Minggu, 30 September 2012

kau harus kembali!
kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau berani nyatakan!
Ini bukan tentang benar-salah, menang-kalah, terkepung atau dikepung, tapi tolong pertahankan apa yang sudah kau anggap benar, mempertahankannya tentu saja dengan cara yang elegan.
Gaya atau reaksi kita dalam menanggapi tanggapan orang akan berpengaruh pada tanggapan selanjutnya, di atas itu semua akan mempengaruhi alur diskusi dalam blog ini.
Masuk ke dalam jalur perdebatan yang beradab atau terjerumus ke dalam anarkisme gagasan.
Aku pernah katakan, kita bisa membangun sebuah gagasan, sejahanam apapun gagasan itu dalam pandangan pihak yang tak setuju, tidak masalah sejauh masih ditopang oleh alasan-alasan yang masuk akal.
Sebuah tulisan tidak untuk ditulis, lalu dilepaskan begitu saja seperti halnya orang Uleekareng melepaskan sapi mereka ke halaman tetangganya.
Sapi yang liar mungkin akan kena bacok, tapi si pemilik sapi yang tidak bertanggung jawab juga akan dikejar selamanya.
Jadi berpikirlah dua kali sebelum melepaskan sebuah tulisan.
Sifat kontroversial tulisan bukan lantaran kita berani mengulas sebuah pokok yang sangat bertolak belakang dengan gagasan orang pada umumnya, atau disenangi orang pada umumnya, tapi harus disertai dengan sejumlah prasyarat yang harus cukup kuat untuk mendukungnya, apa itu? sudah kuulas di atas.
Aku tak ingin bertanya, apakah tulisanmu di atas telah memenuhi syarat-syarat itu atau belum, apakah hanya tok diskripsi saja tanpa diperkuat dengan argumentasi,
untuk lebih rendah hati baca kembali komen-komen di atas bukan untuk bereaksi buta tapi mungkin ada amalan teknik di dalamnya untuk kita belajar padanya tanpa bertanya dia anak siapa; umurnya berapa; dia cewek atau cowok; pernah menulis di koran mana saja; atau berapa tahun sudah belajar menulis; sebab sebelum mereka dan ayah mereka lahir, telah disebutkan sebelumnya,
bahwa sebuah nasehat layak kita dengar sekalipun itu keluar dari mulut anjing.
Azhari
chek resa kan lebih jago ngerayu daripada nulis, chek mita, kayak ga tau aja. haduh, segan nih komen serius di sini, chek resa yang cikilik kan masih penulis cilet-cilet… uhuk
Aach jadi malu kalau ditanya begitu,,
eh eh,,abang penulis ternyata bukan cuma rajin menulis, tapi juga rajin membaca!! saya ga tau banyak tentang itu bang, toh saya cuma penulis taik kucing yang lebih sering megang paintbrush daripada pena,,
hati saya bekerja lebih lancar daripada lidah dan jari2 saya. jadinya saya cuma bisa membaca dengan mata hati saya, biasanya setelah hati itu saya coba gerakkan jari2 saya untuk menulis, tapi yach pasti lagi2 gagal.
Akibatnya saya lebih suka membaca tulisan orang2 hebat yang tulisan-a uda dimuat dimana-mana, contohnya abang!! makanya saya datang ke blog ini. Karna saya tau, penulisnya hebat2,, ya abang salah satunya!!
abang benar, saya memang perlu tau email abang..hihihi jadi dag dig dug ini,, tambahan gagasan baru, Azier???
kami menunggu!
Kawan-kawan yang baik, saya mencoba memberi gambaran betapa pentingnya rasa malu bagi kita sendiri.
Islam dalam Al-quran membenarkan adanya batasan aurat pada manusia. Dalam hal itu, disebutkan bahwa yang “berbentuk” harap “diamankan” dari segala bentuk yang bisa menimbulkan imajinasi negatif bagi yang sengaja mengejakan matanya pada bentuk itu.
di ulee kareng sapi masuk ke halaman rumah tetangga, ada manusia yang marah. Itu terjadi karena sapi tidak memiliki akal yang cukup untuk membedakan rumput antara rumput sawah dengan rumput yang dilindungi si tuan rumah.
sekali lagi manusia tidak seperti sapi. manusia berakal. manusia bisa berpikir, ketika saya menggunakan pakaian yang bisa “menonjolkan itu” apa yang akan terjadi. Pasti kepikiran kan?
Saya senang membaca tulisan Azier. dia mencoba menyikapi moral syariah melalui jilbab yang dijadikan sebagai objek. Tapi, sekali lagi, ada yang marah.
katanya Syariat itu bukan hanya khalwat, khamar, dan maisir. Terus apa yang harus dilakukan sekarang? menetang apa yang sudah dicoba oleh Azier?
itulah menusia, tidak pernah puas dengan apa yang dibuat orang. padahal diri sendiri tidak bisa apa-apa.
Nindy yang baik… tubuh manusia memang menarik, kuda saja sanggup “menusuk” lubang Madona. Mungkin karena saat ini Nindy sedang berada di negeri boleh pakai baju “stengah bugil”, jadi memakai jilbab takut dianggap tidak cantik. oleh karena itu, saya tidak mau ikutan berdiskusi masalah ini. nanti dimaki. takut!
Buat moderator… Haramkan comment yang masuk tanpa menyebutkan nama asli. trims
Satu pertanyaan boleh?
Ini dia:
Manusia tidak boleh menampakkan aurat kepada manusia yang tidak memiliki hubungan apapun. muhrim.
terus jika kita sendiri dalam kamar, boleh kita shalat tanpa busana? kan hanya makhluk halus yang lihat. malaikat juga tidak bernafsu.
Prinsipnya Aceh mempunyai identitas sendiri yang tidak ke Barat-Baratan ataupun ke Arab-Araban (no westernisasi and no Arabisasi)
memang Nindy tetap cantik kok! mau pake jilab. ga pake juga tetap cantik. itu relatif. bener, mbak?
Kalau saya tahu siapa yang akan masuk surga dan siapa yang akn masuk neraka, saya sudah bunuh diri. meskipun haram hukumnya. tapi jika itu jalan saya lewat ke tempat indah itu. maka saya akan melakukannya. apapun caranya.hehehee…
bukan kuasa saya untuk mengetahuinya.
Di kampungku, ada kisah menarik, seorang pemuda-dia salah satu anak dari Abu yang dianggap mulia sebagai ulama Aceh-pernah mengeluarkan kata “Aku tahu kapan kau mati.waktu,hari,tanggal,tahun,menit,detik. bahkan katanya “aku tidak pernah meleset.
hahahaha…. tidak berterima bukan?
tapi pengikutnya menganggap itu sebuah kebenaran. huuhuhuhuh takut… katanya dia tau kalau orang sedang membahasanya. makanya ngak ku ikut sertakan nama dia. biasanya kalau ada orang hilang kreta atau apa saja, berobat juga, sering ke tempat pemuda itu. tapi aku belum pernah dengar kabar ada kereta yang ditemukan di tempat lokasi dia beritahukan.
Soal bentuk,.. aku juga heran. apa ini untuk kecocokan atau bukan antara perempuan yang menahan tusukan dengan laki-laki yang menusuk.
identitas Aceh….? sederhana saja. Nindy bukanlah Luna Maya ataupun Julia Perez. Nah Aceh juga gitu, Aceh bukan Arab, Aceh bukan Barat.
cuma sudut pandang orang kita yang sebenarnya rumit. biasanya meramu antara dua hal yang sangat berbeda. misalnya pisang dengan monyet. maka jadilah Pisang Monyet. padahal monyet adalah monyet. dan pisang tetaplah pisang. Begitu juga pisang dengan ayam. jadinya pisang ayam.
saya bukan ahli, tapi suka meraba…. hahahahahahahahahahhahhaa….
kapan ke pulang nenek sihir? aku kangen sama kalian. Mita dan raisa juga, semakin berisi kulihat. wekekeke!!!
Maafkan Saya Tuhan, Karna Telah Menulis SGM 2 dan Huruf V
Jika pada komentar saya di atas dengan emosi tinggi. Ini bukan tanpa sebab. Bagi saya, sebuah penghinaan ketika disuruh onani. Ini yang tak saya terima. Apa hubungannya onani dengan tulisan saya? Apakah saya sedang menulis detail tentang proses hubungan sepasang monyet dua kaki yang sedang bersenggama? Sehingga saya disarankan untuk onani? Seperti novel-novel porno yang ketika SMP dulu kami berebut membaca rame-rame. Boleh saja engkau berkomentar dan benar menurutmu. Tapi, bagi saya tidak. itu bukan kritik, tapi hinaan. Saat ini saya masih menganggap kita kawan, bukan lawan apalagi musuh. Engkau tahu masalah malu ketika dibaca oleh teman-teman saya di kampus. Hingga mereka bertanya siapakah gerangan orang yang menulis demikian. Tak menarik lagi, jika sudah menyuruh orang pada hal O-N-A-N-I. Dan ngomong-ngomong engkau berapa kali sehari? Bagusnya tiga kali sehari, seperti minum obat. Biar tak kena kanker prostat, kata tukang obat di kampungku.
Saat menulis ini saya sedang berada di rumah teman. Karena menumpang menulis komen di komputer miliknya tentu lebih irit jika berlama-lama di warnet. Jujur, air mata saya meleleh membaca semua komentar yang saya Save As dalam flaskdisk lalu saya baca di komputer. Saat itu teman yang punya komputer masuk kamar dan bertanya sebab saya menangis. Saya tersenyum. Terharu ketika membaca beberapa komentar terakhir. Apalagi dari komen sebuah judul; azir kau harus kembali! Ada satu komentar yang membuat saya haru. Walau beberapa kalimat yang harus saya baca berulang-ulang berulang-ulang. Dan saya yang tolol ini tak pernah bisa faham. Tidak bisa nalar beberapa maskud itu. Huh, betapa konyolnya diriku teman? Ada kata-kata begitu kuat terekam dalam otak saya; AZIR KAU HARUS KEMBALI! Tanda seru diujung kalimat itu yang membuat saya berpikir berkali-kali. Sungguh menyesal itu tak enak karena telah menulis ini. Saya harus mempertanggungjawabkannya. Ya, benar!
Sepertinya di Dôkarim perlu dibentuk sebuah lembaga lagi, semacam Pengadilan Penulis katakanlah. Nanti akan ada Hakim Sastra, Pengacara Sastra, dan Jaksa Sastra serta penjara sastra buat penulis yang tak bisa bertanggung jawab. Bisa jadi saya orang yang pertama masuk ke penjara itu, dan menulis hanya dalam mimpi saja. Ini profesi baru. Bagus bagi yang sedang menganggur.
Saya kembali teringat ketika saya gagal mengikuti audisi pertama kalinya di sekolah yang telah melahirkan orang-orang kritis nan berani. Dan saya yang masih tetap seperti dulu, pecundang wal pengecut. Sadarlah saya sekarang, jika kali kedua (tahun 2007) saya ikut audisi lalu diterima hanya karena semangat saya agar bisa masuk sekolah menulis yang dinilai -ini hanya persepsi saya- Rektor Dokarim kasihan melihat saya. Saya yakin benar sekarang.
Bagi yang jarang buka Al-Qur’an, ini kutipan sebuah ayat.
“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang beriman; hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al Azab: 59).
Saya bukan ahli tafsir, makanya saya tak berani menjelaskan maksud ayat di atas.
Dan semoga memakai jelbab tidak melilit di leher. Tapi menutupi seluruh dada.
Saya teringat sebuah kisah yang menceritakan seorang perempuan mendatangi rumah makan. Dengan santai dia memesan makanan yang ada di daftar menu. Saat itu seorang pelayan berkata pada perempuan tadi; Maaf Bu, disini kami hanya menyediakan daging babi.”
“Astagfirullah,” kata perempuan itu.
“Saya lihat ibu memakai kerudung, hingga saya tahu ibu seorang muslim” kata pelayan.
Kita bisa bayangkan jika perempuan itu tidak memakai jelbab, apa pelayan akan tau bahwa dia muslim?
Bagi yang pernah ke luar negeri, mungkin belum dan siapa tau akan mengalami seperti ibu yang saya ceritakan di atas. Saudaraku, coba kita perhatikan siapa yang lebih sering digoda dan diganggu lelaki di jalanan? Muslimah atau atau perempuan (AJBK) atas jelbab bawah ketat.
Seorang Luna Maya sekalipun pakai jelbab sopan dalam sebuah iklan operator seluler di Aceh. Ini menandakan dia orang luar begitu menghormati tentang syariat yang sedang berlaku. lalu, bagaimana dengan kita? (termasuk saya)
Saya menulis atas apa yang saya lihat, saya dengar dan rasa. Itu yang saya dengar dari celoteh seorang penulis sebelum masuk sekolah cerdas ini. Dan sepertinya tak bisa dipakai lagi teori itu. Saya telah dibohongi. Ada juga yang sebut menulis itu seperti membunuh kecoak di kepala. Motto saya, menulis itu seperti mengeluarkan angin lewat dubur. Maaf, kalau aku harus mengatakannya; kentut. saya akan lega, sebab bau busuk pukayma itu tercium menyengat sampai ke Amirika. Eh, Amerika hai. Saya tak tau apakah George Bush aneuk bajeng haram jadah itu menciumnya juga.
Terjemahan Al-Quran saja saya tak pernah buka, seperti yang disebut di atas. Saya hanya baca buku Elemen Mesin Hingga, CAD/CAM, CNC, Konversi Energi, Mekanika, Statika, Rancangan Elemen, Intruction Manual Heat Transfer dan banyak sekali buku sejenis tak ku tahu lagi. sekali-kali baca buku cara menanam cabe dan ternak itik. Hanya itu.
Untuk orang-orang yang tak sefaham dengan tulisan saya ini tak mengapa juga. Saya tak pintar debat. Tak banyak membaca buku-buku tentang pikiran-pikiran orang-orang Barat. Alasan saya sederhana saja. Tak memaksa mereka berkata setuju pada tulisan saya. Saya tak paksa semua orang mencium kentut saya. Jika tak berkenan, tutup saja mulutnya pakai uang. Biar berbau uang. Saya bukan orang yang jago debat. Hingga bisa masuk dan berdebat tentang UN di gedung Dewan kita yang terhormat (tabệk kawan, engkau memang hebat) Tidak! Saya bukan itu. Saya hanya orang yang SOSIAL; sombong dan sial. Karena telah menulis tentang pantat perempuan. Semoga saja bukan kali ini waktu yang tepat berhenti menulis. Saya tidak akan lagi menulis tentang Jelbab Ketat, mungkin akan menulis tentang Atas Kerudung, Bawah Warung!
Tunggu saja.
Ini musim demokrasi di Nanggroe Aneh Darussalam. Alah, Nanggroe Aceh Darussalam hai. Saya senang jika tulisan ini tidak dihina, tapi dibina. Kepada guru, terima kasih telah memberi pencerahan hingga saya mau menulis komen ini kembali dengan panjang, walau jauh dari harapan. Dan maaf juga jika telat membalas, ke warnet pun saya seperti ke Kantor Gubernur. Jauh tapi dekat.
Akmal, Engkau telah membantu mengikat lembu-lembu saya. Moga saja ia tak lagi liar dan masuk rumah tetangga. Hingga dilempar dengan batu dan kena kepala saya sekalian. Jika pun ia masih liar dan makan rumput di rumah tetangga, kita ulang kembali ejaan selingkuh; rumput tetangga lebih hijau dari rumput rumah kita sendiri.
Oke saya tanggapi sedikit. Saya pikir CutNyakDhin bukan tak pakai Jelbab. Tak sempat pikir dia. Sebab mengatur strategi perang lebih penting dari harus pakai jelbab. Dan kita sekarang, tak ada lagi perang seperti pada masa Belanda yang pukayma itu. Maka, berpikirlah untuk berpakaian yang Islam seperti yang diajurkan dalam agama Islam. Menutup aurat, bukan membungkus. Jangan lagi buat lelaki harus onani ketika melihat perempuan pakai celana ketat, seperti yang saya dengar dalam sebuah topik siaran radio Minggu lalu. Tentu kalian bertanya. Di mana imannya? Tentu saja sebagai manusia yang normal, hasrat itu sulit terbendung. Seorang alim sekalipun akan tergoda. Kadang ada rasa penasaran mengguncang. Tapi ketika telah telanjang bulat, tak bisa apa-apa lagi. Tak lagi selera, ibarat kata slogan klasik kita; nafsu besar tenaga kurang.
Tak baik bawa nama orang tua. Benar. Tapi ketika telah membandingkan dengan saya, maka saya perlu sebutkan siapa identitas saya. Saya pernah ditangkap aparat saat demo referendum tahun 1999 ketika SMA dan di pukul hingga otot-otot saya lemah tak berdaya. (sebagian dari kita juga pernah mengalami). Saya yakin jika saya anak seorang pembesar pada waktu itu, mereka tak berani sentuh kulit saya. Nek Ma’e di kampung saya menyebutnya ini politek bijeh. Ya, politek bijeh tetap berlaku.
Akhir kata pembaca yang budiman, terima kasih telah memberi komentar pada tulisan ini. Oya, sebelum saya mengakhiri baiknya kukutip juga slogan emas yang hingga detik ini masih dipakai sebagai penghias pantat truk lintas Sumatera; Kutunggu Jandamu. Maksudnya kutunggu komen selanjutnya. He-he-he.
Ya Allah, maafkan saya karena telah menulis tentang PANTAT!
__Siwõk__
LIR RESPATI BUMIDAYA

Tidak ada komentar:

TRIK DAN SARAN

ADA KELUHAN ATAU PERTANYAAN?

TINGGAL ISI FORUM DI BAWAH INI.

foxyform

    • Popular
    • Categories
    • Archives