LIR RESPATI BUMIDAYA
Mengenang Arwah Kang Dull
Setelah sekian lama aku mengabdi di
beberapa instansi pemerintah maupun non pemerintah alias NGO, termasuk di sekolah dasar beberapa
guru honorer wiyata bhakti dipertanyakan oleh DPR status kedudukannya
.pengabdian yang dimaksudkan adalah , mereka mengajar dan memasuki instansi
pendidikan dengan status yang tidak jelas dengan tidak pernah tahu akan dikemanakan . pada tidak menyadari mereka sudah
puluhan tahun mengabdi di beberapa dinas pendidikan , denga tanpa kepastian
, harap-harap cemas , diangkat
sebagai calon pegawai negeri sipil Guru atau
tidak kok.sebab tanpa memasuki wilayah
pendidikan itu para sarjana pendidikan itu akan dibawa kemana , dan tidak
akan mampu bekerja selain di wilayah ranah
selain pendidikan. Satu hal yang musti dipikirkan adalaah apakah
nanti tidak terjadi gejolak, ketika sudah
mereka bekerja tanpa bayaran ,
ditambah lagi tugas –tugas sekolah mereka terbengkelai, tidak ada I’tikad baik pemerintah untuk mengentaskan mereka. Kenapa
kalau dulu masih diperbolehkan dan masih
mau menerima calon pegawai dari SPG selama mereka masih sekolah..apa yang
akan diharapkan dari program pengentasan kemiskinan. Mau tani juga sulit unrtuk mendapatkan pupuk. Mau
gimana lagi kalau semua serba spekulasi. Semua serba
tidak jelas. kemana pemberkasan dan database. Melalui seleksi alamiah melalui
umum atau bagaimana. Atau kalau masuh berada dalam satu instansi, mau diarahkan
keman tidak ada orang yang mengetahui. Dikemanaakan
pemberkasan-pemberkasan itu, siapa yang
membawa ? siapa yang mengawal. Siapa yang menjamin?. Keprihatinan dan kesia-siaan waktu yang mereka lakukan. Setelah
sekian lama menggenggam penderitaan dan
kesusahan yang tiada pernah kunjung usai .kapan semuanya ini berakhir .
Bojoku lalen
. Banyak orang mulai
memojokkanku. Menginterogasiku dan mulai bertanya macam-macam pilihan yang dia
pilih sendiri.
Belanjaan
abis uangnya sendiri aja menyesalnya
setengah mati. Aku tak pernah habis mengerti pengulangan p-engulangan kegagalan
yang selalu kami alami. Tau karena kebodohannya
yang sellu lamban alam mengambil keputusan. Selalu saja ada masalah yang
memaksa kami untuk berlari saling menolak
saling menyalahkan . dia susah sekali diatur dan selalu memberontak kebijaksanaanku.
Selalu menolak pendapatku . mengecilkan
obsesiku . tidak pernah
pinter-pinter sama aku. Ya sudah keputusan untuk gambling sudah bulat
kami sama sama buta tapi saling menuntun . dan selalu saling menuntut
. dia selalu menuntut uang gaji yang banyak , minta pangkat yang tinggi , minta kelebihan jam lembur, menuntut
gono gini 3 milyard tanpa mau tahu
kekurangan kami. Menuntut rumah tangga yang layak , tapi tanpa pernah mau
melayani kami dengan puas, dengan baik . seharusnya dia berkaca sejauh mana IQ
dia ? apakah mampu menyelesaikan soal-soal delik akademis. Menolak ketika waktu
masih longgar memasuki lapangan akademis lebih lanjut. Tak mau sekolah agar dia
pintar dan bisa bertanding memberdayakan
diri sendiri menangkis.usus pendek, gagak rimang, buta arep ,iri , dengki
menerpa kami , kami harus biasa menengok ke belakang dengan bewirausaha karena
kenyataannya kami tak benar-benar tak
mampu secara ekonomi. Pergolakan masih berlangsung hingga kini sampai-kami kehilangan jati diri. Sampai kami tak
mengenali sebenarnya siapa kami, dan
bagaimana seharusnya kami berlaku . akan berbuat apa dan berlaku bagaimana?.
Minta pertolongan siapa. Keluarga saja tak sanggup melakukan ini semua. Jati
diriku hilang.kami tewas , kami selalu hidup
dibalik awan hitam . kami betul-betul ditinggalkan oleh peradaban , tanpa penghasilan ,tanpa pekerjaan
, tanpa kehormatan , tanpa suatu kaidah yang tepat untuk di ikuti .
orang tua sudah tak mempunyai pedoman
yang patut di teladani . orang tua melarikan
diri dari tanggung jawabnya .
sampai kami sama sekali tak mengenal
mereka dan kepada siapa gerangan kami
dapat bertumpu . seperti ada tembok
besar dan jurang pemisah yang sngat
dalam . , lama-kelamaan bukannya tumbuh rasa kasih akung dan kepercayaan ,
tetapi malah sebaliknya yang terjadi , orang tua hanya biasa marah-marah dan
menyalahkan keputusan tindakan yang di
ambil oleh anaknya. Anak sendiri tidak di maafkan, lali diajarkan kebencian dan hukuman yang tidak pernah diketahui sampai
dimana batas dfaketegasan dan kedisiplinan yang
dijadikan ambang pemutusan hubungan
kerja . dasar-dasar kebencian , terror , bulliying , kerja keras , dan hukumn tanpa kenal ampun , amputasi waktu , pengancaman , pemecatan ,pengurangan
jam, penghilangan peran, musuh-musuh
licik , menghantuinya setiap hari .tidak
ada ketenangan kerja , karena selalu bekerja dalam wacana terror.pertanggung jawaban yang sama sekali tak dapat
diterima. Berhadapan dengan orang-orang
yang tidak professional .di anggap penghianat, hanya gara-gara bentuk soal
yang sama.hal-hal kecil yang dieksposs
untuk mempermalukan kami dimata rekan
kerja . hilang harga diri.merasa di
injak-injak. Pembunuhan peran serta.memang sulit untuk menerima kenyataan kalau
kenyataannya kalah yo mau apa lagi, mau nuntut apa, mau nuntut siapa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar