LIR RESPATI BUMIDAYA
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are
Up above the world so high
Like a diamond in the sky
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are!
How I wonder what you are
Up above the world so high
Like a diamond in the sky
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are!
Dipandu oleh kak Rery, adik-adik
menyanyikan lagu tadi dengan sedikit canggung karena tidak terbiasa
dengan lagu berbahasa Inggris. Kak Dita membantu mengartikan lirik lagu
tersebut sambil membantu menambahkan beberapa kosakata bahasa Inggris
untuk adik-adik. Adik-adik bukannya tidak pandai, mereka hanya tidak
terbiasa saja. Tim Pelayanan Adik Asuh sadar bahwa belajar bukan hanya
kegiatan menghafal rumus Matematika atau mengeja abjad Bahasa Indonesia,
tetapi belajar adalah sebuah budaya juga yang didalamnya ada proses
pembiasaan untuk menggali potensi terbaik yang dimiliki anak.
Tanggal 9 Januari 2010 adalah pertemuan
perdana kegiatan belajar di tahun 2010. Adik-adik begitu gembira
berkumpul. Senyum dan tawa menghiasi wajah mereka. Beberapa adik kelas 0
berlarian kesana-kemari, ditangan mereka ada beberapa lembar kertas
yang dipakai sebagai uang-uangan. Rupanya mereka sedang belajar
berhitung sambil beraksi seperti ibu-ibu yang sedang belanja.
Hitungannya banyak yang salah tetapi tidak apa-apa, kak Vanny cukup
sabar untuk mengajar tanpa merampas kesenangan kanak-kanak mereka.
Kegiatan berlangsung di ruang Athena.
Kak Mario dan kak Audy sudah menyiapkan layar dan LCD. Sementara kak
Ben, kak Dita dan kak Sisil menyiapkan sejumlah pertanyaan quiz. Kakak
lainnya menjadi pendukung dan penyemangat. Quiz ini dimaksudkan untuk
menyegarkan kembali ingatan adik-adik pada pelajaran yang telah lalu dan
sebagai penyemangat untuk memasuki semester yang baru. Adik-adik dibagi
menjadi empat regu. Regu A adalah adik-adik kelas 1 s.d. 3. Regu B
adalah adik-adik kelas 4 s.d. 6. Regu C adalah adik-adik kelas 7 s.d. 9.
Regu D adalah adik-adik kelas 10 s.d. 12. Setiap regu mendapatkan
jumlah soal yang sama tetapi bobotnya berbeda sesuai dengan jenjang
kelas masing-masing. Ada soal Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, Bahasa
Inggris, IPS dan Pengetahuan Umum. Quiz ini dimenangkan oleh regu B
sebagai penjawab terbaik.
Adik-adik dan kakak asuh dengan segala
keterbatasannya tetap meyakini bahwa hal-hal besar dapat dimulai dari
mimpi yang sederhana. Semoga ketika adik-adik bertumbuh semakin besar,
mereka boleh merasakan bahwa para kakak asuh percaya pada potensi
terbaik yang ada pada diri mereka seperti bintang-bintang yang berkilau
laksana berlian di langit malam.
Twinkle twinkle little star, how I wonder what you are…
(George Sicillia)
Panasnya matahari langsung terasa
saat Tim Tanggap Darurat (TTD) GKI Kebayoran Baru menapakkan kaki di
Bandara Minangkabau pagi itu, Minggu 11 Oktober 2009. Walaupun sebagian
besar dari kami baru kenal saat itu, TTD yang terdiri dari tiga pemuda
GKI KB (Noel, Ditra, Davin), tiga dokter dari Universitas Kristen
Indonesia (Uli, Amel, Ayu), dan dua orang dari Tim Adik Asuh GKI KB
(Jeanny dan saya sendiri) melangkah bersama-sama, siap menjalankan tugas
pelayanan kami di ranah Minang.
Sebagai perwakilan dari Tim Adik Asuh,
saya dan Kak Jeanny ditugaskan sebagai tenaga pendampingan anak-anak
korban bencana gempa bumi yang terjadi beberapa hari sebelum kedatangan
kami di Sumatera Barat. Semuanya serba mendadak dan persiapan kami pun
apa adanya. Namun setibanya kami di sana, rasa khawatir yang sempat
timbul di dalam diri saya pun segera lenyap, berganti dengan sukacita
penuh (maklum, baru pertama kali ke Pulau Sumatera) dan semangat besar
untuk melayani.
Di bandara pagi itu, kami disambut oleh
dua orang rekan pemuda Bren dan Widi, yang telah terlebih dahulu dikirim
sebagai tim survey TTD. Dengan menumpangi dua mobil milik Pendeta
Apollo dan salah seorang anggota jemaat gerejanya, Bren dan Widi
mengantar kami ke Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Rantau yang
terletak di Kampung Nias, kota Padang, yang juga merupakan posko TTD
sekaligus tempat kami menginap dengan sangat nyaman selama seminggu.
Matahari terus menyinari perjalanan kami
menuju gereja Rantau. Di atas kami melihat langit biru yang sangat
indah dihiasi awan-awan putih, sebuah pemandangan yang langka bagi
penduduk Jakarta. Lain halnya dengan pemandangan di sekitar kami.
Memasuki kota Padang, kami melihat tanda-tanda kerusakan yang
diakibatkan gempa. Beberapa bangunan terlihat retak dan bahkan ada yang
rubuh, rata dengan tanah. Bencana itu tentunya meninggalkan banyak duka
bagi penduduk setempat. Namun saya kagum melihat banyak toko-toko dan
berbagai usaha perdagangan lainnya sudah berjalan kembali. Masyarakat
setempat pun terlihat sudah mulai menjalankan rutinitas kesehariannya.
Sepertinya masyarakat Minang sudah bangkit kembali dan tidak
berlarut-larut dalam kesedihan.
Setibanya kami di Gereja Rantau, kami
disambut oleh Bapak Pendeta Apollo dan keluarganya beserta seluruh
anggota jemaat yang baru menyelesaikan ibadah Minggu pagi itu. Siang itu
kami membuka posko medis di samping gereja untuk memberikan pengobatan
gratis bagi penduduk sekitar, sementara saya dan Kak Jeanny mengakrabkan
diri dengan anak-anak jemaat. Selain “menguji coba” berbagai aktivitas
dan permainan yang kami bawa dari Jakarta, kami juga memperoleh
gambaran mengenai keadaan anak-anak di Padang. Logat bahasa Indonesia
mereka memang sedikit berbeda, namun anak-anak di Padang sama saja
dengan anak-anak di Jakarta dan dimanapun juga; mereka selalu senang
bermain
.
Selama beberapa hari pertama, TTD
mendatangi daerah-daerah tempat tinggal anggota jemaat yang mengalami
kerusakan akibat gempa seperti Perumahan Bunga Mas, Tabing, dan
Pariaman. Tim Medis membuka posko pengobatan gratis, sementara Kak
Jeanny dan saya bermain dan belajar dengan adik-adik setempat. Ternyata
sekolah sudah dimulai hari Senin 12 Oktober 2009. Namun sebagian besar
sekolah, terutama SD, baru mengisi kegiatannya dengan bermain dan jam
sekolah hanya setengah hari. Medan pelayanan ini memang baru bagi saya
dan Kak Jeanny, namun kami selalu membawanya dalam doa dan selalu
berusaha untuk saling menenangkan di kala kami merasa cemas. Alhasil,
kami melihat anak-anak itu bersukacita dan kami turut bersukacita
karenanya. Permainan dan lembar-lembar aktivitas seadanya yang kami
bawakan pun laris manis. Anak-anak yang kami temui sangat aktif, kritis,
dan humoris. Banyak anak-anak juga sangat pintar dan dapat
menyelesaikan semua permainan dan aktivitas yang kami anggap cukup sulit
untuk anak-anak seumuran mereka. Sesekali beberapa anak terlihat cemas
karena merasa terjadi gempa, sepertinya bencana yang telah mereka alami
meninggalkan sedikit trauma di dalam diri mereka. Namun kecemasan itu
tidak pernah berlangsung lama dan mereka pun ceria kembali. Di
penghujung hari walaupun lelah, saat perpisahan dengan anak-anak
setempat selalu terasa mengharukan. Ada sekitar 100-an anak di setiap
lokasi yang kami datangi dan semuanya meninggalkan kesan yang mendalam.
Pada hari ke-4, kami sudah menyelesaikan
misi kami di semua target lokasi yang telah ditentukan. Maka pada hari
ke-5, TTD bergabung selama sehari dengan organisasi Gerakan Kemanusiaan
Indonesia (GKI) yang membuka posko di daerah Balimbing dan Banuaran.
Kami mendapat informasi bahwa jumlah anak-anak di kedua lokasi ini jauh
lebih banyak, sementara persediaan lembar aktivitas untuk anak-anak kian
menipis dan kondisi fisik saya dan Kak Jeanny pun semakin lemah. Namun
kami serahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan. Dan betapa beruntungnya
kami, hari itu saya dan Kak Jeanny mendapat bala bantuan yang sangat
menyegarkan dan di saat yang sangat tepat. Karena tim medis dari GKI
sudah cukup memadai, maka kegiatan pendampingan anak kali ini dibantu
oleh anggota-anggota TTD lainnya. Panas yang menyengat dan hujan yang
deras menghiasi hari itu, tapi keceriaan nampak di setiap wajah, baik
anak-anak maupun kakak-kakak yang bermain dan mendampingi mereka.
Misi pelayanan kami yang terakhir kami
salurkan di daerah Air Dingin tempat Lokasi Pembuangan Akhir kota
Padang. Di sini saya dan Kak Jeanny mendapat kesempatan untuk mengajar
anak-anak SD di Musholla karena bangunan sekolah mereka sedang
diperbaiki. Seperti di lokasi-lokasi sebelumnya, masyarakat setempat
menerima kami dengan sangat baik. Dengan demikian kami pun dapat
melanjutkan misi kami untuk menyebarkan kasih kepada sesama manusia
tanpa mempersoalkan perbedaan agama.
Jika saya renungkan kembali perjalanan
kami selama satu minggu itu, tidak akan ada habisnya saya mengucap
syukur kepada Tuhan. Berbagai keajaiban demi keajaiban kami saksikan
dan kami alami selama di sana. Dari panasnya kota Padang sampai
dinginnya Bukittingi. Dari kesibukan masyarakat Minang yang terlihat di
jalan-jalan sampai eratnya persekutuan jemaat Gereja Rantau. Dari
pemandangan indah Ngarai Sianok sampai tawa anak-anak yang kami temui.
Bahkan kami lolos dari bahaya tanah longsor yang terjadi saat kami
melewati Padang Panjang. Kami tidak pernah kekurangan dan senantiasa
dilimpahi sukacita. Tentunya semua itu tidak terlepas dari campur tangan
Tuhan serta dukungan dari kekasih-kekasih kami yang selalu mendoakan
kami dan mengirimkan kata-kata penyemangat yang menguatkan kami. Bencana
gempa yang telah terjadi membukakan hati kami untuk menjamah masyarakat
di Sumatera Barat, dan kesediaan mereka untuk menerima kami telah
memperlancar misi kemanusiaan GKI Kebayoran Baru. Semoga pelayanan kami
bermanfaat bagi mereka dan berkenan di hadapan Tuhan. Sungguh keajaiban
Tuhan itu nyata, tidak hanya bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya
tapi bagi seluruh umat manusia. Dan keajaiban-Nya itu telah kami
saksikan di Ranah Minang.
Kiranya kasih Tuhan dapat selalu
disebarkan di seluruh permukaan bumi ini melalui anak-anak-Nya dan
Indonesia selalu dalam lindungan Tuhan. Amin. (Dita Novita Maharani)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar