LIR RESPATI BUMIDAYA
sebuah buku berjudul “Atas
Kerudung Bawah Warung” karya Sholichul Hadi
Sayang…
Kulihat jilbabmu melambai-lambai kala ditiup angin. Tak terlihat sedikitpun rabutmu, tak juga terlihat kuping dan lehermu yang indah itu. Jilbabmu melambai-lambai bak bidadari yang terbang menyisir awan.
Sayang…
Aku kagum dengan pesona yang engkau tebarkan, kecantikan yang engkau pancarkan, serta keindahan yang engkau tampakkan dengan jilbabmu. Engkau nempak anggun, nampak cantik, nampak berwibawa, nampak pula bersahaja. Jilbabmu membuat aku kagum, membuat aku segan, membuat aku hormat, dan membuat aku bangga padamu. Engkau begitu mulia di mataku, di mata siapa saja yang melihat, juga di mata Tuhanmu.
Sayang…
Ketertarikan, kerinduan, kecintaan, dan kasih sayangku padamu ternyata bukan karena engkau pamerkan auratmu, tapi karena keberanianmu membalut dirimu dengan jilbab itu. Engkau berani menuupi keindahan, kemolekan, dan lekuk liku tubuhmu. Engkau telah menjaga kehormatanmu dengan jilbabmu itu. Aku kagum padamu…
Sayang…
Banyak yang bilang kalau jilbab membuatmu terhalang untuk tampil modis, tampil funky. Tapi itu tak menghalangi niatmu untuk tetap mengenakan jilbabmu itu. Engkau pernah berkata kepadaku, kalau jilbab bukan sekedar hiasan, bukan pula sekedar penutup kepala ketika panas sang surya menyengat. Tapi engkau katakan pula, kalau jilbab lebih bermakna dari itu. Sayang……Engkau sungguh bijak, aku bangga padamu.
Sayang…
Aku masih ingat kata-katamu kala itu. Bahwa untuk tampil modis dan funky tidak harus melepas jilbabmu. Tidak pula dengan membuka auratmu, tapi justru dengan menutup aurat dan mengenakan jilbabmu itu, engkau akan lebih modis dan funky.
Sayang…
Engkau juga katakan kalau hidup ini bukan hanya untuk mencari kesenangan, bukan hanya turuti hawa nafsu semata, tapi lebih dari sekedar itu. Ada kehidupan lain yang lebih bermakna, yang akan menjamin kebahagiaan dan kesenangan.
Sayang...
Janganlah engkau hanya katakan semua itu kepadaku, tetapi katakanlah pula pada teman-temanmu. Biar mereka juga bisa sepertimu, yang tampak cantik, anggun, terhormat dan bersahaja dengan jilbab itu.
Sayang...
Engkau adalah idola bagiku, bagi setiap orang yang melihatmu. Dengan jilbabmu, engkau tebarkan kebajikan, engkau tebarkan keindahan........................
Sayang…
Kulihat jilbabmu melambai-lambai kala ditiup angin. Tak terlihat sedikitpun rabutmu, tak juga terlihat kuping dan lehermu yang indah itu. Jilbabmu melambai-lambai bak bidadari yang terbang menyisir awan.
Sayang…
Aku kagum dengan pesona yang engkau tebarkan, kecantikan yang engkau pancarkan, serta keindahan yang engkau tampakkan dengan jilbabmu. Engkau nempak anggun, nampak cantik, nampak berwibawa, nampak pula bersahaja. Jilbabmu membuat aku kagum, membuat aku segan, membuat aku hormat, dan membuat aku bangga padamu. Engkau begitu mulia di mataku, di mata siapa saja yang melihat, juga di mata Tuhanmu.
Sayang…
Ketertarikan, kerinduan, kecintaan, dan kasih sayangku padamu ternyata bukan karena engkau pamerkan auratmu, tapi karena keberanianmu membalut dirimu dengan jilbab itu. Engkau berani menuupi keindahan, kemolekan, dan lekuk liku tubuhmu. Engkau telah menjaga kehormatanmu dengan jilbabmu itu. Aku kagum padamu…
Sayang…
Banyak yang bilang kalau jilbab membuatmu terhalang untuk tampil modis, tampil funky. Tapi itu tak menghalangi niatmu untuk tetap mengenakan jilbabmu itu. Engkau pernah berkata kepadaku, kalau jilbab bukan sekedar hiasan, bukan pula sekedar penutup kepala ketika panas sang surya menyengat. Tapi engkau katakan pula, kalau jilbab lebih bermakna dari itu. Sayang……Engkau sungguh bijak, aku bangga padamu.
Sayang…
Aku masih ingat kata-katamu kala itu. Bahwa untuk tampil modis dan funky tidak harus melepas jilbabmu. Tidak pula dengan membuka auratmu, tapi justru dengan menutup aurat dan mengenakan jilbabmu itu, engkau akan lebih modis dan funky.
Sayang…
Engkau juga katakan kalau hidup ini bukan hanya untuk mencari kesenangan, bukan hanya turuti hawa nafsu semata, tapi lebih dari sekedar itu. Ada kehidupan lain yang lebih bermakna, yang akan menjamin kebahagiaan dan kesenangan.
Sayang...
Janganlah engkau hanya katakan semua itu kepadaku, tetapi katakanlah pula pada teman-temanmu. Biar mereka juga bisa sepertimu, yang tampak cantik, anggun, terhormat dan bersahaja dengan jilbab itu.
Sayang...
Engkau adalah idola bagiku, bagi setiap orang yang melihatmu. Dengan jilbabmu, engkau tebarkan kebajikan, engkau tebarkan keindahan........................
ian
dari Pasar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar