Minggu, 26 Februari 2012

dik aku kuatir ndiko kebablasan opo lungo ngtono wes pamit paman kuartir nek due selingkungan tambah tuo kudune tambah tobat

LIR RESPATI BUMIDAYA

repot sembahyang , sembahyang pun bisa dilakukan dimana-mana , termasuk di supermarket, sembahyang itu dianggapnya sama dengan kenduri, kondangan , slametan, dengan hidangan semangkuk nasi penuh dengan panggang bucu ( ingkung ayam ) yang siap disantap beramai-ramai, dianggapnya semangkok nasi sayur dan paha ayam, secangkir the, cukup untuk memberi makan para arwah, semua arwah menganggap  semua itu dise diakan segitu banyaknya sama rasanya baik sayur , maupun daging, semua tidak bisa dirasakan , ya dapat baunya saja sudah cukup , melihat anak cucunya rukun saja sudah cukup.Sesama mereka tidak bisa omong, dngan yang lain , mau ngomong saja susah , mau mengutarakan kebutuhan saja susah, kalau aku ajak mereka ngomong , mereka diam saja, mereka seperti tidak mau mendengar omongan orang lain ,selain pendapatnya sendiri, mau ngomong  saja susah sekali karena keterbatasan bahasamaklum bahasa hati kami berbeda
Agar anak-cucunya rukun saja sudah cukup melihat anak-istrinya makan-minum saja sudah senang..Sesama mereka tidak bisa omong, terbentang jarak antara satu dengan yang lain , mau ngomong saja susah , mau mengutarakan kebutuhan saja susah, kalau aku ajak mereka ngomong , mereka diam saja, mereka seperti tidak mau mendengar omongan orang lain selain pendapatnya sendiri, mau ngomong  saja susah sekali karena keterbatasan bahasa , atau perasaan yang sama sama tidak enak, mungkin yang diandalakan  di alam  arwah adalah tinggal hati dan perasaan,Tarji bertanya padaku , “ya mungkin barangkali harus memiliki ilmu  kadigdayanku untuk masuk ke  alam arwah, kekuatan gaib lebih, untuk berbicara dengan antara alam arwah?”. Jawabku”ya kalau pingin tahu ya coba sendiri, begitu kita konsentrasi dan mengumpulkan segenap kekuatan dan bekal yang cukup untuk kembali dengan cepat supaya aku dapat berbicara dengan keluargaku, ibuku , kakekku nenekku, dan saudaraku, dalam hati kecilku selam ini aku ingin sekaqli ngobrol santai kekeluargaan dengan mereka tetapi perbedaan alam dan setatus sosisl, gengsi sebagai orang alam nyata, mereka tidak bisa , dianggapnya setiap pembicaraanku menyinbggung mereka, membingungkana mereka, memboroskan waktu , seperti orang ndleming , kehilangan akal, ada juga alas an lain yang tidak bisa mereka terima, padahal rumah kami berdempetan berdekatan , dan kami dari jhalaur keluarga yang sama . kalau dirumahnya  saja kok boleh dimasuki, lumayan bis bertemu sampai dekat, yang paling jengkel adalah tidak bisa ngobrol. Waktu begitu sepi ia terlalu berpamrih , aku bisa menembus dunia saja tidak cukup dengan kejujuran , ketyulusan dan kesaktian , tapi harus banyak duit , oh betapa menyakitkan memasuki dunia alam normal. Sungguh tiada ketulusan dan keikhlasan, dia hanya akan mendekatiku bila aku mau memasuki dunianya orang hidup, kata mereka .
 Mereka sembahyang setiap waktu dari subuh hingga subuh lagi , memanjatkan do’a-do’a lama sekali , tapi tak juga merubah perilaku jahatnya , sama sekali tak bisa disanak, diingatkan, tak bisa di dekati apalagi kok diajak ngobrol , ya susah sekali , bahkan yang bikin jengkel itu adalah tidak bisa diajak ngobrol.gengsinya  sebagai orang paling waras dan normal  masih no . satu sehingga nggak mau kalah, apalagi kok kenal. Kata mereka Waktu hidupku sudah habis untuk leha-leha dan lenggang-kangkung karena peri hidupnya terjamin dan dapat di andalkan.Sedangkan mereka yang merasa hidupnya berjuang bekerja keras banting-tulang peras-keringat setengah mati, kepala jadi kaki , kaki jadi kepala, sampai sekarang  setelah matipun  merasa kebiasaannya ngantor dan bekerja merangkai pikiran untuk mafia , dan saling menjegal, menjatuhkan martabat pengikut alam arwah . Mau bepergian susah  sekali karena terikat kontrak bekerja di suatu tempat sepanjang hayat, dunia serasa sama ,bumi yang sama, langit yang sama, semua datar , tak ada tanjakan , dan tak ada turunan, semua sama, mau bicara nggak bisa,mau diam saja salah tingkah, orang-orang di sekitar yang dekat juga tidak ada yang kenal. Berbeda dengan keadaan arwah ibuku yang sukanya pergi jalan-jalan ke kota mekkah , katanya itu di sebut  ibadah haji, menghabiskan uang untuk belanja belanja , menaikkan gengsi social, dan ngrumpi selama berjam-jam, melakukan  ritual itu , semua serba denda dsan sangat memboroskan uang katanya Dam , paling paling setelah pulang hanya mendapat gelar Hajjah saja . arwah ibuku  berangkat haji sendirian  dengan menjual kebun, sawah dan sapi- bapak.sedangkan aku dianggap tidak pantas ikut menunaikan  haji  , karena perbuatanku lebih mirip bangsaat dari pada santri .ibuku suka hidup berpetualang semasa hidupnya , ia pergi ke sawah-sawah lading-hutan mencari kayu , mengumpulkan sampah-sampah daun untuk dibakar dan di jadikan pupuk, katanya , dan diwaktu istirahat di rumah, ia suka ngrunpi membicarakan aku anaknya  sendiri , istriku , anakku, dengan orang –orang sekeliling rumah, apa kebiasaannya itu dibawa –bawa sampai luang-alam Arwah?
Disini aku malas kenalan, kau tidak tahu orang seperti apa yang ada di sekitarku, aku terasing disini, sendiri, bahasaku sendiri tak difahami orang , bahasaku tidak mumpuni untuk ngrumpi seperti mereka, dengan bicara terbahak-bahak, terpingkal-pingkal membicarakan orang lain . ada orang bule , kulit hitam, orang arab , orang cina grumpung, semua  asing bagiku, jadi males bicara,” ujar ibuku . lalu apa yang dikerjakan sehari –hari ?”, tanyaku. Aku sehari hari hanyalah nganggur , tiduran  sambil mendengarkan radio . uang uangan dolar yang kau kirimkan dari Amerika dulu  tidak laku disini, rumah mewah dan makanan enak-enak yang kau kirimkan dari dunia dulu tidak enak dimakan disini, warisan yang ditinggal ayahmu dulu sudah tak ada manfaatnya lagi disini, semenjak aku menghuni alam arwah dan semenjak aku memasuki alam Ghaib, semua sudah tidak ada lagi , semua tidak nyata , pekerjaan yang dijanjikan dengan menyogok untuk jadi pegawe oleh Zubaer dulu juga malah mengakibatkan pecahnya persaudaran,hancurnya sendi-sendi ahlak celaka berat, mengakibatkan berdirinya tembok tinggi dan jurang yang teramat dalam rentang jarak dan sakit hati. Kebun  mangga yang penuh buah dan harganya selangit dulu juga tak lagi ada manfaatnya, karena harganya dan biaya perawatannya tidak sebanding,kjadang-kadang membusuk sendiri di pohonya semua  seperti mimpi,berlalu begitu saja, tidak berbekas, semua hanya kenangan, semua terjadi terlalu singkat, aku hanya merasakan sebentar, aku hanya sebentar sejenak tinggal disitu,lalu kemudian pergi lagi tidak sampai setahun rasanya , aku kesepiansekali, begitu kalian memasuki alam arwah. Memang waktu itu aku bangga tinggal di rumah mewah itu, semula aku senang sekali tinggal dirumah itu, semua perabot ada , pembantu ada , kebunnya luas dengan kolam ikan di depan rumah, ada ayamnya di situ .
Sehingga setiap aku pergi kerumah adikmu , aku selalu berpesan “ awas”  ayamnya dikasih makan , ya ?.tapi ya itu aku tinggal disitu tidak lama, aku dijemput paksa karena kekejamanku kepada kamu dan bapakmu , dosaku  sudah sundhul utek, akhirnya aku di paksa diajak pergi oleh seseorang bernama Izra’el, lalu ditaruh dirumah kecil ukuran 2x1, diruang kecil itu tidak ada apa-apanya yang ada hanya tiga butir tanah sebesar genggaman Gelu, disana aku dijaring, di ajak jalan ke sebuah gedung besar , seperti kam konsentrasi sehingga aku bertemu kamu ini,dan kamu malah  jadi pejabat besar dan orang terkenal di alam arwah, dijaga oleh orang –orang berpakaian seragam hitam, tidak seperti di dunia dulu , semua warna pakaian bebas dipakai , yang boleh  pakaian uniform warna-warni hanya malaikat saja, sedang manusia hanya boleh pake pakaian putih-putih, siapa saja boleh masuk di ruangan itu. waktu aku nolah-noleh, kupikir barangkali aku bisa nanti  ada yang dapat aku ajak bicara, barangkali ada diantara mereka kenal aku, bisa aku ajak berteman disini, eh ternyata tidak ada, tidak seorangpun yang mengenalku. Aku mau beritahu mereka kalau aku butuh obatpenawr sakit pusing, tapi sesakit apapun  disini tak ada yang memberi obat , tidak ada dokter, tidak ada perawat, sedang anak-anak mereka tak ada  yang bisa memberi  pertolongan mengobati mereka , kekayaan mereka tak ada manfaatnya, tak bisa menolong mereka seperti apa yang kau lakuakan di dunianya dulu.
Aku rasanya ingin hidup lagi secara normal seperti dulu kembali dan ingin memberitahu mereka , anak-anaknya , agar mereka percaya  ada kehidupan di alam gha’ib benar-benar ada seperti yang kualami sekarang  ini ,  bahwa segalanya serba susah, semua serba terbalik. Kalau waktu itu kau ceritakan seperti itu ibu sering tidak percaya. Tapi begitu aku mati aku baru percaya ternyata kamu anak yang sholeh, dari pada saudara-saudara ibu yang dahulu, semua  munafik,semua berpamrih, yang anak anaknya tidak pernah diperkenalkan dengan alam arwah, dianggapnya ia bisa terus  hidup di dunia selama-lamanya dan mau mendoakan dan menolong arwah-arwah orang tuanya , saya pasti menolongnya.. ujar ibuku.saudara-saudara ibu yang anak-anaknya percaya dan mau minta tolong untuk arwah-arwah orang tuanya  pasti akan menolongnya.. aku ini kangen sekali dengan saudara-saudaraku yang telah meninggal tapi tidak pernah bisa bertemu dengan mereka, walaupun hanya sekali, kecuali pada saat acara sembangyang di tempatmu, semua dapat hadir dan bertemu, tapi tidak dapat berbicara, aku ingin sekali dapat ngobrol, persaudaraan dengan mereka, tapi mereka menjauhi aku, lagipun alamku tak memungkinkan aku bertemu dengan dirinya. Dosa apa yang disandang oleh mnereka masing-masing sampai mereka menyisihkanku.. dulu waktu masih hidup tidak ada yang percaya dengan apa yang dinamakan dosa, kok sekarang jadi susah begini ya? Ujar arwah ibu. Aku mau berkunjung  ke anak-anakku dan istriku saja susah sekali, kalau sebentar-sebentar aku diminta, mendekat memilih untuk melobi , berkunjung dan menjilat, aku ogah, mau pake jalan apa, jalan mana yang kutempuh dan ucapan apa yang kuucapkan untuk meluruhkan perasaan hati orang waras itu, susah sekali , terlalu politis , terlalu ndakik, sedangkan ijin berkunjungku ke alam kewarasan terlalu sebentar, tinggal satu sampai lima menis saja bisa bertemu , tidak lebih itu , karena ia terlalu penting di dunianya , sedang kedatanganku hanya mengganggu  saja, susah kalau sudah begini., ya akhirnya aku pilih kerumahmu saja karena yakin kamu mau menemuiku dengan hati tuklus, walau waktu hidupku aku menyia-nyiakanmu, karena dirumahmu akau bisa minta obat , bisa mengantarkan aku ke dokter, istrimu mau menggodokkan jarang untukku,tapi kok baru sekarang aku bisa berbicara dengan kalaian berdua. Bersyukur sekali sama Tuhan telah memberi kalian berdua kemampuan berbicara denbgan alam arwah, kenapa adik-adikmu kok tidak bisa seperti kalian dan aku sebenarnya kangen sekali dengannya , anakku Ina dan cucuku Nada, seperti kau berdua, kenapa  ? supaya aku dapat menolong para arwah orang tuanya. Itu tak lain karena kesibukannya berdagang dan mengembangkan kehidupannya sebagai orang waras ,m mana mungkin dapat bertemu dengan orang dari alam lain.lho kok pertemuanku dengan mu hanya terasa sebentar, lalu aku dijemput, disuruh kembali ke barak, diberi tahu suruh menunggu sebentar, ya ditungguin juga sebentar, supaya aku diobati dulu oleh anakku , agar aku kembali tidak sakit  .sedikit saya tambahkan cerita alam arwah Ibuku, sinopsisnya seperti ini; bahwa ibu adalah arwah yang paling banyang datang –hadir ditengah-tengah ruamah kami, banyak bercerita perihal ghaibnya yang disampaikan kepadfa kami berdua tentang perjalanan spiritual awalnya. Dia dipindah dari satu tyempat ke tempat yang lain seakan sperti mencari suaka politik atau perlindungan dari kejahatanku , katanya. Tapi malah akhirnya terjebak juga di alam arawah. Tinggal ditampung di sebuah rumah yang sangat besar tanpa nama tanpa alamat dengan banyak penghuni.
Belum siap meninggal kok dzikir terus malah ditegur sama malaikat. Cerita kang Lubab yang belum siap mati tapi berdikir terus siang malam , eh malah ia akhirnya mati muda dijemput para arwah dan ditegur para malaikat yang suci-suci, bajunya.setelah saya Tanya pengalamannya ia menjawab begini : sebetulnya saya ini belum siap mati , tidak terfikir oleh saya kalau saya ini mati mendadak begini,. Yang saya pikirkan selama ini saya hidup selamanya; ilmu saya itu dapat  saya ajarkan terus-menerus sebanyak-banyaknya, saya gali terus sebanyak mungkin, sedapat mungkin, wong saya ini sudah agak tua umur sekitas 45 tahun, ya sebisa-bisanya sisa hidup saya pakai berdzikir , berwirid, sambil nggelathuk ilmu ndleming saya ajarkan kepada santri-santri saya semacam kamu, naryo , ali, muklis, samadi dan lain-lain, semua yang aku bisa saya ajarkan termasuk ilmu zadhab.saya merninggal inim sungguh tidak sengaja , saya matipun tidak biasa , baru pertaama kali ini saya mati,m itupun bukan karena dibunuh san beruk atau kesetrum listrik, aku mati malah dalam keadaan wirid, waktu itu saya coba melakukan zikir , menghafal al-kitab, di dalam zikir itu kusebut asma-asma orang-orang terkenal , kukirim surat alfatihah dan surat–surat inti, mu’awidzatain, di dalam dzikirku sebagai kiriman hadiah untuk alam arwah , baik yang masih hidup di dunia gentayangan , di alam arwah abadi -kelanggengan , maupun di alam barzakh. Tiba-tiba saya melihat ada malaikat datang menuding saya, karena ia tak berhasil mengambil nyawa seorang tua di desa sebelah , lhah daripada pulang ke sana ndak membawa hasil , terpaksa nyawaku yang diambil ,dan saya tidak bisa nggandhuli , tapi sebelum itu dia bertanya : “kamu itu dzikir terus mau apa ?”. timpalku” lho dzikir kok mau apa?”, dzikir itu kan memuliakan , mensucikan , memuji Allah , Tuhanku ., sudah jadi kwajiban setiap manusia yang dicipta di dunia, aku kok heran dalam hati kok tidak cocok dengan pelajaran aqidahku yang di ajarkan guruku pak LL mar’ah dulu, malaikat kok gobloknya begini , pikirku “saya heran  emangnya salah kalau manusia  itu pada dzikir memuliakan Allah ?Lantas dzikirnya pake caranya sendiri. Malaikat itu menjawab ‘”Dzikirnya itu tidak salah, tapi kalau dilakukan tanpa batas , kan ya jadinya salah, wong menghabiskan waktu . kamu kan juga harus bekerja menghidupi anak-Istri cucumu , kalau kamu begitu tak butuh makan , lha kamu ?. Aku balik bertanya “ memuliakan Allah itu kok ada batasnya, ndadak di hitung segala, itu bagaimana cxeritanya , akupun nggak tahu ? aku hanya nurut buku-buku yang di jual di bis-bis itu . menurut kamu bagaimana? Malaikat itu menjawab dengan antusias “Kau manusia tahu apa soal wirid, soal dzikir ?apa kalian pernah belajar soal hukum allah ? belajar soal politik, perundang-undangan, tatahukum dan otonomi daerah yang diberikan oleh yang Maha Penguasa ? maksudku hukumnya alam Ghaib , alam Arwah , dan alam padang , dalam perbandingan yang seimbang ? apa cukup kamu kuliah S3 alam Ghaib? Yang di maksuk kuasa itu apa ? apa yang dikuasai , batasnya apa , pembagian keuntungannya bagaimana aturan mainnya , atau kebijakan public arwahnya bagimana ? Ojo nggabrul Dhik ?. lantas siapa yang mengajarkan kamu klenik, mistik, sihir , pangeran Bebek , lafadz2, istighosah, seperti itu ?lalu siapa yang memberitahumu kalau memuliakan Tuhan itu boleh kau lakukan siang malam tanpa batas , mesti 40 hari 40 malam dengan cara begini, dengan cara begitu  ?Siapa yang mengajarkan kepadamu / apa nabimu mengajarkan begitu ? Di surat apa kitap suci mana kamu membaca bahwa memuliakan Tuhan itu boleh tanpa batas. Kalau kau dapat menyebutkan lantas darimana kau tahu , siapa yang mengajarkan , kapan kamu belajr, dari buku mana kau baca , sebutkan , jangan aeng-aeng, katakana jelas kepadaku ?” begitu pertanayaan malaikat itu makin Galak . Aku akhirnya cep klakep, tak satu katapun dapat kuutarakan sebagai alas an karena aku melakukan juga tanpa sandaran , tanpa tujuan, seperti debatku dengan Samadi semalaman soal kesaktian , kalau dapat kesaktian itu syaratnya apa pantangannya apa? , aku tidak bisa menjawab dengan benar , hanya  angger wae, waton nylekop, sam sekali tidak bisa menjawab; O jadi begitu Ya , semua dilakukan kalau hujjahnya kudu jelas siapa melakukan untuk hajat apa, aku geleng-geleng , berarti sia-sia semua, apa selama ini aku lakukan “ Pikirku” wah wah… berarti selama ini aku ini lak manusia  sok pintar, aku tertipu, ya begini dheh oleh-olehnya , kena damprat Malaikat dan di keluarkan dari alam normal dan terjebak di alam arwah ! Sialan . Nah, sekarang ini caranya bagaimana  memeberitahukan kepada manusia, wong asalnya saya  juga tidak faham maksudnya tapi melafalkan ?
Walaupun dari sisi akademis saya menghafal dan  faham, saya yang begitu mendalami ajaran-ajaran agama sejak lahir, saya tahu persis apa penafsirannya, ternyata penghayatan saya masih sangat Kurang. Nah.. makanya aku datang  untuk menceritakan  kepada anda sekalian, silakan  di pelajari sendiri dengan detail dulu begitu ujarku kepada bang Dull. Dan akhirnya aku berpamitan dengan Malaikat yang mengajarkan pengertian itu  ? ya saya sekali  saya ucapkan terimakasih kepada bapak malaikat , tapi itu hanya untuk kami berdua (aku dan bang Dull) yang sama sama faham  persis ajaran kaum Arwah karena  saya tahu  orang lain tak akan percaya .Lalu  Malaikat  berkata pada kami berdua “ Ya saya juga tahu, saya sudah tahu dari dulu-dulu., saya waktu masih belajar juga begitu, ngeyelan,  nah itulah kena batunya kalau ketemu dengan yang argumennya jitu ., Cuma apakah  anda sekalian  bersedia  mentablighkan kebenaran ini kepad teman-teman anda di alam Normal, seperti Nardi , Lubab, Naryo, Saepudin, Chareq, lek Yoto , kang hari , Arfath, Zubed, Huda dan Mardi yang  masih hidup. Ya kami bersedia , “jawab kami . kesimpulannya  bahwa manusia itu tak ada yang sempurna , yang tatat dan mau mendengarkan petunjuk  yang maha kuasa , maha sempurna, maha mendengar  maha benar, dan yang maha tahu hanya satu , yaitu Gusti Allah . allahu akbar.
Mancahari sesuatu yang terasing.akhirnya malah semakin kehilangan .. yakin kehilangan semuanya, aku hialang ingatan , aku hialang arah hidup , bidukku oleng, aku harus di ingatkan….Kuranthill.. keciparatan mukti koreksi…..Facebook ddik43@yahoo.com//kongco. Didik cov@gmail.com//aperabi Gentayangan43@yahoo.com .. sholikul Hadi,Didik dik, Indah Wahyu wewe @Gombel.com
Kunjungi Facebooknya……………………………

Kau tak layak bertanya  kepadaku  soal-hari-hariku, ekspresi kesendirian, ekspresi kesepian yang mencekam, terhimpit pengasingan yang dilakukan konspirasi untuk menjeratku, dalam penderitaan yang panjang, penderitaan yang di alami seperti ini. Namun aku berusaha sebisa mungkin, mengolah otakku untuk berpikir, meski aku sadar  tak ada seorangpun rela mendukung aku., kawasan ini tak ada batasnya . opposisi-opposisi oportunis tidak rela mendermakan sesenpun uangnya untuk kepentingan politik  maupun ideolodi. Apalagi swemua semakin tak layak , tak jelas dalam lanskap yang terpecah

Krisis.. krisi.. krisis - Sang bromocorah menghargai nilai-nilai
Aku mengabdi pada nilai-nilai ya allah. Nilai-nilai yang kau tanamkan dalam ahtiku .

Mengaktifkan Indra ke enam.

Mendengar kata ‘indera keenam’ pasti yang terbayang dalam benak kita adalah orang-orang sakti yang memiliki ilmu kanuragan tinggi, sakti mandraguna, bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat, dan bisa merasakan apa yang orang lain tidak rasakan. Manusia sebenarnya memiliki enam indera. Namun yang kita tahu selama ini hanyalah lima indera saja atau yang biasa disebut ‘panca indera’. Fungsi dan mekanisme kerja indera keenam dan panca indera sangat berbeda.
Panca indera terdiri dari mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Mata, digunakan untuk melihat. Hanya dapat melihat sesuatu apabila ada cahaya. Secara fisika, benda dapat kita lihat karena benda tersebut memantulkan cahaya ke mata kita. Jika tidak ada pantulan cahaya, meskipun di depan kita ada suatu benda, benda tersebut tidak akan bisa kita lihat. Misalnya dalam kegelapan, kita bahkan tidak akan mampu melihat tangan kita sendiri. Maka bersyukurlah kepada Allah SWT karena diberikannya sinar atau cahaya.
Indera penglihatan ini memiliki keterbatasan. Ia hanya mampu melihat jika ada pantulan cahaya pada frekuensi 10 pangkat 14 Hz. Mata tidak bisa melihat benda yang terlalu jauh. Tidak bisa melihat benda yang terlampau kecil seperti sel-sel ataupun bakteri. Tidak bisa melihat benda yang ada dibalik tembok. Bahkan mata kita sering ‘tertipu’ dengan berbagai kejadian. Misalnya pada siang hari yang terik, dari kejauhan terlihat air yang mengeluarkan uap di atas jalan beraspal. Namun apabila kita mendekat ternyata yang kita lihat tidak benar adanya. Ini yang kita sebut fatamorgana. Tipuan lain adalah pembiasan benda lurus dalam air, sehingga benda tersebut kelihatan bengkok. Bintang yang kita lihat di langit sangat kecil ternyata sungguh sangat besar, dan lebih besar dari bumi yang kita tempati.
Penglihatan oleh mata kita sangat kondisional, seringkali tidak ‘menceritakan’ keadaan yang sesungguhnya pada otak kita. Bukti-bukti di atas memberikan gambaran bahwa indera mata kita mengalami distorsi alias penyimpangan yang sangat besar. Namun, mata inilah yang kita gunakan untuk melihat dan memahami dunia nyata yang ada di luar diri kita. Matapun tidak bisa melihat apa yang ada dalam diri kita dan yang ada dalam diri orang lain. Apa yang orang lain pikirkan dan rasakan tidak bisa dilihat oleh mata. Mata sungguh sangat terbatas.
Namun keterbatasan ini harus pula kita syukuri. Bayangkan saja apabila mata kita bisa melihat benda yang ukurannya mikroskopis seperti bakteri ataupun jamur. Maka kita tidak akan bisa makan dengan tenang dan nikmat, sebab semua makanan yang kita makan mengandung bakteri dan jamur yang bentuknya sangat menyeramkan. Satu menit saja kita menyimpan makanan dalam keadaan terbuka maka jamur dan bakteri sudah ada pada makanan tersebut. Atau seandainya mata kita tidak terbatas, maka kita akan bisa melihat setan-setan dan jin-jin yang berkeliaran di sekitar kita, dapat melihat orang di balik tembok, dapat melihat proses pencernaan yang terjadi dalam tubuh kita sendiri sehingga menjadi kotoran. Sungguh kehidupan kita akan sangat menyeramkan.
Indera selanjutnya adalah telinga. Ia merupakan organ tubuh yang digunakan untuk mendengarkan suara. Telinga hanya bisa mendengar suara pada frekuensi 20 s/d 20 ribu Hz. Suara yang memiliki frekuensi tersebut akan menggetarkan gendang telinga kita, untuk kemudian diteruskan ke otak oleh saraf-saraf pendengar. Hasil dari interpretasi otak, suara dapat ditandai dan dikerahui. Apabila suara getarannya dibawah 20 Hz maka suara tidak bisa didengar, dan apabila melebihi 20 ribu Hz maka suarapun tidak akan mampu didengar dan bahkan gendang telinga akan pecah alias rusak.
Pada intinya telinga kitapun memiliki keterbatasan layaknya mata. Allah SWT memberikan batasan pendengaran pada kita sebagai karunia dan rahmat yang harus pula kita syukuri. Bayangkan saja jika pendengaran kita tidak dibatasi, maka kita akan bisa mendengarkan suara-suara binatang malam, juga kita bisa mendengarkan suara jin sedang bercakap-cakap, dan lain sebagainya, maka hidup kitapun tidak akan tenang.
Indera yang ketiga adalah hidung. Indera ini digunakan untuk merasakan bau. Di dalam rongga hidung terdapat saraf-saraf yang akan menerima rangsangan bau yang masuk. Selanjutnya saraf menghantarkannya ke otak untuk diterjemahkan. Sebagaimana mata dan telinga, hidung juga memiliki keterbatasan kemampuan. Misalnya, apabila hidung kita menerima aroma makanan yang terlalu pedas maka kita akan bersin-bersin. Apabila hidung sering merasakan bau busuk maka kepekaannya terhadap bau busuk akan hilang. Misalnya kita tinggal di lingkungan yang banyak sampah berbau busuk. Awalnya kita amat terganggu dan tidak tahan dengan bau tersebut, namun lama kelamaan kita tidak akan merasakan bau busuk tersebut.
Indera keempat dan kelima adalah indera pengecap dan peraba, yakni lidah dan kulit. Lidah digunakan untuk mengecap rasa, sedangkan kulit untuk merasakan kasar, halus, panas, dingin, dan lain-lain. Kedua indera inipun memiliki keterbatasan dalam memahami fakta yang ada di luar dirinya. Kalau kulit kita dibiasakan dengan benda kasar terus dalam kurun waktu yang lama, maka kepekaan kulit kita untuk memahami benda yang halus juga akan berkurang. Begitu juga dengan kemampuan lidah kita. Dalam kondisi tertentu, misalnya kita terbiasa dengan makanan pedas, maka lidah tidak akan merasakan enaknya makanan yang tidak terasa pedas.
Dengan berbagai penjelasan di atas tidak diragukan lagi bahwa lima indera yang kita miliki semuanya serba terbatas, kondisional, dan seringkali tertipu oleh hal-hal yang sebenarnya jelas namun terinterpretasi secara tidak jelas. Sebenarnya manusia memiliki indera yang lebih hebat lagi dibandingkan dengan panca indera. Itulah indera keenam. Setiap orang memiliki indera keenam yang bisa berfungsi melihat, mendengar, merasakan, dan membau sekaligus. Indera tersebut yakni hati kita. Akan tetapi beberapa potensi fungsi hati di atas tidak pernah mampu kita maksimalkan. Kenapa? karena memang kita tidak pernah melatihnya.
Manusia terlahir sudah memiliki indera keenam yang berfungsi dengan baik. Karena itu seorang bayi dapat melihat ‘dunia dalamnya’. Ia menangis dan tertawa sendiri karena melihat ada ‘dunia lain’. Seorang anak pada masa balitanya bisa melihat dunia jin misalnya. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya waktu, kemampuan indera keenam tersebut menurun drastis. Sebabnya adalah orang tua kita tidak melatih indera keenam kita. Mereka lebih melatih panca indera kita untuk memahami dunia luar. Orangtua kita sangat risau apabila kita tidak bisa menggunakan panca indera kita dengan baik. Namun sebenarnya kemampuan penginderaan hati kita jauh lebih dahsyat.
Hati kita bisa merasakan, melihat, dan mendengar apa yang tidak dirasakan, dilihat, dan didengar oleh panca indera. Kita bisa ‘kenalan’ dengan Allah SWT hanya dengan cara mengaktifkan fungsi hati kita dengan baik. Kita bisa melihat Allah hanya dengan hati kita, bukan dengan mata. Kita bisa merasakan adanya Allah bukan dengan kulit kita, namun dengan hati. Allah SWT sudah mengingatkan kita dalam Alqur’an akan pentingnya menghidupkan hati, dalam Alqur’an surat Al-Israa’ [17] ayat 72 disebutkan: 
“dan barang siapa di dunia ini buta hatinya, maka di akhirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya”.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan para sahabat akan pentingnya mengedepankan fungsi hati sebagai raja bagi kehidupan. Apabila kita menjadikan akal kita sebagai raja dan hati menjadi pengawalnya, maka tunggulah kehancuran hidup kita. Hati kita akan tertutup dengan bercak hitam sehingga kita tidak mampu mengenal Allah. Akal menjadi raja untuk diri kita karena kita membiasakan diri menilai kebahagiaan hidup hanya melalui apa yang dirasakan di dunia ini saja. Yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dirasakan oleh lidah dan kulit, semuanya diinterpretasikan di otak (akal). Sehingga kitapun lebih memercayai rasio, logika dan nalar kita untuk mengukur kebahagiaan hidup. Pola ini akan membawa kita pada pola hidup yang mengandalkan akal dan mengesampingkan hati nurani. Banyak orang yang pintar dan cerdas dalam menguasai suatu ilmu namun kering akan ruhani ketuhanan. Mereka tidak mampu melihat sesuatu yang metafisik, sesuatu dibalik segala ciptaan yang tak terbatas. Mereka akhirnya juga tidak mampu mereguk nikmatnya ibadah dan tidak mampu merasakan kehadiran Allah SWT.
 Berbeda halnya apabila hati kita yang menjadi raja bagi diri kita. Kita akan bisa merasakan kehadiran Allah SWT dalam hidup kita. Dalam kehidupan sosial, kita juga bisa merasakan apa yang orang lain rasakan (peka). Oleh karena itu jadikanlah hati sebagai raja bagi diri kita.
Orang yang tidak melatih hatinya saat hidup di dunia – sehingga hatinya tertutup – maka mereka akan dibangkitkan oleh Allah SWT di akhirat nanti dalam keadaan buta. Dalam surat Thahaa [20] ayat 124 disebutkan:
“Barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
Lalu, bagaimanakah cara melatih hati kita untuk bisa ‘melihat’ Allah SWT? Mari kita menuntut ilmu demi mengharap ridha Allah SWT, bekerja karena Allah SWT, sholat, puasa, bersedekah, dzikir, do’a, dan semua bentuk ibadah adalah karena Allah SWT, dengan hati yang tulus dan ikhlas. Insya Allah kita akan bisa melihat Allah SWT di dunia ini dan juga di akhirat kelak. Wallahu a’alam bi showab.


Tidak ada komentar:

TRIK DAN SARAN

ADA KELUHAN ATAU PERTANYAAN?

TINGGAL ISI FORUM DI BAWAH INI.

foxyform

    • Popular
    • Categories
    • Archives