LIR RESPATI BUMIDAYA
Setangkai
Bunga
Sempurnakan jerit setangkai bunga
Agar mimpi jangan gelisah
Waktu pagi dibasuh tangisan kecil
Tapi aku tak ingin siapa pun
Mengusik ujung kelopaknya
Sebab setiap tetes embun
Adalah suara rintihan riwayat
Kerinduan
Tak perlu jambangan
Sebab akulah jambangan setiap rintihan
Tuhan ku taruh keyakinan
Jangan kau sembunyi di balik anganangan
Sempurnakan jerit setangkai bunga
Agar mimpi jangan gelisah
Waktu pagi dibasuh tangisan kecil
Tapi aku tak ingin siapa pun
Mengusik ujung kelopaknya
Sebab setiap tetes embun
Adalah suara rintihan riwayat
Kerinduan
Tak perlu jambangan
Sebab akulah jambangan setiap rintihan
Tuhan ku taruh keyakinan
Jangan kau sembunyi di balik anganangan
Tak hentihenti di dunia ini sengketa
Apa dicari di atas duka dan sengsara manusia
Tapi ya Rabbi aku hanya berpihak kepadamu
Sesungguhnya kau lah kebenaran itu
Masuklah ke dalam kekosongan jiwa
Karena derita dunia
Di bawah hujan tengadah ke cakrawala
Kita cuma berdua
Hujan adalah rahmat hujan adalah nikmat
Dan kita basah dalam rahmat dan nikmat
Banjarbaru, 2001
Suatu Telaga Akhir Tahun
Seekor belibis terjun ke telaga
Percakapan ini terhenti seketika
Terasa aku tinggal sendiri
Samar caya di daundaun padma
Apa lagi yang bisa kukenang
Bila bulan kehilangan bayang
Kala ikanikan telah menyepi
Siapa antara kita
Yang hilang dalam diri
Jika aku lahir kembali
Isyaratkan di mana riak
Menyimpan mimpi
Banjarbaru, 1999/2000
Pertemuan
Setiap pertemuan tak ada pembicaraan
Cuma bersitatap penuh kecurigaan
Sesampainya kemari kau menemuiku lagi
Dengan sebilah belati
Kau berkata : Tikamlah sepi
Harus ada keberanian dalam jiwa yang lelah
Tangantangan perkasa
Kau datang lagi
Dan berkata : Tikamlah sunyi
Dalam pertemuan itu kau tak pernah
datang lagi
Terakhir kali
Kau berkata :
Dengan rasa dendam
tikamlah dirimu sendiri
Apa dicari di atas duka dan sengsara manusia
Tapi ya Rabbi aku hanya berpihak kepadamu
Sesungguhnya kau lah kebenaran itu
Masuklah ke dalam kekosongan jiwa
Karena derita dunia
Di bawah hujan tengadah ke cakrawala
Kita cuma berdua
Hujan adalah rahmat hujan adalah nikmat
Dan kita basah dalam rahmat dan nikmat
Banjarbaru, 2001
Suatu Telaga Akhir Tahun
Seekor belibis terjun ke telaga
Percakapan ini terhenti seketika
Terasa aku tinggal sendiri
Samar caya di daundaun padma
Apa lagi yang bisa kukenang
Bila bulan kehilangan bayang
Kala ikanikan telah menyepi
Siapa antara kita
Yang hilang dalam diri
Jika aku lahir kembali
Isyaratkan di mana riak
Menyimpan mimpi
Banjarbaru, 1999/2000
Pertemuan
Setiap pertemuan tak ada pembicaraan
Cuma bersitatap penuh kecurigaan
Sesampainya kemari kau menemuiku lagi
Dengan sebilah belati
Kau berkata : Tikamlah sepi
Harus ada keberanian dalam jiwa yang lelah
Tangantangan perkasa
Kau datang lagi
Dan berkata : Tikamlah sunyi
Dalam pertemuan itu kau tak pernah
datang lagi
Terakhir kali
Kau berkata :
Dengan rasa dendam
tikamlah dirimu sendiri
Betapa
Lengang
Habis sudah dendamnya
Kelewat dendam
Dan bersumpah
Suatu kali telunjuknya ke cakrawala
Bibir agak bergetar mungkin
Ada sesuatu tak terucapkan
Bermata sayu
Kosong
Jalan betapa lengang
Matahari kehilangan warna di cakrawala
Langit kehilangan warna di cakrawala
Sungai kehilangan warna di cakrawala
Pelangi kehilangan warna di cakrawala
Bulan bintangbintang kehilangan warna di cakrawala
Pesawangan kehilangan warna di cakrawala
Cakrawala kehilangan siapa
Jalan betapa lengang
Angin tak berkata apaapa
Ada seseorang mati
Di atas dedaunan kehidupannya
Yang luruh
Banjarbaru, 2000
As One of the Song, Mamimeca
Tatapan apa matahari bakal tenggelam
Riwayat berabadabad jauh di dasar laut
Dari koloni larva bintang
Aku tahu betapa letih wajahmu
Dalam gugusan maha kelam
May soul stay in the wind, Mami
Sepanjang semenanjung berembus
Lebur dalam tubuhmu
Don’t give me your wave
Aku berlari di tengah pasir
dan mengunyah semaksemak ganggang
Di tengah rapat matamu : Please come in
Lalu kupintal rambut kita perak
Lalu kubaringkan tubuh kita di pasir
Beralas serbukserbuk ganggang
Kutulis bibirmu dari langit berawan
Entah apa aku kenal musim hampir tujuh puluh
musim purba ketika berlabuh
Ketika kau berkata : No, I prefer to the sea
Entah apa
Aku jadi segumpal ruh di buihbuih
Sure, I am is the nearest harbour
Kau berkata lagi : You are is My
Kupetik bunga laut
Kupetikan yang tumbuh di rahimmu
Agar gemawan perlahan turun
Agar abadi segala rindudendam
I see :We are far away from here
Di matamu ada cincin di jari
Membalikbalik lembar usia
Menyisir lidah pantai
Menyisir karangkarang laut
Adalah ujung penghabisan senjakala
Kita terbakar dan hangus
dalam bayangbayang
Habis sudah dendamnya
Kelewat dendam
Dan bersumpah
Suatu kali telunjuknya ke cakrawala
Bibir agak bergetar mungkin
Ada sesuatu tak terucapkan
Bermata sayu
Kosong
Jalan betapa lengang
Matahari kehilangan warna di cakrawala
Langit kehilangan warna di cakrawala
Sungai kehilangan warna di cakrawala
Pelangi kehilangan warna di cakrawala
Bulan bintangbintang kehilangan warna di cakrawala
Pesawangan kehilangan warna di cakrawala
Cakrawala kehilangan siapa
Jalan betapa lengang
Angin tak berkata apaapa
Ada seseorang mati
Di atas dedaunan kehidupannya
Yang luruh
Banjarbaru, 2000
As One of the Song, Mamimeca
Tatapan apa matahari bakal tenggelam
Riwayat berabadabad jauh di dasar laut
Dari koloni larva bintang
Aku tahu betapa letih wajahmu
Dalam gugusan maha kelam
May soul stay in the wind, Mami
Sepanjang semenanjung berembus
Lebur dalam tubuhmu
Don’t give me your wave
Aku berlari di tengah pasir
dan mengunyah semaksemak ganggang
Di tengah rapat matamu : Please come in
Lalu kupintal rambut kita perak
Lalu kubaringkan tubuh kita di pasir
Beralas serbukserbuk ganggang
Kutulis bibirmu dari langit berawan
Entah apa aku kenal musim hampir tujuh puluh
musim purba ketika berlabuh
Ketika kau berkata : No, I prefer to the sea
Entah apa
Aku jadi segumpal ruh di buihbuih
Sure, I am is the nearest harbour
Kau berkata lagi : You are is My
Kupetik bunga laut
Kupetikan yang tumbuh di rahimmu
Agar gemawan perlahan turun
Agar abadi segala rindudendam
I see :We are far away from here
Di matamu ada cincin di jari
Membalikbalik lembar usia
Menyisir lidah pantai
Menyisir karangkarang laut
Adalah ujung penghabisan senjakala
Kita terbakar dan hangus
dalam bayangbayang
Aku musafir
Liriklirik yang jatuh dari matamu
Jatuh gemercik : Give to me one the world
Di kulminasi bukit
Kupetik kembang ilalang :
May sure not at all raincloud
Elly di tebingtebing :
I have lost my wind
Kupetik seribu kupukupu
Yang tumbuh di rambutmu
Lalu kuterbangkan
Ada desiran panjang :
I am on the run and to dream
Sebab aku musafir
Sebab akulah kau yang diam
Yang mendaki mimpimimpi yang panjang
Dalam suarasuara yang lenyap dan hilang
Matahari menjelma ombak dan berbuih
di batubatu
Elly, I am is him : Wanderer fatigued
Liriklirik yang jatuh dari matamu
Jatuh gemercik : Give to me one the world
Di kulminasi bukit
Kupetik kembang ilalang :
May sure not at all raincloud
Elly di tebingtebing :
I have lost my wind
Kupetik seribu kupukupu
Yang tumbuh di rambutmu
Lalu kuterbangkan
Ada desiran panjang :
I am on the run and to dream
Sebab aku musafir
Sebab akulah kau yang diam
Yang mendaki mimpimimpi yang panjang
Dalam suarasuara yang lenyap dan hilang
Matahari menjelma ombak dan berbuih
di batubatu
Elly, I am is him : Wanderer fatigued
Last
Mirage
Jangan ada lelap
Lihat gemawan pada sawang
Di dadaku menyimpan warna langit
Rain will falls, can you go far
Jangan ada duka
Sebab karena angin atau my solitude
Sebab cahaya di sungai
Entah apa kau bagai sebuah nyanyi
tanpa lirik : Say me
Where is your raft
Antara gugusan burung senja
Teach me know him, from your love
Mengapa kau berhenti
melintasi jendela yang terbuka
Look at me, I’ll meet you in the pier
Manakala langit tidak jingga lagi
Maka apakah nyanyi diam terhenti
But he always to stick art me
Banjarbaru, 2004
Tari Sunyi
Asap wewangian jatilan menetes
setiap ruh itu merasuki sunyi
Taksu tertanam dalam tubuhmu
Menarilah atas nama purnama
Jemarimu menatah seribu musim
di layarlayar kehidupan
Dan berkata : Inilah riwayat
altar pemerajaan sunyi
Orangorang pada takjub memandang
tubuhya sendiri di atas panggung
Tatkala ruh caya bulan membungkus
tubuhnya
Sebelum suarasuara gaduh di luar
panggung jadi sempurna
Diamdiam kau abukan dirimu
jauh ke dalam sunyi
Banjarbaru, 2004
Taksu : Dewa kekuatan
Jangan ada lelap
Lihat gemawan pada sawang
Di dadaku menyimpan warna langit
Rain will falls, can you go far
Jangan ada duka
Sebab karena angin atau my solitude
Sebab cahaya di sungai
Entah apa kau bagai sebuah nyanyi
tanpa lirik : Say me
Where is your raft
Antara gugusan burung senja
Teach me know him, from your love
Mengapa kau berhenti
melintasi jendela yang terbuka
Look at me, I’ll meet you in the pier
Manakala langit tidak jingga lagi
Maka apakah nyanyi diam terhenti
But he always to stick art me
Banjarbaru, 2004
Tari Sunyi
Asap wewangian jatilan menetes
setiap ruh itu merasuki sunyi
Taksu tertanam dalam tubuhmu
Menarilah atas nama purnama
Jemarimu menatah seribu musim
di layarlayar kehidupan
Dan berkata : Inilah riwayat
altar pemerajaan sunyi
Orangorang pada takjub memandang
tubuhya sendiri di atas panggung
Tatkala ruh caya bulan membungkus
tubuhnya
Sebelum suarasuara gaduh di luar
panggung jadi sempurna
Diamdiam kau abukan dirimu
jauh ke dalam sunyi
Banjarbaru, 2004
Taksu : Dewa kekuatan
Ulang
Tahun
Ombakombak kecil pecah di bibir piala
Matamu menjadi setangkai anggur
Menjadi pecahan kembang api
Saat kita dengar dentang lonceng
Kita jatuhkan dendamrindu
Kita jatuhkan di lantai satupersatu
Saat kita nyalakan lilinlimaempat
Saat kita tanggalkan satupersatu pakaian
di muka cermin dan bertatapan
Memetik hatinurani sebiji anggur
lalu dirangkai menjadi kalender
Lalu digantung pada usia purba
Kita gantung segala mimpi
Persis seperti dalam perjanjian
sewaktu masih segumpal darah
Banjarbaru, 2003/2004
Ode Peziarah
Sesampainya di ujung
Diamdiam kau beri aku simpang
Sebab aku pesangsi harihari perjanjian
Barangkali ada yang hilang antara kita
Sebab status telah berganti rupa
Masih juga belum usai percakapan diam
Langit menabur dupa kekosongan jiwa
Alangkah pejamnya mataku
Menatap pisau waktu
Kau gaibkan wajahku di batubatu
karena tak aduh berkalikali sayatan rindu
Beraliralir dendam dalam bahasa kalbu
Maka kupanasi segenap jalan
Kupanasi tanganku gemetar
menangkap zikir yang melayang
jatuh di tapaktapak kakimu
Banjarbaru, 2003
Sebelum Usai Hujan
Nyalakan lagikah lampu yang padam
Di luar seperti ada ketukan
Tak hentihenti dilenguh angin
Kita tak jua sempat menyiapkan
sahutan
Hujan meneteskan ekstase pisau
di daun pintu pada setiap ketukan
Kitalah pejalan zikir yang terluka
Tanah ditumbuhi ejaan ayatayat
Kau ketuk setiap kali ada sayatan
serupa wewangian ruh melayang
dari lobanglobang kunci
Ratapan pepohonan basah mengekalkan
bayangan diam
Kau biarkankah lampu yang padam
Gerimis di kaca jendela masih juga
mengutakatik gelisah pandang mata
dan jamdinding telah memasang
perangkap dusta
Banjarbaru, 2003
Ombakombak kecil pecah di bibir piala
Matamu menjadi setangkai anggur
Menjadi pecahan kembang api
Saat kita dengar dentang lonceng
Kita jatuhkan dendamrindu
Kita jatuhkan di lantai satupersatu
Saat kita nyalakan lilinlimaempat
Saat kita tanggalkan satupersatu pakaian
di muka cermin dan bertatapan
Memetik hatinurani sebiji anggur
lalu dirangkai menjadi kalender
Lalu digantung pada usia purba
Kita gantung segala mimpi
Persis seperti dalam perjanjian
sewaktu masih segumpal darah
Banjarbaru, 2003/2004
Ode Peziarah
Sesampainya di ujung
Diamdiam kau beri aku simpang
Sebab aku pesangsi harihari perjanjian
Barangkali ada yang hilang antara kita
Sebab status telah berganti rupa
Masih juga belum usai percakapan diam
Langit menabur dupa kekosongan jiwa
Alangkah pejamnya mataku
Menatap pisau waktu
Kau gaibkan wajahku di batubatu
karena tak aduh berkalikali sayatan rindu
Beraliralir dendam dalam bahasa kalbu
Maka kupanasi segenap jalan
Kupanasi tanganku gemetar
menangkap zikir yang melayang
jatuh di tapaktapak kakimu
Banjarbaru, 2003
Sebelum Usai Hujan
Nyalakan lagikah lampu yang padam
Di luar seperti ada ketukan
Tak hentihenti dilenguh angin
Kita tak jua sempat menyiapkan
sahutan
Hujan meneteskan ekstase pisau
di daun pintu pada setiap ketukan
Kitalah pejalan zikir yang terluka
Tanah ditumbuhi ejaan ayatayat
Kau ketuk setiap kali ada sayatan
serupa wewangian ruh melayang
dari lobanglobang kunci
Ratapan pepohonan basah mengekalkan
bayangan diam
Kau biarkankah lampu yang padam
Gerimis di kaca jendela masih juga
mengutakatik gelisah pandang mata
dan jamdinding telah memasang
perangkap dusta
Banjarbaru, 2003
Tidak ada komentar:
Posting Komentar