LIR RESPATI BUMIDAYA
kuliah S3 alam
Ghaib? Yang di maksuk kuasa itu apa ? apa yang dikuasai , batasnya apa ,
pembagian keuntungannya bagaimana aturan mainnya , atau kebijakan public
arwahnya bagimana ? Ojo nggabrul Dhik ?. lantas siapa yang mengajarkan kamu
klenik, mistik, sihir , pangeran Bebek , lafadz2, istighosah, seperti itu ?lalu
siapa yang memberitahumu kalau memuliakan Tuhan itu boleh kau lakukan siang
malam tanpa batas , mesti 40 hari 40 malam dengan cara begini, dengan cara
begitu ?Siapa yang mengajarkan kepadamu
/ apa nabimu mengajarkan begitu ? Di surat
apa kitap suci mana kamu membaca bahwa memuliakan Tuhan itu boleh tanpa batas.
Kalau kau dapat menyebutkan lantas darimana kau tahu , siapa yang mengajarkan ,
kapan kamu belajr, dari buku mana kau baca , sebutkan , jangan aeng-aeng,
katakana jelas kepadaku ?” begitu pertanayaan malaikat itu makin Galak . Aku
akhirnya cep klakep, tak satu katapun dapat kuutarakan sebagai alas an karena
aku melakukan juga tanpa sandaran , tanpa tujuan, seperti debatku dengan Samadi
semalaman soal kesaktian , kalau dapat kesaktian itu syaratnya apa pantangannya
apa? , aku tidak bisa menjawab dengan benar , hanya angger wae, waton nylekop, sam sekali tidak
bisa menjawab; O jadi begitu Ya , semua dilakukan kalau hujjahnya kudu jelas
siapa melakukan untuk hajat apa, aku geleng-geleng , berarti sia-sia semua, apa
selama ini aku lakukan “ Pikirku” wah wah… berarti selama ini aku ini lak
manusia sok pintar, aku tertipu, ya
begini dheh oleh-olehnya , kena damprat Malaikat dan di keluarkan dari alam
normal dan terjebak di alam arwah ! Sialan . Nah, sekarang ini caranya
bagaimana memeberitahukan kepada
manusia, wong asalnya aku juga tidak
faham maksudnya tapi melafalkan ?
Walaupun dari
sisi akademis aku menghafal dan faham, aku
yang begitu mendalami ajaran-ajaran agama sejak lahir, aku tahu persis apa
penafsirannya, ternyata penghayatan aku masih sangat Kurang. Nah.. makanya aku datang untuk menceritakan kepada anda sekalian, silakan di pelajari sendiri dengan detail dulu begitu
ujarku kepada bang Dull. Dan akhirnya aku berpamitan dengan Malaikat yang
mengajarkan pengertian itu ? ya aku
sekali aku ucapkan terimakasih kepada
bapak malaikat , tapi itu hanya untuk kami berdua (aku dan bang Dull) yang sama
sama faham persis ajaran kaum Arwah
karena aku tahu orang lain tak akan percaya .Lalu Malaikat
berkata pada kami berdua “ Ya aku juga tahu, aku sudah tahu dari
dulu-dulu., aku waktu masih belajar juga begitu, ngeyelan, nah itulah kena batunya kalau ketemu dengan
yang argumennya jitu ., Cuma apakah anda
sekalian bersedia mentablighkan kebenaran ini kepad teman-teman
anda di alam Normal, seperti Nardi , Lubab, Naryo, Saepudin, Chareq, lek Yoto ,
kang hari , Arfath, Zubed, Huda dan Mardi yang
masih hidup. Ya kami bersedia , “jawab kami . kesimpulannya bahwa manusia itu tak ada yang sempurna ,
yang tatat dan mau mendengarkan petunjuk
yang maha kuasa , maha sempurna, maha mendengar maha benar, dan yang maha tahu hanya satu ,
yaitu Gusti Allah . allahu akbar.
Mancahari sesuatu yang terasing.akhirnya malah semakin kehilangan
.. yakin kehilangan semuanya, aku hialang ingatan , aku hialang arah hidup ,
bidukku oleng, aku harus di ingatkan….Kuranthill.. keciparatan mukti
koreksi…..Facebook ddik43@yahoo.com//kongco. Didik cov@gmail.com//aperabi
Gentayangan43@yahoo.com
.. sholikul Hadi,Didik dik, Indah Wahyu wewe @Gombel.com
Kunjungi Facebooknya……………………………
Kau tak layak bertanya
kepadaku soal-hari-hariku,
ekspresi kesendirian, ekspresi kesepian yang mencekam, terhimpit pengasingan
yang dilakukan konspirasi untuk menjeratku, dalam penderitaan yang panjang,
penderitaan yang di alami seperti ini. Namun aku berusaha sebisa mungkin,
mengolah otakku untuk berpikir, meski aku sadar
tak ada seorangpun rela mendukung aku., kawasan ini tak ada batasnya .
opposisi-opposisi oportunis tidak rela mendermakan sesenpun uangnya untuk kepentingan
politik maupun ideolodi. Apalagi swemua
semakin tak layak , tak jelas dalam lanskap yang terpecah pandanganku kabur tercabik-cabik oleh kekejaman demi kekejaman Dunia
Krisis.. krisi.. krisis - Sang bromocorah menghargai nilai-nilai
Aku mengabdi pada nilai-nilai ya allah. Nilai-nilai yang kau tanamkan
dalam ahtiku .
Mengaktifkan Indra ke enam.
Pengaruh Indra
ke __6
Mendengar kata ‘indera
keenam’ pasti yang terbayang dalam benak kita adalah orang-orang sakti yang
memiliki ilmu kanuragan tinggi, sakti mandraguna, bisa melihat apa yang orang
lain tidak bisa lihat, dan bisa merasakan apa yang orang lain tidak rasakan.
Manusia sebenarnya memiliki enam indera. Namun yang kita tahu selama ini
hanyalah lima indera saja atau yang biasa disebut ‘panca indera’. Fungsi dan
mekanisme kerja indera keenam dan panca indera sangat berbeda.
Panca indera terdiri
dari mata, telinga, hidung, lidah dan kulit.
Mata, digunakan untuk melihat. Hanya dapat melihat sesuatu apabila ada
cahaya. Secara fisika, benda dapat kita lihat karena benda tersebut memantulkan
cahaya ke mata kita. Jika tidak ada pantulan cahaya, meskipun di depan kita ada
suatu benda, benda tersebut tidak akan bisa kita lihat. Misalnya dalam
kegelapan, kita bahkan tidak akan mampu melihat tangan kita sendiri. Maka
bersyukurlah kepada Allah SWT karena diberikannya sinar atau cahaya.
Indera penglihatan ini
memiliki keterbatasan. Ia hanya mampu melihat jika ada pantulan cahaya pada
frekuensi 10 pangkat 14 Hz. Mata tidak bisa melihat benda yang terlalu jauh.
Tidak bisa melihat benda yang terlampau kecil seperti sel-sel ataupun bakteri.
Tidak bisa melihat benda yang ada dibalik tembok. Bahkan mata kita sering
‘tertipu’ dengan berbagai kejadian. Misalnya pada siang hari yang terik, dari
kejauhan terlihat air yang mengeluarkan uap di atas jalan beraspal. Namun
apabila kita mendekat ternyata yang kita lihat tidak benar adanya. Ini yang
kita sebut fatamorgana. Tipuan lain adalah pembiasan benda lurus dalam air,
sehingga benda tersebut kelihatan bengkok. Bintang yang kita lihat di langit
sangat kecil ternyata sungguh sangat besar, dan lebih besar dari bumi yang kita
tempati.
Penglihatan oleh mata
kita sangat kondisional, seringkali tidak ‘menceritakan’ keadaan yang
sesungguhnya pada otak kita. Bukti-bukti di atas memberikan gambaran bahwa
indera mata kita mengalami distorsi alias penyimpangan yang sangat
besar. Namun, mata inilah yang kita gunakan untuk melihat dan memahami dunia
nyata yang ada di luar diri kita. Matapun tidak bisa melihat apa yang ada dalam
diri kita dan yang ada dalam diri orang lain. Apa yang
orang lain pikirkan dan rasakan tidak bisa dilihat oleh mata. Mata sungguh sangat terbatas.
Namun keterbatasan
ini harus pula kita syukuri. Bayangkan saja apabila mata kita bisa melihat
benda yang ukurannya mikroskopis seperti bakteri ataupun jamur. Maka kita tidak
akan bisa makan dengan tenang dan nikmat, sebab semua makanan yang kita makan
mengandung bakteri dan jamur yang bentuknya sangat menyeramkan. Satu menit saja
kita menyimpan makanan dalam keadaan terbuka maka jamur dan bakteri sudah ada
pada makanan tersebut. Atau seandainya mata kita tidak terbatas, maka kita akan
bisa melihat setan-setan dan jin-jin yang berkeliaran di sekitar kita, dapat
melihat orang di balik tembok, dapat melihat proses pencernaan yang terjadi
dalam tubuh kita sendiri sehingga menjadi kotoran. Sungguh kehidupan kita akan
sangat menyeramkan.
Indera selanjutnya
adalah telinga. Ia merupakan organ tubuh yang digunakan untuk mendengarkan suara. Telinga hanya bisa mendengar suara pada frekuensi 20 s/d 20 ribu Hz.
Suara yang memiliki frekuensi tersebut akan menggetarkan gendang telinga kita,
untuk kemudian diteruskan ke otak oleh saraf-saraf pendengar. Hasil dari
interpretasi otak, suara dapat ditandai dan dikerahui. Apabila suara getarannya
dibawah 20 Hz maka suara tidak bisa didengar, dan apabila melebihi 20 ribu Hz
maka suarapun tidak akan mampu didengar dan bahkan gendang telinga akan pecah
alias rusak.
Pada intinya telinga
kitapun memiliki keterbatasan layaknya mata. Allah
SWT memberikan batasan pendengaran pada kita sebagai karunia dan rahmat yang
harus pula kita syukuri. Bayangkan saja jika pendengaran kita tidak dibatasi,
maka kita akan bisa mendengarkan suara-suara binatang malam, juga kita bisa
mendengarkan suara jin sedang bercakap-cakap, dan lain sebagainya, maka hidup
kitapun tidak akan tenang.
Indera yang ketiga adalah hidung. Indera ini
digunakan untuk merasakan bau. Di dalam rongga hidung terdapat saraf-saraf yang
akan menerima rangsangan bau yang masuk. Selanjutnya saraf menghantarkannya ke
otak untuk diterjemahkan. Sebagaimana mata dan telinga, hidung juga memiliki
keterbatasan kemampuan. Misalnya, apabila hidung kita menerima aroma makanan
yang terlalu pedas maka kita akan bersin-bersin. Apabila hidung sering
merasakan bau busuk maka kepekaannya terhadap bau busuk akan hilang. Misalnya
kita tinggal di lingkungan yang banyak sampah berbau busuk. Awalnya kita amat
terganggu dan tidak tahan dengan bau tersebut, namun lama kelamaan kita tidak
akan merasakan bau busuk tersebut.
Indera keempat dan kelima adalah indera pengecap dan
peraba, yakni lidah dan kulit. Lidah digunakan untuk mengecap
rasa, sedangkan kulit untuk merasakan kasar, halus, panas, dingin, dan
lain-lain. Kedua indera inipun memiliki keterbatasan dalam
memahami fakta yang ada di luar dirinya. Kalau kulit kita dibiasakan dengan
benda kasar terus dalam kurun waktu yang lama, maka kepekaan kulit kita untuk
memahami benda yang halus juga akan berkurang. Begitu juga dengan kemampuan
lidah kita. Dalam kondisi tertentu, misalnya kita terbiasa dengan makanan
pedas, maka lidah tidak akan merasakan enaknya makanan yang tidak terasa pedas.
Dengan berbagai
penjelasan di atas tidak diragukan lagi bahwa lima indera yang kita miliki
semuanya serba terbatas, kondisional, dan seringkali tertipu oleh hal-hal yang
sebenarnya jelas namun terinterpretasi secara tidak jelas. Sebenarnya manusia
memiliki indera yang lebih hebat lagi dibandingkan dengan panca indera. Itulah
indera keenam. Setiap orang memiliki indera keenam yang bisa berfungsi melihat,
mendengar, merasakan, dan membau sekaligus. Indera tersebut yakni hati
kita. Akan tetapi beberapa potensi fungsi hati di atas tidak pernah mampu kita
maksimalkan. Kenapa? karena memang kita tidak pernah melatihnya.
Manusia terlahir sudah
memiliki indera keenam yang berfungsi dengan baik. Karena itu seorang bayi
dapat melihat ‘dunia dalamnya’. Ia menangis dan tertawa sendiri karena melihat
ada ‘dunia lain’. Seorang anak pada masa balitanya bisa melihat dunia jin
misalnya. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya waktu, kemampuan indera
keenam tersebut menurun drastis. Sebabnya adalah orang tua kita tidak melatih
indera keenam kita. Mereka lebih melatih panca indera kita untuk memahami dunia
luar. Orangtua kita sangat risau apabila kita tidak bisa menggunakan panca
indera kita dengan baik. Namun sebenarnya kemampuan penginderaan hati kita jauh
lebih dahsyat.
Hati kita bisa merasakan, melihat, dan mendengar apa yang tidak
dirasakan, dilihat, dan didengar oleh panca indera. Kita bisa ‘kenalan’ dengan Allah SWT hanya dengan
cara mengaktifkan fungsi hati kita dengan baik. Kita bisa melihat Allah hanya
dengan hati kita, bukan dengan mata. Kita bisa merasakan adanya Allah bukan
dengan kulit kita, namun dengan hati. Allah SWT sudah mengingatkan kita dalam
Alqur’an akan pentingnya menghidupkan hati, dalam Alqur’an surat Al-Israa’ [17] ayat 72
disebutkan:
“dan barang siapa di dunia ini buta hatinya, maka di akhirat nanti juga
akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya”.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan para sahabat akan
pentingnya mengedepankan fungsi hati sebagai raja bagi kehidupan.
Apabila kita menjadikan akal kita sebagai raja dan hati menjadi pengawalnya,
maka tunggulah kehancuran hidup kita. Hati kita akan tertutup dengan bercak
hitam sehingga kita tidak mampu mengenal Allah. Akal menjadi raja untuk diri
kita karena kita membiasakan diri menilai kebahagiaan hidup hanya melalui apa
yang dirasakan di dunia ini saja. Yang dilihat oleh mata, didengar oleh
telinga, dirasakan oleh lidah dan kulit, semuanya diinterpretasikan di otak
(akal). Sehingga kitapun lebih memercayai rasio, logika dan nalar kita untuk
mengukur kebahagiaan hidup. Pola ini akan membawa kita pada pola hidup yang
mengandalkan akal dan mengesampingkan hati nurani. Banyak orang yang pintar dan
cerdas dalam menguasai suatu ilmu namun kering akan ruhani ketuhanan. Mereka
tidak mampu melihat sesuatu yang metafisik, sesuatu dibalik segala ciptaan yang
tak terbatas. Mereka akhirnya juga tidak mampu mereguk nikmatnya ibadah dan
tidak mampu merasakan kehadiran Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar