Minggu, 30 September 2012

APA

LIR RESPATI BUMIDAYA
Mbah kumar bak gampong
elamatlah bagi orang-orang yang tidak pernah merasakan ditendang aparat, disuruh tiarap, dicaci dan ditodong dengan popor senjata. saat itu umur saya 18 tahun. hidup di kampung ( 17 KM ke arah jalan Medan-B.Aceh/ ke kota Bireuen).
gampong lon di Glee (daerah bukit).
bayangkan, jika saya hari ini bisa kuliah, maka ini anugerah. dikampung saya cuma saya yg kuliah ke B.Aceh. lainnya (kawan-kawan sekampung) sudah menjadi mayat, lari ke Malaya, Pulau Jawa. atau ada yang saya tidak tau dimana kuburan mereka sekarang. saya juga tidak pernah bercita-cita kuliah. awalnya lari juga dari dentuman peluru dikampung ke B.Aceh (sedikit aman di kota). hingga mendapat restu dari seseorang, dan ia mendukung saya kuliah.
kambing hitamkah konflik dulu?.
bagi saya Iya!. maka jika pembaca yang budiman seru sekalian, seperti yang Mbah dendangkan benar saja, tidak terbantahkan. hana rencana bantah. dan mudah-mudahan ini menjadi tolak ukur batu pijakan dalam menulis saya.
satu hal yang perlu Mbah tau, saya baru mengenal komputer pada tahun 2005. hahaha. internet? hahaha. hana meutaturi pih.
sedang ‘Mereka’ yang anda bilang itu? dari SD mungkin sudah mengenal.
saya pikir anda tau Mereka anak siapa. dan berani menulis, jika sewaktu-waktu di tuduh melanggar etika dan di panggil serdadu Pemerintah.
dan sila tanya sama orang-orang yang di SMD apa kendala saya dalam menulis. saya jawab saat itu : saya TAKUT. dan sekarang, rasa itu sedikit ,mulai pudar.
terimakasih Mbah telah memberi komen.
saleum.
azier yang baik, anda sudah memulai cara berdebat dengan baik,
maksud saya jangan anda hancurkan kebaikan berdebat itu dengan memanggil (meminta tolong) moderator untuk melepaskan anda dari mon broeh yang sdh anda gali sendiri.
anda tahu siapa saya? saya nun parisi, anak lamkrak, orang-orang tak mengenal saya, sebab saya bukan seorang penulis kayak si mbah,
saya jadi curiga sekarang, hanya gara-gara saya bukan orang yang terkenal, apakah anda kemudian menganggap saya juga memakai nama samaran?
terus terang saya jadi minder sekarang, bagaimana caranya agar saya tidak dianggap menyaru, apakah saya harus menulis dulu di jurnal New Left Review?
Apakah waktu anda mengklik google, lalu anda temukan sejumlah halaman tentang saya, baru anda percaya bahwa saya adalah benar, dan bukan hantu.
azier yang baik, anda tak mengenal saya, seperti anda tak mengenal di mana lamkrak itu berada, karena lamkrak sudah tak disebut lagi sejak Zeentgraaf menulisnya untuk pertama sekali 100 tahun yang lalu, tapi lamkrak itu nyata azier, senyata kampung anda, senyata waktu operasi militer yang pukaima itu saya dicegat tentara waktu mau ke kampus, serdadu iseng tapi pukaima itu meminta saya untuk menyanyikan lagi indon, tapi pada tahun2 itu azier jangankan maen internet, bahasa indon saja saya tidak pas, apalagi untuk bernyanyi lagi indonesia raya. ya sudahlah serdadu iseng tapi pukaima itu kemudian menyuruh saya lari setengah hari dan dia begitu asyik menontonnya.
azier yang baik kita sebagai orang Aceh sama2 menderita, dan tak perlulah kita membanding2kan siapa yang lebih menderita, atau siapa yang lebih berpeluang untuk memperoleh kesempatan belajar, baik orang yang ditinggal di kota maupun di kampung. maksud saya, anak-anak ini, yang anda anggap berbeda pengalaman hidupnya dengan anda, karena pertama anda pernah merasakan popor serdadu iseng tapi pukaima, sementara mereka tidak, dan kedua anak-anak ini lebih cepat belajar karena punya kesempatan belajar yang lebih memadai daripada anda, maksud saya jangan lah anda menunjuk mereka anak siapa untuk mendukung parabel anda karena itu akan goyah. parabel anda tentang hal ini persis dengan tulisan sok tahu barlian aw minggu lalu di serambi,
ini saya kutip: Jika anggaran mecukupi biaya pemeliharan Taman Budaya terjamin sehingga seniman tak perlu membayar kalau mentas di sana.
Dungu sekali bukan?
Di mana letak dungunya nalar lah sendiri.
Kembali lagi ke anda, soal kesempatan belajar, belum tentu anak Josef Kala, sudah bisa main internet, sekalipun, misalnya, Josef Kala, menguasai setengah dari saham google. Atau siapa bilang anak si Daniel rektor Unsyiah, si prof gadungan itu, bisa menulis seperti anak-anak ini. Walaupun buku di rumah si Daniel sama banyak dengan yang dimiliki ibu-bapa anak2 yang manis tapi nakal ini.
azier yang baik kehidupan di lamkrak itu keji sekali, saya pernah hampir putus asa, oleh sebab saya yakin seekor bebek akan bisa dilatih untuk menulis kalau diberi kesempatan, tapi saya tidak yakin terhadap pemuda2 di kampung saya yang malas. tapi tentu saya pengecualian, saya baru2 dua tahun ini mau belajar, sedikit bahasa Inggris sedikit bahasa Perancis, membuat saya tahu apa itu buku, dan kenapa harus belajar internet. dan yang lebih penting tahu bagaimana cara kita melakukan penalaran. sebab saya tidak pernah yakin,
sekalipun kita baca seluruh buku yang diterbitkan di dunia ini, kalau tidak diimbangi dengan penalaran yang baik, dengan kata lain dapat menjelaskan sebuah soal atau masalah dalam sebaris kalimat, sejelas obbie messa menyanyikan lagu semut merah — adek2 saya yakin pasti gak kenal obbie messa juga kan, tapi dia nyata adek2.
Nun
aku kan inosen dan baik hati. Lagian, kalau bicara tulisan yang sudah dipublikasi di koran, haduh, aku masih jauuuuh sekali dari tolak ukur.
Catatan untuk Paman – Paman yang sudah berkomentar diatas; jika kami nakal, itu bukan karena faktor siapa Bapak kami, tapi karena kami mempertahankan permen kami dari para perayu. Walaupun permen itu cuma seratus rupiah sebutir, tapi kami membelinya dengan uang hasil tabungan. Makanya, paman – paman yang budiman, jangan jadi perayu atau jangan salahkan Bapak kami jika kami nakal. Abisnya paman – paman ganjen sih. Hihihi.
Peace, love, and candies!


emangnya aku anak siapa? bukan anak siapa2 kok!
kalo aku anak bapak2 itu, jangan dibawa2 lah! ga ada hubungannya dengan itu bapak2. dek nindy harus sudah mulai belajar apa itu slow. contohlah dek mita. slowly is not really damn it, yeah. ketika nama bapa dan ibu sudah dibawa serta dalam kancah perdebatan, maka perdebatan kita tidak aduhai lagi. mudah sekali untuk melihat sebutlah kebenaran dalam perdebatan gaya cowboy begini, hei ingat, cowboy/girls yang cemen itu — tentu saja bukan Billy The Kid atau Lucky Luke dua yang saya kagumi itu — waktu sudah terdesak selalu berkata, dia menggunakan pistol ayahnya. hahaha. lucu ya.
Nah mestinya pula saya ikut serta dalam kancah perdebatan ini membawa-bawa serta nama kakek dari kakek saya, pejuang dari lamkrak, dengan seekor kuda, dia menghadang sepasukan gompeni yang berjumlah 120 orang seorang diri. tentu saja dia mati, tapi sungguh jahanam Zeentgraff, dia tidak mencatat keberanian itu, dan lagi pula saya terpkasa membawa-bawanya kemari karena saudara/i semua ikut membawa-bawa nama bapa-ibu yang kita sayangi.
Cowboy commutasi
. wah menarik sekali komenttar di atas.
ada nun dan mbah kumar, dan juga sajir.
kalau melihat pendapat si mbah kumar, azier ini saya bisa klasifikasikan ke dalam kategori “penulis kerajaan”. yang semata mata ujung pena dan tintanya hanyalah untuk memuaskan sang raja.
dalam konteks kekinian, tulisan azier di persembahkan untuk memuaskan publik yang gamang mencari kambing hitam terhadap lemahnya iman mereka.
ini mirip cerita seorang arab yang memperkosa wanita, lalu ketika di hadapan tuhan, ia menyalahkan syaitan. lalu syaitan marah, dan membacakan pledoi nya di mahkamah tuhan. ” kau yang berbuat, aku yang di bilang laknat, kau yang enak, aku yang di cap bejat”. begitulah syaitan mengakhiri pembacaaan pledoi nya.
“aku bercermin pada kaca, ini muka penuh luka. siapa yang punya” (chairil anwar).
azhier. jangan sombong, berapa kali saya mengatakan. kesombongan itu jubah tuhan. pasti kebesaran kalau saudara azier mengenakanya.
tulisan saya pada HA itu, tgl 31 desember. sila lihat dan mohon kritiknya. saya mencintai kritikus sama seperti saya mencintai ibu saya sendiri. kedua nya memiliki sifat yang sama, membangun.
ini seharusnya bisa menjadi pelajaran buat azier, dan juga yang lain. sekolah dokarim itu mencetak seorang penulis, bukan pengrajin tulisan. kalau tidak punya basis dalih dan rasionalitas yang kuat, jangan coba coba menuliskan hal tersebut, kalau tidak yaa seperti ini kejadianya. di gugat orang! lalu kelabakan!
saya jadi teringat, ketika menulis buku santeut. saya sempat di cap atheis dan menghujat agama sendiri, menurut guru saya di sekolah. waktu itu saya mengangkat soal pemisahan kelas atas nama penerapan syariat islam secara kaffah. karena saya yakin saya memiliki alasan dan basis rasionalitas yang kuat, maka saya tantang guru tersebut untuk berdebat terbuka di depan kelas. dan saya menang, itu menurut pengakuanya sendiri. saya di hadiahkan boleh memimpin kultum setiap hari setelah shalat zhuhur berjamaah di mesjid. nah, jadilah sang khatib atheis…
azier, terus terang saya mulai menyukai anda. namun, saya agak kecewa ketika anda membawa orang tua kami di rumah. kami menjadi seperti ini, karena kami memilih untuk tidak menjadi BIASA. kami memilih membaca buku, berdiskusi, bangun gerakan, melawan system dan dll. dari pada ikut arus zaman menjadi hedonis dan apatis. progresivitas tidak menurun secara genetik! dan jangan bicara soal berlindung di bawah ketiak orang tua, memangnya siapa orang tua kami, Ehud olmert apa!! sampai sampai bisa melindungi kami dengan sebegitunya. dan jangan salahkan keadaaan. malah situasi yang anda alami ketika muda, itu adalah sebuah iklim yang baik untuk menciptakan tokoh muda yang progresif! seperti nelson mandela! dan tentunya menjadi sangat realis, bukan menjadi hypokrit seperti ini!
kalau mau debat, yang “ilmiah” lah. biar seru.
sudah kau baca belum ayat yang aku rekom buat mu kawan? bacalah, penting itu!
al quran, mengajarkan kita menjadi insan, menjadi seseorang yang merdeka. bukan menjadi pengikut yang gamang, atau kalau dalam bahasa injilnya “domba domba yang galau”.
·  Kami yang anda sebut anak – anak yang ‘beruntung’ itu benar – benar iri pada pengalaman hidup anda. Kami malah pernah duduk bersama disuatu hari dan berharap bisa dilahirkan disaat Aceh sedang berkecamuk. Jangan tanya kenapa, karena anda pasti tau kenapa.
Paman Azier, pesan saya, jangan berhenti menulis. Aceh punya tumpukan harapan dipundak anda. Seperti yang Ory bilang, progresifitas tidak menurun secara genetik. Itu bukan takdir, tapi PILIHAN. Kami memang tidak cerdas, mungkinpun termasuk katagori tidak tahu apa apa seperti yang si Sajir katakan (baca komen atas nama Sajir diatas), tapi kami bisa memilih. Karena memilih itu adalah bakat alamiah manusia, dan bersandar pada takdir hanyalah untuk orang – orang fatalis, bukan untuk orang – orang relijius.

Tidak ada komentar:

TRIK DAN SARAN

ADA KELUHAN ATAU PERTANYAAN?

TINGGAL ISI FORUM DI BAWAH INI.

foxyform

    • Popular
    • Categories
    • Archives