LIR RESPATI BUMIDAYA
Norsiotah
Aku sudah berupaya juga membujuk tidurku
semalammalaman membiarkan angin
meluruhkan cahaya lampu
ke balik malam yang tak berbulan
Tahutahu kenapa kembang violces
di jambanganku semerbak di pembaringanku
Tidak sempat aku membuka pintu :
“Aku datang bersuluh bintang”
Esoknya aku teringat violcesku
Aku termangu
Ia sudah tiada berkelopak lagi
Kualalumpur,2004
Sebuah Kata Yang Pecah
Kueja setiap ziarah ayatbatumu
Requiem isak bumi
Bumi yang menapaskan ruh
pada namamu
Kubangun kecemasan
Karena kehilangan alifmu
di setiap pintu rumahmu
di setiap aku menyeru
Aku rebah di bumi
Rebah menciumi tapakdemitapak kakimu
Menciumi rahasia katademikata
yang kau tebarkan di sajadahmu
Aku rebah di sebuah kata
yang kau ayatkan pada napasku
Banjarbaru, 2005
Notasi Di Atas Kota
Traffic light tibatiba padam
Seperti hutan pinus dalam angin
Fijarnya tak sempat melahirkan ayatayat pada bibir
Di hobbies cafe orangorang tak ubahnya
ruh notasi meluruhkan bulubulu mata
Gelas juice yang berisi parfum dekadensi
mendesiskan serbukserbuk blues
yang tak mampu dibaca ribuan tuts di jariku
Di balik itu kau berkata : Carilah wajahmu dalam wajahku
Jam lebih cepat memburu diriku
di sepanjang trotoar yang basah oleh penyanyi sunyi
Basah oleh percakapan tak usaiusai
Orangorang masih juga hanyut dalam gelas kaca
dalam kepak malam seribu rupa
wajahmu terus juga menghitamkan deretan meja dan kursi
dalam jarijariku yang diam
Kota yang diam
Banjarbaru, 2005
Aku sudah berupaya juga membujuk tidurku
semalammalaman membiarkan angin
meluruhkan cahaya lampu
ke balik malam yang tak berbulan
Tahutahu kenapa kembang violces
di jambanganku semerbak di pembaringanku
Tidak sempat aku membuka pintu :
“Aku datang bersuluh bintang”
Esoknya aku teringat violcesku
Aku termangu
Ia sudah tiada berkelopak lagi
Kualalumpur,2004
Sebuah Kata Yang Pecah
Kueja setiap ziarah ayatbatumu
Requiem isak bumi
Bumi yang menapaskan ruh
pada namamu
Kubangun kecemasan
Karena kehilangan alifmu
di setiap pintu rumahmu
di setiap aku menyeru
Aku rebah di bumi
Rebah menciumi tapakdemitapak kakimu
Menciumi rahasia katademikata
yang kau tebarkan di sajadahmu
Aku rebah di sebuah kata
yang kau ayatkan pada napasku
Banjarbaru, 2005
Notasi Di Atas Kota
Traffic light tibatiba padam
Seperti hutan pinus dalam angin
Fijarnya tak sempat melahirkan ayatayat pada bibir
Di hobbies cafe orangorang tak ubahnya
ruh notasi meluruhkan bulubulu mata
Gelas juice yang berisi parfum dekadensi
mendesiskan serbukserbuk blues
yang tak mampu dibaca ribuan tuts di jariku
Di balik itu kau berkata : Carilah wajahmu dalam wajahku
Jam lebih cepat memburu diriku
di sepanjang trotoar yang basah oleh penyanyi sunyi
Basah oleh percakapan tak usaiusai
Orangorang masih juga hanyut dalam gelas kaca
dalam kepak malam seribu rupa
wajahmu terus juga menghitamkan deretan meja dan kursi
dalam jarijariku yang diam
Kota yang diam
Banjarbaru, 2005
Garden
City Waktu Pagi
: buat Azizah
Tidak beriak
Tidak berambul
Tidak bergelegak tidak
Aku yamg menyelam kataku
Cahaya pagi bercekikikan di atap apartement
berlelehan ke setiap tingkat
Kemana darahku
Tidak mengalir lagi
Mengalir ke dalam jiwa kasihku
Aku air
yang memancar dari sumber kesejukan
Aku ikan
yang berenang dalam pengembaraan rindu
Akulah kolam
kataku
Lihat siapa yang gemerlap
dalam busabusa cinta
Kembang serojakah ?
Kau adalah aku
kau berbisik
Kita yang menghirup harumnya
Cahaya pagi
Bandaraya Melaka, 2004
Apa Yang Kau Renungkan Norsitah
Hujan begitu tibatiba menderas
Jalanjalan menjerit atap rumah sembilu
Langit jelaga
Danau Kota pun seperti kehilangan semangat
Kau seperti tiada hirau dan mematung di kaca jendela
padahal kaca itu telah mengabur kena tempias
Apa yang kau renungkan Norsitah
Ketika hujan mulai usai
Norsitah tiada lagi di situ
Hanya ada goresan jari di kaca :
Wahai hujan mengapa begitu tega
kau hapus sebuah nama yang tertulis
di lembaran hatiku padahal aku menghapalnya
bahkan hurufhurufnya tereja dalam igauanku
Danau Kota terbatabata belajar mengeja
bayanganku yang semakin mengabur jua
Kualalumpur, 2004
Azizah Di Mahkota Parade
Selendang warna fajar menyingsing
bergayut di jenjang lehermu
Tahutahu kenapa gerangan aku tak kuasa
membalas pantunnya
duhai sesungguhnya aku sudah siap merangkainya
Manakala angin membawa harum
kembang goyang di sanggulnya
Wahai aku teringat Azizah
Ketika aku menulis sebuah nama
dalam tidurku, kau berpesan :
Ingatkan nanti kita kan berjumpa
di Mahkota Parade berbalas pantun
Seusai burung dara itu terbang jauh ke awanawan
Hanya meninggalkan bisikan
Aku tiada pernah jumpa lagi dengan Azizah
Namun aku masih menulis
sebuah nama dalam kenangan
Bandaraya Melaka, 2004
: buat Azizah
Tidak beriak
Tidak berambul
Tidak bergelegak tidak
Aku yamg menyelam kataku
Cahaya pagi bercekikikan di atap apartement
berlelehan ke setiap tingkat
Kemana darahku
Tidak mengalir lagi
Mengalir ke dalam jiwa kasihku
Aku air
yang memancar dari sumber kesejukan
Aku ikan
yang berenang dalam pengembaraan rindu
Akulah kolam
kataku
Lihat siapa yang gemerlap
dalam busabusa cinta
Kembang serojakah ?
Kau adalah aku
kau berbisik
Kita yang menghirup harumnya
Cahaya pagi
Bandaraya Melaka, 2004
Apa Yang Kau Renungkan Norsitah
Hujan begitu tibatiba menderas
Jalanjalan menjerit atap rumah sembilu
Langit jelaga
Danau Kota pun seperti kehilangan semangat
Kau seperti tiada hirau dan mematung di kaca jendela
padahal kaca itu telah mengabur kena tempias
Apa yang kau renungkan Norsitah
Ketika hujan mulai usai
Norsitah tiada lagi di situ
Hanya ada goresan jari di kaca :
Wahai hujan mengapa begitu tega
kau hapus sebuah nama yang tertulis
di lembaran hatiku padahal aku menghapalnya
bahkan hurufhurufnya tereja dalam igauanku
Danau Kota terbatabata belajar mengeja
bayanganku yang semakin mengabur jua
Kualalumpur, 2004
Azizah Di Mahkota Parade
Selendang warna fajar menyingsing
bergayut di jenjang lehermu
Tahutahu kenapa gerangan aku tak kuasa
membalas pantunnya
duhai sesungguhnya aku sudah siap merangkainya
Manakala angin membawa harum
kembang goyang di sanggulnya
Wahai aku teringat Azizah
Ketika aku menulis sebuah nama
dalam tidurku, kau berpesan :
Ingatkan nanti kita kan berjumpa
di Mahkota Parade berbalas pantun
Seusai burung dara itu terbang jauh ke awanawan
Hanya meninggalkan bisikan
Aku tiada pernah jumpa lagi dengan Azizah
Namun aku masih menulis
sebuah nama dalam kenangan
Bandaraya Melaka, 2004
Mas Kita Bersitatap
Bungabunga cinta
Mengharumi angin pagi
Sampai aku di Garden City
Mabuk kepayang
Kubuka jendela hati
Siapakah gerangan dia
Pagi itu hatiku begitu hampa
Duhai ada sesuatu yang hilang dalam diriku
Yang tak pernah ketemu
Seusai di Kota Mas itu
Cahya di timur terus juga mengurai senyum
Dan kicau burung tetap setia merisalahkan pagi
Aku terajal di arus sunyi
Garden City, Melaka 2004
Di Atas Causeway
Antara Johor - Woodlands
Kita tibatiba menjelma sepasang merpati
dan mabuk di atas Causeway
Sepertinya cuma milik kita berdua bersulang anggur
Terbang bekejaran kelazuardilangit dan menukik
ke selat di mana terhampar buihbuih cinta
Lalu kita baringkan tubuh kita sambil berpelukmimpi
Sedang piala di tangan tak hentihenti terisi
Kemudian bibir kita saling berbisik
Cuma kita yang mampu membuka rahasianya
Setelah itu kau merapikan rambut yang tergerai
di dadaku
Mercuri sepanjang Causeway telah memekarkan seroja
di taman kasmaran kita
Kita bersitatap dan tersenyum
Wajah kita bersemu merah jambu
Antara Johor - Woodlands
Woodlands, Singapura 2004
Hasrat
Kemana mata dalam asap dupa malam
Ah tiadalah bintang menghantar suluh
Sampai hati kiranya kemana jua
Terbang burung pialing memburu nasib
Bagaimana lagi bila jembatan licin
Rasa sesak nafas di dalam dada
Hasrat hati tiada jua tumbuh kembang serai
di padang jumampai
Tengah malam apalah rasanya
Bila diingat semakin jua dikenang
Tiada pun memberi alamat
Kuyakini langkah
Wahai kemana pembaringan membuang limbai
Tak tahulah
Bila berembus kemana pelimbaianku
Bila memburu kemana lorong nasibku
Bila mimpi ada jugakah barang secuil
jangan menyentuh lelap tidurku
Banjarbaru, 2005
Bungabunga cinta
Mengharumi angin pagi
Sampai aku di Garden City
Mabuk kepayang
Kubuka jendela hati
Siapakah gerangan dia
Pagi itu hatiku begitu hampa
Duhai ada sesuatu yang hilang dalam diriku
Yang tak pernah ketemu
Seusai di Kota Mas itu
Cahya di timur terus juga mengurai senyum
Dan kicau burung tetap setia merisalahkan pagi
Aku terajal di arus sunyi
Garden City, Melaka 2004
Di Atas Causeway
Antara Johor - Woodlands
Kita tibatiba menjelma sepasang merpati
dan mabuk di atas Causeway
Sepertinya cuma milik kita berdua bersulang anggur
Terbang bekejaran kelazuardilangit dan menukik
ke selat di mana terhampar buihbuih cinta
Lalu kita baringkan tubuh kita sambil berpelukmimpi
Sedang piala di tangan tak hentihenti terisi
Kemudian bibir kita saling berbisik
Cuma kita yang mampu membuka rahasianya
Setelah itu kau merapikan rambut yang tergerai
di dadaku
Mercuri sepanjang Causeway telah memekarkan seroja
di taman kasmaran kita
Kita bersitatap dan tersenyum
Wajah kita bersemu merah jambu
Antara Johor - Woodlands
Woodlands, Singapura 2004
Hasrat
Kemana mata dalam asap dupa malam
Ah tiadalah bintang menghantar suluh
Sampai hati kiranya kemana jua
Terbang burung pialing memburu nasib
Bagaimana lagi bila jembatan licin
Rasa sesak nafas di dalam dada
Hasrat hati tiada jua tumbuh kembang serai
di padang jumampai
Tengah malam apalah rasanya
Bila diingat semakin jua dikenang
Tiada pun memberi alamat
Kuyakini langkah
Wahai kemana pembaringan membuang limbai
Tak tahulah
Bila berembus kemana pelimbaianku
Bila memburu kemana lorong nasibku
Bila mimpi ada jugakah barang secuil
jangan menyentuh lelap tidurku
Banjarbaru, 2005
Diposkan oleh Arsya
Kasih Di
Suatu Taman
Asmara tiada pernah mengenal musim
Bersemi pada siapa pun dalam kehidupan
Mekar dibungakan
Dan wangi pun di harumkan
Pada suatu taman
Seorang kakek menunggu sang kekasih
Tak juga kunjung tiba
Bangku seperti membakar dirinya
Walau pun berrada sumbang
Ia mencoba membunuh risaunya dengan senandung
Di tengah kicau burung
Matanya berkacakaca
Menampak sang kekasih muncul di balik rerumpun
bunga
Nenek itu berkata : Maafkan sayang daku sejak tadi
sudah datang tapi hatiku begitu bergetaran dan aku
hampir tak percaya ada pertemuan yang lahir kembali
Kakek itu tak berkata apaapa
Namun sang kekasih erat dalam pelukannya
Alangkah harumnya airmata yang meleleh di pipi
nenek itu dan semerbak di dada kakek
Kakek berkata lirih : Aku kini menemukan permataku
cemerlangnya melebihi matahari di timur
Rambut nenek bertumbuhan kupukupu beranekawarna
ketika angin pagi mengusapnya
Kedua hati berpaut bagai laut berombak lembut
mencium pantai
Mata bertemu mata, bibir bertemu bibir
Membuka lembaran limapuluhlima tahun yang silam
Sebuah asmara yang kandas di tengah jalan
Nasib jualah yang memisahkan mereka
Namun tiada sangsi atas sebuah kesetiaan
Mereka tetap bertahan
Sungguh tuhan mahapengasih lagi penyayang
Kakek dan nenek itu dipertemukan
Dalam asmara yang tak pernah padam
Kakek dengan hati berbungabunga lalu berkata :
Tidaklah dinamakan perjuangan
bila tidak ada pengorbanan
Nenek mengurai senyum dan menjawab :
Jika ingin mendapat bahagia
Mesti tahan segala derita
Kedua insan itu kemudian mempererat ikatan
dalam sebuah pelaminan
Dan akan menulis sebuah epitaf
pada batunisan mereka sendiri
Bila tiba akhir menutup mata
Banjarbaru,2006
Matahari Mabuk Kepayang
Alangkah nakalnya angin laut senja itu
Menggeraikan rambut sang nenek
Sehingga wajahnya jadi merah jambu yang terbenam
di dada sang kekasih
Sang kekasih dengan lembut memetik bungabunga
yang bermekaran di hatinya kemudian menyuntingnya
di rambut sang kekasih
Debur di hati kedua kekasih itu melebihi merdu
senandung ombak mencium pantai
Sang kekasih berbisik lirih : Aku kupukupu, kejarlah
Kemudian dengan manja terbang di buihbuih cinta
Sang kakek dengan gairah menangkap kupukupu itu
namun selalu digoda oleh lambaian kelapa
Hai lihatlah aku menari di kulminasi ombak
Tunggulah sayang aku menjelma lumbalumba
Tapi sang kekasih kembali terbang
Sang kekasih terus juga mengejar dan mengejar
Alangkah nakalnya angin laut senja itu
Terus juga menebarkan aroma anggur
Akhirnya sang kekasih tertangkap juga
Dan mereka terbaring di atas hamparan matahari yang
mabuk kepayang di kaki langit
Banjarbaru, 2006
Di Arus Sungai
Adalah buluh hanya sebatang buluh sayang
Disusunlah disusun jalan titian
Jumampai hanya tumbuh kembang melati
Adalah melati hanya dipetik sekuntum sayang
Aduhai disimpanlah disimpan
Hanya disimpan di dalam peti
Suluh bernyala padam disulut lagi sayang
Remangremang di tangan duhai mencari jalan
Jatuhbangun aduhai membuang limbai
Adalah nyanyi disenandungkan sayang
Aduhai disenandungkan cerminlah badan
Hanya cermin tiadalah pecah di dalam hati
Kularutkan siang dan malam
Siang bermenung malam bergayut mimpi
Kularutkan sehiris bulan
Kularutkan di arus sungai pasang
Kularutkan
Harapan orang hilir mengambilkan
Aduhai sang kekasih dalam idaman
Banjarbaru, 2004
Asmara tiada pernah mengenal musim
Bersemi pada siapa pun dalam kehidupan
Mekar dibungakan
Dan wangi pun di harumkan
Pada suatu taman
Seorang kakek menunggu sang kekasih
Tak juga kunjung tiba
Bangku seperti membakar dirinya
Walau pun berrada sumbang
Ia mencoba membunuh risaunya dengan senandung
Di tengah kicau burung
Matanya berkacakaca
Menampak sang kekasih muncul di balik rerumpun
bunga
Nenek itu berkata : Maafkan sayang daku sejak tadi
sudah datang tapi hatiku begitu bergetaran dan aku
hampir tak percaya ada pertemuan yang lahir kembali
Kakek itu tak berkata apaapa
Namun sang kekasih erat dalam pelukannya
Alangkah harumnya airmata yang meleleh di pipi
nenek itu dan semerbak di dada kakek
Kakek berkata lirih : Aku kini menemukan permataku
cemerlangnya melebihi matahari di timur
Rambut nenek bertumbuhan kupukupu beranekawarna
ketika angin pagi mengusapnya
Kedua hati berpaut bagai laut berombak lembut
mencium pantai
Mata bertemu mata, bibir bertemu bibir
Membuka lembaran limapuluhlima tahun yang silam
Sebuah asmara yang kandas di tengah jalan
Nasib jualah yang memisahkan mereka
Namun tiada sangsi atas sebuah kesetiaan
Mereka tetap bertahan
Sungguh tuhan mahapengasih lagi penyayang
Kakek dan nenek itu dipertemukan
Dalam asmara yang tak pernah padam
Kakek dengan hati berbungabunga lalu berkata :
Tidaklah dinamakan perjuangan
bila tidak ada pengorbanan
Nenek mengurai senyum dan menjawab :
Jika ingin mendapat bahagia
Mesti tahan segala derita
Kedua insan itu kemudian mempererat ikatan
dalam sebuah pelaminan
Dan akan menulis sebuah epitaf
pada batunisan mereka sendiri
Bila tiba akhir menutup mata
Banjarbaru,2006
Matahari Mabuk Kepayang
Alangkah nakalnya angin laut senja itu
Menggeraikan rambut sang nenek
Sehingga wajahnya jadi merah jambu yang terbenam
di dada sang kekasih
Sang kekasih dengan lembut memetik bungabunga
yang bermekaran di hatinya kemudian menyuntingnya
di rambut sang kekasih
Debur di hati kedua kekasih itu melebihi merdu
senandung ombak mencium pantai
Sang kekasih berbisik lirih : Aku kupukupu, kejarlah
Kemudian dengan manja terbang di buihbuih cinta
Sang kakek dengan gairah menangkap kupukupu itu
namun selalu digoda oleh lambaian kelapa
Hai lihatlah aku menari di kulminasi ombak
Tunggulah sayang aku menjelma lumbalumba
Tapi sang kekasih kembali terbang
Sang kekasih terus juga mengejar dan mengejar
Alangkah nakalnya angin laut senja itu
Terus juga menebarkan aroma anggur
Akhirnya sang kekasih tertangkap juga
Dan mereka terbaring di atas hamparan matahari yang
mabuk kepayang di kaki langit
Banjarbaru, 2006
Di Arus Sungai
Adalah buluh hanya sebatang buluh sayang
Disusunlah disusun jalan titian
Jumampai hanya tumbuh kembang melati
Adalah melati hanya dipetik sekuntum sayang
Aduhai disimpanlah disimpan
Hanya disimpan di dalam peti
Suluh bernyala padam disulut lagi sayang
Remangremang di tangan duhai mencari jalan
Jatuhbangun aduhai membuang limbai
Adalah nyanyi disenandungkan sayang
Aduhai disenandungkan cerminlah badan
Hanya cermin tiadalah pecah di dalam hati
Kularutkan siang dan malam
Siang bermenung malam bergayut mimpi
Kularutkan sehiris bulan
Kularutkan di arus sungai pasang
Kularutkan
Harapan orang hilir mengambilkan
Aduhai sang kekasih dalam idaman
Banjarbaru, 2004
Tidak ada komentar:
Posting Komentar