LIR RESPATI BUMIDAYA
Jangan ratapi kematian
Kau tak akan pernah mengenal airmata
Apakah ada cinta yang abadi
Jika ada yang hilang pada dirimu
Dan ratapan segenap putusnya ikatan
Ia adalah dusta cintamu
Dusta di balik gulita dalam terang
Yang tak habis membaca rahasia kehidupan
Tapi kuratapi hanya kau kekasih
Yang ingat belasungkawa dalam diam
Dan tak pernah rintih dalam kerinduan
S’tiap kuusik tidurku dalam diri
Kau berkata : Jauhkan cinta pada ajalku
Ia adalah altokumulus kehidupan
Yang tak lepas meracuni setiap orang
Maka aku berpihak kepadamu
Aku berpihak kepadamu kekasih
Mataku selalu jaga kala tidur
Aku berkata : Ekstase jiwa
pengungkap segala dusta semesta
Di mana sukma pikiran
Lahir tanpa ibubapa
Aku dalam renung
Yang berpihak kepadamu
Banjarbaru,2004
Darah
Adalah langit darah berdarah
Tak habishabis jadi laut berabadabad telah
tak berpaus di atasnya rajah perahu Nuhmu
tak singgahsinggah pada dermaga darahku
Hu Allah darahku hanyut dalam darahmu
kutubku tenggelam dalam kutubmu
menghempas napas darahku membatubara
di kunci rahasia Alifmu Alif Alif
darah Adamku yang terdampar di bumi
yang rapuh berabadabad mencari darah hawaku
yang rapuh tersesat di belantaramu meraung
darah laparku mencakarcakar mencari darahku
beri aku barang setetes Hu Allah
getar alir napas menyeru darahmu
mengalir darah mataku mengalir darah musafir
di sajadahmu
mengalir menuju rumahmu
darah hidupku Hu Allah
darah matiku Hu Allah
darah hidupmatiku Hu Allah
darah raungku Hu Allah
darah cakarku Hu Allah
darah laparku Hu Allah
darah hausku Hu Allah
darah ngiluku Hu Allah
darah rinduku Hu Allah
manakala darah tak keringkering
mendustakan firmanmu dan tak hentihenti
berpaling pada jalanmu
malam tak lagi malam siang tak lagi siang
bulan bintang matahari kehilangan terang
apatah lagi yang mampu meneteskan
darah kehidupan Hu Allah
semesta bergoncang Hu Allah
arasy pun bergoncang Hu Allah
darahku aujubillah
darahku astagfirullah
darahku subhanallah
Allah
Banjarbaru, 2004
Orang Asing
Menyaksikan percintaan seekor baboon
di Suchumi, Kaukasus, orangorang berjubel
tibatiba di antaranya ada yang berseru padaku :
Itu Pierre Brassau si pelukis simpanse
aku telah melihatnya dengan jelas di Goeteborg
tak salah lagi, dia orangnya
Aku malu pada diriku sendiri lalu diamdiam pergi
Dan ketika di tengah riuh tepuktangan Hongaria,
aku membaur di antara kaum zanggi
yang asyik dengan orkestranya
orangorang berjubel
tibatiba di antaranya ada yang berseru padaku :
Itu Pal Ract kelahiran Nograd
Orangorang kagum memandangku
Dengan rasa kecut kutinggalkan warung kopi itu bergegas
Dan ketika di tengah lapangan, dengan rasa ngilu
menyaksikan Adolf Hitler membantai serdadunya sendiri
yang mengunyah musik karena lapar
dan Khomaini seorang sekte itu geram :
Musik tak ubahnya candu, kemudian
mengganyang semua rekaman di Iran
sedang Plato rupanya sejalan pikirannya
Di suatu negeri
orangorang mengerumuni aku
seseorang berkata : Aku tak mengenalnya
dia tak bernapas sedenyut pun
seseorang berkata : Dia hanyut dalam mimpimimpinya
lihat matanya berkacakaca
seseorang berkata : Dia gairah menjilati anganangannya
lihat mulutnya tersenyum
seseorang berkata : Dia sedang berduka
lihat jidatnya penuh luka
seseorang berkata : Dia mabuk rindu
lihat wajahnya ranum
seseorang berkata : Sungguh malang dia korban dekadensi
seseorang berkata : Hai sepertinya dia kaum metafisis
di antara orangorang berkerumun : Apakah dia seorang
penghuni puing benteng Vredeburg tubuhnya terbujur
kaku
menyedihkan sekali
di antara orangorang berkerumun : Dia mati
lalu menyanyikan sebuah requiem
bagai ruh asap
menyelimuti negeriku
yang terkubur jauh dalam diriku
Banjarbaru,2004
Adalah langit darah berdarah
Tak habishabis jadi laut berabadabad telah
tak berpaus di atasnya rajah perahu Nuhmu
tak singgahsinggah pada dermaga darahku
Hu Allah darahku hanyut dalam darahmu
kutubku tenggelam dalam kutubmu
menghempas napas darahku membatubara
di kunci rahasia Alifmu Alif Alif
darah Adamku yang terdampar di bumi
yang rapuh berabadabad mencari darah hawaku
yang rapuh tersesat di belantaramu meraung
darah laparku mencakarcakar mencari darahku
beri aku barang setetes Hu Allah
getar alir napas menyeru darahmu
mengalir darah mataku mengalir darah musafir
di sajadahmu
mengalir menuju rumahmu
darah hidupku Hu Allah
darah matiku Hu Allah
darah hidupmatiku Hu Allah
darah raungku Hu Allah
darah cakarku Hu Allah
darah laparku Hu Allah
darah hausku Hu Allah
darah ngiluku Hu Allah
darah rinduku Hu Allah
manakala darah tak keringkering
mendustakan firmanmu dan tak hentihenti
berpaling pada jalanmu
malam tak lagi malam siang tak lagi siang
bulan bintang matahari kehilangan terang
apatah lagi yang mampu meneteskan
darah kehidupan Hu Allah
semesta bergoncang Hu Allah
arasy pun bergoncang Hu Allah
darahku aujubillah
darahku astagfirullah
darahku subhanallah
Allah
Banjarbaru, 2004
Orang Asing
Menyaksikan percintaan seekor baboon
di Suchumi, Kaukasus, orangorang berjubel
tibatiba di antaranya ada yang berseru padaku :
Itu Pierre Brassau si pelukis simpanse
aku telah melihatnya dengan jelas di Goeteborg
tak salah lagi, dia orangnya
Aku malu pada diriku sendiri lalu diamdiam pergi
Dan ketika di tengah riuh tepuktangan Hongaria,
aku membaur di antara kaum zanggi
yang asyik dengan orkestranya
orangorang berjubel
tibatiba di antaranya ada yang berseru padaku :
Itu Pal Ract kelahiran Nograd
Orangorang kagum memandangku
Dengan rasa kecut kutinggalkan warung kopi itu bergegas
Dan ketika di tengah lapangan, dengan rasa ngilu
menyaksikan Adolf Hitler membantai serdadunya sendiri
yang mengunyah musik karena lapar
dan Khomaini seorang sekte itu geram :
Musik tak ubahnya candu, kemudian
mengganyang semua rekaman di Iran
sedang Plato rupanya sejalan pikirannya
Di suatu negeri
orangorang mengerumuni aku
seseorang berkata : Aku tak mengenalnya
dia tak bernapas sedenyut pun
seseorang berkata : Dia hanyut dalam mimpimimpinya
lihat matanya berkacakaca
seseorang berkata : Dia gairah menjilati anganangannya
lihat mulutnya tersenyum
seseorang berkata : Dia sedang berduka
lihat jidatnya penuh luka
seseorang berkata : Dia mabuk rindu
lihat wajahnya ranum
seseorang berkata : Sungguh malang dia korban dekadensi
seseorang berkata : Hai sepertinya dia kaum metafisis
di antara orangorang berkerumun : Apakah dia seorang
penghuni puing benteng Vredeburg tubuhnya terbujur
kaku
menyedihkan sekali
di antara orangorang berkerumun : Dia mati
lalu menyanyikan sebuah requiem
bagai ruh asap
menyelimuti negeriku
yang terkubur jauh dalam diriku
Banjarbaru,2004
sahabat blogger… lama tak menyapa kawan-kawan
blogger niih ?? Apa kabar semuanya? pada sehat semua bukan!
Aiihh,, lama gak menulis dan lama gak menengok
rumah (blog) pribadiku. Di sudut blogku sudah terlihat jaring laba-laba yang
bergelantungan. Huhu. Maaf yah kawan setia pembaca blog ini. Dalam beberapa
minggu ini aku stuck untuk menulis, karena ada problematika sosial yang harus
dihadapi. Mungkin hal ini terdengar sebuah klise lama seorang blogger yang lagi
jenuh atau bosan untuk menulis. Tapi itulah realitas… gak bisa dipaksa dan
gak bisa dpungkiri…
Menulis! Ketika telah memilih pekerjaan sebagai
blogger maka yang harus di perioritaskan adalah menulis. Kenapa harus
menulis ? yaa begitulah blogger, tanpa menulis blog tersebut akan
hampa, layaknya rumah kosong yang gak ada penghuninya. Pasalnya hal yang
diprioritaskan seorang blogger adalah menulis. Tulisan adalah nyawa dari sebuah
blog. Tanpa tulisan blogger gak akan bisa mendapatkan penghasilan lewat
jaringan Iklan yang memenuhi rumah (blog) nya.
Memang gak ada yang mengharuskan aku untuk
menulis, tapi saya mencoba untuk konsisten dengan apa yang sudah aku pilih.
Entah kenapa ketika ingin bertahan dan mencoba konsisten. Dalam beberapa minggu
itu aku cuma bisa terdiam di depan laptop, memantengi orang-orang
berkicau di twitter dan asyik nonton Stand Up Comedy Samarinda
dan nongkrong di cafe-cafe sambil memesan satu cangkir kopi yang memakan waktu
hingga berlarut-larut. Sungguh menyesal sekali dengan waktu yang terbuang
percuma… padahal di Samarinda sedang banyak informasi yang harus di
publikasikan keberadaannya. Tapi mau gimana lagi, semuanya sudah terjadi dan itulah
realitas dan gak bisa dipungkiri.
Ketika harus flashback ke minggu-minggu sebelumnya,
saya memang banyak melupakan perioritasku sebagai blogger. Sampai-sampai saya
membiarkan jaring laba-laba bergelantungan di rumah (blog) pribadiku. Maka itu,
aku gak ingin berjanji dan mengucapakan sepatah dua kata lagi mengenai ajakan,
himbauan kepada teman-teman untuk ngeblog.
Cukup Talk less do more NOT talk
more do less !!!
Heemm… rasanya cukup sekian celoteh Senin pagi
ini. Sedikit legah setelah membuang semua belenggu yang menghantui ketakutanku
unuk menulis. *disini bukan aku ingin melabelkan diri sebagai blogger. Tapi
itulah realitas dan gak bisa dipungkiri./*
NB : ” Menulis itu bukan bakat, menulis adalah
keterampilan hidup yang harus diekseskusi terus-menerus sehingga menciptakan
bakat yang profesional.”
Bernama
Pertiwi
Menyaksikan sebuah kota bermandikan embun
Wajah perempuan itu jadi ranum
Seorang perempuan yang selalu setia
Menuliskan sejarah di sepanjang trotoar
dan jalan yang setiap waktu dilintasi
oleh peradaban manusia
Dia adalah seorang perempuan tua perkasa
Yang merawat kota ini dengan segenap napasnya
dengan kedua tangannya teramat asih
orangorang tahu dia lah yang melahirkan
Adipura yang dipersembahkannya buat kotanya
Perempuan tua itu bernama Pertiwi
Pada sebuah taman di jantung kota ini
Bungabunga cinta selalu bersemi
Yang mekar di setiap lubuk hati warga kota
Sebab Kartini tak pernah mati
Dan selalu lahir kembali
Hari ini perempuanperempuan warga kota
Menatah panjipanji dimensi emansipasi
Terdengar merdu di sepanjang trotoar dan jalan
Perempuan itu bersyair tentang sang surya
Membuka tabir gulita dunia
StanzaMenyaksikan sebuah kota bermandikan embun
Wajah perempuan itu jadi ranum
Seorang perempuan yang selalu setia
Menuliskan sejarah di sepanjang trotoar
dan jalan yang setiap waktu dilintasi
oleh peradaban manusia
Dia adalah seorang perempuan tua perkasa
Yang merawat kota ini dengan segenap napasnya
dengan kedua tangannya teramat asih
orangorang tahu dia lah yang melahirkan
Adipura yang dipersembahkannya buat kotanya
Perempuan tua itu bernama Pertiwi
Pada sebuah taman di jantung kota ini
Bungabunga cinta selalu bersemi
Yang mekar di setiap lubuk hati warga kota
Sebab Kartini tak pernah mati
Dan selalu lahir kembali
Hari ini perempuanperempuan warga kota
Menatah panjipanji dimensi emansipasi
Terdengar merdu di sepanjang trotoar dan jalan
Perempuan itu bersyair tentang sang surya
Membuka tabir gulita dunia
Jangan ratapi kematian
Kau tak akan pernah mengenal airmata
Apakah ada cinta yang abadi
Jika ada yang hilang pada dirimu
Dan ratapan segenap putusnya ikatan
Ia adalah dusta cintamu
Dusta di balik gulita dalam terang
Yang tak habis membaca rahasia kehidupan
Tapi kuratapi hanya kau kekasih
Yang ingat belasungkawa dalam diam
Dan tak pernah rintih dalam kerinduan
S’tiap kuusik tidurku dalam diri
Kau berkata : Jauhkan cinta pada ajalku
Ia adalah altokumulus kehidupan
Yang tak lepas meracuni setiap orang
Maka aku berpihak kepadamu
Aku berpihak kepadamu kekasih
Mataku selalu jaga kala tidur
Aku berkata : Ekstase jiwa
pengungkap segala dusta semesta
Di mana sukma pikiran
Lahir tanpa ibubapa
Aku dalam renung
Yang berpihak kepadamu
Banjarbaru,2004
Tidak ada komentar:
Posting Komentar