Minggu, 30 September 2012

6614

LIR RESPATI BUMIDAYA
masya Allah, pikir2 dulu sebelum nulis bung, gunakan akal sehat.
nikah itu banyak hikmahnya, maka nikah itu sebaik2 solusi. kalo gak mampu ya puasa atau pun berolahraga.
masak disuruh onani atau menggauli patung
semua yang kita lakukan diminta pertanggungjawaban dikhirat kelak, gak percaya?
Mengapa terus jua mengejar ramalan masa depan serta meletihkan otak untuk kebingungan sia – sia? Tinggalkanlah kecemasan, pakailah syariat ALLAH dan biarkan rencana Nya menjadi rahasia Nya semata. Yakinlah bahwa dia mengatur semua tanpa harus menanyakan pendapatmu.”
Mungkin memang sudah menjadi kebiasaan orang melayu untu selalu mencampuri urusan orang lain, seperti kata Andrea Hirata dalam “makcik” Maryamah Karpov nya. Tahukah engkau kawan bahwa pada masalah diatas aku tidak ingin berpihak pada siapapun kecuali pada kebenaran yang haq? Seperti dalam surat yang dikirim oleh marcos kepada keluarga Montalban, dan marcos menyebut montalban sebagai jembatan. Dan kukira kawan, posisiku pada konflik ini adalah sebagi jembatan adanya.
Aku sangat meyakini bahwa diantara yang memberi komentar thd tulisan sahabat Muhadzdzier, akulah yang lebih dahulu dan paling lama mengenalnya. Aku ingat, itu bulan November tahun 2002. Di Ruang Kuliah Umum II (RKU II) lantai 2 tepatnya. Kami seangkatan tergelak tertawa terbahak – bahak mendengar Pak Ruslan ketika itu memanggil nama Muha-dz-dz-ier. Pengulangan dz-dz itu yang membuat kami semua tertawa karena mengira salah penulisan nama. Dan tahukah kau kawan, ketika kami membaca Serambi Indonesia yang aku lupa itu tanggal berapa, dan kami menemukan nama yang pernah kami anggap salah itu terpampang dan memberikan opini yang diterima banyak orang? Mungkin itu adalah hal yang biasa bagi kalian, akan tetapi bagi kami itu bermakna segalanya. Hari itu kami beranggapan bahwa kami telah berhasil mengirimkan duta yang bisa disandingkan dengan banyak jenius kata diluar sana. Bahwa kami tak kalah telak dari FKIP Bahasa. Dan aku merayakannya deengan caraku sendiri.
Tak ada yang salah sebenarnya dengan apa yang disurahkan oleh Muhadzdzier kawan, baik kalimah maupun mahfumnya. Barangkali kalaupun ada yang salah itu mesti terletak pada pembacanya, yaitu benarkah kita sudah dewasa hidup beragama? Dalam novel Edensor terdapat kalimat pembuka yang diinterpretasikan dari pemikiran agung Harun Yahya yang mungkin bisa kita tarik kesimpulannya yaitu : “hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tidak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.” Jelas bahwa proses kedewasaan beragama baru bisa ditimbulkan bila hati sudah mengakui yang membuat keteraturan maha sempurna itu benar adanya, baik wujud maupun syariat Nya, dan seperti yang kutuliskan diawal tadi kawan, bahwa Ia tidak butuh kompromi.
Dewasa hidup beragama juga bermakna tenggang rasa dan saling mengerti serta menghormati terhadap cara pandang siapapun dalam memandang Tuhan dan beragama. Ini mengingatkanku akan permintaan Goenawan Mohamad kepada Ba’asyir dan Rizieq Shihab yang dimuat dalam caping dengan judul Indonesia : “Ingatkah saudara berapa besar korban yang jatuh dan kerusakan yang berlanjut karena kita menyelesaikan sengketa dengan benci, kekerasan dan sikap memandang diri paling benar? Saudara berdua orang Indonesia, seperti saya. Saya menghimbau agar saudara – saudara berdua juga memahami Indonesia kita : sebuah rahmat yang disebut ‘Bhineka-Tunggal-Ika’. Saya menghimbau agar saudara berdua juga merawat rahmat itu.” Dan kau tahu kawan, alangkah indah sebuah dunia yang dimana orang2nya percaya pada Tuhan (wujud dan syari’atnya), saling terbuka dalam urusan kebenaran dan tenggang rasa serta saling menghormati bila ada perbedaan. Goenawan tak selamanya benar memang, tapi paling tidak ia telah mencoba mengingatkan semua. Dan Goenawan baru – baru ini telah membuat sebuah tulisan yang membuat aku tidak bisa tidur, dengan gaya biasa (diberi kesan untuk memarjinalkan Tuhan), seperti beberapa coment diatas, dengan judul “PELACUR” : “terkadang Nur harus berbicara tentang Tuhan (ia belum melupakan Nya). Ia menyebutnya “Yang Diatas”. Mungkin itu untuk menunjuk sesuatu yang jauh – tapi justru tak merisaukannya, karena manusia “yang dibawah” tetap berharga : bernilai dalam kerelaannya.”
Dan omong – omong tentang boneka, benarkah kau, kawan, telah merekomendasikannya untuk sahabatku sebagai pemenuh nafsu seksualnya? Dengan umurmu yang kukira cukup belia,ehm, Telahkah kau mencobanya? Cina, Jepang atau India kah punya mu? Dan kalau India, bolehlah…..kuch2hota hai…Kenapa spanduk XL dengan Dian Sastro sebagai modelnya di Simpang 5 harus dicoret tetapi baliho Marlboro dengan lelaki macho bercelana di atas lutut tetap dibiarkan saja?
Mengkritisi syariat bukan hanya berbicara mengenai pakaian wanita. Kritisilah yang lebih memiliki esensi Syariat itu sendiri seperti perilaku dan fikiran. Membahas pakaian membuat syariat terlihat sangat simbolis. Berpikirlah lebih jernih karena Tuhan maha adil, kawan. Jangan terlalu fanatik atau bisa gila sendiri. Tahukah bahwa banyak Muslim yang fanatik malah merusak nama muslim itu sendiri karena dia lupa bahwa menyebarkan agama itu seharusnya dengan kedamaian dan pemahaman, bukan dengan gerutuan dan paksaan. . silakan komen lebih banyak tentang tulisan ini. tapi bagi yang belum pernah dimuat tulisan di Koran jangan coba2 sok2 jago nulis comen buat orang ya bro. kayak oriza dengan Nindy. bisanya cuma comen tulisan aku. mana tulisan mu yang di muat di koran? mana bro? sok pintar comen kamu.
buat ori juga. kamu telah menghina saya. kalau komen yang sopan dikit. bek sampe meulanggeh beh. kajaga bahsa kah bacut. yang cerdas jet keu ureng.
dan kamu bergaul dikampus dengan orang-orang yang selama ini berada dalam forum diskusi saya.
saya pikir, kamu tau saya kuliah dimana. dan kita sering ketemu di Solong.
Assalamualaikum
buka kerudung or jilbab bukanlah emansipasi wanita.,. kalau seandainya kita tidak mempertahankan identitas kita sebagai kaum muslimin kita tak ubahnya seperti domba yang mereka sesatkan,..,
Allah berfirman.,”barangsiapa yang mengikuti suatu kaum maka ia masuk kedalam kaum tersebut”,..,
dan juga
“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih muda untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang. (Al-Ahzab : 59).
subhannallah seandainya kita mengerti Islam.,.,begitu indahnya Islam begitu mulianya Islam,.
nah unutk orang2 yang berkomentar buka kerudung adalah emansipasi wanita.,.,berpikirlah.,Malaikat ada di kanan dan kiri anda.,.Allah mempuyai catatan umur anda,.bila anda mati dan tak bisa kembali pada apa yg telah Allah tunjukkan.,penyesallan sudah tak ada arti.,.,
wassalamualikum
oryza
66

Tidak ada komentar:

TRIK DAN SARAN

ADA KELUHAN ATAU PERTANYAAN?

TINGGAL ISI FORUM DI BAWAH INI.

foxyform

    • Popular
    • Categories
    • Archives