LIR RESPATI BUMIDAYA
Telinga dan jempol, apa hubungannya? Lebih-lebih lagi, apa hubungannya dengan pelayanan Adik Asuh? Jelas ada! Setidak-tidaknya sejak rapat Renstra sabtu kemaren (“,)
Telinga dan jempol, apa hubungannya? Lebih-lebih lagi, apa hubungannya dengan pelayanan Adik Asuh? Jelas ada! Setidak-tidaknya sejak rapat Renstra sabtu kemaren (“,)
–
Seperti
yang tertulis pada kolom Agenda Oktober pada sidebar blog ini, pada
tanggal 18 Oktober kami mengadakan penyusunan Rencana Strategis Tim
Pelayanan Adik Asuh. Ada banyak hal yang dibicarakan, salah satunya
adalah mengenai nilai-nilai hidup. Nilai hidup pun ada banyak sekali,
tetapi mulai sabtu kemarin sampai dengan November nanti ada hal
sehubungan dengan nilai tersebut yang akan diaplikasikan dalam pelayanan
ini. Tentu saja, pionernya harus para kakak asuh lebih dahulu yang bisa
melakukannya karena kakak asuh adalah role model bagi
adik-adik. Secara umum, nilai yang akan diaplikasikan ini adalah
bagaimana menghargai sesama dan diwujudkan dalam dua hal dengan ikon
telinga dan jempol (“,), yaitu:
‘ACTIVE’ LISTENING
Ini
bukan sekedar nilai tetapi juga ‘keterampilan’. Jika orang lain, dalam
hal ini adik-adik, diberikan ruang, waktu dan kesempatan untuk
membagikan pemikirannya dan bagaimana ia berpikir, maka diharapkan ia
merasa dipahami (bukan diadili), lebih peduli pada apa yang ia pikirkan
serta hasil ataupun dampak dari hal tersebut (bukan masa bodoh), percaya
diri untuk memiliki dan mengemukakan pendapat (bukan ketakutan tidak
beralasan), dan mungkin dapat mengubah pandangan yang salah (tanpa takut
disalahkan).
Tipsnya adalah:
- berikan kesempatan untuk berbagi
- perhatikan respons dirimu (baik verbal ataupun non-verbal)
- ambil jeda untuk berefleksi, tawarkan masukan yang baik
- pastikan bahwa kamu mendengar
- berusahalah untuk tidak langsung melompat pada kesimpulan, memotong pembicaraan, menyelesaikan kalimat orang lain, memberikan solusi yang mengambang, mengalihkan dari topik yang tidak kamu suka, mendistraksi diskusi
- tetap memastikan bahwa baik kamu dan lawan bicaramu sama-sama orang yang dikasihi Tuhan (“,)
Memang tidak mudah melakukannya. Mungkin itulah gunanya Tuhan memberikan dua telinga dan hanya satu mulut.
MEMBERI PUJIAN
Ketika
kita menyadari betapa berharganya orang-orang yang Tuhan tempatkan
disekeliling kita, maka kita juga akan dengan mudah menemukan banyak
hal-hal baik dari orang itu. Sehingga ide memberikan pujian untuk
hal-hal kecil ataupun hal-hal besar adalah sesuatu yang bisa dilakukan
setiap orang. Tentu saja pujian itu harus sungguh-sungguh berasal dari
hati yang tulus. Pujian yang tulus tidak membutuhkan biaya, tidak
menyakitkan, tidak membuat kita kekurangan. Justru membangkitkan
semangat, meyakinkan diri bahwa orang lain berharga, dan juga
membangkitkan aspek positif dalam diri.
Di
lingkungan adik-adik, bahasa pujian belum menjadi sesuatu yang
familiar, lingkungan yang keras membuat mereka tidak terbiasa untuk
memuji dan menerima pujian. Untuk itu, kakak-kakak yang terlebih dahulu
akan memberikan mereka pujian karena kakak-kakak menemukan ada banyak
kebaikan dalam diri adik-adik. Semoga kelak, merekapun dapat menemukan
begitu banyak kebaikan di sekitar mereka dan dengan tulus menggantikan
kata-kata keras menjadi pujian.
Siap menggunakan telinga dan jempol?
Beberapa
waktu terakhir ini, saya sering ke sekolah adik-adik untuk mengurusi
berbagai keperluan mereka sekaligus memonitor aktivitas mereka di
sekolah. Biasanya yang mendapat perhatian ekstra adalah adik-adik SMP
dan SMK karena kebutuhan mereka banyak sekali. Terkadang secara khusus
saya menyempatkan diri bertemu mereka langsung setelah
berbincang-bincang dengan gurunya. Seperti beberapa hari yang lalu…
Saya
sedang ke sebuah SMK di daerah Jakarta Selatan, beberapa adik kami
bersekolah di situ. Seiring waktu, adik-adik tersebut sudah tumbuh
tinggi dan besar. Waktu saya selesai membayarkan SPP mereka, jam sekolah
juga usai dan murid-murid mulai bubar. Saya menemui adik-adik di
gerbang sekolah dan mengambil waktu mengkomunikasikan keluhan-keluhan
pihak sekolah dan menanyakan masalah adik-adik di sekolah. Kebetulan
salah satu adik bolos selama beberapa hari. Selidik punya selidik,
ternyata adik tersebut tidak masuk karena tidak punya uang transport dan
juga jengah karena ada beberapa tagihan yang belum dibayarkan ke
sekolah.
Walaupun
kami berbincang tidak lama, tetapi ternyata kehadiran saya hari itu
sempat menyita perhatian siswa-siswa lain yang juga baru keluar sekolah.
Dan saat saya pamit untuk pulang lebih dulu, saya masih sempat
mendengar mereka bertanya kepada adik-adik, “itu siapa?”, dan sambil tersenyum adik-adik dengan spontan menjawab penuh semangat.. “kakakku…!”
Saya
tertawa dalam hati mendengar jawaban tersebut apalagi melihat tampang
tidak percaya mereka yang menerima jawaban tadi. Jelas sekali wajah
Indonesia timur saya tidak mendukung untuk dikira sebagai kakak kandung
dari adik-adik. Tetapi saya juga merasa sangat terharu karena mereka
menerima saya dan sudah tentu para kakak asuh yang lainnya sebagai
saudara dan kakak yang dibanggakan.
“Jadi itu kakakmu?”
“Iya.. kakakku!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar