LIR RESPATI BUMIDAYA
Ulang
Tahun
Ombakombak kecil pecah di bibir piala
Matamu menjadi setangkai anggur
Menjadi pecahan kembang api
Saat kita dengar dentang lonceng
Kita jatuhkan dendamrindu
Kita jatuhkan di lantai satupersatu
Saat kita nyalakan lilinlimaempat
Saat kita tanggalkan satupersatu pakaian
di muka cermin dan bertatapan
Memetik hatinurani sebiji anggur
lalu dirangkai menjadi kalender
Lalu digantung pada usia purba
Kita gantung segala mimpi
Persis seperti dalam perjanjian
sewaktu masih segumpal darah
Banjarbaru, 2003/2004
Ode Peziarah
Sesampainya di ujung
Diamdiam kau beri aku simpang
Sebab aku pesangsi harihari perjanjian
Barangkali ada yang hilang antara kita
Sebab status telah berganti rupa
Masih juga belum usai percakapan diam
Langit menabur dupa kekosongan jiwa
Alangkah pejamnya mataku
Menatap pisau waktu
Kau gaibkan wajahku di batubatu
karena tak aduh berkalikali sayatan rindu
Beraliralir dendam dalam bahasa kalbu
Maka kupanasi segenap jalan
Kupanasi tanganku gemetar
menangkap zikir yang melayang
jatuh di tapaktapak kakimu
Banjarbaru, 2003
Sebelum Usai Hujan
Nyalakan lagikah lampu yang padam
Di luar seperti ada ketukan
Tak hentihenti dilenguh angin
Kita tak jua sempat menyiapkan
sahutan
Hujan meneteskan ekstase pisau
di daun pintu pada setiap ketukan
Kitalah pejalan zikir yang terluka
Tanah ditumbuhi ejaan ayatayat
Kau ketuk setiap kali ada sayatan
serupa wewangian ruh melayang
dari lobanglobang kunci
Ratapan pepohonan basah mengekalkan
bayangan diam
Kau biarkankah lampu yang padam
Gerimis di kaca jendela masih juga
mengutakatik gelisah pandang mata
dan jamdinding telah memasang
perangkap dusta
Banjarbaru, 2003
Ombakombak kecil pecah di bibir piala
Matamu menjadi setangkai anggur
Menjadi pecahan kembang api
Saat kita dengar dentang lonceng
Kita jatuhkan dendamrindu
Kita jatuhkan di lantai satupersatu
Saat kita nyalakan lilinlimaempat
Saat kita tanggalkan satupersatu pakaian
di muka cermin dan bertatapan
Memetik hatinurani sebiji anggur
lalu dirangkai menjadi kalender
Lalu digantung pada usia purba
Kita gantung segala mimpi
Persis seperti dalam perjanjian
sewaktu masih segumpal darah
Banjarbaru, 2003/2004
Ode Peziarah
Sesampainya di ujung
Diamdiam kau beri aku simpang
Sebab aku pesangsi harihari perjanjian
Barangkali ada yang hilang antara kita
Sebab status telah berganti rupa
Masih juga belum usai percakapan diam
Langit menabur dupa kekosongan jiwa
Alangkah pejamnya mataku
Menatap pisau waktu
Kau gaibkan wajahku di batubatu
karena tak aduh berkalikali sayatan rindu
Beraliralir dendam dalam bahasa kalbu
Maka kupanasi segenap jalan
Kupanasi tanganku gemetar
menangkap zikir yang melayang
jatuh di tapaktapak kakimu
Banjarbaru, 2003
Sebelum Usai Hujan
Nyalakan lagikah lampu yang padam
Di luar seperti ada ketukan
Tak hentihenti dilenguh angin
Kita tak jua sempat menyiapkan
sahutan
Hujan meneteskan ekstase pisau
di daun pintu pada setiap ketukan
Kitalah pejalan zikir yang terluka
Tanah ditumbuhi ejaan ayatayat
Kau ketuk setiap kali ada sayatan
serupa wewangian ruh melayang
dari lobanglobang kunci
Ratapan pepohonan basah mengekalkan
bayangan diam
Kau biarkankah lampu yang padam
Gerimis di kaca jendela masih juga
mengutakatik gelisah pandang mata
dan jamdinding telah memasang
perangkap dusta
Banjarbaru, 2003
Sanggama
Bunga
Telah kau tabur bisa pada jambangan
agar kita mabuk hingga fajar tiba
Sebab setiap igauan adalah tutur
riwayat kamasutra
Akulah yang terperangkap
dalam tangkapan parfum cintamu
Duridemiduri mengekalkan
lukabirahidendam
Kau beri aku kelopakkelopak
yang senantiasa berbuah
nikah tak jadijadi
yang senantiasa meneteskan
kebencian dan rindu
Aku yang terperangkap
peziarah dalam dukamu
Banjarbaru, 2003
Merampas ciuman Berabad Abad
Alangkah tak terjamah birunya langit
Mataku tunduk hanya dapat menyentuh
ujung kakimu
Andai pun sekejap kau beri aku
penerang jalan
Barangkali t’rasalah luput dari
keasingan
Datanglah yang membisikkan rahasia
kehidupan ke telingaku
Bibirku berabadabad menyala dalam
kesunyian
menyala dalam sakwasangka napas
pelagu rindu
Musafir itu beerkata : Aku dahaga
dalam lautmu
wahai merapatlah cintaku yang
berderai
Bintanglah yang menyerbuki
setiap langkah
Sungguh kelam
wajahmu dilarut malam
Banjarbaru, 2003
Sampan Nuh
Sungai melahirkan sampan penuh dendam
Kau beri aku ombak dalam bathinku
tanpa ada tepi
Penyeberangan adalah pikiran
ditumbuhi burungburung tanpa ruh
menempuh perjalanan pulang
Di tanganku dayung belum juga terjaga
dalam isyaratisyarat tak terbaca
Benihbenih dendam sarat dalam urat nadi
tak aliralir
Kau anginkan seluruh kalimat doa
di jagatjagat
Sampan adalah jarak dan waktu
Yang dibentuk sayapsayap burung
Yang lelah menuju seberangMu
Banjarbaru, 2003
Telah kau tabur bisa pada jambangan
agar kita mabuk hingga fajar tiba
Sebab setiap igauan adalah tutur
riwayat kamasutra
Akulah yang terperangkap
dalam tangkapan parfum cintamu
Duridemiduri mengekalkan
lukabirahidendam
Kau beri aku kelopakkelopak
yang senantiasa berbuah
nikah tak jadijadi
yang senantiasa meneteskan
kebencian dan rindu
Aku yang terperangkap
peziarah dalam dukamu
Banjarbaru, 2003
Merampas ciuman Berabad Abad
Alangkah tak terjamah birunya langit
Mataku tunduk hanya dapat menyentuh
ujung kakimu
Andai pun sekejap kau beri aku
penerang jalan
Barangkali t’rasalah luput dari
keasingan
Datanglah yang membisikkan rahasia
kehidupan ke telingaku
Bibirku berabadabad menyala dalam
kesunyian
menyala dalam sakwasangka napas
pelagu rindu
Musafir itu beerkata : Aku dahaga
dalam lautmu
wahai merapatlah cintaku yang
berderai
Bintanglah yang menyerbuki
setiap langkah
Sungguh kelam
wajahmu dilarut malam
Banjarbaru, 2003
Sampan Nuh
Sungai melahirkan sampan penuh dendam
Kau beri aku ombak dalam bathinku
tanpa ada tepi
Penyeberangan adalah pikiran
ditumbuhi burungburung tanpa ruh
menempuh perjalanan pulang
Di tanganku dayung belum juga terjaga
dalam isyaratisyarat tak terbaca
Benihbenih dendam sarat dalam urat nadi
tak aliralir
Kau anginkan seluruh kalimat doa
di jagatjagat
Sampan adalah jarak dan waktu
Yang dibentuk sayapsayap burung
Yang lelah menuju seberangMu
Banjarbaru, 2003
Tidak ada komentar:
Posting Komentar