LIR RESPATI BUMIDAYA
Si Picek dari Gua tak tahu (si buta dari Gunung jebrol)
Penjilat picek itu selalu
mencahari muka menghalalkan segala cara, bahasanya mengalir lancar dan
berbelit-belit . berputar-putar, tipu muslihatnya memenuhi bathok kepalanya
managemennya tanpa aturan dan amburadul, mencerminkan pikirannya yang semrawut.
Hidup dengan gaya
serampangan seperti lonthe ibukota saja gayanya.. predikat guru hanya topeng belaka, sangat busuk
dan tidak produktif. Dibalik itu ia
adalah mayat hidup atau vampire yang
menyedot darah kawan-kawannya. Jono keluarga- keluarga terhormat itu berbuat
ngawur gudhal jaran, hidup kapitalistik , menekan mrmpressur yang bawah. Guru bawah hanya untuk bancikan , tak tahu diarahkan kemana anak tiri ini diarahkan tak ada yang tahu, tak pernah senang
dengan kreativitas orang, dan membuang
setiap hasil karya orang lain ke dalam keranjang sampah, wateg ora tau
nyenengake kancane. Mbok matio , emoh kenal , wong ora keno dikelah, ora keno
diberi masukan. Amergo kelahe nganggu konspirasi .
Terlebih dahulu aku
mengeluarkan statemen, ”kamu bebas sebebas-bebasnya, melayani ikatan-ikatan emosionil, ikatan duniawi yang, kebencian dan
kepalsuan, kepaitan, dosa santhet dan sihir”.” Tapi aku adalah orang yang
dipersiapkan Tuhan untuk menghadapi itu semua itu dan sekaligus menghindari
semua itu” , dua hal yang bertentangan : melalui ujian-ujian Fitnah, persoalan
kehidupan, pelatihan ,masalah-masalah, sampai setiap orang akan siap untuk
dipakai Tuhan. Mungkin lebih baik orang muallaf yang bertaubat dan taat, dari pada
pengkhianat yang dilahirkan dengan kelakuan jahat.aku musti mengembangkan diri
untuk menangkis tangkisan, karena tingkat kerohanian yang masih kanak-kanak.
Masih harus belajar terus-menerus, belajar mengembangkan diri, mempersiapkan
diri, agar dapat melayani dengan baik dan tahan banting. Terima semua didikan
dengan suka cita.
Nasehat-nasehatmu selama ini
hanya membuatku muak, aku makin tidak memahami tiap derap gerak langkahmu,
sebab kamu mencontohkan yang lain , bagaimana aku harus mengikutinya. Sebab
langkahku semula hanyalah cita-cita, tapi semua kau buyarkan . kalau tak
kusampai pada kenyataan , itu bagiku wajar- wajar saja, itu karena kelakuanmu
yang mnenjebakku.Romantisme ekstrim hanya melahirkan pembelaan massif, membabi
buta yang membuatku muak,fanatisme, sektarian kotor yang dibatasi ruang dan
waktu. Kamu mulai tidak memberiku ruang gerak dan tempat berpijak, bagaimana
cara aku beratahan, bagaimana aku dapat mengenalimu, karena kau menarik
mata-mata nanar orang yang menbenciku dan memiliki dendam kesumat sejarah
denganku , mana pernah fair penilaiannya terhadapku, kau angkat pedang
keangkuhan, kesombongan, kekerasan melebihi preman , pedang arogan, lalu kau
menuai kapitalisme yang runtuh , sedang aku merujuk pada komunisme dan
kebebasan mimbar akademik dengan berbagai friksi yang tak pernah kau fahami,
kemajuan yang tak pernah kau toleransi. Walau aku rapuh, aku masih mencari
sosok dirimu disela-sela waktu, walau dengan segenggap dendam dan kebencian
yang tak kunjung jua kutemukan dimana
wajahmu lagi . aku hilang rupa dihadapanmu .
Seandainya kau tolak
mentah-mentah kewarasanku, bocah liar kemarin sore saja kau pelihara dengan
penuh kasih, sedangkan aku kau godog dalam kawahmu dengan guru sapto dharmo ra duwe duit, sangkan paraning dumadi,dengan segala
kekurangannya, sejuta harapan sirna, runtuhnya jurang pemisah menghadangku, pekatnya
kegelapan melanda hidupku , musnahkan segala asa.haruskah kulari mengejar
bayang-bayang,fantasi. Mengapa selalu saja ada saja orang yang mencuri keju
digudangku, dia tidak banyak bicara tetapi selalu menderita berpikir yang tak pernah usai,
selalu ada yang mengganjal, dan menakutkan, meretas kaki menghembus nafas
terakhir .kini terbukti orang baik-baik malah mati dipenjara , sedangkan
penjahat berpesta pora.aku digantung mati oleh para serigala buas.karena aku
macan gendaman, sedang mereka mendekat pada singa ompong.trhempas lagi aku
disini , dengan ijazah sd, kk , dan ijazah sarjana yang kusam, karena terlalu
capek cari kerja .segudang harapan digantung disana malah ketemu setan-setan
bergentayangan dan sejumlah masalah-masalah setan, yang aku tak pernah tahu
ujung dan pangkalnya, ada setan jauhari, mad juhari yang mencuri uang, ada
setan syahli, ada setan mas’ngud, ada setan sukir yang mencuri pipa air,
yang semua setan-setan itu erat dengan
hidupku, ada setan jono yang mertampas kedudukan dan kehormatanku, ada setan
pencuri tanah dan fakta ;suhadi, ada setan pencemar nama baik; Munta’ib, Nur
akmad, siti kalimah Da’im, soleh, rozak,dan semua menjegalku berniar membunuhku
dengan menusuk kehormatanku dari belakang. Aku mau ikut setan sholeh saja atau setan narto dan Yota entah
bagaimana rasanya sebab dengan dinas sebagai anak buah setan barangkali lebih
tenang daripada jadi Iblis-ajajil, yang angkuh, munafiq, bermuka dua dan
sakit-sakitan. Masya allah, bahkan kalau sampe waktuku berlalu aku tak tahu kemana
arah langkahku akan kusebut namamu, para setan-setan bangsat .
Penarik
pedati di kubangan
Kutarik pedati usang dengan
roda terseok seok, aku tak tahu kalau para penumpangnya penuh terkubang
dilubang berlobang-lobang di jalan sejarah yang tidak rata. Para penumpang
sendiri mulai gelisah apakah samapai
tujuan dengan keberadaan mereka semakin lama semakin sunyi karena menderita
ketakjutan, sunyi mencekam , penarik pedati yang sarat beban itru dengan kejam
mencambuki kuda beban itu tak berperi kemnanusian , tidak punya istirahat 07/01
kode pantatnya, setiap hari seperti itu , tak punya hati, tak punya perasaan ,
tak punya perasaan. Rasanya kepingin berteriak dalam keterpaksaan berteriak dan
mencari celah , jalan keluar, karena hanya jadi
kuda beban Jono , tidak pernah
hidup tanpa hasil bagi kuda itu. Kuda makin kelelahan tidak ada
tambahan gizi , seluruh binatang dinaikkan ke setrek itu . ada kadal,
ada serigala, ada musang, ada anjing, ada kerbau , ada sapi, dan semua binatang
sejagad dimasukkan keatas kereta itu, walau sarat beban tetapi sang pengawas memaksa dan tidak
menambah kuda lain, kusirnya tak boleh berfikir akan berjalan kemana ,
diarahkan ke timur atau ke barat , kusir tidak tahu arah sebab pengawas terlalu
kejam dank eras , para penumpang yang usrek diturunkan di tengah jalan begitu
saja tanpa diberi bekal perjalanan , kalau perlu malah di denda.
Moncong-moncong mulai saling memfitnah , ada moncong yang dipojokkan oleh
penumpang lain, lantaran ia paling banyak berteori ,paling banyak membawa buku,
paling hafal semua rumus dan filsafat. Moncong itu tak pernah diberi kesempatan
untuk berfikir sekalipun apalagi kok bicara. Akhirnya moncong itu menemukan
jalan keluar dengan melobangi perlahan –lahan kereta itu dari bawah samapai ia
menemukan jalan keluar untuk beranjak dari kubangan itu.. jalan keluar bagi
kusir , kalau belum usai, mungkin dalam kebimbangannyapara penumpang itu ermosi
menyetop pedati lain. Timbul masalah baru yang mengerogoti otak’ apakah ia
sengaja diperosokkan kusir baru di pedati
ini .
Sementara pendepan mencari
sopir pedati baru yang sabar dan bersemangat, muncul korban yang sering
dilupakan orang-orang, tidak masuk daftar hitungan dan selalu dicampakkan.
Orang-orang lupa itu betapa semangat memperdaya orang dalam hitungan itu, bahkan menghabisi hak
hidupnya apakah esok masih ada matahari diantara semak-semak ini ?
Dimana
ketenangan
Wahai murid-muridku, bagaimana
pikiranmu, mana yang lebih banyak membantahnya, air yang ada didalam empat
samudera ataukah air yang kutumpahkan
ketika air mataku menangis, ketika kau berpetualang dan tersesat dalam ziarah
yang panjang ini , sebab yang jadi bagianmu adalah segala yang kau benci, yang
kau cintai dan yang tidak berguna bagimu .
Nrimo ing pandum dan pasrah diri
Orang bijaksana merasa tenang
bukan karena ia bicara pada dirinya sendiri melainkan adalah lebih baik
untuk bersikap tenang. Ia bersikap tenang karena memang tidak ada sesuatupun di
dunia ini yang mengganggu pikirannya. Jika air bias begitu jernih bila sedang
tenang, begitu pula batin manusia ?. jika pikiran orang bijaksana bisa menjadi cermin alam semesta yang
memantulkan semua yang ada di dalamnya; sikap pasip, lenang, lemah,tanpa
prasangka, tanpa aksi , menunjukkan alam semesta dalam keadaan damai dan
menampakkan betapa tingginya perkembangan watak manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar