LIR RESPATI BUMIDAYA
Namun setibanya di rumah Pak Seno, tempat menginap, kami diajak jalan-jalan untuk melihat pusat aliran listrik dan aliran air bersih. Indahnya.. Setelah bersantap malam, mulailah acara pertama kami di dusun. Kami berkumpul bersama masyarakat Pesawahan, untuk perkenalan dan menyampaikan tujuan kami datang ke desa mereka. Acara ini dibuka oleh Ketua Yayasan Argowilis, Bapak Abib.
Sebagai gambaran, Dusun Pesawahan, Kelurahan Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas adalah desa pinggir hutan yang terisolir akibat jalan berliku dan tanjakan terjal berbatu-batu menuju dusun itu. Di tempat ini tidak ada angkutan umum. Jumlah penduduk sekitar 500 jiwa atau sebanyak 123 Kepala Keluarga.
Belum ada sekolah, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan Puskesmas. Warga lulusan Sekolah Menengah Atas cuma 1 orang, itu pun pendatang. Yang pernah sekolah sampai Sekolah Menengah Pertama tidak tamat sebanyak 4 orang. Pernah menempuh Sekolah Dasar (SD) tidak tamat dapat dihitung dengan jari. Selebihnya, buta aksara (Buta Huruf).
Sekolah SD terdekat berada di desa tetangga yang harus ditempuh lewat hutan dengan berjalan kaki selama 1 jam. Kepada masyarakat, Bapak Abib menjelaskan tujuan kedatangan kami untuk membangun sanggar belajar, mengajar anak-anak usia dini dan SD, menebar bibit ikan di telaga Kumpe, menanam pohon buah-buahan, menyerahkan buku-buku untuk rumah baca. Tapi setelah saya berinteraksi dengan warga, anak-anak mereka juga membutuhkan mainan.
HARI KEDUA
Sabtu, 4 Februari 2012
Sejak pagi, kami sudah bersiap untuk melakukan kegiatan, yakni membangun sanggar belajar, mengajar anak-anak usia dini dan SD, menebar bibit ikan di telaga Kumpe, menanam pohon buah-buahan, dan menyerahkan buku-buku untuk rumah baca. Namun sebelum menuju telaga kami sarapan pagi terlebih dahulu.


Kami berbagi tugas. Om Pras dan kawan-kawan bersama warga Pesawahan menuju Telaga Kumpe. Hal pertama yang mereka kerjaan adalah kerja bakti untuk membangun kerangka sanggar belajar dari kayu jati dan sekalian menebar bibit ikan dan menanam buah-buahan di sekitar tempat dibangunnya sekolah sanggar belajar.
Sedangkan saya, Kak Vanny dan Kak Danar mulai mengajar adik-adik usia dini dan adik-adik SD, pada pukul 10.00. Selain itu, kami dibantu oleh adik-adik dari Yayasan Argowilis, karena sebagian besar adik-adik Dusun Pesawahan tidak bisa bahasa Indonesia. Mereka memakai bahasa Jawa.
Saat itu, jumlah anak TK sekitar 40 orang dan adik-adik SD sebanyak 3 orang karena sebagian besar dari mereka pergi sekolah. Saya mengajar kelas TK, sedangkan murid SD diajar oleh Kak Vanny dan adik Eva dari tim Argowilis. Di kelas TK saya mengajari menyanyi dan mewarnai. Sedangkan di kelas SD, adik-adik belajar matematika dan belajar membaca . Kelas kami akhiri pukul 12.00.
Setelah kegiatan belajar-mengajar, kami membereskan dan memisahkan buku-buku berdasarkan kategori umur dan sekolah. Lalu kegiatan kami lanjutkan dengan meresmikan Rumah Baca, di rumah Pak Seno. Secara simbolis, kami juga memberikan pakaian kepada salah satu warga.
Kemudian, acara “social work camp” ditutup di Telaga Kampe. Penutupan acara berlangsung meriah, karena ada ‘dangdutan’ dari artis Purwokerto. Saya, Kak Vanny dan Om Pras juga menyumbang lagu. Semula panitia merencakan ada api unggun, tapi bubar deh karena hujan turun dengan derasnya. Semua warga berlarian menuju rumah masing-masing. Kami pun bergegas ke rumah Pak Seno.
Sebelum pulang, Kak Vanny sempat mencoba naik kapal di telaga itu. Malam harinya sekitar pukul 22.00, kami pulang menuju Jakarta naik mobil Pak Winarto. Dan tiba pada Minggu, 5 Februari 2012, sekitar pukul 08.00.
Bagi saya, “social workcamp” ini tidak akan terlupakan. Karena acara ini juga menyadarkan kita semua , kalau masih banyak masyarakat desa sangat membutuhkan pertolongan kita dari pelajaran sampai kebutuhan sehari-hari, khususnya anak-anak usia dini dan sekolah dasar. Ayo dari sekarang kita harus peduli dengan masyarakat terpencil!
Terima kasih Tuhan Yesus, Tim Adik Asuh dan majelis yang sudah mempercayakan saya dan Kak Vanny melayani di Dusun Pesawahan. Semoga ada pelayanan seperti ini, supaya kita juga belajar berbagi kasih sayang yang sudah diajarkan Tuhan.
(Dwira Sekarkinasih)

Hari kamis, tanggal 1 sepetember 2011 yang lalu, jatuh pada hari ke 2 lebaran. Kami kakak-kakak asuh berkunjung ke tempat adik-adik asuh. Kakak-kakak asuh yang berpartisipasi yaitu Kak Vanny, Kak Dwira, Kak Qboy, Kak Audi, Kak Lia, Kak Mario, Kak Anna, Kak Yunita, Kak Corry, Kak Rita, Kak Hegel,dan Kak Sicil. Pukul 11.00 kita berangkat dari GKI KB ( Gereja Kristen Indonesia, Kebayoran-Baru) dengan menggunakan bus umum 72 menuju BRI dari gereja. Sampai disana kami disambut dengan baik oleh keluarga dari Amidah, keluarga Aprilia(Wewe),keluarga Angel dan masih banyak lagi dan dengan makanan kecil beserta soft drink.

Disana kami kakak-kakak asuh merasakan sukacita , dan ada satu cerita dari salah satu kakak asuh yang bernama Kak Hegel. Kak Hegel bermain karet bersama adik asuh yang bernama Angel, Apri, Novi dan Wewe, adik-adik merasa senang sekali setelah bermain-main bersama. Disaat adik-adik bermain, kakak-kakak asuh yang lain sibuk bercerita dengan orangtua dari adik-adik. Selanjutnya pada pukul 13.00 kita melanjutkan ke daerah rumah adik-adik yang ada di Damai dengan menggunakan bus metro-mini 610. Tetapi saat kami berjalan kaki, ada suatu tragedi salah satu kakak asuh yang bernama Kak Corry, Kak Corry merasakan sakit kepala sedikit sehingga Kak Corry terjatuh di perjalanan. Tetapi Kak Corry tetap semangat untuk bertemu adik-adik dan kami melanjutkan perjalanan. Sesampai disana kita disambut dengan sukacita oleh keluarga Ita, keluarga Karine, keluarga Satria, dan keluarga Dini. Disana kami mendapatkan kabar bahwa salah satu adik-asuh yang bernama Lina bahwa adik Lina menderita sakit tifus dari sebelum lebaran, karena keterbatasan tempat hanya 2 kakak asuh yaitu Kak Qboy dan Kak Mario yang masuk ke dalam rumahnya untuk melihat kondisi adik Lina.

Setelah dari Damai kami melanjutkan perjalanan ke rumah adik-asuh yang ada di Kober, Pangeran Antasari dan untuk menuju kesana kami menaiki angkot 01 yang berwarna merah. Di kober kami mengunjungi rumah keluarga Amsori, keluarga Danang, dan keluarga Fatur. Kami disana di terima dengan baik dan sukacita. Dan disana kita berbincang-bincang sambil makan mie-pangsit beserta sirup yang disediakan oleh kluarga adik-adik yang ada disana. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 dan saatnya kami mengunjungi rumah adik-asuh yang lain yang bernama Ipung dan Iman.

Rumah yang kami kunjungi yang pertama yaitu rumah dari keluarga Iman, disana kami kakak-kakak asuh bercerita bersama dengan orang-tua Iman tentang sekolah dan pekerjan dari adik Iman. Setelah itu kami mengunjungi rumah adik-asuh yang bernama Woro. Tetapi disana kami hanya bertemu dengan orangtua dari adik Woro. Setelah itu, kami mengunjungi rumah dari adik asuh yang bernama Murni. Disana kami hanya singgah sebentar karena Murni dan keluarga mempunyai acara lain. Dan waktu sudah malam, saatnya kami kakak-kakak asuh kembali ke rumah masing-masing tetapi sebelumnya kami bersama-sama berkumpul di Gereja untuk me review kunjungan adik-asuh yang kami laksanakan dari pukul 11.00 – 18.00 WIB. Serunya kita berkunjung ke rumah adik-adik. Lebaran tahun depan kita ramaikan lagi yukkk…
Namun setibanya di rumah Pak Seno, tempat menginap, kami diajak jalan-jalan untuk melihat pusat aliran listrik dan aliran air bersih. Indahnya.. Setelah bersantap malam, mulailah acara pertama kami di dusun. Kami berkumpul bersama masyarakat Pesawahan, untuk perkenalan dan menyampaikan tujuan kami datang ke desa mereka. Acara ini dibuka oleh Ketua Yayasan Argowilis, Bapak Abib.
Sebagai gambaran, Dusun Pesawahan, Kelurahan Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas adalah desa pinggir hutan yang terisolir akibat jalan berliku dan tanjakan terjal berbatu-batu menuju dusun itu. Di tempat ini tidak ada angkutan umum. Jumlah penduduk sekitar 500 jiwa atau sebanyak 123 Kepala Keluarga.
Belum ada sekolah, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan Puskesmas. Warga lulusan Sekolah Menengah Atas cuma 1 orang, itu pun pendatang. Yang pernah sekolah sampai Sekolah Menengah Pertama tidak tamat sebanyak 4 orang. Pernah menempuh Sekolah Dasar (SD) tidak tamat dapat dihitung dengan jari. Selebihnya, buta aksara (Buta Huruf).
Sekolah SD terdekat berada di desa tetangga yang harus ditempuh lewat hutan dengan berjalan kaki selama 1 jam. Kepada masyarakat, Bapak Abib menjelaskan tujuan kedatangan kami untuk membangun sanggar belajar, mengajar anak-anak usia dini dan SD, menebar bibit ikan di telaga Kumpe, menanam pohon buah-buahan, menyerahkan buku-buku untuk rumah baca. Tapi setelah saya berinteraksi dengan warga, anak-anak mereka juga membutuhkan mainan.
HARI KEDUA
Sabtu, 4 Februari 2012
Sejak pagi, kami sudah bersiap untuk melakukan kegiatan, yakni membangun sanggar belajar, mengajar anak-anak usia dini dan SD, menebar bibit ikan di telaga Kumpe, menanam pohon buah-buahan, dan menyerahkan buku-buku untuk rumah baca. Namun sebelum menuju telaga kami sarapan pagi terlebih dahulu.
Kami berbagi tugas. Om Pras dan kawan-kawan bersama warga Pesawahan menuju Telaga Kumpe. Hal pertama yang mereka kerjaan adalah kerja bakti untuk membangun kerangka sanggar belajar dari kayu jati dan sekalian menebar bibit ikan dan menanam buah-buahan di sekitar tempat dibangunnya sekolah sanggar belajar.
Sedangkan saya, Kak Vanny dan Kak Danar mulai mengajar adik-adik usia dini dan adik-adik SD, pada pukul 10.00. Selain itu, kami dibantu oleh adik-adik dari Yayasan Argowilis, karena sebagian besar adik-adik Dusun Pesawahan tidak bisa bahasa Indonesia. Mereka memakai bahasa Jawa.
Saat itu, jumlah anak TK sekitar 40 orang dan adik-adik SD sebanyak 3 orang karena sebagian besar dari mereka pergi sekolah. Saya mengajar kelas TK, sedangkan murid SD diajar oleh Kak Vanny dan adik Eva dari tim Argowilis. Di kelas TK saya mengajari menyanyi dan mewarnai. Sedangkan di kelas SD, adik-adik belajar matematika dan belajar membaca . Kelas kami akhiri pukul 12.00.
Setelah kegiatan belajar-mengajar, kami membereskan dan memisahkan buku-buku berdasarkan kategori umur dan sekolah. Lalu kegiatan kami lanjutkan dengan meresmikan Rumah Baca, di rumah Pak Seno. Secara simbolis, kami juga memberikan pakaian kepada salah satu warga.
Kemudian, acara “social work camp” ditutup di Telaga Kampe. Penutupan acara berlangsung meriah, karena ada ‘dangdutan’ dari artis Purwokerto. Saya, Kak Vanny dan Om Pras juga menyumbang lagu. Semula panitia merencakan ada api unggun, tapi bubar deh karena hujan turun dengan derasnya. Semua warga berlarian menuju rumah masing-masing. Kami pun bergegas ke rumah Pak Seno.
Sebelum pulang, Kak Vanny sempat mencoba naik kapal di telaga itu. Malam harinya sekitar pukul 22.00, kami pulang menuju Jakarta naik mobil Pak Winarto. Dan tiba pada Minggu, 5 Februari 2012, sekitar pukul 08.00.
Bagi saya, “social workcamp” ini tidak akan terlupakan. Karena acara ini juga menyadarkan kita semua , kalau masih banyak masyarakat desa sangat membutuhkan pertolongan kita dari pelajaran sampai kebutuhan sehari-hari, khususnya anak-anak usia dini dan sekolah dasar. Ayo dari sekarang kita harus peduli dengan masyarakat terpencil!
Terima kasih Tuhan Yesus, Tim Adik Asuh dan majelis yang sudah mempercayakan saya dan Kak Vanny melayani di Dusun Pesawahan. Semoga ada pelayanan seperti ini, supaya kita juga belajar berbagi kasih sayang yang sudah diajarkan Tuhan.
(Dwira Sekarkinasih)
Hari kamis, tanggal 1 sepetember 2011 yang lalu, jatuh pada hari ke 2 lebaran. Kami kakak-kakak asuh berkunjung ke tempat adik-adik asuh. Kakak-kakak asuh yang berpartisipasi yaitu Kak Vanny, Kak Dwira, Kak Qboy, Kak Audi, Kak Lia, Kak Mario, Kak Anna, Kak Yunita, Kak Corry, Kak Rita, Kak Hegel,dan Kak Sicil. Pukul 11.00 kita berangkat dari GKI KB ( Gereja Kristen Indonesia, Kebayoran-Baru) dengan menggunakan bus umum 72 menuju BRI dari gereja. Sampai disana kami disambut dengan baik oleh keluarga dari Amidah, keluarga Aprilia(Wewe),keluarga Angel dan masih banyak lagi dan dengan makanan kecil beserta soft drink.
Disana kami kakak-kakak asuh merasakan sukacita , dan ada satu cerita dari salah satu kakak asuh yang bernama Kak Hegel. Kak Hegel bermain karet bersama adik asuh yang bernama Angel, Apri, Novi dan Wewe, adik-adik merasa senang sekali setelah bermain-main bersama. Disaat adik-adik bermain, kakak-kakak asuh yang lain sibuk bercerita dengan orangtua dari adik-adik. Selanjutnya pada pukul 13.00 kita melanjutkan ke daerah rumah adik-adik yang ada di Damai dengan menggunakan bus metro-mini 610. Tetapi saat kami berjalan kaki, ada suatu tragedi salah satu kakak asuh yang bernama Kak Corry, Kak Corry merasakan sakit kepala sedikit sehingga Kak Corry terjatuh di perjalanan. Tetapi Kak Corry tetap semangat untuk bertemu adik-adik dan kami melanjutkan perjalanan. Sesampai disana kita disambut dengan sukacita oleh keluarga Ita, keluarga Karine, keluarga Satria, dan keluarga Dini. Disana kami mendapatkan kabar bahwa salah satu adik-asuh yang bernama Lina bahwa adik Lina menderita sakit tifus dari sebelum lebaran, karena keterbatasan tempat hanya 2 kakak asuh yaitu Kak Qboy dan Kak Mario yang masuk ke dalam rumahnya untuk melihat kondisi adik Lina.
Setelah dari Damai kami melanjutkan perjalanan ke rumah adik-asuh yang ada di Kober, Pangeran Antasari dan untuk menuju kesana kami menaiki angkot 01 yang berwarna merah. Di kober kami mengunjungi rumah keluarga Amsori, keluarga Danang, dan keluarga Fatur. Kami disana di terima dengan baik dan sukacita. Dan disana kita berbincang-bincang sambil makan mie-pangsit beserta sirup yang disediakan oleh kluarga adik-adik yang ada disana. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 dan saatnya kami mengunjungi rumah adik-asuh yang lain yang bernama Ipung dan Iman.
Rumah yang kami kunjungi yang pertama yaitu rumah dari keluarga Iman, disana kami kakak-kakak asuh bercerita bersama dengan orang-tua Iman tentang sekolah dan pekerjan dari adik Iman. Setelah itu kami mengunjungi rumah adik-asuh yang bernama Woro. Tetapi disana kami hanya bertemu dengan orangtua dari adik Woro. Setelah itu, kami mengunjungi rumah dari adik asuh yang bernama Murni. Disana kami hanya singgah sebentar karena Murni dan keluarga mempunyai acara lain. Dan waktu sudah malam, saatnya kami kakak-kakak asuh kembali ke rumah masing-masing tetapi sebelumnya kami bersama-sama berkumpul di Gereja untuk me review kunjungan adik-asuh yang kami laksanakan dari pukul 11.00 – 18.00 WIB. Serunya kita berkunjung ke rumah adik-adik. Lebaran tahun depan kita ramaikan lagi yukkk…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar