LIR RESPATI BUMIDAYA
Muhamad Toha
Direktur LPSDH Argowilis Sokawera - Cilongok - Banyumas
Panti Asuhan yang memang dikhususkan untuk menampung anak perempuan ini didirikan pada tanggal 2 Mei 1979 dan diurus oleh 3 suster Ursulin dan 15 staf. Anak-anak di Panti Asuhan tersebut berasal dari berbagai etnis, agama dan latar belakang keluarga. Mereka berusia antara 5-16 tahun.
Saat ini, Panti Asuhan Pondok Damai menampung 72 anak, dan sewaktu kami berkunjung kesana, kami melihat mereka semua terlihat bahagia dan sopan-sopan. Jadi, kalau teman-teman berkesempatan untuk berkunjung ke sana untuk bertemu dan mendengar nyanyian, sajak serta doa mereka, saya yakin teman-teman akan tersentuh untuk membantu meringankan beban mereka. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti Program Orang Tua Asuh seperti tersebut di bawah ini.
Caranya :
Untuk informasi lebih lanjut, teman-teman dapat mengirimkan email ke [keluargapelangi08@gmail.com].
FOREST IS APPART Of OUR LIFE
|
S
|
umberdaya hutan (katanya
) merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki nilai sangat
strategis dalam kehidupan manusia di bumi. Nilai strategis tersebut (katanya
) didasarkan pada fungsi – fungsi hutan sebagai fungsi ekologis,
ekonomis dan sosial budaya. Ketiga fungsi tersebut harus berjalan
bersama. Sehingga setiap jengkal pengelolaan sumberdaya hutan (katanya
) harus memperhatikan ketiga fungsi hutan itu. Dalam bahasa kampung
secara sederhana masyarakat sering menyebut bahwa pengelolaan sumberdaya
hutan harus menjadikan “hutan subur masyarakat makmur”
Tak
dapat dipungkiri, bahwa sekarang ini sumberdaya hutan di Indonesia
sedang mengalami penurunan baik secara kuantitas dan kualitas
(realitanya). Luasan hutan semakin tahun semakin berkurang. Kondisi
hutan semakin tahun semakin memprihatinkan. Diberbagai tempat kerusakan
sumberdaya hutan sudah membawa dampak yang sangat mempengaruhi
sendi-sendi kehidupan. Banjir dan kekeringan dengan segala dampak dan
akibatnya sudah menjadi kidung kehidupan setiap tahunnya.
Yang lebih menyedihkan, kita seringkali terjebak pada situasi saling menyalahkan
. Yang mengurusi hutan seringkali melempar tanggungjawab kerusakan
hutan pada sebagian masyarakat sekitar hutan. Masyarakat selalu dianggap
dan diperlakukan sebagai biang keladi kerusakan hutan. Yang sebagian
lagi menuding bahwa kerusakan sumberdaya hutan akibat tidak “becusnya”
pengelola sumberdaya hutan.
Apapun
bentuk kesalahannya dan siapapun yang bersalah, yang pasti hutan kita
sekarang rusak dan kalau boleh dibilang juga sedang mengalami perusakan.
Dan pada ahirnya selalu masyarakat lemahlah yang paling merasakan
akibat dan dampak kerusakan sumberdaya hutan
|
K
|
ami
hanyalah sekelompok masyarakat, yang kebetulan secara turun temurun
tinggal dilingkungan sekitar hutan. Kami juga sekelompok masyarakat yang
seringkali dituding sebagai penyebab kerusakan sumberdaya hutan. Kami
juga sekelompok masyarakat yang kebetulan sebagian dari kehidupan kami
ditopang dari keberadaan sumberdaya hutan.
Kami
tak tahu bagaimana teori pengelolaan sumberdaya hutan. Kami tak paham
bagaimana hubungan sumberdaya hutan dengan kehidupan berbangsa,
bernegara dan kehidupan ber-bumi.
Satu
hal yang kami tahu dari orang tua, dari simbah dan dari buyut canggah
kami bahwa dulu mereka bisa menikmati hidup dari kehidupan hutan. Satu
hal yang kami sempat alami semasa kecil, ketika kami ingin mencari
makanan, kami selalu pergi ke hutan di belakang rumah kami. Di hutan
belakang rumah, kami bisa menemukan aneka buah-buahan. Ada jambu biji,
ada jambu air, ada manggis, ada lempining, ada salak, ada pisang juga
pepaya. Kami juga bisa mendapatkan aneka tumbuhan yang dapat di bawa
pulang untuk sayur dan lauk teman makan. Ada weloh, ada slada, ada
kangkung di pinggir-pinggir sungai, ada klandingan, ada pakis, ada
banyak tumbuhan lain yang bisa dibikin kluban. Bisa juga dibuat pecel.
Kami juga dapat dengan mudah menemukan aneka jenis ikan di sungai-sungai
dan wangan. Ada udang, ada ikan kutuk ada ikan benter, ada ikan lele,
ada uceng, ada udikan dan ada banyak jenis ikan lainnya. Untuk menangkap
ikan-ikan itu kami cukup menggunakan seser dari sorok atau bambu yang
dipasang di suatu aliran. Kadangkala kami mendapatkannya dengan cara
memancing dan atau menggunakan jaring kecil.
Dulu,…
ketika teman-teman dan atau saudara-saudara jauh kami yang tinggal
dikota berkunjung, kami selalu dengan bangga mengajak mereka ke hutan di
belakang rumah kami, yang jaraknya cuma dua ratus meter.
Kini,…
itu semua hanya dapat kami ceritakan kepada teman-teman kami yang
datang dari kota. Kini, … anak-anak kami hanya menganggap itu semua
seperti sebuah dongeng atau cerita yang didapat di perpustakaan..
Di hutan yang dulu banyak aneka tumbuhan kini hanya ada ada satu dua pohon yang kami kenal. Pohon pinus dan atau damar. Lainnya,… hanya ada jenis rumput - rumputan.
Dan pohon itu bukan milik kami. Kami tak lagi menemukan aneka jenis
buah-buahan seperti dulu… kami tak lagi menemukan aneka jenis sayur dan
lalaban seperti dulu….. kami tak lagi menemukan aneka jenis ikan seperti
dulu….
Kini,….
Tak ada lagi kebanggaan kami sebagai orang kampung sekitar hutan.
Parahnya lagi selalu keruskan hutan itu ditimpakan kepada kami.
Kami ingin mengulang masa lalu kami dengan hutan di belakang rumah kami. salahkah ?
Kami ngin menikmati masa lalu kami dengan hutan dibelakang rumah kami,
mungkinkah ? Kami ingin mengajak teman-teman dan saudara kami melepas
lelah dan penat di kesejukan rerimbunan keanekaragamanhayati hutan seperti dulu, kapankah…..?
Kami
sekarang juga ingin memulai, mewujudkan mimpi-mimpi itu dalam
keseharian kehidupan kami. Lepas dari segala macam aturan yang tak kami
pahami, kami akan memulai dengan menjaga dan memelihara tanaman pinus
yang ada, dengan menanam lagi beberapa jenis tanaman buah-buahan, dengan
menanam lagi beberapa jenis tanaman di pinggiran sungai dan tepian
jurang dihutan belakang rumah.
Kami
akan mencoba mengatur diri kami dan hubungan kami dengan hutan di
belakang rumah. Tanpa bermaksud mengurangi peran para pihak dan tetap
dalam koridor menghormati dan mentaati aturan negara, kami juga ingin
akan mengatur diri kami dan hubungan kami dengan hutan dan pemerintahan
di kampung Kami telah sepakat dengan teman-teman dan saudara-saudara
kami dikampung. Bahwa hutan dibelakang rumah tidak boleh lagi ditebang.
Bahwa hutan di belakang rumah harus diutuhkan. Bahwa
hutan dibelakang rumah kami harus di jaga dan dilestarikan. Karena
penebangan, akan mengurangi kerimbunan, mengurangi ketersediaan air, dan
bisa menimbulkan bermacam dampak negatif.
Bahwa
kami hanya akan memanfaatkan sumberdaya hutan dibelakang rumah dengan
memetik buah untuk dimakan dan atau dijual kemudian dibarter dengan
aneka kebutuhan rumah tangga. Kami akan mengatur diri kami untuk kembali
memperoleh ikan-ikan disungai yang ada di hutan dibelakang rumah dengan
memancing dan atau dengan memasang bambu. Bukan dengan segala macam
obat-obatan yang membunuh ikan sekelas teri.
Bahwa
untuk mewujudkan mimpi dan harapan-harapan itu, kami berkeyakinan Tuhan
akan senantiasa memberikan petunjuk dan melimpahkan rakhmat
karunia-Nya.
Bahwa suatu saat hutan akan kembali menjadi bagian dari kehidupan kami, adalah sebuah kenyataan
Kami ingin memulai,…
Dari sekecil yang paling mungkin kami bisa lakukan
Dari seharap yang juga mungkin kami dapat dukungan dari semua pihak
SEKARANG JUGA !!!
Direktur LPSDH Argowilis Sokawera - Cilongok - Banyumas
Tentang Pondok Damai
Waktu itu saya dan beberapa teman mengunjungi Panti Asuhan Ursulin di daerah Bekasi, yang bernama Pondok Damai. Kondisinya terlihat sederhana sekali dan Panti Asuhan Pondok Damai bergantung 100% pada kerelaan hati para donatur.Panti Asuhan yang memang dikhususkan untuk menampung anak perempuan ini didirikan pada tanggal 2 Mei 1979 dan diurus oleh 3 suster Ursulin dan 15 staf. Anak-anak di Panti Asuhan tersebut berasal dari berbagai etnis, agama dan latar belakang keluarga. Mereka berusia antara 5-16 tahun.
Saat ini, Panti Asuhan Pondok Damai menampung 72 anak, dan sewaktu kami berkunjung kesana, kami melihat mereka semua terlihat bahagia dan sopan-sopan. Jadi, kalau teman-teman berkesempatan untuk berkunjung ke sana untuk bertemu dan mendengar nyanyian, sajak serta doa mereka, saya yakin teman-teman akan tersentuh untuk membantu meringankan beban mereka. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti Program Orang Tua Asuh seperti tersebut di bawah ini.
Program Orang Tua Asuh
Sejak April 2008, beberapa teman berinisiatif menjalankan program Orang Tua Asuh ini. Di sini teman-teman dapat membiayai sebagian atau seluruh biaya hidup anak-anak di Panti Asuhan, agar mereka dapat meraih masa depan yang lebih cerah.Caranya :
- Pilih salah satu dari anak-anak yang ada di blog ini untuk dijadikan anak asuh kamu.
- Kunjungi calon anak asuh kamu di Panti Asuhan Pondok Damai, dan temui Sr. Leonie (Hal ini penting bila kamu menganggap blog ini HOAX dan diragukan kebenarannya).
- Dana anak asuh (per 2011) terdiri dari uang sekolah (SD sebesar Rp. 235.000/bulan termasuk uang kegiatan, SMP sebesar Rp. 260.000/bulan termasuk uang kegiatan, SMU sebesar Rp. 300.000/bulan dan SMK sebesar Rp. 170.000/bulan) dan uang kebutuhan sehari-hari (sebesar Rp. 200.000/bulan).
- Laporan keuangan dan perkembangan anak asuh (jika ada) akan dikirimkan melalui email atau sms (sesuai request teman-teman).
- Bagi yang sudah memiliki anak asuh, jangan lupa menuliskan testimonial di bawah foto anak asuh tersebut ya.
- Blog ini akan terus di-update, untuk memudahkan teman-teman mengetahui info terbaru mengenai anak-anak asuh, baik yang belum atau sudah memiliki orang tua asuh.
Untuk informasi lebih lanjut, teman-teman dapat mengirimkan email ke [keluargapelangi08@gmail.com].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar