Kamis, 04 Oktober 2012

NOVEL TTT

LIR RESPATI BUMIDAYA
 
kuliah S3 alam Ghaib? Yang di maksuk kuasa itu apa ? apa yang dikuasai , batasnya apa , pembagian keuntungannya bagaimana aturan mainnya , atau kebijakan public arwahnya bagimana ? Ojo nggabrul Dhik ?. lantas siapa yang mengajarkan kamu klenik, mistik, sihir , pangeran Bebek , lafadz2, istighosah, seperti itu ?lalu siapa yang memberitahumu kalau memuliakan Tuhan itu boleh kau lakukan siang malam tanpa batas , mesti 40 hari 40 malam dengan cara begini, dengan cara begitu  ?Siapa yang mengajarkan kepadamu / apa nabimu mengajarkan begitu ? Di surat apa kitap suci mana kamu membaca bahwa memuliakan Tuhan itu boleh tanpa batas. Kalau kau dapat menyebutkan lantas darimana kau tahu , siapa yang mengajarkan , kapan kamu belajr, dari buku mana kau baca , sebutkan , jangan aeng-aeng, katakana jelas kepadaku ?” begitu pertanayaan malaikat itu makin Galak . Aku akhirnya cep klakep, tak satu katapun dapat kuutarakan sebagai alas an karena aku melakukan juga tanpa sandaran , tanpa tujuan, seperti debatku dengan Samadi semalaman soal kesaktian , kalau dapat kesaktian itu syaratnya apa pantangannya apa? , aku tidak bisa menjawab dengan benar , hanya  angger wae, waton nylekop, sam sekali tidak bisa menjawab; O jadi begitu Ya , semua dilakukan kalau hujjahnya kudu jelas siapa melakukan untuk hajat apa, aku geleng-geleng , berarti sia-sia semua, apa selama ini aku lakukan “ Pikirku” wah wah… berarti selama ini aku ini lak manusia  sok pintar, aku tertipu, ya begini dheh oleh-olehnya , kena damprat Malaikat dan di keluarkan dari alam normal dan terjebak di alam arwah ! Sialan . Nah, sekarang ini caranya bagaimana  memeberitahukan kepada manusia, wong asalnya aku  juga tidak faham maksudnya tapi melafalkan ?
Walaupun dari sisi akademis aku menghafal dan  faham, aku yang begitu mendalami ajaran-ajaran agama sejak lahir, aku tahu persis apa penafsirannya, ternyata penghayatan aku masih sangat Kurang. Nah.. makanya aku datang  untuk menceritakan  kepada anda sekalian, silakan  di pelajari sendiri dengan detail dulu begitu ujarku kepada bang Dull. Dan akhirnya aku berpamitan dengan Malaikat yang mengajarkan pengertian itu  ? ya aku sekali  aku ucapkan terimakasih kepada bapak malaikat , tapi itu hanya untuk kami berdua (aku dan bang Dull) yang sama sama faham  persis ajaran kaum Arwah karena  aku tahu  orang lain tak akan percaya .Lalu  Malaikat  berkata pada kami berdua “ Ya aku juga tahu, aku sudah tahu dari dulu-dulu., aku waktu masih belajar juga begitu, ngeyelan,  nah itulah kena batunya kalau ketemu dengan yang argumennya jitu ., Cuma apakah  anda sekalian  bersedia  mentablighkan kebenaran ini kepad teman-teman anda di alam Normal, seperti Nardi , Lubab, Naryo, Saepudin, Chareq, lek Yoto , kang hari , Arfath, Zubed, Huda dan Mardi yang  masih hidup. Ya kami bersedia , “jawab kami . kesimpulannya  bahwa manusia itu tak ada yang sempurna , yang tatat dan mau mendengarkan petunjuk  yang maha kuasa , maha sempurna, maha mendengar  maha benar, dan yang maha tahu hanya satu , yaitu Gusti Allah . allahu akbar.
Mancahari sesuatu yang terasing.akhirnya malah semakin kehilangan .. yakin kehilangan semuanya, aku hialang ingatan , aku hialang arah hidup , bidukku oleng, aku harus di ingatkan….Kuranthill.. keciparatan mukti koreksi…..Facebook ddik43@yahoo.com//kongco. Didik cov@gmail.com//aperabi Gentayangan43@yahoo.com .. sholikul Hadi,Didik dik, Indah Wahyu wewe @Gombel.com
Kunjungi Facebooknya……………………………

Kau tak layak bertanya  kepadaku  soal-hari-hariku, ekspresi kesendirian, ekspresi kesepian yang mencekam, terhimpit pengasingan yang dilakukan konspirasi untuk menjeratku, dalam penderitaan yang panjang, penderitaan yang di alami seperti ini. Namun aku berusaha sebisa mungkin, mengolah otakku untuk berpikir, meski aku sadar  tak ada seorangpun rela mendukung aku., kawasan ini tak ada batasnya . opposisi-opposisi oportunis tidak rela mendermakan sesenpun uangnya untuk kepentingan politik  maupun ideolodi. Apalagi swemua semakin tak layak , tak jelas dalam lanskap yang terpecah pandanganku kabur tercabik-cabik oleh kekejaman demi kekejaman Dunia

Krisis.. krisi.. krisis - Sang bromocorah menghargai nilai-nilai
Aku mengabdi pada nilai-nilai ya allah. Nilai-nilai yang kau tanamkan dalam ahtiku .

Mengaktifkan Indra ke enam.
Pengaruh Indra ke __6
Mendengar kata ‘indera keenam’ pasti yang terbayang dalam benak kita adalah orang-orang sakti yang memiliki ilmu kanuragan tinggi, sakti mandraguna, bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat, dan bisa merasakan apa yang orang lain tidak rasakan. Manusia sebenarnya memiliki enam indera. Namun yang kita tahu selama ini hanyalah lima indera saja atau yang biasa disebut ‘panca indera’. Fungsi dan mekanisme kerja indera keenam dan panca indera sangat berbeda.
Panca indera terdiri dari mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Mata, digunakan untuk melihat. Hanya dapat melihat sesuatu apabila ada cahaya. Secara fisika, benda dapat kita lihat karena benda tersebut memantulkan cahaya ke mata kita. Jika tidak ada pantulan cahaya, meskipun di depan kita ada suatu benda, benda tersebut tidak akan bisa kita lihat. Misalnya dalam kegelapan, kita bahkan tidak akan mampu melihat tangan kita sendiri. Maka bersyukurlah kepada Allah SWT karena diberikannya sinar atau cahaya.
Indera penglihatan ini memiliki keterbatasan. Ia hanya mampu melihat jika ada pantulan cahaya pada frekuensi 10 pangkat 14 Hz. Mata tidak bisa melihat benda yang terlalu jauh. Tidak bisa melihat benda yang terlampau kecil seperti sel-sel ataupun bakteri. Tidak bisa melihat benda yang ada dibalik tembok. Bahkan mata kita sering ‘tertipu’ dengan berbagai kejadian. Misalnya pada siang hari yang terik, dari kejauhan terlihat air yang mengeluarkan uap di atas jalan beraspal. Namun apabila kita mendekat ternyata yang kita lihat tidak benar adanya. Ini yang kita sebut fatamorgana. Tipuan lain adalah pembiasan benda lurus dalam air, sehingga benda tersebut kelihatan bengkok. Bintang yang kita lihat di langit sangat kecil ternyata sungguh sangat besar, dan lebih besar dari bumi yang kita tempati.
Penglihatan oleh mata kita sangat kondisional, seringkali tidak ‘menceritakan’ keadaan yang sesungguhnya pada otak kita. Bukti-bukti di atas memberikan gambaran bahwa indera mata kita mengalami distorsi alias penyimpangan yang sangat besar. Namun, mata inilah yang kita gunakan untuk melihat dan memahami dunia nyata yang ada di luar diri kita. Matapun tidak bisa melihat apa yang ada dalam diri kita dan yang ada dalam diri orang lain. Apa yang orang lain pikirkan dan rasakan tidak bisa dilihat oleh mata. Mata sungguh sangat terbatas.
Namun keterbatasan ini harus pula kita syukuri. Bayangkan saja apabila mata kita bisa melihat benda yang ukurannya mikroskopis seperti bakteri ataupun jamur. Maka kita tidak akan bisa makan dengan tenang dan nikmat, sebab semua makanan yang kita makan mengandung bakteri dan jamur yang bentuknya sangat menyeramkan. Satu menit saja kita menyimpan makanan dalam keadaan terbuka maka jamur dan bakteri sudah ada pada makanan tersebut. Atau seandainya mata kita tidak terbatas, maka kita akan bisa melihat setan-setan dan jin-jin yang berkeliaran di sekitar kita, dapat melihat orang di balik tembok, dapat melihat proses pencernaan yang terjadi dalam tubuh kita sendiri sehingga menjadi kotoran. Sungguh kehidupan kita akan sangat menyeramkan.
Indera selanjutnya adalah telinga. Ia merupakan organ tubuh yang digunakan untuk mendengarkan suara. Telinga hanya bisa mendengar suara pada frekuensi 20 s/d 20 ribu Hz. Suara yang memiliki frekuensi tersebut akan menggetarkan gendang telinga kita, untuk kemudian diteruskan ke otak oleh saraf-saraf pendengar. Hasil dari interpretasi otak, suara dapat ditandai dan dikerahui. Apabila suara getarannya dibawah 20 Hz maka suara tidak bisa didengar, dan apabila melebihi 20 ribu Hz maka suarapun tidak akan mampu didengar dan bahkan gendang telinga akan pecah alias rusak.
Pada intinya telinga kitapun memiliki keterbatasan layaknya mata. Allah SWT memberikan batasan pendengaran pada kita sebagai karunia dan rahmat yang harus pula kita syukuri. Bayangkan saja jika pendengaran kita tidak dibatasi, maka kita akan bisa mendengarkan suara-suara binatang malam, juga kita bisa mendengarkan suara jin sedang bercakap-cakap, dan lain sebagainya, maka hidup kitapun tidak akan tenang.
Indera yang ketiga adalah hidung. Indera ini digunakan untuk merasakan bau. Di dalam rongga hidung terdapat saraf-saraf yang akan menerima rangsangan bau yang masuk. Selanjutnya saraf menghantarkannya ke otak untuk diterjemahkan. Sebagaimana mata dan telinga, hidung juga memiliki keterbatasan kemampuan. Misalnya, apabila hidung kita menerima aroma makanan yang terlalu pedas maka kita akan bersin-bersin. Apabila hidung sering merasakan bau busuk maka kepekaannya terhadap bau busuk akan hilang. Misalnya kita tinggal di lingkungan yang banyak sampah berbau busuk. Awalnya kita amat terganggu dan tidak tahan dengan bau tersebut, namun lama kelamaan kita tidak akan merasakan bau busuk tersebut.
Indera keempat dan kelima adalah indera pengecap dan peraba, yakni lidah dan kulit. Lidah digunakan untuk mengecap rasa, sedangkan kulit untuk merasakan kasar, halus, panas, dingin, dan lain-lain. Kedua indera inipun memiliki keterbatasan dalam memahami fakta yang ada di luar dirinya. Kalau kulit kita dibiasakan dengan benda kasar terus dalam kurun waktu yang lama, maka kepekaan kulit kita untuk memahami benda yang halus juga akan berkurang. Begitu juga dengan kemampuan lidah kita. Dalam kondisi tertentu, misalnya kita terbiasa dengan makanan pedas, maka lidah tidak akan merasakan enaknya makanan yang tidak terasa pedas.
Dengan berbagai penjelasan di atas tidak diragukan lagi bahwa lima indera yang kita miliki semuanya serba terbatas, kondisional, dan seringkali tertipu oleh hal-hal yang sebenarnya jelas namun terinterpretasi secara tidak jelas. Sebenarnya manusia memiliki indera yang lebih hebat lagi dibandingkan dengan panca indera. Itulah indera keenam. Setiap orang memiliki indera keenam yang bisa berfungsi melihat, mendengar, merasakan, dan membau sekaligus. Indera tersebut yakni hati kita. Akan tetapi beberapa potensi fungsi hati di atas tidak pernah mampu kita maksimalkan. Kenapa? karena memang kita tidak pernah melatihnya.
Manusia terlahir sudah memiliki indera keenam yang berfungsi dengan baik. Karena itu seorang bayi dapat melihat ‘dunia dalamnya’. Ia menangis dan tertawa sendiri karena melihat ada ‘dunia lain’. Seorang anak pada masa balitanya bisa melihat dunia jin misalnya. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya waktu, kemampuan indera keenam tersebut menurun drastis. Sebabnya adalah orang tua kita tidak melatih indera keenam kita. Mereka lebih melatih panca indera kita untuk memahami dunia luar. Orangtua kita sangat risau apabila kita tidak bisa menggunakan panca indera kita dengan baik. Namun sebenarnya kemampuan penginderaan hati kita jauh lebih dahsyat.
Hati kita bisa merasakan, melihat, dan mendengar apa yang tidak dirasakan, dilihat, dan didengar oleh panca indera. Kita bisa ‘kenalan’ dengan Allah SWT hanya dengan cara mengaktifkan fungsi hati kita dengan baik. Kita bisa melihat Allah hanya dengan hati kita, bukan dengan mata. Kita bisa merasakan adanya Allah bukan dengan kulit kita, namun dengan hati. Allah SWT sudah mengingatkan kita dalam Alqur’an akan pentingnya menghidupkan hati, dalam Alqur’an surat Al-Israa’ [17] ayat 72 disebutkan: 
“dan barang siapa di dunia ini buta hatinya, maka di akhirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya”.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan para sahabat akan pentingnya mengedepankan fungsi hati sebagai raja bagi kehidupan. Apabila kita menjadikan akal kita sebagai raja dan hati menjadi pengawalnya, maka tunggulah kehancuran hidup kita. Hati kita akan tertutup dengan bercak hitam sehingga kita tidak mampu mengenal Allah. Akal menjadi raja untuk diri kita karena kita membiasakan diri menilai kebahagiaan hidup hanya melalui apa yang dirasakan di dunia ini saja. Yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dirasakan oleh lidah dan kulit, semuanya diinterpretasikan di otak (akal). Sehingga kitapun lebih memercayai rasio, logika dan nalar kita untuk mengukur kebahagiaan hidup. Pola ini akan membawa kita pada pola hidup yang mengandalkan akal dan mengesampingkan hati nurani. Banyak orang yang pintar dan cerdas dalam menguasai suatu ilmu namun kering akan ruhani ketuhanan. Mereka tidak mampu melihat sesuatu yang metafisik, sesuatu dibalik segala ciptaan yang tak terbatas. Mereka akhirnya juga tidak mampu mereguk nikmatnya ibadah dan tidak mampu merasakan kehadiran Allah SWT.

Tidak ada komentar:

TRIK DAN SARAN

ADA KELUHAN ATAU PERTANYAAN?

TINGGAL ISI FORUM DI BAWAH INI.

foxyform

    • Popular
    • Categories
    • Archives