LIR RESPATI BUMIDAYA
Sebuah karya unik yang dengan ringan tapi penuh pukau mampu mengetalasekan penjelajahan fantasi tokoh-tokohnya, lelucon kelam satire politik sebuah negeri yang penuh oleh sengketa ideologi politik, juga jalinan cerita erotis tokoh-tokoh hedonis rekaannya. Inilah yang seharunya menjadi pegangan untuk seseorang untuk bisa menulis lebih banyak lagi.
Jika terkenal karena menulis, itu sebuah anugerah yang sepatutnya tidak bisa dielak. Akan tetapi, untuk mengakui diri sebagai seorang penulis. Semua orang bisa mengakuinya, meskipun tidak pernah mengirimkan tulisannya ke media. Meskipun tulisannya tidak dibaca orang banyak. Karena menulis itu bukan untuk dikenal. Tapi, menulis itu untuk membuat perubahan. Baik untuk diri sendiri maupun untuk semua orang.
Menulis tak hanya merangkai kata-kata yang kemudian menjadi satu tulisan yang utuh. Tanpa membaca, seorang yang mengaku dirinya penulis telah melakukan hal yang sangat bodoh, yaitu membodohi dirinya dengan karya kebohongan.
Saya sepakat dan setuju dengan apa yang dikatakan Ali terhadap kriteria atau tujuan tulisan kita. Seperti menulis mesum itu bukan di Sabili ataupun di Annida. Sampai kapanpun tak akan dimuat meskipun mengirim ratusan karung tulisan mesum. Dalam hal menulis tak serta merta sastra itu bebas, EYD itu harus diutamakan. Tulisan yang tidak bagus bukan hanya dari isi akan tetapi struktur kalimat dan pembubuhan tanda baca harus diperhatikan. Kadang orang menulis bagus secara ide dan konsep akan tetapi terdapat kelemahan di bagian tulisan. Ini menjadi masalah yang besar juga.
Akhirnya, Tulislah sebanyak apa yang engkau mau. Karena semakin engkau banyak menulis, semakin engkau kenal bahwa engkaulah yang memegang kayuh perubahan. Demikian sedikit penjelasan yang bisa saya berikan. Tak semua orang ingin dianggap sebagai penulis karena pernah menulis di koran. Dan sekali lagi, semua orang boleh mengaku dan boleh malu mengaku penulis meskipun tak menulis di koran. Karena yang mengakui itu khalayak bukan kita sendiri. Betul tidak, Ampon?
Akmal M. Roem adalah penikmat kopi Aceh.
Sebuah karya unik yang dengan ringan tapi penuh pukau mampu mengetalasekan penjelajahan fantasi tokoh-tokohnya, lelucon kelam satire politik sebuah negeri yang penuh oleh sengketa ideologi politik, juga jalinan cerita erotis tokoh-tokoh hedonis rekaannya. Inilah yang seharunya menjadi pegangan untuk seseorang untuk bisa menulis lebih banyak lagi.
Jika terkenal karena menulis, itu sebuah anugerah yang sepatutnya tidak bisa dielak. Akan tetapi, untuk mengakui diri sebagai seorang penulis. Semua orang bisa mengakuinya, meskipun tidak pernah mengirimkan tulisannya ke media. Meskipun tulisannya tidak dibaca orang banyak. Karena menulis itu bukan untuk dikenal. Tapi, menulis itu untuk membuat perubahan. Baik untuk diri sendiri maupun untuk semua orang.
Menulis tak hanya merangkai kata-kata yang kemudian menjadi satu tulisan yang utuh. Tanpa membaca, seorang yang mengaku dirinya penulis telah melakukan hal yang sangat bodoh, yaitu membodohi dirinya dengan karya kebohongan.
Saya sepakat dan setuju dengan apa yang dikatakan Ali terhadap kriteria atau tujuan tulisan kita. Seperti menulis mesum itu bukan di Sabili ataupun di Annida. Sampai kapanpun tak akan dimuat meskipun mengirim ratusan karung tulisan mesum. Dalam hal menulis tak serta merta sastra itu bebas, EYD itu harus diutamakan. Tulisan yang tidak bagus bukan hanya dari isi akan tetapi struktur kalimat dan pembubuhan tanda baca harus diperhatikan. Kadang orang menulis bagus secara ide dan konsep akan tetapi terdapat kelemahan di bagian tulisan. Ini menjadi masalah yang besar juga.
Akhirnya, Tulislah sebanyak apa yang engkau mau. Karena semakin engkau banyak menulis, semakin engkau kenal bahwa engkaulah yang memegang kayuh perubahan. Demikian sedikit penjelasan yang bisa saya berikan. Tak semua orang ingin dianggap sebagai penulis karena pernah menulis di koran. Dan sekali lagi, semua orang boleh mengaku dan boleh malu mengaku penulis meskipun tak menulis di koran. Karena yang mengakui itu khalayak bukan kita sendiri. Betul tidak, Ampon?
Akmal M. Roem adalah penikmat kopi Aceh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar