Senin, 26 Maret 2012

LIR RESPATI BUMIDAYA
Sekilas Tentang Argowilis)

Awalnya, kami hanyalah sekelompok pesanggem (petani hutan) yang “diberi” kesempatan bertumpangsari palawija disebagian hutan di utara desa kami. Kami berkesempatan bertumpangsari setelah lahan hutan di belakang rumah kami di tebang oleh pengelola hutan (Perhutani) pada tahun 1998. Penebangan secara total yang menjadikan sebagian hutan di desa kami seperti lapangan golf. Tak berpohon seluas lebih dari 30 (Tiga puluh) hektar. Penebangan, yang menjadikan ayam hutan, monyet, burung-burung dan babi hutan berpindah tinggal. Penebangan yang  sampai kini masih menyisakan kegersangan dan memberi kami kekeringan ketika satu bulan tiada turun hujan.
Untuk menjadi pesanggem, kami disuruh mendaftar kepada petugas pengelola hutan (mandor). Kemudian, kami dikumpulkan dan diberi penyuluhan. Intinya kami boleh bercocok tanam, tapi kami juga harus menanam tanaman kayu hutan. Kami juga wajib menjaga dan memelihara  tanaman kayu hutan. Waktu itu, kami hanya diberi kesempatan memanfaatkan lahan hutan selama-lamanya 2 (dua ) tahun. Setelah itu kami tak boleh lagi bercocok tanam. Agar pengaturannya menjadi mudah, kami diminta untuk membuat kelompok. Namanya Kelompok Tani Hutan. Jadilah pada tanggal 25 mei 1999 kami (236 pesanggem) menyepakati berdirinya Kelompok Tani Hutan yang diberi nama ARGOWILIS. Selanjutnya sering disebut dengan istilah KTH ARGOWILIS.  Kata ARGOWILIS sendiri berasal dari dua kata yaitu ARGO yang berarti Gunung/Pegunungan dan WILIS yang berarti Hijau. Dengan menyandang nama itu diharapkan KTH mampu menghijaukan kembali pegunungan (hutan) yang gundul.
Awalnya juga, kami hanya berpikir tentang bagimana memanfaatkan lahan hutan yang gundul itu untuk ikut menanam tanaman yang bisa memberi kami makanan dan atau tambahan penghasilan. Di lahan itu kami menanam singkong, jagung, pada gaga dan aneka sayuran. Kami juga harus menanam tanaman damar sebagai tanaman kehutanan. Tapi, kami tak pernah menikmati hasil bercocok tanam. Tanaman kami rusak di serang babi hutan dan monyet (barangkali ini merupakan bentuk protes dan luapan kemarahan karena tempat tinggalnya telah dirusak).  Untuk ngrembug masalah-masalah dan rencana kegiatan kelompok, setiap bulan pada tanggal 20 malam kami berkumpul. Kadang dirumah salah satu pengurus dan kadang-kadang di rumah anggota kelompok.
 Kemudian, diperjalanan waktu kami sering mendapat undangan untuk mengikuti pertemuan-pertemuan dan pelatihan-pelatihan. Baik yang diselenggarakan oleh pengelola hutan (Perhutani) dan atau yang diadakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dari kegiatan-kegiatan itu, kami mulai sedikit tahu dengan apa yang disebut pengelolaan hutan. Kami sering mendengar istilah-istilah yang awalnya sangat tidak kami kenal. Kami menyebut istilah istilah itu dengan bahasa langitan. Seperti : Social Forestry, Timber Manajement, Community Based Forest Banajement, Partisipatory Rural Apprisal dan macam-macam istilah lainnya.
Dari sedikit-sedikit pengetahuan yang kami peroleh, kami mencoba mendiskusikan (rembugan/gendu-gendu rasa dalam bahasa kami) dengan teman-teman kami di kelompok. Untuk hal-hal yang praktis dan tidak njlimet, kadang-kadang langsung kami praktekkan. Salah satunya adalah, ketika kami mendapatkan pemahaman bahwa sesungguhnya kelompok hanyalah sebuah alat untuk mencapai tujuan.


Seperti sebuah kendaraan/angkutan umum yang membawa para penumpang dari sebuah pangkalan menuju ke sebuah terminal dan atau tempat tujuan tertentu. Kami mulai rembugan. Darimana kami hendak memulai dan kemana tujuan hendak diarahkan ???.    
Proses panjang pencarian dan penentuan itu membawa kami pada sebuah kesepakatan. Kami akan memulai dari kampung kami sendiri. Kami akan memulai dari persoalan-persoalan yang ada di kampung kami. Kami akan memulai dari potensi yang ada di kampung. Kami akan memulai dari apa yang kami miliki. Kami akan memulai dari apa yang kami bisa. Sekecil dan dalam bentuk apapun. 

Ternyata, persoalan dikampung kami tidak hanya persoalan petani hutan dan persoalan pengelolaan sumberdaya hutan. Persoalan di kampung kami ternyata persoalan yang sangat komplek. Sangat beragam. Dari hasil identifikasi (baca : pencarian) yang kami lakukan bersama teman-teman, ditemukan puluhan puluh (ratusan) daftar masalah yang ada dikampung kami.

Beberapa diantaranya dapat kami tulis sebagai berikut :
Pendapatan masyarakat dikampung kami rata-rata kurang dari 1.000,- (seribu rupiah) perkapita perhari
Lebih dari 60 % (enam puluh) persen kepala keluarga di kampung kami tidak memiliki pekerjaan tetap. (Desember 2003 jumlah KK ada 1642)
Tingkat pendidikan masyarakat kampung masih sangat rendah.( Masih banyak saudara-saudara kami yang belum bisa membaca, menulis dan berhitung dengan baik. Masih banyak warga yang tidak tamat Sekolah Dasar. Banyak lulusan Sekolah Dasar yang tidak mampu melanjutkan ke SMP, banyak lulusan SMP yang tidak mampu melanjutkan ke SMA)
Sumberdaya hutan belum memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat kampung kami. (luas hutan yang masuk wilayah administrasi desa kami tercatat ada 561 hektar). sebagian kawasan hutan saat ini dalam keadaan kosong (gundul)
Banyak warga kampung kami yang terikat pinjaman (hutang) dengan Bank plecit
Peran perempuan dalam kegiatan pembangunan desa masih sangat kurang. Mayoritas kaum perempuan masih berkutat di urusan rumah tangga.
 Dll masalah yang tak cukup ditulis satu persatu

Dalam segala keterbatasan dan dengan segala kesederhanaan, kami telah, sedang dan mulai memulai proses menuju perubahan yang lebih baik. Proses itu kami tuangkan dalam Visi, Misi dan Program Strategis sebagai berikut :



Visi
Menjadi  kelompok berbasis masyarakat yang mengakar dan mandiri,  mampu berperan aktif untuk mewujudkan kehidupan masyarakat kampung yang bersahaja, sejahtera dan berkeadilan dalam lingkungan hidup yang alami


Misi
Menyelenggarakan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan
Mengembangkan potensi sumberdaya kampung untuk pengembangan ekonomi masyarakat
Mengurus dan melestarikan sumberdaya hutan
Mengembangkan kerjasama dan jejaring kerja dengan berbagai pihak
Mengembangkan unit-unit kegiatan kelompok untuk mendukung aktifitas pemberdayaan masyarakat.


Program :
Untuk mencapai visi dan misi tersebut, Kelompok saat ini mengembangkan 5 (lima) program strategis, yaitu

Program Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan warga desa/ masyarakat (khususnya petani hutan). Beberapa kegiatan yang dilakukan di program ini yaitu :
Pembrantasan Buta Aksara
Kelompok Belajar Paket B Setara SLTP
Kelompok Belajar Paket C Setara SMU IPS
Kelompok Belajar Pemuda Produktif
Kelompok Belajar Usaha
Kelompok Minat Cinta Lingkungan
Kursus Komputer (seluruh warga belajar Paket B dan C serta masyarakat umum). Meskipun cuma ada 2 unit komputer
Pendidikan Kepramukaan (anak-anak dan pemuda usia 15 – 25 tahun)
Kelompok belajar bahasa Inggris untuk anak-anak Sekolah Dasar dan anak-anak SLTP
Kelompok belajar kesenian (hadorh, genjring,tari, dan musik)
Pondok Bacaan Masyarakat (meskipun masih sedikit buku-buku yang tersedia)
Majalah dinding (meskipun isinya masih tidak karuan)


Program Pengembangan Usaha Mikro
Program ini bertujuan untuk mengembangkan kegiatan usaha ekonomi produktif warga desa yang bertumpu pada potensi sumberdaya lokal. Usaha yang sedang dikembangkan antara lain :
Gula kelapa serbuk (gula kristal)
Aneka makanan dari singkong
Pertanian tanaman semusim
Perikanan air tawar
Budidaya Jamur Tiram Putih dan Jamur Tiram Coklat
Pembuatan pupuk organik
Pembuatan persemaian
Sedang merintis Pusat Kulakan Kampung (PKK)

Program Pelayanan dan Pengelolaan Keuangan Mikro
Bertujuan untuk memberikan pelayanan simpanan dan pinjaman bagi anggota kelompok dan warga desa. Saat ini kelompok sudah memiliki Koperasi yang sudah berbadan hukum. Pelayanan pinjaman menggunakan sistem konvensional dan sistem Syariah. Meskipun perjalanannya masih tertatih-tatih dan banyak kemacetan.


Program Pengelolaan Sumberdaya Hutan Berkelanjutan
Bertujuan untuk meningkatkan peran dan kontrol warga desa dalam pengelolaan sumberdaya hutan  desa secara adil, demokratis dan berkelanjutan. Diprogram ini beberapa kegiatan yang pernah dan sedang dilaksanakan yaitu :
Agroforestry (Wanatani)
Pembuatan tanaman borongan
Menginisiasi pembentukan Lembaga Pengelola Hutan Desa/LPHD (sudah ditetapkan dengan Peraturan Desa Sokawera Nomor 4 tahun 2001)
Bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa membuat perencanaan pengelolaan hutan desa meliputi perencanaan kawasan dan perencanaan tehnis pengelolaan hutan
Sedang menginisiasi Peraturan Desa tentang Pengurusan Sumberdaya Hutan Desa
Sedang menginisiasi Program Wana Agrowisata


Program Pemberdayaan Perempuan Desa
Dengan tetap berpaham bahwa pekerjaan keseharian perempuan adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia, perempuan tetap harus mendapatkan tempat terhormat dalam kehidupan sosial. Perempuan dengan segala kekurangan dan kelebihannya harus juga mengambil bagian dalam segala pergaulan dan aktifitas pembangunan. Sebagai sebuah kelompok yang hidup di tengah perempuan desa dan melihat secara langsung aktifitas perempuan desa, Argowilis memandang dan berkeyakinan harus ada upaya-upaya untuk pemberdayaan perempuan desa. Terutama upaya untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan perempuan.
Secara khusus sampai saat ini KTH Argowilis belum ada kegiatan diprogram ini. Yang baru bisa kami lakukan adalah melibatkan perempuan dalam setiap aktifitas kelompok
Kelima program tersebut, dilakukan secara bersama dan terpadu dalam sebuah motto “BERSAMA : MEMBANGUN HIDUP MENJADI LEBIH BAIK”.

Argowilis dan Struktur Organisasi



Pungkasan

Kami, hanyalah sekelompok masyarakat yang kebetulan secara turun temurun tinggal disebuah kampung di tepi hutan. Yang sebagian dari kehidupan kami ditopang dari keberadaan sumberdaya hutan. Kami juga sekelompok masyarakat, yang “kebetulan”  tak banyak dan tak lengkap menikmati “mumetnya” pendidikan formal. Kami – pun juga sekelompok masyarakat yang seringkali di “cap” sebagai penyebab kerusakan hutan. Kami, lagi-lagi juga hanya sekelompok masyarakat yang “ndilalah” saat ini masih harus bergelut untuk mendapatkan sepiring makan.

Tapi, kami adalah juga bagian dari sebuah harmoni kehidupan. Kami punya mimpi. Kami punya keinginan. Kami punya harapan. Kelak, suatu ketika, kami akan menikmati kesejukan sebagai orang kampung yang hidup dikerimbunan hutan dan ladang. Kami akan menikmati hidup sebagai warga kampung sekitar hutan yang cukup pangan, sandang, dan papan,  dapat  mengenyam pendidikan dan berinteraksi dengan berbagai kalangan.
Kami juga berkeyakinan dari kampung dipinggir hutan, harmoni kehidupan akan mengembang di kampung-kampung pinggiran hutan di negeri ini.

Semoga…………
Sun, 8 Nov 2009 @00:30

Tidak ada komentar:

TRIK DAN SARAN

ADA KELUHAN ATAU PERTANYAAN?

TINGGAL ISI FORUM DI BAWAH INI.

foxyform

    • Popular
    • Categories
    • Archives