lho kok pertemuanku dengan mu hanya terasa
sebentar, lalu aku dijemput, disuruh kembali ke barak, diberi tahu suruh
menunggu sebentar, ya ditungguin juga sebentar, supaya aku diobati dulu oleh
anakku , agar aku kembali tidak sakit .sedikit saya tambahkan cerita alam arwah
Ibuku, sinopsisnya seperti ini; bahwa ibu adalah arwah yang paling banyang datang
–hadir ditengah-tengah ruamah kami, banyak bercerita perihal ghaibnya yang
disampaikan kepadfa kami berdua tentang perjalanan spiritual awalnya. Dia
dipindah dari satu tyempat ke tempat yang lain seakan sperti mencari suaka
politik atau perlindungan dari kejahatanku , katanya. Tapi malah akhirnya
terjebak juga di alam arawah. Tinggal ditampung di sebuah rumah yang sangat
besar tanpa nama tanpa alamat dengan banyak penghuni.
Belum siap meninggal kok
dzikir terus malah ditegur sama malaikat. Cerita kang Lubab yang belum siap
mati tapi berdikir terus siang malam , eh malah ia akhirnya mati muda dijemput
para arwah dan ditegur para malaikat yang suci-suci, bajunya.setelah saya Tanya
pengalamannya ia menjawab begini : sebetulnya saya ini belum siap mati , tidak
terfikir oleh saya kalau saya ini mati mendadak begini,. Yang saya pikirkan
selama ini saya hidup selamanya; ilmu saya itu dapat saya ajarkan terus-menerus
sebanyak-banyaknya, saya gali terus sebanyak mungkin, sedapat mungkin, wong
saya ini sudah agak tua umur sekitas 45 tahun, ya sebisa-bisanya sisa hidup
saya pakai berdzikir , berwirid, sambil nggelathuk ilmu ndleming saya ajarkan
kepada santri-santri saya semacam kamu, naryo , ali, muklis, samadi dan
lain-lain, semua yang aku bisa saya ajarkan termasuk ilmu zadhab.saya
merninggal inim sungguh tidak sengaja , saya matipun tidak biasa , baru
pertaama kali ini saya mati,m itupun bukan karena dibunuh san beruk atau
kesetrum listrik, aku mati malah dalam keadaan wirid, waktu itu saya coba
melakukan zikir , menghafal al-kitab, di dalam zikir itu kusebut asma-asma
orang-orang terkenal , kukirim surat alfatihah dan surat–surat inti,
mu’awidzatain, di dalam dzikirku sebagai kiriman hadiah untuk alam arwah , baik
yang masih hidup di dunia gentayangan , di alam arwah abadi -kelanggengan ,
maupun di alam barzakh. Tiba-tiba saya melihat ada malaikat datang menuding
saya, karena ia tak berhasil mengambil nyawa seorang tua di desa sebelah , lhah
daripada pulang ke sana
ndak membawa hasil , terpaksa nyawaku yang diambil ,dan saya tidak bisa
nggandhuli , tapi sebelum itu dia bertanya : “kamu itu dzikir terus mau apa ?”.
timpalku” lho dzikir kok mau apa?”, dzikir itu kan memuliakan , mensucikan ,
memuji Allah , Tuhanku ., sudah jadi kwajiban setiap manusia yang dicipta di
dunia, aku kok heran dalam hati kok tidak cocok dengan pelajaran aqidahku yang
di ajarkan guruku pak LL mar’ah dulu, malaikat kok gobloknya begini , pikirku
“saya heran emangnya salah kalau
manusia itu pada dzikir memuliakan Allah
?Lantas dzikirnya pake caranya sendiri. Malaikat itu menjawab ‘”Dzikirnya itu
tidak salah, tapi kalau dilakukan tanpa batas , kan ya jadinya salah, wong menghabiskan
waktu . kamu kan
juga harus bekerja menghidupi anak-Istri cucumu , kalau kamu begitu tak butuh
makan , lha kamu ?. Aku balik bertanya “ memuliakan Allah itu kok ada batasnya,
ndadak di hitung segala, itu bagaimana cxeritanya , akupun nggak tahu ? aku hanya
nurut buku-buku yang di jual di bis-bis itu . menurut kamu bagaimana? Malaikat
itu menjawab dengan antusias “Kau manusia tahu apa soal wirid, soal dzikir ?apa
kalian pernah belajar soal hukum allah ? belajar soal politik,
perundang-undangan, tatahukum dan otonomi daerah yang diberikan oleh yang Maha
Penguasa ? maksudku hukumnya alam Ghaib , alam Arwah , dan alam padang , dalam
perbandingan yang seimbang ? apa cukup kamu kuliah S3 alam Ghaib? Yang di
maksuk kuasa itu apa ? apa yang dikuasai , batasnya apa , pembagian
keuntungannya bagaimana aturan mainnya , atau kebijakan public arwahnya
bagimana ? Ojo nggabrul Dhik ?. lantas siapa yang mengajarkan kamu klenik,
mistik, sihir , pangeran Bebek , lafadz2, istighosah, seperti itu ?lalu siapa
yang memberitahumu kalau memuliakan Tuhan itu boleh kau lakukan siang malam
tanpa batas , mesti 40 hari 40 malam dengan cara begini, dengan cara
begitu ?Siapa yang mengajarkan kepadamu
/ apa nabimu mengajarkan begitu ? Di surat
apa kitap suci mana kamu membaca bahwa memuliakan Tuhan itu boleh tanpa batas.
Kalau kau dapat menyebutkan lantas darimana kau tahu , siapa yang mengajarkan ,
kapan kamu belajr, dari buku mana kau baca , sebutkan , jangan aeng-aeng,
katakana jelas kepadaku ?” begitu pertanayaan malaikat itu makin Galak . Aku
akhirnya cep klakep, tak satu katapun dapat kuutarakan sebagai alas an karena
aku melakukan juga tanpa sandaran , tanpa tujuan, seperti debatku dengan Samadi
semalaman soal kesaktian , kalau dapat kesaktian itu syaratnya apa pantangannya
apa? , aku tidak bisa menjawab dengan benar , hanya angger wae, waton nylekop, sam sekali tidak
bisa menjawab; O jadi begitu Ya , semua dilakukan kalau hujjahnya kudu jelas
siapa melakukan untuk hajat apa, aku geleng-geleng , berarti sia-sia semua, apa
selama ini aku lakukan “ Pikirku” wah wah… berarti selama ini aku ini lak
manusia sok pintar, aku tertipu, ya
begini dheh oleh-olehnya , kena damprat Malaikat dan di keluarkan dari alam
normal dan terjebak di alam arwah ! Sialan . Nah, sekarang ini caranya bagaimana memeberitahukan kepada manusia, wong asalnya
saya juga tidak faham maksudnya tapi
melafalkan ?
Walaupun dari sisi
akademis saya menghafal dan faham, saya
yang begitu mendalami ajaran-ajaran agama sejak lahir, saya tahu persis apa
penafsirannya, ternyata penghayatan saya masih sangat Kurang. Nah.. makanya aku
datang untuk menceritakan kepada anda sekalian, silakan di pelajari sendiri dengan detail dulu begitu
ujarku kepada bang Dull. Dan akhirnya aku berpamitan dengan Malaikat yang
mengajarkan pengertian itu ? ya saya
sekali saya ucapkan terimakasih kepada
bapak malaikat , tapi itu hanya untuk kami berdua (aku dan bang Dull) yang sama
sama faham persis ajaran kaum Arwah
karena saya tahu orang lain tak akan percaya .Lalu Malaikat
berkata pada kami berdua “ Ya saya juga tahu, saya sudah tahu dari
dulu-dulu., saya waktu masih belajar juga begitu, ngeyelan, nah itulah kena batunya kalau ketemu dengan
yang argumennya jitu ., Cuma apakah anda
sekalian bersedia mentablighkan kebenaran ini kepad teman-teman
anda di alam Normal, seperti Nardi , Lubab, Naryo, Saepudin, Chareq, lek Yoto ,
kang hari , Arfath, Zubed, Huda dan Mardi yang
masih hidup. Ya kami bersedia , “jawab kami . kesimpulannya bahwa manusia itu tak ada yang sempurna ,
yang tatat dan mau mendengarkan petunjuk
yang maha kuasa , maha sempurna, maha mendengar maha benar, dan yang maha tahu hanya satu ,
yaitu Gusti Allah . allahu akbar.
Mancahari sesuatu yang terasing.akhirnya malah semakin kehilangan
.. yakin kehilangan semuanya, aku hialang ingatan , aku hialang arah hidup ,
bidukku oleng, aku harus di ingatkan….Kuranthill.. keciparatan mukti
koreksi…..Facebook ddik43@yahoo.com//kongco. Didik cov@gmail.com//aperabi Gentayangan43@yahoo.com .. sholikul Hadi,Didik
dik, Indah Wahyu wewe @Gombel.com
Kunjungi Facebooknya……………………………
Kau tak layak bertanya
kepadaku soal-hari-hariku,
ekspresi kesendirian, ekspresi kesepian yang mencekam, terhimpit pengasingan
yang dilakukan konspirasi untuk menjeratku, dalam penderitaan yang panjang,
penderitaan yang di alami seperti ini. Namun aku berusaha sebisa mungkin,
mengolah otakku untuk berpikir, meski aku sadar
tak ada seorangpun rela mendukung aku., kawasan ini tak ada batasnya .
opposisi-opposisi oportunis tidak rela mendermakan sesenpun uangnya untuk
kepentingan politik maupun ideolodi. Apalagi
swemua semakin tak layak , tak jelas dalam lanskap yang terpecah
Krisis.. krisi.. krisis - Sang bromocorah menghargai nilai-nilai
Aku
mengabdi pada nilai-nilai ya allah. Nilai-nilai yang kau tanamkan dalam ahtiku
.
Mengaktifkan
Indra ke enam.
Mendengar kata ‘indera keenam’ pasti yang terbayang dalam benak kita
adalah orang-orang sakti yang memiliki ilmu kanuragan tinggi, sakti mandraguna,
bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat, dan bisa merasakan apa yang
orang lain tidak rasakan. Manusia sebenarnya memiliki enam indera. Namun yang
kita tahu selama ini hanyalah lima indera saja atau yang biasa disebut ‘panca
indera’. Fungsi dan mekanisme kerja indera keenam dan panca indera sangat
berbeda.
Panca indera terdiri dari mata, telinga, hidung, lidah
dan kulit. Mata, digunakan untuk melihat. Hanya dapat melihat
sesuatu apabila ada cahaya. Secara fisika, benda dapat kita lihat karena benda
tersebut memantulkan cahaya ke mata kita. Jika tidak ada pantulan cahaya,
meskipun di depan kita ada suatu benda, benda tersebut tidak akan bisa kita
lihat. Misalnya dalam kegelapan, kita bahkan tidak akan mampu melihat tangan
kita sendiri. Maka bersyukurlah kepada Allah SWT karena diberikannya sinar atau
cahaya.
Indera penglihatan ini memiliki keterbatasan. Ia hanya mampu melihat
jika ada pantulan cahaya pada frekuensi 10 pangkat 14 Hz. Mata tidak bisa
melihat benda yang terlalu jauh. Tidak bisa melihat benda yang terlampau kecil
seperti sel-sel ataupun bakteri. Tidak bisa melihat benda yang ada dibalik tembok.
Bahkan mata kita sering ‘tertipu’ dengan berbagai kejadian. Misalnya pada siang
hari yang terik, dari kejauhan terlihat air yang mengeluarkan uap di atas jalan
beraspal. Namun apabila kita mendekat ternyata yang kita lihat tidak benar
adanya. Ini yang kita sebut fatamorgana. Tipuan lain adalah pembiasan benda
lurus dalam air, sehingga benda tersebut kelihatan bengkok. Bintang yang kita
lihat di langit sangat kecil ternyata sungguh sangat besar, dan lebih besar
dari bumi yang kita tempati.
Penglihatan oleh mata kita sangat kondisional, seringkali tidak
‘menceritakan’ keadaan yang sesungguhnya pada otak kita. Bukti-bukti di atas
memberikan gambaran bahwa indera mata kita mengalami distorsi alias
penyimpangan yang sangat besar. Namun, mata inilah yang kita gunakan untuk
melihat dan memahami dunia nyata yang ada di luar diri kita. Matapun tidak bisa
melihat apa yang ada dalam diri kita dan yang ada dalam diri orang lain. Apa
yang orang lain pikirkan dan rasakan tidak bisa dilihat oleh mata. Mata sungguh sangat terbatas.
Namun keterbatasan ini harus pula kita syukuri. Bayangkan saja
apabila mata kita bisa melihat benda yang ukurannya mikroskopis seperti bakteri
ataupun jamur. Maka kita tidak akan bisa makan dengan tenang dan nikmat, sebab
semua makanan yang kita makan mengandung bakteri dan jamur yang bentuknya
sangat menyeramkan. Satu menit saja kita menyimpan makanan dalam keadaan
terbuka maka jamur dan bakteri sudah ada pada makanan tersebut. Atau seandainya
mata kita tidak terbatas, maka kita akan bisa melihat setan-setan dan jin-jin
yang berkeliaran di sekitar kita, dapat melihat orang di balik tembok, dapat
melihat proses pencernaan yang terjadi dalam tubuh kita sendiri sehingga
menjadi kotoran. Sungguh kehidupan kita akan sangat menyeramkan.
Indera selanjutnya adalah telinga.
Ia merupakan organ tubuh yang digunakan untuk mendengarkan suara.
Telinga hanya bisa mendengar
suara pada frekuensi 20 s/d 20 ribu Hz. Suara yang memiliki frekuensi tersebut
akan menggetarkan gendang telinga kita, untuk kemudian diteruskan ke otak oleh
saraf-saraf pendengar. Hasil dari interpretasi otak, suara dapat ditandai dan
dikerahui. Apabila suara getarannya dibawah 20 Hz maka suara tidak bisa
didengar, dan apabila melebihi 20 ribu Hz maka suarapun tidak akan mampu
didengar dan bahkan gendang telinga akan pecah alias rusak.
Pada intinya telinga kitapun memiliki keterbatasan layaknya mata. Allah
SWT memberikan batasan pendengaran pada kita sebagai karunia dan rahmat yang
harus pula kita syukuri. Bayangkan saja jika pendengaran kita tidak dibatasi,
maka kita akan bisa mendengarkan suara-suara binatang malam, juga kita bisa
mendengarkan suara jin sedang bercakap-cakap, dan lain sebagainya, maka hidup
kitapun tidak akan tenang.
Indera yang ketiga adalah hidung.
Indera ini digunakan untuk merasakan bau. Di dalam rongga hidung terdapat
saraf-saraf yang akan menerima rangsangan bau yang masuk. Selanjutnya saraf
menghantarkannya ke otak untuk diterjemahkan. Sebagaimana mata dan telinga,
hidung juga memiliki keterbatasan kemampuan. Misalnya, apabila hidung kita
menerima aroma makanan yang terlalu pedas maka kita akan bersin-bersin. Apabila
hidung sering merasakan bau busuk maka kepekaannya terhadap bau busuk akan
hilang. Misalnya kita tinggal di lingkungan yang banyak sampah berbau busuk.
Awalnya kita amat terganggu dan tidak tahan dengan bau tersebut, namun lama
kelamaan kita tidak akan merasakan bau busuk tersebut.
Indera keempat dan kelima adalah indera pengecap
dan peraba, yakni lidah dan kulit. Lidah digunakan untuk
mengecap rasa, sedangkan kulit untuk merasakan kasar, halus, panas, dingin, dan
lain-lain. Kedua indera inipun
memiliki keterbatasan dalam memahami fakta yang ada di luar dirinya. Kalau
kulit kita dibiasakan dengan benda kasar terus dalam kurun waktu yang lama,
maka kepekaan kulit kita untuk memahami benda yang halus juga akan berkurang.
Begitu juga dengan kemampuan lidah kita. Dalam kondisi tertentu, misalnya kita
terbiasa dengan makanan pedas, maka lidah tidak akan merasakan enaknya makanan
yang tidak terasa pedas.
Dengan berbagai penjelasan di atas tidak diragukan lagi bahwa lima
indera yang kita miliki semuanya serba terbatas, kondisional, dan seringkali
tertipu oleh hal-hal yang sebenarnya jelas namun terinterpretasi secara tidak
jelas. Sebenarnya manusia memiliki indera yang lebih hebat lagi dibandingkan
dengan panca indera. Itulah indera keenam. Setiap orang memiliki indera keenam
yang bisa berfungsi melihat, mendengar, merasakan, dan membau sekaligus. Indera
tersebut yakni hati kita. Akan tetapi beberapa potensi fungsi hati di
atas tidak pernah mampu kita maksimalkan. Kenapa? karena memang kita tidak
pernah melatihnya.
Manusia terlahir sudah memiliki indera keenam yang berfungsi dengan
baik. Karena itu seorang bayi dapat melihat ‘dunia dalamnya’. Ia menangis dan
tertawa sendiri karena melihat ada ‘dunia lain’. Seorang anak pada masa
balitanya bisa melihat dunia jin misalnya. Akan tetapi seiring dengan
bertambahnya waktu, kemampuan indera keenam tersebut menurun drastis. Sebabnya
adalah orang tua kita tidak melatih indera keenam kita. Mereka lebih melatih
panca indera kita untuk memahami dunia luar. Orangtua kita sangat risau apabila
kita tidak bisa menggunakan panca indera kita dengan baik. Namun sebenarnya
kemampuan penginderaan hati kita jauh lebih dahsyat.
Hati kita bisa merasakan, melihat, dan mendengar apa yang tidak
dirasakan, dilihat, dan didengar oleh panca indera. Kita bisa ‘kenalan’
dengan Allah SWT hanya dengan cara mengaktifkan fungsi hati kita dengan baik.
Kita bisa melihat Allah hanya dengan hati kita, bukan dengan mata. Kita bisa
merasakan adanya Allah bukan dengan kulit kita, namun dengan hati. Allah SWT
sudah mengingatkan kita dalam Alqur’an akan pentingnya menghidupkan hati, dalam
Alqur’an surat
Al-Israa’ [17] ayat 72 disebutkan:
“dan barang siapa di dunia ini buta
hatinya, maka di akhirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya”.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan para
sahabat akan pentingnya mengedepankan fungsi hati sebagai raja bagi
kehidupan. Apabila kita menjadikan akal kita sebagai raja dan hati menjadi
pengawalnya, maka tunggulah kehancuran hidup kita. Hati kita akan tertutup
dengan bercak hitam sehingga kita tidak mampu mengenal Allah. Akal menjadi raja
untuk diri kita karena kita membiasakan diri menilai kebahagiaan hidup hanya
melalui apa yang dirasakan di dunia ini saja. Yang dilihat oleh mata, didengar
oleh telinga, dirasakan oleh lidah dan kulit, semuanya diinterpretasikan di
otak (akal). Sehingga kitapun lebih memercayai rasio, logika dan nalar kita
untuk mengukur kebahagiaan hidup. Pola ini akan membawa kita pada pola hidup
yang mengandalkan akal dan mengesampingkan hati nurani. Banyak orang yang
pintar dan cerdas dalam menguasai suatu ilmu namun kering akan ruhani
ketuhanan. Mereka tidak mampu melihat sesuatu yang metafisik, sesuatu dibalik
segala ciptaan yang tak terbatas. Mereka akhirnya juga tidak mampu mereguk nikmatnya
ibadah dan tidak mampu merasakan kehadiran Allah SWT.
Berbeda halnya apabila hati kita
yang menjadi raja bagi diri kita. Kita akan bisa merasakan kehadiran Allah SWT
dalam hidup kita. Dalam kehidupan sosial, kita juga bisa merasakan apa yang
orang lain rasakan (peka). Oleh karena itu jadikanlah hati sebagai raja bagi
diri kita.
Orang yang tidak melatih hatinya saat
hidup di dunia – sehingga hatinya tertutup – maka mereka akan dibangkitkan oleh
Allah SWT di akhirat nanti dalam keadaan buta. Dalam surat Thahaa [20] ayat 124 disebutkan:
“Barangsiapa yang berpaling dari
peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan
menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
Lalu, bagaimanakah cara melatih hati
kita untuk bisa ‘melihat’ Allah SWT? Mari kita menuntut ilmu demi mengharap
ridha Allah SWT, bekerja karena Allah SWT, sholat, puasa, bersedekah, dzikir,
do’a, dan semua bentuk ibadah adalah karena Allah SWT, dengan hati yang tulus
dan ikhlas. Insya Allah kita akan bisa melihat Allah SWT di dunia ini
dan juga di akhirat kelak. Wallahu a’alam bi showab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar