LIR RESPATI BUMIDAYA
ambore Sahabat Anak XIV, 10-11 Juli 2010. Untuk kesekian kalinya saya mendengar nama adik yang satu ini dipanggil-panggil. Suara musik dan padatnya kerumunan adik-adik, juga kakak-kakaknya, menyulitkan saya menemukan kakak yang mencari dan adik yang dicari. Saya mundur agak ke belakang, kak Sutan salah seorang relawan Sahabat Anak untuk Jambore kali ini langsung menghampiri dan bertanya: “Kak, lihat adik Ade?”. Saya mengatakan tidak, tetapi pastinya ada di antara kami walau sulit langsung ditemukan karena tempat kami berdiri agak gelap. “Ade dicari kak Qboy!”, lanjut kak Sutan. Yang disebut namanya tadi muncul di tempat kami dengan pertanyaan yang sama, “Kak, lihat Ade?”, di tangan kak Qboy ada plastik kecil, “Saya dipesankan ibunya sebelum berangkat Jambore tadi kalau Ade harus minum obat!”. Lalu kami mencari adik yang bernama Ade.
Terimakasih Tuhan karena pada Jambore tahun ini, saya boleh lebih menikmati momen interaksi dengan adik-adik secara personal.
(George Sicillia)
ambore Sahabat Anak XIV, 10-11 Juli 2010. Untuk kesekian kalinya saya mendengar nama adik yang satu ini dipanggil-panggil. Suara musik dan padatnya kerumunan adik-adik, juga kakak-kakaknya, menyulitkan saya menemukan kakak yang mencari dan adik yang dicari. Saya mundur agak ke belakang, kak Sutan salah seorang relawan Sahabat Anak untuk Jambore kali ini langsung menghampiri dan bertanya: “Kak, lihat adik Ade?”. Saya mengatakan tidak, tetapi pastinya ada di antara kami walau sulit langsung ditemukan karena tempat kami berdiri agak gelap. “Ade dicari kak Qboy!”, lanjut kak Sutan. Yang disebut namanya tadi muncul di tempat kami dengan pertanyaan yang sama, “Kak, lihat Ade?”, di tangan kak Qboy ada plastik kecil, “Saya dipesankan ibunya sebelum berangkat Jambore tadi kalau Ade harus minum obat!”. Lalu kami mencari adik yang bernama Ade.
Ade yang sekarang kelas 3 SD berada di
antara adik-adik lainnya di barisan paling depan. Waktu dipanggil, dia
langsung datang, tetapi mengetahui akan disuruh minum obat, sontak ia
kabur. Jadi kami harus berusaha lagi menemukan Ade. Waktu Ade berhasil
kami temukan, saya langsung merangkul dan mendudukkannya di pangkuan
saya. Cukup manjur sih, Ade mau mendengar nasehat saya untuk
minum obat. Tetapi waktu kak Qboy datang dan menyodorkan obatnya,
lagi-lagi Ade kabur, dia berlari ke tenda disusul saya dan kak Qboy.
Duh!
Ade sedang meringkuk di pojok tenda
sembari membongkar-bongkar isi ranselnya, mengeluarkan ini-itu setelah
itu memasukkannya kembali, dikeluarkan lagi, dimasukkan lagi, dan
menghindar kontak mata dengan kami. Sekali lagi saya membujuknya minum
obat dengan sabar dan mengatakan jika ia perlu beberapa menit maka kami
akan menunggu dan menemaninya di situ. “Tidak usah! Saya minum saja
sekarang!”, katanya tanpa memandang kami. Saya menyiapkan air mineral,
kak Qboy menyodorkan obatnya. “Lho, banyak sekali obatnya!”, saya
sedikit tercengang. Kak Qboy mengangguk, “…makanya, saya tidak tega
memaksanya minum obat”. Saya memeriksa sebentar obatnya, itu adalah obat
yang harus dikonsumsi dalam waktu beberapa bulan dan saya bisa
merasakan tertekannya seorang anak minum obat sebanyak itu dalam waktu
lama. “Kamu mau obatnya Kakak hancurkan dulu agar gampang minumnya?
atau, kamu mau biskuit untuk mengurangi rasa pahit?”, kami menawarkan.
“Tidak usah! Saya bisa minum semuanya sekaligus!”, semua obat itu sudah
ada di telapak tangannya yang kecil. “Tunggu!”, kata saya lagi, “Ucap
doa dulu atau bilang Bismillah, minta Tuhan tolong kamu cepat
sembuh!”. “Tidak usah! Tidak perlu berdoa.. minum obat saja!”, lalu
semua obat itu ditelan dalam sekali teguk.
Kami mendekat padanya. Ia mulai lagi
dengan aktivitas membereskan isi ransel yang tidak jelas. “Kamu marah ya
sama Kakak?”, dia melihat kami sejenak. “Tidak saya tidak marah sama
Kakak!”, sedikit terganggu dengan pertanyaan saya tadi. Di luar sana
adik-adik yang lain masih menikmati musik dan sebentar lagi ada dongeng
dari kak Awam. “Kakak minta maaf ya!”, saya serius mengatakan hal ini.
“Tidak Kakak, saya tidak marah sama kakak!”, jawabnya cepat. “Tapi Kakak
tetap harus minta maaf sama kamu. Pastinya kamu merasa tidak suka
disuruh-suruh minum obat seperti tadi. Maaf ya…”, saya menjelaskan.
“Kakak juga minta maaf ya. Kakak juga membuat kamu merasa tidak enak
begini”, timpal kak Qboy di samping saya. “Kakak! Saya tidak marah sama
kakak! Saya tidak marah sama kakak!”, suaranya meninggi, tetapi memang
dia tidak lagi marah, ranselnya sudah digeletakkan begitu saja,
pandangan matanya berpapasan dengan pandangan kami, dia tahu kami
menghargai perasaannya dan kami tahu saat itu tembok di hatinya sudah
runtuh.
Saya dan kak Qboy membantu membereskan
isi ranselnya yang berantakan setelah itu kak Qboy kembali ke area
panggung mendampingi adik-adik yang lain menyaksikan dongeng dan
pertunjukan sulap. Saya masih menemani Ade di tenda bersama dua adik
lainnya yang datang belakangan karena kelelahan berdiri. Saya menyuruh
mereka tidur tetapi rupanya mereka lebih suka mendengar cerita saya
tentang si Thomas (sebuah penggalan masa kecil Thomas Alfa Edison yang
dibawakan dalam bahasa anak-anak) dan setelah itu gantian saya yang
mendengarkan curhat mereka hehe termasuk penegasan Ade bahwa ia
tidak marah kepada saya dan kak Qboy. Karena adik-adik batal ngantuk,
kami kembali ke area panggung lagi dan menyaksikan pertunjukan sulap.
Setelah itu, selama Jambore, dimana ada
saya di situ ada Ade dan saya jadi tertawa sendiri karena bahan
ceritanya tidak habis-habis padahal sebelumnya Ade tidak termasuk anak
yang banyak bicara. Besoknya dia masih berusaha kabur sebelum jam makan
pagi, tetapi setelah saya ajak, ia dengan senang hati kembali dan
memilih makan dalam tenda karena ada kak Qboy di situ. “Kak, kalau pagi
obatku tidak banyak. Aku akan minum yang ini belakangan, karena rasanya
manis”, Ade tersenyum sambil memegang 3 butir obat, salah satunya yang
dibilang manis adalah vitamin C. “Ade berdoa dulu ya atau bilang Bismillah
sebelum minum obat?”, pintaku lagi. “Tidak usah, kak! Minum obat
saja!”, saya belum bisa mengubahnya untuk hal yang satu ini. Saya juga
tidak yakin, jika saya yang berada di posisinya, akan bisa tangguh untuk
menjalani pengobatan dan tetap bersyukur pada Tuhan. Tapi saya yakin,
bahkan kata-kata ‘tidak usah’ yang terucap darinya adalah juga sebuah
doa karena ketika seseorang tidak cukup kuat untuk berdiri, maka pada
akhirnya ia hanya perlu bersujud.
Kata ‘maaf’ memang hanya sebuah kata
yang pendek dan sederhana, tetapi kata tersebut memiliki kekuatan yang
luar biasa untuk memberi makna baru bagi sebuah relasi. Kata ‘maaf’
tidak hanya digunakan untuk kesalahan yang diakui, tetapi kata ‘maaf’
juga mewakili ungkapan bahwa kita menghargai perasaan orang lain yang
tidak nyaman atas perbuatan atau perkataan kita atau suatu kondisi yang
tak terhindarkan. Termasuk kepada anak-anak. Kata ‘maaf’ merupakan titik
kulminasi Ade pada saat Jambore kemarin. Dan suatu saat nanti, saya
berharap Ade bisa menyapa Tuhannya dan mengatakan, “Tuhan terima kasih
karena saya telah sembuh”.
—
Jakarta, Juli 2010Terimakasih Tuhan karena pada Jambore tahun ini, saya boleh lebih menikmati momen interaksi dengan adik-adik secara personal.
(George Sicillia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar